Bab 13 Pelajaran Miau
Di atas kereta kuda yang goyang kayak odong-odong keliling kampung pas lebaran, Miau duduk di depanku sambil membuka peta kulit raksasa. Dia mulai bercerita sambil matanya melotot kayak guru geografi lagi semangat.
“Sesuai informasi Chintya, dunia ini namanya Drak’terra. Artinya Tanah Para Naga,” kata Miau sambil memelototi kami satu-satu, memastikan nggak ada yang ketiduran.
Aku nyaris nyeletuk “mending tidur,” tapi demi Chintya, aku tahan.
“Dulu di Drak’terra, para naga berkuasa. Mereka kayak preman pasar, semena-mena. Sampai akhirnya semua ras lain bersekutu. Yang mimpin? Ras elf dan dwarf. Akhirnya para naga tersingkir. Sisanya kabur ke kepulauan selatan,” Miau menghela napas panjang.
"Nah, makanya dunia ini jadi rumit. Ada banyak tempat yang harus kalian tahu!"
Miau mencoret-coret peta sampai kelihatan kayak peta harta karun.
Gunung utama:
Utara: Greatspire → tempat ras-ras binatang. Mungkin isinya tikus, nekomimi, kelinci. Mungkin juga cicak, entahlah.
Tengah: Stromcoast → tujuan kita untuk menemui Chintya. Katanya tempat ini campuran ras, banyak manusia.
Timur Laut: Stromholm → pusat pertambangan dwarf. Bisa dibilang tempatnya tukang las dan kolektor besi tua.
Tiga kota besar:
Barat Laut: Anorithil → kota para elf. Katanya di sini semua elegan, hobi konser harpa, nggak kenal umur karena abadi.
Timur: Durnholgar → kota dwarf, penuh pabrik dan minuman keras. Jangan harap nemu mahkluk cakep di sini. isinya berjangut.
Barat Daya: Stromcoast → kota campuran. Kebanyakan manusia, sisanya macam-macam, ras binatang.
Wilayah penting lain:
Barat: Plains of Vulkar → tanah kutukan. Konon siapa pun masuk sini, kesadaran langsung hilang. Oke, itu bohong, tapi serius ini tempat berbahaya.
Selatan: Kepulauan naga → sisa-sisa ras naga yang masih hidup.
Tenggara: Drakholm → daerah bangsa manusia naga. Kabarnya mereka suka banget sama gelut eh maksudnya suka duel dan latihan keras.
Aku dan Fredy saling pandang. Fredy geleng-geleng, lalu menulis:
"Oke, kalau kita selamat pulang, kita bikin buku atlas Drak’terra."
Aku cuma bisa mikir, "Terserah, Fred. Yang penting gue ketemu Chintya dulu, nikah, punya anak, terus anaknya punya kuping lancip juga."
Miau melanjutkan penjelasannya sambil sesekali memainkan telinganya yang mirip kucing.
"Selain Stromcoast, di timur juga ada hutan sihir yang disebut Dstromhood," katanya sambil menatap jauh ke peta yang kami bentangkan di atas lutut.
Aku menelan ludah. Hutan sihir? Kok kayak tempat liburan anak anak, tapi versi tidak ada asuransi.
"Di sana banyak monster muncul. Kenapa? Karena para ahli sihir goblok—maaf—aku ulangi, bodoh," kata Miau sambil mencakar udara, "mereka suka eksperimen bikin ramuan aneh, lalu kalau gagal ya... dibuang sembarangan ke hutan. Akhirnya siapa pun yang minum atau kena efeknya, berubah jadi monster."
Aku mengelus dagu. "Oh, jadi kayak sisa bumbu mie instan yang nggak dicuci terus bikin cicak jadi Dinosaurus?"
Miau mendelik. "Kurang lebih begitu... meskipun analogimu... sangat manusiawi."
Fredy yang mendengar cuma garuk-garuk kepala sambil membolak-balik kamus barang tas dwarf, pura-pura paham.
Miau lanjut, "Karena itulah, profesi petualang di dunia ini jadi populer. Ada banyak peran: ksatria untuk garis depan, tanker yang badannya kuat kayak gorong-gorong beton, assasin yang licin kayak belut disiram oli, penyihir yang main jarak jauh pakai sihir, archer pemanah, lalu ada penyembuh atau healer supaya kalau bocor, bisa tambal cepat."
Aku manggut-manggut sok serius.
"Selain itu," tambah Miau sambil nunjuk ke peta, "ada juga profesi biasa seperti petani, pandai besi, pengrajin, dan pedagang. Tapi gara-gara monster sering muncul, mereka semua akhirnya sedikit-sedikit jadi petarung juga."
Aku langsung tepuk jidat. Dunia ini benar-benar mirip lord of the ring, cuma bedanya kalau mati nggak bisa bangun.
Agus yang lagi iseng mainin anak panahnya cuma nyengir. "Berarti aku bisa nyambi jadi petani tomat sambil nembak monster, ya?"
Aku balas, "Kalau tomatnya nyasar ke monster, bisa sekalian bumbu sambel!"
Dan di tengah suasana setengah tegang setengah kocak itu, kami sadar satu hal: perjalanan ke Stromcoast dan kemudian ke Anorithil untuk menemui Chintya, bukan hanya perjalanan fisik—tapi juga perjalanan mental, menyesuaikan logika kami yang manusia biasa dengan dunia penuh sihir dan monster ini.
Miau melompat turun dari kursi kereta kuda, lalu duduk di tanah sambil mencoret-coret peta dengan kukunya yang runcing.
"Lalu... ada hukum yang sangat penting di dunia ini," katanya sambil menatap kami satu per satu.
Aku langsung pasang posisi duduk tegap, kayak mau ikut try out CPNS.
"Siapa pun atau makhluk apa pun yang tidak bisa diajak bicara atau berkomunikasi meskipun sudah disiram air bahasa—itu dianggap hewan," jelas Miau sambil menekankan kata hewan.
Aku langsung garuk-garuk kepala. "Lho… misalnya... duyung, kalau nggak bisa diajak ngobrol, berarti bisa dimakan dong?" tanyaku sambil bayangin ikan bakar.
Miau mendengus. "Iya, bisa dimakan. Asal sudah dipastikan tidak bisa berkomunikasi."
Fredy langsung nyeletuk sambil ketawa, "Atau... kalau bisa ngomong, mending dinikahi aja, kan?"
Semua langsung menoleh ke Fredy. Aku spontan lempar daun ke mukanya.
"Fredy, ini bukan Tinder dunia sihir!" bentakku.
Miau lanjut menjelaskan sambil menahan senyum. "Kalau makhluk bisa komunikasi tapi menyerang atau merusak, boleh dibunuh. Tapi tetap harus ditawarkan damai dulu, baru setelah itu kalau nggak bisa ya… diselesaikan."
Aku manggut-manggut, sambil membayangkan nego damai sama naga yang lagi nembak api ke rumah.
"Selain itu," Miau menyambung, "biasanya bangkai makhluk sihir tidak dibuang percuma. Bisa dimanfaatkan, contohnya tulang naga dijadikan tongkat sihir atau pedang, sisik naga bisa dijadikan perisai super kuat, darah naga bisa jadi bahan ramuan energi, dan kulit naga bisa dijadikan armor."
Aku langsung nyeletuk, "Wah… bisa bikin tas kulit naga limited edition dong. Mahal pasti!"
Miau menghela napas. "Ini bukan bazar fashion!"
Fredy malah tambah semangat. "Kalau Phoenix? Bisa bikin bantal anti gosong, ya?"
Miau menepuk jidat, nyaris patah telinganya sendiri. "Phoenix, Griffin, atau makhluk legendaris lainnya memang bisa diambil bahan-bahannya, tapi sangat sulit, dan harus hati-hati."
Aku berdiri sambil menatap jauh ke hutan, "Berarti… kalau kita beruntung, kita bisa bawa pulang armor naga, pedang naga, atau… jodoh dari ras duyung?"
Fredy langsung jawab, "Yang penting jangan lupa, tanya dulu: 'Kamu bisa ngomong nggak?'"
Dan di situlah kami semua tertawa, meski tahu bahwa di balik tawa itu, petualangan yang lebih berat sedang menanti.
“Sesuai informasi Chintya, dunia ini namanya Drak’terra. Artinya Tanah Para Naga,” kata Miau sambil memelototi kami satu-satu, memastikan nggak ada yang ketiduran.
Aku nyaris nyeletuk “mending tidur,” tapi demi Chintya, aku tahan.
“Dulu di Drak’terra, para naga berkuasa. Mereka kayak preman pasar, semena-mena. Sampai akhirnya semua ras lain bersekutu. Yang mimpin? Ras elf dan dwarf. Akhirnya para naga tersingkir. Sisanya kabur ke kepulauan selatan,” Miau menghela napas panjang.
"Nah, makanya dunia ini jadi rumit. Ada banyak tempat yang harus kalian tahu!"
Miau mencoret-coret peta sampai kelihatan kayak peta harta karun.
Gunung utama:
Utara: Greatspire → tempat ras-ras binatang. Mungkin isinya tikus, nekomimi, kelinci. Mungkin juga cicak, entahlah.
Tengah: Stromcoast → tujuan kita untuk menemui Chintya. Katanya tempat ini campuran ras, banyak manusia.
Timur Laut: Stromholm → pusat pertambangan dwarf. Bisa dibilang tempatnya tukang las dan kolektor besi tua.
Tiga kota besar:
Barat Laut: Anorithil → kota para elf. Katanya di sini semua elegan, hobi konser harpa, nggak kenal umur karena abadi.
Timur: Durnholgar → kota dwarf, penuh pabrik dan minuman keras. Jangan harap nemu mahkluk cakep di sini. isinya berjangut.
Barat Daya: Stromcoast → kota campuran. Kebanyakan manusia, sisanya macam-macam, ras binatang.
Wilayah penting lain:
Barat: Plains of Vulkar → tanah kutukan. Konon siapa pun masuk sini, kesadaran langsung hilang. Oke, itu bohong, tapi serius ini tempat berbahaya.
Selatan: Kepulauan naga → sisa-sisa ras naga yang masih hidup.
Tenggara: Drakholm → daerah bangsa manusia naga. Kabarnya mereka suka banget sama gelut eh maksudnya suka duel dan latihan keras.
Aku dan Fredy saling pandang. Fredy geleng-geleng, lalu menulis:
"Oke, kalau kita selamat pulang, kita bikin buku atlas Drak’terra."
Aku cuma bisa mikir, "Terserah, Fred. Yang penting gue ketemu Chintya dulu, nikah, punya anak, terus anaknya punya kuping lancip juga."
Miau melanjutkan penjelasannya sambil sesekali memainkan telinganya yang mirip kucing.
"Selain Stromcoast, di timur juga ada hutan sihir yang disebut Dstromhood," katanya sambil menatap jauh ke peta yang kami bentangkan di atas lutut.
Aku menelan ludah. Hutan sihir? Kok kayak tempat liburan anak anak, tapi versi tidak ada asuransi.
"Di sana banyak monster muncul. Kenapa? Karena para ahli sihir goblok—maaf—aku ulangi, bodoh," kata Miau sambil mencakar udara, "mereka suka eksperimen bikin ramuan aneh, lalu kalau gagal ya... dibuang sembarangan ke hutan. Akhirnya siapa pun yang minum atau kena efeknya, berubah jadi monster."
Aku mengelus dagu. "Oh, jadi kayak sisa bumbu mie instan yang nggak dicuci terus bikin cicak jadi Dinosaurus?"
Miau mendelik. "Kurang lebih begitu... meskipun analogimu... sangat manusiawi."
Fredy yang mendengar cuma garuk-garuk kepala sambil membolak-balik kamus barang tas dwarf, pura-pura paham.
Miau lanjut, "Karena itulah, profesi petualang di dunia ini jadi populer. Ada banyak peran: ksatria untuk garis depan, tanker yang badannya kuat kayak gorong-gorong beton, assasin yang licin kayak belut disiram oli, penyihir yang main jarak jauh pakai sihir, archer pemanah, lalu ada penyembuh atau healer supaya kalau bocor, bisa tambal cepat."
Aku manggut-manggut sok serius.
"Selain itu," tambah Miau sambil nunjuk ke peta, "ada juga profesi biasa seperti petani, pandai besi, pengrajin, dan pedagang. Tapi gara-gara monster sering muncul, mereka semua akhirnya sedikit-sedikit jadi petarung juga."
Aku langsung tepuk jidat. Dunia ini benar-benar mirip lord of the ring, cuma bedanya kalau mati nggak bisa bangun.
Agus yang lagi iseng mainin anak panahnya cuma nyengir. "Berarti aku bisa nyambi jadi petani tomat sambil nembak monster, ya?"
Aku balas, "Kalau tomatnya nyasar ke monster, bisa sekalian bumbu sambel!"
Dan di tengah suasana setengah tegang setengah kocak itu, kami sadar satu hal: perjalanan ke Stromcoast dan kemudian ke Anorithil untuk menemui Chintya, bukan hanya perjalanan fisik—tapi juga perjalanan mental, menyesuaikan logika kami yang manusia biasa dengan dunia penuh sihir dan monster ini.
Miau melompat turun dari kursi kereta kuda, lalu duduk di tanah sambil mencoret-coret peta dengan kukunya yang runcing.
"Lalu... ada hukum yang sangat penting di dunia ini," katanya sambil menatap kami satu per satu.
Aku langsung pasang posisi duduk tegap, kayak mau ikut try out CPNS.
"Siapa pun atau makhluk apa pun yang tidak bisa diajak bicara atau berkomunikasi meskipun sudah disiram air bahasa—itu dianggap hewan," jelas Miau sambil menekankan kata hewan.
Aku langsung garuk-garuk kepala. "Lho… misalnya... duyung, kalau nggak bisa diajak ngobrol, berarti bisa dimakan dong?" tanyaku sambil bayangin ikan bakar.
Miau mendengus. "Iya, bisa dimakan. Asal sudah dipastikan tidak bisa berkomunikasi."
Fredy langsung nyeletuk sambil ketawa, "Atau... kalau bisa ngomong, mending dinikahi aja, kan?"
Semua langsung menoleh ke Fredy. Aku spontan lempar daun ke mukanya.
"Fredy, ini bukan Tinder dunia sihir!" bentakku.
Miau lanjut menjelaskan sambil menahan senyum. "Kalau makhluk bisa komunikasi tapi menyerang atau merusak, boleh dibunuh. Tapi tetap harus ditawarkan damai dulu, baru setelah itu kalau nggak bisa ya… diselesaikan."
Aku manggut-manggut, sambil membayangkan nego damai sama naga yang lagi nembak api ke rumah.
"Selain itu," Miau menyambung, "biasanya bangkai makhluk sihir tidak dibuang percuma. Bisa dimanfaatkan, contohnya tulang naga dijadikan tongkat sihir atau pedang, sisik naga bisa dijadikan perisai super kuat, darah naga bisa jadi bahan ramuan energi, dan kulit naga bisa dijadikan armor."
Aku langsung nyeletuk, "Wah… bisa bikin tas kulit naga limited edition dong. Mahal pasti!"
Miau menghela napas. "Ini bukan bazar fashion!"
Fredy malah tambah semangat. "Kalau Phoenix? Bisa bikin bantal anti gosong, ya?"
Miau menepuk jidat, nyaris patah telinganya sendiri. "Phoenix, Griffin, atau makhluk legendaris lainnya memang bisa diambil bahan-bahannya, tapi sangat sulit, dan harus hati-hati."
Aku berdiri sambil menatap jauh ke hutan, "Berarti… kalau kita beruntung, kita bisa bawa pulang armor naga, pedang naga, atau… jodoh dari ras duyung?"
Fredy langsung jawab, "Yang penting jangan lupa, tanya dulu: 'Kamu bisa ngomong nggak?'"
Dan di situlah kami semua tertawa, meski tahu bahwa di balik tawa itu, petualangan yang lebih berat sedang menanti.
Other Stories
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Mr. Perfectionist
Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...