DARAH NAGA

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
27
Vote
Report
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 16.Pendekatan Handoyo.


Semua orang di party sudah tahu aku lagi kasmaran berat sama Chintya. Ya, gara-gara mimpi itu! Mereka semua sudah pasrah sama kelakuanku, yang jelas-jelas mirip ABG naksir guru les. Bahkan Fredy pernah bilang, "Kalau kamu mati ditusuk tombaknya Chintya juga kayaknya kamu senyum bahagia."

Kami melanjutkan perjalanan ke kota Stromcoast. Chintya menunggangi unicorn putih gagah, bulunya kinclong kayak habis keramas pakai conditioner iklan TV. Sedangkan aku? Aku dapat tunggangan alternative, seekor bebek raksasa sebesar kuda, yang katanya habis digetok tombak Chintya kemarin. Sekarang bebek ini terus ngoceh "kwek kwek kwek" sepanjang jalan.

Aku coba basa-basi sensitif. "Kamu... punya pacar belum?"

Chintya menoleh pelan, matanya tajam kayak pisau dapur ibu-ibu lagi potong bawang. "Kenapa tanya begitu?" katanya dingin.

"Ya... siapa tahu... aku bisa daftar jadi calon," jawabku sambil nyengir kayak orang salah beli odol.

Dia mendesah panjang, lalu mulai menjelaskan. Katanya, bangsa elf sangat menjunjung tinggi kehormatan. Segala hal diukur dari kemampuan diri: sihir, keahlian bertarung, kesetiaan, juga kendali emosi.

"Jadi, untuk jatuh cinta itu... sangat sulit. Kalau pun ada, butuh waktu panjang, ratusan tahun," katanya.

Aku langsung hampir jatuh dari bebek raksasa. Untung bulu bebeknya tebal.

Dia melanjutkan, "Dan untuk berketurunan? Lebih susah lagi. Di dunia ini ada hukum alam: semakin panjang umur suatu makhluk, semakin sulit dia punya keturunan. Satu jiwa elf yang lahir itu sama nilainya dengan seribu bayi manusia. Kalau lahir satu elf baru, itu dirayakan oleh seluruh klan dan dianggap peristiwa sakral."

Aku langsung melongo, membayangkan kalau harus nunggu ratusan tahun buat PDKT.

"Berarti... peluangku tipis banget, ya?" tanyaku lirih.

Chintya cuma menatapku, lalu tertawa kecil. Tawanya kayak nyanyi angin sore, bikin hati ini tambah meleleh.

Bebekku tiba-tiba berteriak, "KWEK KWEK KWEK!" seolah mengejek nasib cintaku.

Sumpah, bebek ini kayak paham banget perasaanku sekarang.

Sumpah, bebek ini cerewetnya bikin otak berasap. Dari tadi kwek kwek nggak jelas, seolah dia juga ikut nimbrung obrolan. Kesal, aku siram dia pakai air penerjemah ajaib yang kemarin.

Hasilnya?

Masih saja... Kwek! Kwek!

"Wah, ini kalau tetap nggak bisa ngomong, bisa dipotong dan dimakan," gumamku sambil melirik si bebek. Ajaibnya, bebek itu langsung diam. Mati gaya. Mungkin dia paham bahasa tatapan lapar.

Aku lanjut ngobrol lagi sama Chintya yang menunggang unicorn-nya dengan anggun. Entah kenapa, setiap unicorn itu jalan, kayak ada kipas angin khusus yang bikin rambut Chintya berkibar lambat.

Aku tanya pelan, "Kenapa harus mewariskan pedang pada orang bodoh dan berjiwa besar?"

Chintya menoleh, senyumnya tipis, "Agar pedang itu tidak lagi menyeberang ke dunia ini. Kalau diwariskan pada orang bodoh, dia nggak akan tahu fungsi aslinya. Nggak akan kepikiran soal portal, soal dunia fantasy, soal makhluk aneh. Semua tetap aman."

Aku ngangguk pelan.

Ya... aku memang bodoh. Tapi kakekku, Sukarno, itu orang jenius yang luar biasa. Paling tidak, setengah gen jeniusnya mungkin turun ke aku... atau jatuh di selokan.

Aku menggumam sambil nyengir, "Mungkin pedangnya tahu pemiliknya lagi cari jodoh di dunia lain, makanya dikasih ke aku."

Chintya mendadak tersenyum. Manis banget. Mataku sampai berembun. Karena terlalu gemas sama senyum itu, aku refleks langsung gigit leher bebek.

Si bebek ngamuk. Dia jingkrak-jingkrak kayak rodeo di sirkus, bikin aku hampir mental ke parit pinggir jalan.

"Kweeeeeek!!!"

Aku teriak sambil pegangan, "Maaf! Maaf! Ampun, Bebekku sayang!"

Dan Chintya? Dia cuma ketawa kecil sambil menatap ke depan.

Aku dan Chintya masih ngobrol sambil menikmati perjalanan. Angin sore berhembus pelan, menerpa rambut perak Chintya yang berkilau diterpa cahaya matahari. Unicornnya berjalan anggun, sementara bebek tungganganku masih kadang-kadang ngoceh, walau lebih sering manyun setelah aku gigit lehernya tadi.

"Apa orang-orang di duniamu juga menunggang bebek?" tanya Chintya sambil menoleh dengan senyum menyudut.

"Biasanya sih motor... atau ojek ," jawabku.

"Ojek?"

"Ah panjang ceritanya. Intinya, manusia di duniaku lebih sering mager dan tergantung teknologi. Lebih senang membuat sesuatu dari besi yang digerakkan oleh mesin dari pada merewat ternak untuk tunggangan." aku menjelaskan tentang pesawat juga.

Dia tertawa kecil. "Menarik. Dunia kalian tanpa sihir... tapi bisa membuat benda terbang di udara?"

"Pesawat," sahutku.

"Dan kalian menyimpan pengetahuan dalam barang barang bertenaga listrik?"

"elektronik," jawabku, lalu mengangkat dagu bangga. "Canggih, kan?"

Dia tampak kagum. "Aku ingin melihatnya langsung suatu saat."

"Nggak usah tunggu lama," gumamku dalam hati, "nikah sama aku aja."

Lalu dia bertanya, "Apa semua pria di duniamu bicara semanis kamu?"

Aku kaget. Terdiam beberapa detik. Lalu sok cool menjawab,

"Enggak. Yang lain udah punah. Aku sisa terakhir."

Dia menoleh lagi. Matanya menatap tajam tapi jenaka. "Itu gombal atau fakta?"

"Separuh mitos, separuh harapan," kataku sambil menatap langit.

Untuk pertama kalinya, unicorn itu mengeluarkan suara nyaring. Entah mendukungku atau geli mendengarnya. Dan Chintya senyum senyum sendiri sambil menatap kedepan.

Dan saat itu aku merasa... mungkin, untuk pertama kalinya juga, dia tertarik padaku. Setidaknya, dia nggak membelah aku jadi dua dan nggak lagi melihatku hanya sebagai pemilik pedang ajaib yang kebetulan bodoh. Tapi sebagai seseorang yang membawa dunia asing... dan mungkin, masa depan yang tidak ia duga. Dan aku berharap dia tertarik dengan mahkluk bodoh berjiwa besar.

Aku menjelaskan pelan-pelan, mencoba menjawab rasa penasarannya yang terus bertambah.

"Duniaku juga pernah perang," kataku. "Bahkan besar-besaran. Tapi sekarang... kami hidup damai. Nggak ada monster aneh, nggak ada sihir, nggak ada ras elf, dwarf, atau naga."

Chintya mengerutkan kening. "Lalu kalian menghadapi apa?"

"Deadline. Pajak. Atasan toxic. Kredit motor. Macet pas jam pulang kerja."

Dia terdiam sejenak, lalu tertawa pelan.

"Jadi... dunia kalian penuh tekanan, tapi bukan karena pedang dan sihir?"

"Benar. Dunia kami lebih tenang, tapi juga lebih... kosong."

"Kenapa?"

"Karena manusia di duniaku hanya fokus bertahan hidup. Bekerja demi makan sehari-hari. Pekerjaan petualang seperti di duniamu... nggak ada."

Ia memandang ke depan. Jalan masih panjang.

"Tapi kalian bisa membangun peradaban maju tanpa harus membunuh monster?"

"Ya. Tapi... kadang monster itu datang dalam bentuk lain. Seperti keserakahan, ketakutan, dan kebodohan."

Chintya diam. Sepertinya dia memikirkan itu dalam.

"Duniamu... terdengar damai tapi menyedihkan," gumamnya.

"Duniamu... terdengar berbahaya tapi berarti," jawabku.

Kami saling menatap, dan entah kenapa suasananya jadi agak... film romantis fantasy gitu. Bahkan bebek tungganganku pun tidak kwek-kwek dulu beberapa menit, mungkin peka suasana.

Dalam hati aku berbisik,

"Mungkin... kita berasal dari dua dunia berbeda, tapi ada alasan kenapa pedang itu mempertemukan kita."



Other Stories
Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Download Titik & Koma