Bab 10 Dunia Fantasy, Ayam-Kelinci, Dan Muntah Massal
Bab 10
Dunia Fantasy, Ayam-Kelinci, dan Muntah Massal
Kami resmi sadar, kami bener-bener tersesat di dunia yang sekarang kami sebut dunia fantasy. Ya, fantasy... soalnya semua di sini lebih absurd. pemandangannya, tanamanya hewan hewanya dan tentu masyarakatnya, sesuai yang aku pelajari di buku.
Kami ngumpulin semua anggota yang selamat.
Ada aku, Fredy (masih pegang kamus setebal kitab), Dina, Agus, Pak Dedy, Albert, Pak Suroso, plus 20 anak buah Pak Suroso yang setia, berseragam putih, helm putih, dan bersenjata lengkap kayak pasukan Stormtrooper gagal audisi.
Albert langsung duduk di batu gede, sambil nyalain alat detektor aneh. Fredy ngitung persediaan.
"Mas... kabar baik, stok makanan di tas dwarf cukup buat 3 bulan kalau 50 orang. Kita cuma 27 orang. Jadi, kalau hemat, bisa sampai 6 bulan," katanya sambil buka kamus.
Aku tepuk pundaknya. "Fred... kamu genius... meskipun kamusmu tetep bikin pengen nyundul tembok," kataku sambil nyengir.
Pak Dedy nyusun formasi penjagaan, anak buah Pak Suroso bikin tenda dadakan. Agus dan Dina saling lempar tatapan romantis sambil latihan jurus panah dan belati. Kayak scene sinetron, tapi bedanya ini beneran bawa senjata tajam.
Aku? Aku keliling. Lihat-lihat makhluk sekitar. Ada monyet berbulu ungu makan jamur terbang, ada kambing berkulit sisik kayak ikan, dan...
Sumpah. Seekor ayam bertelinga kelinci lagi loncat-loncat kayak mau lomba 17-an.
Reflek.
Aku langsung GETOK pakai pedang elf.
BLUK! Ayam-kelinci langsung tepar. Aku angkat sambil jalannya gaya pahlawan super.
"Nih... siapa yang bisa masak ini?" kataku sambil nunjukin telinganya yang panjang.
Semua orang langsung MUNTAH. Ada yang langsung jongkok, ada yang lari ke semak, ada yang buka masker padahal nggak pake masker. Albert sampai jatuh terjungkal sambil ngomong, "Kamu... gila, Handoyo... ini kombinasi biologis paling nggak manusiawi!"
Aku kaget, "Lah?! Ini kan ayam... cuma bonus telinga kelinci! Protein lebih banyak! Nggak mau kalian, nih?!"
Fredy langsung geleng-geleng, mukanya hijau. "Mas... mending kita makan mi instan rasa ayam dulu lah... daripada makan itu...," katanya sambil nunjuk ayam-kelinci dengan muka ngeri.
Aku ngelus dagu sambil ngelirik ke ayam-kelinci itu.
"Yah... kalau nggak ada yang mau, tak bawa pulang, tak bikin sate. Kali aja rasanya kayak ayam geprek campur rabbit soup," gumamku sambil jalan santai.
Pak Suroso mendekat, masih setengah muntah.
"Handoyo... tolong... jangan bikin trauma massal di hari pertama..." katanya lirih.
Aku cuma cengengesan.
"Siap, Pak... lain kali aku saring dulu siapa yang mentalnya kuat sebelum ngasih liat hasil buruan," jawabku sambil ketawa.
Dan begitulah...
Hari pertama kami di dunia fantasy ditutup dengan muntah massal, ayam-kelinci yang gagal jadi makan malam, dan Fredy yang akhirnya mulai nerima kenyataan: kamus absurdnya ternyata nggak bikin mual, tapi ayam-kelinci bikin semua teler.
Malam Mie Instan, Curhat Ngaco, dan Cita-cita di Dunia Fantasy
Malam itu. Kami semua ngumpul di tenda darurat. Udara dingin, angin gunung ngebus kayak AC bocor, tapi suasana hangat. Kenapa? Karena Fredy masak mie instan!
Fredy duduk di atas batu sambil ngaduk mie di panci besar. Mukanya serius banget, kayak chef profesional di acara TV.
"Mas... di dunia fantasy begini, mie instan ini kayak harta karun. Kalau abis, kita buka franchise aja," katanya sambil ngaduk.
Aku ketawa, sambil duduk nunggu semangkuk mie.
"Fred... kamu serius? Nanti namanya apa? 'Mie Elf Goreng'?" tanyaku sambil nahan tawa.
Fredy cengar-cengir. "Mungkin... 'Mie Sedih Fantasy', tagline-nya: Makan Mie Sambil Nangis Kangen Rumah."
Kami semua ketawa, kecuali Dina dan Agus. Mereka malah duduk mojok, saling suap mie, matanya penuh bintang kayak sinetron jam tujuh.
Aku elus dagu, "Wah... itu dua orang udah kayak calon pengantin di kondangan."
Fredy nyaut, "Iya... mereka udah punya rencana. Katanya, mau nikah di sini, buka usaha tentara bayaran. Bisnis jaga elf-elf kaya, katanya untung gede."
Aku tepuk jidat. "Astaga... baru sehari nyasar, udah bikin KPR di dunia fantasy!"
Pak Dedy duduk sambil makan mie pelan-pelan. Mukanya adem, kayak habis meditasi.
Aku tanya, "Pak... kalau bapak nanti nggak bisa pulang, mau ngapain di sini?"
Pak Dedy senyum santai.
"Saya? Jadi petani aja, Mas. Tanam kacang elf, cabe naga, sama singkong siren. Hidup damai... nggak usah ribet," katanya sambil ngelap mulut.
Aku geleng-geleng. "Bapak... definisi pensiun impian," kataku sambil ketawa.
Aku melirik Pak Suroso. Dia makan sambil diem. Kedua matanya tajam, kayak lagi mikir sesuatu yang berat. Aku mau nanya rencananya, tapi...
Tiba-tiba dia nengok.Tatapannya kayak satpam liat maling. Aku langsung mingkem, pura-pura nyeruput kuah mie.
"Pak Suroso? Nggak jadi... saya cuma iseng, Pak...," gumamku pelan.
Lalu... giliran aku yang ditanya Fredy.
"Kalau kamu, Mas Handoyo... mau apa di sini? Mau buka usaha sate ayam-kelinci?" tanyanya sambil ketawa.
Aku narik napas, tatapan menatap langit. "Fred... cita-citaku simpel. Aku mau nyari Chintya... mau ngelamar dia. Kalau ditolak... ya udah, minimal ketemu. Kalau diterima... ya udah, nikah di sini. Kalau dibelah dua... ya udah, aku tinggal setengah," kataku sambil senyum miris.
Semua hening...
Lalu... ngakak bareng! Albert sampe semprot kuah mie keluar. Pak Dedy sampai tepuk paha. Dina dan Agus sampe berpelukan sambil ketawa.
Malam itu...
Kami sadar misi utama menjaga portal sudah selesai. Tapi misi baru muncul, pulang ke dunia sendiri.
Masalahnya. Kami semua nggak tahu caranya. Nggak ada Maps, nggak ada manual book, nggak ada ojek naga, nggak ada elf travel.
Tapi satu hal pasti. Kami bareng-bareng.Kami ketawa, makan mie, dan saling ngeledek di dunia yang bahkan belum kami pahami.
Dan malam itu. Aku tidur sambil meluk pedang elf. Di hati, cuma satu doa. Semoga besok aku ketemu Chintya...
Jalan Nggak Jelas, Desa Kucing, dan Air penerjemah
Besok paginya. Kami bangun, sarapan mie instan lagi (Fredy udah siap buka franchise), lalu berangkat.
Rencana?
NGGAK ADA.
Kami jalan tanpa arah dan tujuan. Pokoknya cari makhluk apapun yang kelihatan bisa diajak ngobrol, siapa tahu tahu jalan pulang, atau minimal bisa jualan mie.
Kami gerombolan 27 orang. Keliatan kayak rombongan studi tour, cuma bedanya bawa senjata lengkap, pedang elf, tas dwarf, dan Fredy yang bawa kamus gila.
Jalan kaki nembus hutan aneh, rantingnya warna ungu, daunnya kayak tali rafia. Lewat padang bunga yang mekar terus ngeluarin suara "prut prut" kayak kentut bayi. Pokoknya absurd parah.
Tiba-tiba. Di kejauhan kelihatan asap. Kami dekati pelan-pelan.
Fredy pasang senapan runduk, Agus pasang busur elf, Dina siap belati, Pak Dedy bawa perisai sambil nyanyi lagu Koes plus pelan-pelan (aneh banget). Aku megang pedang elf, sambil deg-degan sambil mikir, jangan-jangan ketemu Chintya...
Kami masuk area yangTernyata Desa!!
Tapi Penghuninya Mereka punya kuping di atas kepala kayak kucing, wajah imut, mata bulat, ekor panjang goyang-goyang. Mereka mirip kucing, tapi berdiri, bisa pakai baju, bisa bawa keranjang, cakar bisa keluar dari bantalan jari.
Aku melongo. "INI KOK LEBIH MIRIP MASKOT SNACK IKAN?!?!" teriakku sambil nunjuk.
Mereka mendekat, satu per satu mengendus kayak kucing lagi ngecek makanan. Ada yang garuk-garuk kuping, ada yang ngeong pelan, ada yang bolak-balik liatin Fredy (mungkin karena bau kuah mie).
Kami coba ngobrol.
"Hallo... kami... manusia... dari... dunia lain..." kataku sambil isyarat tangan.
Mereka balas:
"Nyaw-nyaw, merow, miyaaaa!"
Apa coba? Aku malah pengen bawa bantal.
Fredy coba buka kamus. Tapi nggak ada bahasa kucing. Kami bingung, saling pandang, saling garuk kepala.
Sampai akhirnya...
Ada beberapa elf lelaki tua keluar dari sebuah pondok bambu besar. Mereka jalan pelan, jubah panjang, kuping lancip, tatapan bijak kayak guru les privat.
Salah satu elf bawa kendi, isinya air bening. Dia ngomong panjang lebar, kami nggak paham. Terus dia nyiramkan sedikit air itu ke kepala kami, satu per satu.
Aku reflek mau ngelak. "Eh eh, ini apaan? Air keras? Air rebusan mie?!"
Fredy langsung dapet giliran duluan. Tiba-tiba Fredy berdiri bengong, terus nyeletuk,
"Astaga... aku... aku paham omongan mereka!!"
Aku kaget.
"Apa? Serius?!"
Elf tua itu ngomong lagi, sekarang kami semua bisa ngerti.
Ternyata... air itu semacam air penerjemah universal, kayak kursus bahasa asing versi basah. Katanya, air ini dibuat dari embun tanaman elf, sari bunga roh, dan air hujan malam purnama.
Aku langsung senyum lega.
"Pak... ini bisa dijual di supermarket? Biar nggak usah kursus !" kataku sambil ngakak.
Elf tua itu cuma geleng-geleng, mungkin dalam hati ngomong, Dasar manusia kampung.
Akhirnya... kami bisa ngobrol.
Mereka memperkenalkan diri sebagai Ras Nekomimi — ras setengah manusia, setengah kucing. Yang termasuk bangsa Beaskin, bangsa setengah manusia setengah hewan.
Mereka heran kenapa kami datang, dan kami pun mulai cerita panjang lebar tentang portal, naga, sampai misi pulang.
Sementara itu...
Aku tetap kepikiran Chintya.
Tiap lihat ekor kucing lewat, aku berharap tiba-tiba ada elf cantik kuping lancip muncul sambil bilang, "Hai, kamu jodohku!"
Tapi... yang lewat cuma Nekomimi bawa ikan kering.
Hidup emang pahit.
Dunia Fantasy, Ayam-Kelinci, dan Muntah Massal
Kami resmi sadar, kami bener-bener tersesat di dunia yang sekarang kami sebut dunia fantasy. Ya, fantasy... soalnya semua di sini lebih absurd. pemandangannya, tanamanya hewan hewanya dan tentu masyarakatnya, sesuai yang aku pelajari di buku.
Kami ngumpulin semua anggota yang selamat.
Ada aku, Fredy (masih pegang kamus setebal kitab), Dina, Agus, Pak Dedy, Albert, Pak Suroso, plus 20 anak buah Pak Suroso yang setia, berseragam putih, helm putih, dan bersenjata lengkap kayak pasukan Stormtrooper gagal audisi.
Albert langsung duduk di batu gede, sambil nyalain alat detektor aneh. Fredy ngitung persediaan.
"Mas... kabar baik, stok makanan di tas dwarf cukup buat 3 bulan kalau 50 orang. Kita cuma 27 orang. Jadi, kalau hemat, bisa sampai 6 bulan," katanya sambil buka kamus.
Aku tepuk pundaknya. "Fred... kamu genius... meskipun kamusmu tetep bikin pengen nyundul tembok," kataku sambil nyengir.
Pak Dedy nyusun formasi penjagaan, anak buah Pak Suroso bikin tenda dadakan. Agus dan Dina saling lempar tatapan romantis sambil latihan jurus panah dan belati. Kayak scene sinetron, tapi bedanya ini beneran bawa senjata tajam.
Aku? Aku keliling. Lihat-lihat makhluk sekitar. Ada monyet berbulu ungu makan jamur terbang, ada kambing berkulit sisik kayak ikan, dan...
Sumpah. Seekor ayam bertelinga kelinci lagi loncat-loncat kayak mau lomba 17-an.
Reflek.
Aku langsung GETOK pakai pedang elf.
BLUK! Ayam-kelinci langsung tepar. Aku angkat sambil jalannya gaya pahlawan super.
"Nih... siapa yang bisa masak ini?" kataku sambil nunjukin telinganya yang panjang.
Semua orang langsung MUNTAH. Ada yang langsung jongkok, ada yang lari ke semak, ada yang buka masker padahal nggak pake masker. Albert sampai jatuh terjungkal sambil ngomong, "Kamu... gila, Handoyo... ini kombinasi biologis paling nggak manusiawi!"
Aku kaget, "Lah?! Ini kan ayam... cuma bonus telinga kelinci! Protein lebih banyak! Nggak mau kalian, nih?!"
Fredy langsung geleng-geleng, mukanya hijau. "Mas... mending kita makan mi instan rasa ayam dulu lah... daripada makan itu...," katanya sambil nunjuk ayam-kelinci dengan muka ngeri.
Aku ngelus dagu sambil ngelirik ke ayam-kelinci itu.
"Yah... kalau nggak ada yang mau, tak bawa pulang, tak bikin sate. Kali aja rasanya kayak ayam geprek campur rabbit soup," gumamku sambil jalan santai.
Pak Suroso mendekat, masih setengah muntah.
"Handoyo... tolong... jangan bikin trauma massal di hari pertama..." katanya lirih.
Aku cuma cengengesan.
"Siap, Pak... lain kali aku saring dulu siapa yang mentalnya kuat sebelum ngasih liat hasil buruan," jawabku sambil ketawa.
Dan begitulah...
Hari pertama kami di dunia fantasy ditutup dengan muntah massal, ayam-kelinci yang gagal jadi makan malam, dan Fredy yang akhirnya mulai nerima kenyataan: kamus absurdnya ternyata nggak bikin mual, tapi ayam-kelinci bikin semua teler.
Malam Mie Instan, Curhat Ngaco, dan Cita-cita di Dunia Fantasy
Malam itu. Kami semua ngumpul di tenda darurat. Udara dingin, angin gunung ngebus kayak AC bocor, tapi suasana hangat. Kenapa? Karena Fredy masak mie instan!
Fredy duduk di atas batu sambil ngaduk mie di panci besar. Mukanya serius banget, kayak chef profesional di acara TV.
"Mas... di dunia fantasy begini, mie instan ini kayak harta karun. Kalau abis, kita buka franchise aja," katanya sambil ngaduk.
Aku ketawa, sambil duduk nunggu semangkuk mie.
"Fred... kamu serius? Nanti namanya apa? 'Mie Elf Goreng'?" tanyaku sambil nahan tawa.
Fredy cengar-cengir. "Mungkin... 'Mie Sedih Fantasy', tagline-nya: Makan Mie Sambil Nangis Kangen Rumah."
Kami semua ketawa, kecuali Dina dan Agus. Mereka malah duduk mojok, saling suap mie, matanya penuh bintang kayak sinetron jam tujuh.
Aku elus dagu, "Wah... itu dua orang udah kayak calon pengantin di kondangan."
Fredy nyaut, "Iya... mereka udah punya rencana. Katanya, mau nikah di sini, buka usaha tentara bayaran. Bisnis jaga elf-elf kaya, katanya untung gede."
Aku tepuk jidat. "Astaga... baru sehari nyasar, udah bikin KPR di dunia fantasy!"
Pak Dedy duduk sambil makan mie pelan-pelan. Mukanya adem, kayak habis meditasi.
Aku tanya, "Pak... kalau bapak nanti nggak bisa pulang, mau ngapain di sini?"
Pak Dedy senyum santai.
"Saya? Jadi petani aja, Mas. Tanam kacang elf, cabe naga, sama singkong siren. Hidup damai... nggak usah ribet," katanya sambil ngelap mulut.
Aku geleng-geleng. "Bapak... definisi pensiun impian," kataku sambil ketawa.
Aku melirik Pak Suroso. Dia makan sambil diem. Kedua matanya tajam, kayak lagi mikir sesuatu yang berat. Aku mau nanya rencananya, tapi...
Tiba-tiba dia nengok.Tatapannya kayak satpam liat maling. Aku langsung mingkem, pura-pura nyeruput kuah mie.
"Pak Suroso? Nggak jadi... saya cuma iseng, Pak...," gumamku pelan.
Lalu... giliran aku yang ditanya Fredy.
"Kalau kamu, Mas Handoyo... mau apa di sini? Mau buka usaha sate ayam-kelinci?" tanyanya sambil ketawa.
Aku narik napas, tatapan menatap langit. "Fred... cita-citaku simpel. Aku mau nyari Chintya... mau ngelamar dia. Kalau ditolak... ya udah, minimal ketemu. Kalau diterima... ya udah, nikah di sini. Kalau dibelah dua... ya udah, aku tinggal setengah," kataku sambil senyum miris.
Semua hening...
Lalu... ngakak bareng! Albert sampe semprot kuah mie keluar. Pak Dedy sampai tepuk paha. Dina dan Agus sampe berpelukan sambil ketawa.
Malam itu...
Kami sadar misi utama menjaga portal sudah selesai. Tapi misi baru muncul, pulang ke dunia sendiri.
Masalahnya. Kami semua nggak tahu caranya. Nggak ada Maps, nggak ada manual book, nggak ada ojek naga, nggak ada elf travel.
Tapi satu hal pasti. Kami bareng-bareng.Kami ketawa, makan mie, dan saling ngeledek di dunia yang bahkan belum kami pahami.
Dan malam itu. Aku tidur sambil meluk pedang elf. Di hati, cuma satu doa. Semoga besok aku ketemu Chintya...
Jalan Nggak Jelas, Desa Kucing, dan Air penerjemah
Besok paginya. Kami bangun, sarapan mie instan lagi (Fredy udah siap buka franchise), lalu berangkat.
Rencana?
NGGAK ADA.
Kami jalan tanpa arah dan tujuan. Pokoknya cari makhluk apapun yang kelihatan bisa diajak ngobrol, siapa tahu tahu jalan pulang, atau minimal bisa jualan mie.
Kami gerombolan 27 orang. Keliatan kayak rombongan studi tour, cuma bedanya bawa senjata lengkap, pedang elf, tas dwarf, dan Fredy yang bawa kamus gila.
Jalan kaki nembus hutan aneh, rantingnya warna ungu, daunnya kayak tali rafia. Lewat padang bunga yang mekar terus ngeluarin suara "prut prut" kayak kentut bayi. Pokoknya absurd parah.
Tiba-tiba. Di kejauhan kelihatan asap. Kami dekati pelan-pelan.
Fredy pasang senapan runduk, Agus pasang busur elf, Dina siap belati, Pak Dedy bawa perisai sambil nyanyi lagu Koes plus pelan-pelan (aneh banget). Aku megang pedang elf, sambil deg-degan sambil mikir, jangan-jangan ketemu Chintya...
Kami masuk area yangTernyata Desa!!
Tapi Penghuninya Mereka punya kuping di atas kepala kayak kucing, wajah imut, mata bulat, ekor panjang goyang-goyang. Mereka mirip kucing, tapi berdiri, bisa pakai baju, bisa bawa keranjang, cakar bisa keluar dari bantalan jari.
Aku melongo. "INI KOK LEBIH MIRIP MASKOT SNACK IKAN?!?!" teriakku sambil nunjuk.
Mereka mendekat, satu per satu mengendus kayak kucing lagi ngecek makanan. Ada yang garuk-garuk kuping, ada yang ngeong pelan, ada yang bolak-balik liatin Fredy (mungkin karena bau kuah mie).
Kami coba ngobrol.
"Hallo... kami... manusia... dari... dunia lain..." kataku sambil isyarat tangan.
Mereka balas:
"Nyaw-nyaw, merow, miyaaaa!"
Apa coba? Aku malah pengen bawa bantal.
Fredy coba buka kamus. Tapi nggak ada bahasa kucing. Kami bingung, saling pandang, saling garuk kepala.
Sampai akhirnya...
Ada beberapa elf lelaki tua keluar dari sebuah pondok bambu besar. Mereka jalan pelan, jubah panjang, kuping lancip, tatapan bijak kayak guru les privat.
Salah satu elf bawa kendi, isinya air bening. Dia ngomong panjang lebar, kami nggak paham. Terus dia nyiramkan sedikit air itu ke kepala kami, satu per satu.
Aku reflek mau ngelak. "Eh eh, ini apaan? Air keras? Air rebusan mie?!"
Fredy langsung dapet giliran duluan. Tiba-tiba Fredy berdiri bengong, terus nyeletuk,
"Astaga... aku... aku paham omongan mereka!!"
Aku kaget.
"Apa? Serius?!"
Elf tua itu ngomong lagi, sekarang kami semua bisa ngerti.
Ternyata... air itu semacam air penerjemah universal, kayak kursus bahasa asing versi basah. Katanya, air ini dibuat dari embun tanaman elf, sari bunga roh, dan air hujan malam purnama.
Aku langsung senyum lega.
"Pak... ini bisa dijual di supermarket? Biar nggak usah kursus !" kataku sambil ngakak.
Elf tua itu cuma geleng-geleng, mungkin dalam hati ngomong, Dasar manusia kampung.
Akhirnya... kami bisa ngobrol.
Mereka memperkenalkan diri sebagai Ras Nekomimi — ras setengah manusia, setengah kucing. Yang termasuk bangsa Beaskin, bangsa setengah manusia setengah hewan.
Mereka heran kenapa kami datang, dan kami pun mulai cerita panjang lebar tentang portal, naga, sampai misi pulang.
Sementara itu...
Aku tetap kepikiran Chintya.
Tiap lihat ekor kucing lewat, aku berharap tiba-tiba ada elf cantik kuping lancip muncul sambil bilang, "Hai, kamu jodohku!"
Tapi... yang lewat cuma Nekomimi bawa ikan kering.
Hidup emang pahit.
Other Stories
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...