DARAH NAGA

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
27
Vote
Report
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 14 Pertemuan Dengan Chintya

Kereta kuda kami berhenti mendadak. Kudanya mendengus panik, telinganya tegak kayak antena TV .
Aku berdiri di atap kereta sambil nunjuk ke depan. "Eh… itu... banteng kok tegak, ya?"

Fredy yang lagi asik ngemil daging ayam berdaun kelinci langsung melongo. "Itu… minotaur, kan?!"

Dari kejauhan, makhluk raksasa itu berjalan pelan. Kepala banteng, badan kekar kayak bodybuilder overdosis susu sapi, tinggi sekitar 5 meter. Dan di tangannya… kampak gede.

Kami masih sempat diskusi, kayak rapat RT.
"Ini bisa diajak ngomong nggak?" tanya Agus sambil meraih busurnya.
"Apa kita coba siram air bahasa dulu?" kata Dina, setengah bercanda.
"Kalau salah, kita malah disate," gumam Fredy.

Belum sempat kami ambil keputusan, minotaur itu langsung lari kencang ke arah kami sambil ayun kampaknya.

"WOY, NGGAK ADA SOPAN SANTUN!" teriakku.

Pak Dedy langsung melompat ke depan, menghadang dengan perisai elf-nya. Dentuman keras terdengar. Aku dan yang lain langsung loncat ke samping sambil siap menembak dan memanah.

Fredy menembakkan peluru, Agus menembakkan anak panah yang langsung berubah jadi akar, mencoba mengikat kaki minotaur. Tapi makhluk itu malah mencabut akar seolah cuma ketombe.

Aku mencoba menyerang dengan pedang elf, tapi kampaknya menyapu dan melemparku jauh kayak sandal diusir emak.

Dina menyelinap di belakang, menusuk punggung minotaur dengan belati elf kembar. Namun, makhluk itu masih berdiri kokoh, hanya sedikit terhuyung.

Albert maju dengan pede sambil bawa capit bionic asam manis-nya. "Awas! Aku akan—"
BRAKK!
Capit bionic langsung hancur kayak kerupuk ketindihan galon.

Kami kocar-kacir. Fredy sampai jatuh jungkir balik sambil pegang kamus tas dwarf.

Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba ada sekelebat cahaya hijau. Begitu cepat, sampai hanya terlihat bayangan melesat.

Tiba-tiba... DUAK! Sebuah tombak menembus dada minotaur, persis di jantung. Minotaur terdiam, matanya melebar, lalu roboh ke tanah dengan dentuman keras.

Kami semua bengong.

Sosok itu berdiri di atas minotaur, anggun, berambut panjang perak kehijauan yang berkibar. Matanya tajam, kupingnya runcing — jelas elf. Ia menarik tombak, yang kemudian memendek dan berubah menjadi gelang di lengannya.

Aku mendadak nggak bisa napas. Itu... dia.

"Chintya…" gumamku, setengah nggak percaya.

Ia menatap ke arah kami dengan sorot mata tenang tapi tegas.

"Apa kalian yang membawa pedang pembuka gerbang?" tanyanya dengan suara lembut namun berwibawa.

Aku masih lemas. Mau jawab "iya", tapi yang keluar malah:
"Ka-kamu… single nggak?"

Fredy langsung nimpuk kepalaku pakai kamus tas dwarf.

Pertemuan dengan Chintya bikin kami semua terpaku. Kayak patung Pancoran, tapi lebih bau keringat.

Chintya berdiri gagah di atas bangkai minotaur, matanya mengawasi kami semua satu per satu.

"Cara bertarung kalian… kacau," katanya, nadanya setajam tatapan mantan pas ketemu di kondangan.
"Siapa pemimpinya?" tanyanya tegas.

Kami saling pandang. Dina menunjuk aku. Fredy pura-pura ngelap keringet. Dedy malah sibuk perisai, Agus pura-pura garuk kaki, Albert sibuk ngecek sisa capit bionic.

Aku angkat tangan setengah hati, "E… aku…"

Chintya mendekat, tatapannya menembus jiwa.
"Aku merasakan pedang perobek portal," katanya sambil menatap pedang elf di pinggangku.

Aku meneguk ludah. Mau ngomong, tapi lidah kayak abis makan sambel level 10.

"Pedang itu… aku yang mencurinya dulu dari penguasa elf. Lalu, aku buang ke dunia lain," Chintya melanjutkan, suaranya menggelegar.
"Dan aku sudah meramalkan… pedang itu akan jatuh ke tangan seorang bodoh yang punya jiwa besar," tambahnya sambil melotot.

Tiba-tiba, semua temanku menoleh ke arahku bersamaan.
Fredy langsung nunjuk aku sambil ketawa pelan.
"Pas banget… bodoh," kata Fredy.
Dina cuma geleng-geleng, "Jiwa besar sih… tapi otaknya kadang ngaco."
Agus ngakak sambil tepuk paha.
Albert? Dia nyeletuk, "Cocok... 100 persen. Dia memang bodoh yang berjiwa besar."

Aku bengong. Mau protes, tapi, ya… bingung mau bela di mana.

Chintya mendesah keras.
"Kenapa kalian kembali ke dunia ini?! Bukankah tujuan kalian menutup portal, bukan malah masuk lagi?!" katanya, nada marah makin jelas.

Aku masih terpukau. Meski marah, dia tetap cantik. Rambut peraknya bergoyang, matanya bersinar, telinga runcingnya gemas banget—eh maksudku, anggun banget.

Aku mencoba menjawab, "K-ka… kamu kalau marah, makin cantik, tau…"

PLAK! Fredy langsung nampar tengkukku.
"Jawab yang bener, WOY!" teriaknya.

Aku grogi, garuk-garuk kepala sambil nyengir. "E… jadi gini, kami nggak sengaja ketarik portal pas lawan naga… terus… ya udah… nyasar deh ke sini."

Chintya mendekat, napasnya berat menahan emosi.
"Astaga… rasanya aku mau nendang kalian semua balik ke dunia asal kalian satu per satu!" katanya.

Aku mendongak, menatapnya sambil senyum malu.
"Tapi… bisa nggak aku aja dulu yang kamu selamatkan… sekalian kenalan lebih dekat?"

Fredy langsung tutup muka pakai kamus tas dwarf. Dina dan Agus langsung guling-guling nahan tawa.
Albert malah sibuk nyatet, "Teori: gombalan bikin wanita elf makin marah?"

Dan saat itu, meski Chintya tampak marah, aku tahu… perjalanan kami baru saja benar-benar dimulai.

Chintya menarik napas panjang, seolah menahan sabar ketemu manusia paling bikin pening sealam semesta.

"Keberadaan pedang itu…," katanya sambil melirik pedang elf di pinggangku. "…akan memicu perang besar. Tiga ras akan terguncang dan saling bertarung: bangsa elf, dwarf, dan dragonian."

Aku kaget, nyaris keselek ludah sendiri.
"Lho, kok bisa? Aku kan cuma bawa pedang, bukan mie ayam keliling," kataku masih setengah nggak paham.

Chintya menatapku tajam. "Pedang itu bukan sembarang pedang. Ini simbol kekuatan yang bisa membuka atau menutup portal antara dunia kalian dan Drak'terra. Bangsa elf ingin merebutnya agar tak ada lagi pengkhianatan seperti dulu. Dwarf ingin menjadikannya senjata pamungkas. Dragonian… mereka hanya ingin mendominasi, seperti zaman nenek moyang mereka para naga."

Aku garuk-garuk kepala. "Terus… harus diapain pedangnya?"

"Sembunyikan," jawab Chintya tegas. "Kalau tidak, kalian akan dikejar habis-habisan. Ras-ras itu tidak akan berhenti sampai mendapatkan pedang."

Aku menunduk, memikirkan risiko. Lalu, muncul satu pertanyaan yang bikin penasaran sejak awal.
"Lalu… gimana cara membuka portal supaya kita bisa pulang?" tanyaku sambil nekat menatap matanya.

Chintya mendesah, tatapannya beralih ke horizon, seolah melihat luka lama.
"Pedang itu hanya bisa membuka portal jika digunakan dengan… perasaan sedih yang sangat dalam. Kesedihan yang benar-benar tulus, bukan pura-pura."

Aku langsung pucat. "Sedih yang sangat dalam…? Waduh, selama ini aku cuma sedih kalau diskon baju lebaran habis."

Fredy langsung nimpuk aku pakai kamus tas dwarf. "WOY! Ini serius!"

Aku menelan ludah. Lalu, dengan polos aku memohon, "Chintya… tolong bantu kami. Bukalah portal itu. Kamu kan lebih ngerti—"

Chintya menatapku dengan sorot yang begitu dalam, lalu menggeleng perlahan.
"Aku tidak bisa. Sejak pedang itu ada padamu, hanya kau yang bisa menggunakannya. Semua kekuatan, tanggung jawab… kini di tanganmu."

Aku lemas, lutut rasanya mau rontok.
"Berarti… aku… harus… sedih sendiri?" tanyaku pelan.

Chintya menatapku lama, lalu mendekat. "Kau tidak sendirian. Teman-temanmu akan selalu mendampingimu. Tapi… kesedihan yang memanggil portal itu harus lahir dari hatimu sendiri."

Aku terdiam. Rasanya ingin kabur, tapi juga nggak bisa. Mau nangis, tapi masih ada Fredy yang siap ngejek.

Sementara yang lain juga bungkam. Dina nahan tawa sambil pura-pura serius. Agus malah nyiapin kamera, siapa tahu aku mendadak nangis dramatis kayak sinetron. Albert sudah siap catat teori baru: "Apakah sedih bisa dibikin instan dengan cabe level 100?"

Aku menghela napas.
"Baiklah… kalau ini jalannya, aku akan jalani. Tapi… kalau gagal, kalian jangan lupa… tulis di batu nisanku: ‘Di sini bersemayam manusia bodoh berjiwa besar.’"

Fredy langsung tepuk jidat.
Dan Chintya… entah kenapa, di balik sorot tegasnya, aku lihat sedikit senyum tipis.



Other Stories
Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Download Titik & Koma