DARAH NAGA

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
27
Vote
Report
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 11 Bangsa Nekomimi

Kami duduk di balai utama desa Nekomimi, yang atapnya terbuat dari jerami tebal dan pilar kayu berukir kucing menguap. Aku sibuk menatap panci berisi sup ikan—ya, ikan kuping kelinci, rasanya aneh banget, tapi Fredy lahap-lahap saja.

Pemimpin desa, seorang elf tua berwajah damai bernama Eldarion (yang entah kenapa betah di desa kucing ini), sedang menjelaskan dengan suara bergetar, “Bangsa Nekomimi kami selalu hidup damai, sampai bangsa tikus menyerang. Mereka haus kekuasaan dan bahan pangan…”

Belum sempat aku menanyakan "Tikus? Tikus yang mana? Jerry? Mickey?", tiba-tiba terdengar suara bentakan keras dari luar.

“RRAAARGHH!!”

Kami semua refleks berdiri. Dari balik gerbang desa, muncul barisan makhluk raksasa berbulu abu-abu, tingginya hampir 2 meter. Badannya besar, berotot, gigi-gigi taring mencuat, kaki cakar dan tangan seperti babi hutan yang pegang gada logam. Tapi jelas, mukanya... tikus.

"Astaga... ini lebih mirip Tikus Otot Gym daripada tikus got," gumamku.

Mereka langsung merangsek masuk, menjarah kantong beras, mencuri ikan kering, sampai mengangkat panci sup ikan kuping kelinci yang masih mendidih (nggak ngerti panas apa nggak tuh). Para Nekomimi lari tunggang langgang, beberapa anak kecil kucing bersembunyi di balik kaki Eldarion.

Aku, Fredy, Dina, Agus, dan Dedy langsung siap siaga. Dina sudah pasang kuda-kuda dengan belati elf-nya yang kini jadi gelang, berubah dalam sekejap. Agus melenggang ke samping, memanggil busurnya yang langsung muncul anak panah akar. Fredy sudah merayap ke atap, posisi sniping. Dedy, dengan perisai elf, menumbuhkan akar-akar penjaga di sekitar pintu gerbang.

Aku? Aku mengayunkan pedang elf sambil mikir: Awas! Kalau marah, pedang ini bisa ringan kayak bulu dan tajam kayak hati mantan pas ghosting.

Pertarungan pecah. Dina melompat cepat, satu tikus roboh kena belatinya. Agus menembak panah, akar langsung membelit seekor tikus yang lagi nyolong tomat. Fredy menembak dari atas, peluru berbisik menembus dahi salah satu gerombolan. Dedy menghadang yang mau kabur sambil menumbuhkan akar jadi palang.

Aku berusaha menebas satu tikus yang bawa karung beras. "Eh, kembalikan, itu mau dimasak Fredy jadi bubur!" teriakku. Sekali tebas, tikus itu jatuh terpental, beras muncrat kemana-mana kayak confetti.

Beberapa tikus yang selamat kabur ke hutan. Kami semua terengah-engah. Para Nekomimi mulai keluar dari persembunyian, menatap kami dengan mata berbinar. Ada yang nangis, ada yang peluk-peluk kaki Dedy (yang langsung kikuk kayak patung).

Eldarion maju dan memegang bahuku. "Kau... pahlawan," katanya, sambil tersenyum bijak.

Aku menoleh ke Fredy. "Bro, kita nggak salah dunia kan? Ini beneran fantasy, kan?"

Fredy cuma cengir sambil ngelap keringat. Dina dan Agus malah sudah duduk di pojok, saling ngusap luka sambil curi-curi tatap mesra.

Hari itu, kami resmi jadi "pahlawan dadakan" bangsa Nekomimi. Meski dalam hatiku, aku tetap mikir: Chintya... tunggu aku, aku akan tetap cari kamu meski harus gempur tikus segede Hulk.

Setelah suasana desa agak tenang, kami semua duduk di aula bambu besar. Para Nekomimi mulai sibuk membereskan sisa beras yang berserakan, sambil sekali-sekali mendesis ke arah sisa buntut tikus yang tertinggal.

Di pojok aula, Miao — pelayan setia Eldarion — berlari menghampiri sambil ngos-ngosan. Ekornya bergoyang gelisah, kupingnya tegak, matanya bulat kayak lampu bohlam.

"Tu... Tuan Eldarion!! Ada kabar darurat!" katanya dengan napas terputus-putus.

Eldarion berdiri. "Tenang, Miao. Tarik napas dulu, jangan sampai pingsan kayak Fredy pas pertama kali makan sup kuping kelinci kemarin," katanya lembut.

Miao menelan ludah, lalu bicara, "Bangsa Tikus… mereka ternyata nggak sendirian. Mereka bekerja sama dengan bangsa Orc dan Goblin. Katanya mau menyerang desa Nekomimi secara besar-besaran!"

Seluruh ruangan langsung hening. Fredy yang lagi ngetes peluru langsung jatuhin mag-nya. Agus langsung berdiri, Dina mencengkeram belati sambil melirik ke jendela, Dedy mulai ngomel-ngomel kayak bapak kena tilang.

Aku? Aku refleks manggut-manggut sambil berusaha kelihatan serius, padahal dalam otak cuma mikir: Ini kalau jadi film, pasti rating-nya di IMDb naik gara-gara crossover orc, goblin, sama tikus raksasa.

Pak Suroso langsung memerintahkan pasukan putihnya untuk siaga. Mereka menyusun barikade di gerbang desa, mendirikan menara pengawas darurat, dan mendirikan perisai akar dengan bantuan Pak Dedy.

Sambil sibuk mempersiapkan pertahanan, tiba-tiba Miao mendekatiku. Dia menatap pedang elf yang tergantung di punggungku.

"Maaf, Tuan… boleh saya lihat pedang itu?" tanyanya lirih.

Aku mengangguk, meski agak waswas, takut pedang itu berubah jadi martabak telur.

Miao memegang gagang pedang perlahan, matanya berkaca-kaca. "Pedang ini… pedang milik Chintya, guru saya…," katanya pelan.

Aku langsung kaget setengah mati, rasanya kayak disiram air penerjemah elf kemarin. "Kamu… kamu kenal Chintya?!" tanyaku sambil mendekat, hampir jatuh karena lutut lemes.

Miao mengangguk. "Ya… aku dulu murid Chintya. Dia pernah melatihku ilmu sihir elf dan bela diri elf langit. Tapi… sudah lama sekali dia menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana perginya."

Aku menatap Miao sambil garuk-garuk kepala. "Aku… aku cuma pernah ketemu dia di mimpi. Kayak iklan kopi, tiba-tiba muncul, senyum, lalu hilang. Aku kira cuma halusinasi kelamaan makan mie rasa elf," kataku sambil melirik Fredy yang lagi masak mie instan batch ke-7.

Miao tersenyum tipis. "Mungkin itu bukan mimpi biasa. Chintya punya kemampuan menembus alam bawah sadar orang yang dianggap penting… atau orang yang berpotensi…," katanya sambil menatap pedangku dalam.

Aku diam, dada berdebar.
Fredy yang lagi lewat nyeletuk, "Bro, lu jatuh cinta beneran ya? Jangan bilang nanti lu bikin puisi elf di bawah bulan purnama."

Aku cuma bisa mendorong Fredy sambil muka merah.

Miao kemudian menepuk bahuku, "Kalau kau sungguh ingin bertemu Chintya… selamatkan desa ini dulu. Bangsa Orc dan Goblin bukan lawan mudah. Tapi mungkin… jawabanmu akan muncul di jalan ini."

Aku menghela napas panjang.
"Yah… jodoh, misi, sama berantem ternyata satu paket promo," gumamku sambil menghunus pedang.

Hari itu, semangat kami membara lagi. Aku menatap pedang elf di tanganku, berharap di balik semua pertarungan ini… ada Chintya di ujungnya. Entah sebagai jodoh… atau cuma pemberi harapan palsu.

Fredy, Pak Suroso, dan Albert sibuk bongkar-bongkar tas dwarf di aula bambu. Tas itu dibuka, isinya tumpah kayak lemari Doraemon.

Keluar kotak-kotak amunisi, granat asap aroma sate kambing (Albert ngakunya "inovasi anti-nyamuk sekaligus bikin lapar"), helm anti-getar yang bentuknya kayak baskom cuci sayur, sampe sabuk pemanas kopi portable.

Bangsa Nekomimi yang nonton langsung bengong. Beberapa anak kecil nekomimi yang ekornya keriting malah nyoba masuk ke tas dwarf, untung ketangkep Fredy sebelum berubah jadi lomba petak umpet interdimensional.

Aku, sambil ngelap keringat, berdiri di samping Fredy. "Bro, yakin ini alat perang semua? Jangan-jangan yang itu justru rice cooker portable," kataku sambil nunjuk alat yang berasap.

Fredy mendesah. "Udah lah, pokoknya yang penting kita punya cukup amunisi buat main perang perangan beneran sekarang," katanya sambil ngerakit senjata.

Pak Suroso langsung mulai membagi tugas. Pasukan putihnya mengeluarkan senjata api standar dan mulai membagikan ke para pejuang Nekomimi.

Para nekomimi, yang dasarnya lincah, sangat cepat belajar membidik. Cuma masalahnya... tenaga mereka nggak sekuat itu. Jadi recoil senjata bikin beberapa langsung jatuh terguling. Ada satu nekomimi jatuh sambil gelinding sampe nabrak pohon, terus bangun lagi sambil cengar-cengir sambil pegang ekor.

Albert sambil ngulik granat aroma sate, nyeletuk, "Tenang! Nanti saya bikin mode ultra ringan. Kalau dilempar, bisa bikin lawan pingsan kelaparan!"

Aku cuma bisa garuk-garuk kepala. "Ini... antara penyelamatan dunia atau konten prank internasional," gumamku.

Kami juga bikin parit mengelilingi desa. Nekomimi sangat cekatan, bisa gali parit sambil jungkir balik. Di beberapa titik kami pasang jebakan: ranjau, kawat berduri, sampai bom asap bau mie rebus.

Dedy melatih mereka cara mendirikan barikade dan memanfaatkan akar-akar tanaman dengan perisai elf-nya. Dia berdiri gagah sambil ngoceh kayak instruktur senam pagi.

Di tepi desa, Agus dan Dina latihan menembak bersama beberapa nekomimi perempuan yang ternyata fans berat Agus sejak tadi (gara-gara ototnya). Dina sesekali melempar tatapan jangan-deket-deket-pacar-gue ke mereka.

Pak Suroso sendiri duduk memantau taktik sambil mencatat kekuatan musuh yang kemungkinan akan datang.

Aku duduk di atap aula, mengasah pedang elf. Sesekali mikir soal Chintya, sambil ngebayangin kalau nanti ketemu, aku mau ngelamar sambil bawa sate elf atau puisi konyol.

Tiba-tiba Miao datang, bawa minuman hangat. "Semangat, Tuan Handoyo… kita semua percaya padamu."

Aku hanya menoleh, menahan malu, lalu menghela napas panjang. "Iya, Miao… makasih… tapi jangan panggil Tuan, panggil aja… calon  Chintya," kataku sambil senyum konyol.

Miao langsung ngedumel sambil mukanya merah, "Terserah, Tuan…," lalu lari.

Suasana desa yang semula sunyi mulai terasa seperti markas perang dadakan. Semua sibuk, tapi semangat membara.

Malam itu, suasana desa Nekomimi agak sunyi. Api unggun di tengah lapangan desa menyala tenang, memantulkan bayangan para nekomimi yang duduk saling menenangkan. Beberapa masih sibuk mengecek senjata, beberapa lagi berdoa sambil elus-elus ekor mereka.

Aku duduk di atas kayu besar dekat api unggun, Fredy duduk di sampingku sambil ngebersihin senapan runduk kesayangannya.

Aku menatap bintang-bintang di langit dunia fantasy yang entah kenapa jumlahnya lebih banyak dan warnanya lebih cerah.

“Fred…,” kataku pelan.

“Hm?” jawab Fredy sambil tetap ngelap laras senapan.

“Aku nggak ngerti… beneran nggak ngerti konsep hidup di sini. Maksudku, cuma karena makanan, dua bangsa bisa perang segede ini. Apa nggak bisa barter? Apa bangsa tikus itu nggak bisa nanam jagung sendiri? Atau paling nggak, bikin sayur asem?,” tanyaku sambil nendang kerikil kecil.

Fredy berhenti sebentar, ngeliat ke arahku.
“Lu lupa satu hal,” katanya pelan. “Di dunia kita aja, orang bisa perang gara-gara parkir, apalagi di sini.”

Aku diem, garuk-garuk kepala.
“Ya juga sih…,” kataku, sambil ketawa pahit.

Fredy lanjut, “Selain itu, lu pikir ini cuma soal makanan? Nggak, bro. Ini soal ras. Nekomimi itu mirip kucing, bangsa tikus udah bawaan dendam. Goblin? Mereka memang suka chaos. Orc? Mereka seneng pamer otot, cari tantangan. Jadi… pas ada kesempatan, mereka semua gabung. Mau alasannya bahan pangan, wilayah, atau sekadar pengen adu jotos, ujung-ujungnya sama: kekuasaan.”

Aku terdiam. Api unggun berkeretakan di depan kami.

“Tapi satu hal yang pasti,” lanjut Fredy sambil pasang magazin ke senjatanya. “Kita udah di sini. Bangsa Nekomimi nggak minta lebih, mereka cuma mau bertahan. Itu udah cukup alasan buat kita bantu.”

Aku menatap Fredy lama.
“Lu bener, Fred…,” kataku akhirnya, sambil menghela napas panjang.

Aku berdiri, mengibaskan debu dari celana.
“Jadi besok… kita jadi pasukan kucing?,” tanyaku sambil cengar-cengir.

Fredy mendongak, nyengir tipis.
“Iya. Pasukan kucing yang pegang senjata api, bom aroma sate, sama pedang elf. Kombo absurd, tapi keren.”

Aku tertawa, ngetap bahu Fredy.
“Oke, bro. Besok kita jadi Team Meow. Gas!”

Kami tertawa kecil, meskipun dalam hati masing-masing tahu, besok bakal jadi hari paling berat sejak kita terjebak di dunia ini.

Malam itu, angin berhembus dingin, tapi semangat kami makin panas.
Untuk Nekomimi.
Untuk misi kami.
Dan… untuk masa depan yang entah akan seperti apa.








Other Stories
Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Download Titik & Koma