Bab 15 – Kisah Chintya
Setelah mendengar penjelasan Chintya, rasanya tengkukku langsung dingin kayak abis minum es degan tiga ember.
Tiga bangsa akan bergerak. Elf, dwarf, dan dragonian.
Aku merinding. Ini bukan tiga gerombolan bocil rebutan layangan. Ini bangsa yang masing-masing punya kekuatan militer, sihir, dan teknologi yang bikin otak manusia normal auto reboot.
Elf? Mereka penguasa sihir alam, ahli racun, ahli senjata jarak jauh, bisa berubah jadi kabut kalau lagi ngambek.
Dwarf? Jangan tanya. Pandai besi terbaik, punya senjata ajaib, dan katanya punya tank mini yang jalannya bisa manjat pohon.
Dragonian? Udah jelas. Perpaduan manusia dan naga. Napasnya bisa bakar satu kecamatan.
Aku duduk lemas sambil elus-elus pedang elf yang kini rasanya kayak utang kartu kredit. Berat.
Chintya menatap kami satu per satu.
"Jika kalian tetap di sini, kalian akan dikejar habis-habisan. Mereka tidak akan berhenti sampai pedang itu di tangan mereka. Kalian bukan hanya terancam, kalian juga akan membawa malapetaka bagi siapa saja yang melindungi kalian."
Aku menoleh ke teman-temanku. Fredy lagi mainin kamus tas dwarf sambil nahan stres. Dina dan Agus berbisik entah ngomongin strategi atau mau resepsi dadakan. Pak Dedy sibuk bersihin perisai elf sambil nyanyi lirih. Albert? Dia lagi catat ide baru: Bom asap rasa sambal terasi level neraka.
Miau, si guide dadakan, cuma menatapku sambil sesekali garuk telinga kayak kucing.
"Kalau begitu… kita harus ke mana, Chintya?" tanyaku, masih berharap jawabannya: pulang ke Indonesia dan buka warung soto ayam.
Chintya menunjuk ke peta Drak’terra yang dihampar di tanah. Tangannya yang lentik bergerak ke arah kota di bagian barat daya.
"Stromcoast. Di sana masih banyak manusia dan ras beastfolk (setengah hewan). Mereka tidak terlalu suka elf, dwarf, atau dragonian. Kalian bisa menyembunyikan diri sementara di sana, mencari sekutu, atau setidaknya mengatur strategi."
Aku manggut-manggut sambil berusaha kelihatan paham, padahal otakku udah mau error kayak modem jadul.
"Setuju," kataku akhirnya. "Kita ke Stromcoast. Setidaknya di sana kita bisa ngopi dulu sambil mikir langkah selanjutnya."
Fredy mendecak. "Ngopi, ya… otak lu ngopi terus kayaknya."
Aku pura-pura nggak denger.
Chintya menatapku dalam, kali ini lebih lembut. "Jaga pedang itu. Dan… jaga dirimu sendiri."
Aku kaku. Mau jawab, tapi bibirku mendadak nge-lag.
"Y-ya…"
Dan begitu rencana disepakati, kami segera berkemas. Miau menyiapkan jalur tercepat ke Stromcoast. Dina dan Agus memeriksa amunisi dan senjata. Fredy nyusun ulang isi tas dwarf biar nggak ketukar sama bom aroma sate. Albert masih khusyuk sama catatan anehnya.
Aku? Aku cuma berdiri di situ, menatap pedang yang kini bukan hanya senjata, tapi juga tiket ke masalah level dewa.
Dalam hati aku berdoa… semoga Stromcoast benar-benar tempat aman. Dan semoga… aku nggak mendadak disuruh sedih dadakan lagi.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Stromcoast.
Miau, yang selama ini jadi penunjuk jalan kami, akhirnya harus kembali ke desa nekomimi untuk melaporkan kondisi terakhir dan mencari kemungkinan aliansi tambahan.
Sebelum pergi, Miau menatapku sambil menepuk pundakku.
"Jangan mati konyol sebelum ketemu aku lagi," katanya sambil senyum iseng.
Aku cuma bisa nyengir kuda sambil ngibasin jubah.
Malam itu, kami berhenti di sebuah dataran tinggi berbatu. Kami mendirikan tenda seadanya, dan menyalakan api unggun. Asapnya naik ke langit, bercampur dengan bintang-bintang yang bertebaran di langit Drak’terra.
Kami duduk melingkar. Angin malam menusuk, tapi suasana hening. Hening yang bikin mikir, sekaligus bikin perut lapar.
Chintya membuka percakapan, suaranya tegas tapi menenangkan.
"Kalau kalian mau selamat, kita harus perbaiki formasi bertarung kalian. Kita tidak bisa mengandalkan keberuntungan terus."
Aku manggut. "Kami butuh strategi serius, bukan cuma modal nekat dan bom aroma sate Albert."
Albert hanya mendengus, "Eh, bom itu masterpiece tahu."
Chintya mengabaikan Albert. Dia berdiri, menunjuk satu per satu.
"Handoyo," katanya sambil menatapku tajam, "kau adalah kesatria garis depan. Kau punya pedang elf itu. Kau harus memimpin serangan langsung, melindungi semua orang, dan jadi ujung tombak."
Aku meneguk air liur. "Iya… walau takut juga, tapi… iya…"
Lalu dia menoleh ke Pak Dedy.
"Kau jadi tanker. Perisai elf-mu bukan hanya bertahan, tapi juga bisa menyerang lewat akar. Tugasmu menahan musuh yang mencoba mendekat ke garis belakang."
Pak Dedy cuma mengangguk sambil pegang perisai kayak peluk guling.
"Dina," lanjut Chintya, "kau assassin. Kecepatanmu luar biasa. Kau harus menusuk titik vital musuh, menyerang dari belakang atau samping, mengacaukan formasi musuh."
Dina senyum, tapi senyum yang bikin Agus langsung dag-dig-dug.
"Agus," Chintya beralih, "kau pemanah jarak menengah. Kau yang menjaga agar musuh tak bisa mendekat, sambil membantu mengcover serangan dari jauh."
Agus meraih busur elf-nya, matanya penuh antusias, kayak mau lomba 17-an.
"Fredy," suara Chintya terdengar lebih serius, "kau sniper. Tugasmu menembak musuh dari jauh, mematikan komandan atau penyihir lawan sebelum mereka sempat bergerak."
Fredy menghela napas lega. "Akhirnya role yang waras."
Lalu Chintya menoleh ke Albert.
"Albert, kau sekarang akan kubimbing sebagai support mage. Kau akan membuat item sihir untuk memperkuat teman-temanmu. Bom anehmu boleh, tapi sekarang kau juga harus mempelajari mantra perlindungan dan alat bantu medis sihir."
Albert tampak girang. "Yess! Akhirnya aku resmi jadi wizard, bukan tukang sate portable!"
Terakhir, Chintya menepuk dadanya sendiri.
"Dan aku, akan jadi penyihir tempur dan juga support di garis depan. Aku akan membantu Handoyo langsung, sekaligus menjaga garis belakang jika keadaan genting."
Kami semua saling pandang. Rasanya seperti briefing misi di film action, tapi lebih absurd — soalnya ada pedang elf, bom rasa sate, dan sniper yang bawa kamus tas dwarf.
Aku berdiri, menatap api unggun.
"Oke… kalau begitu, kita resmi jadi party petualang, ya?"
Fredy nyeletuk, "Iya, party absurd… tapi ya sudah lah."
Dina cekikikan sambil menepuk bahu Agus.
Pak Dedy cuma senyum tipis.
Albert sudah sibuk coret-coret di buku catatan, bikin desain bom baru.
Chintya menatapku, kali ini lebih lembut.
"Kalau kau bisa memimpin mereka, kita punya peluang."
Aku angkat pedang elf ke atas api unggun.
"Baiklah! Kalau begitu… mari kita buat sejarah di Drak’terra. Dan kalau bisa, kita pulang dalam kondisi utuh. Amin."
Semua terdiam, lalu tertawa kecil.
Malam itu, di bawah bintang-bintang, kami resmi jadi satu tim.
Tim yang absurd, tapi… mungkin, tim yang bisa menyelamatkan dua dunia.
Malam makin larut. Api unggun tinggal menyala kecil, kayu sudah habis separuh, dan bintang di langit Drak’terra kelihatan lebih banyak dari biasanya.
Aku duduk di atas batu datar, pedang elf bersandar di sebelahku. Chintya duduk agak jauh, sedang menajamkan tombak gelangnya sambil menatap langit.
Aku meliriknya. Pelan-pelan aku geser duduk, mendekat.
"Eh… malam ini… dingin, ya?" kataku, mencoba membuka obrolan.
Chintya melirik sekilas, lalu balik menatap tombaknya. "Iya. Ini normal di dataran tinggi Drak’terra. Lagipula, kita harus terbiasa dengan dingin sebelum sampai Stromcoast."
Aku angguk-angguk, pura-pura paham.
"Di dunia kami… kalau dingin gini, biasanya orang makan bakso sambil duduk di pinggir jalan. Ada yang makan mie rebus juga. Kadang rebusnya kebanyakan air, rasanya kayak air comberan. Tapi tetap laris."
Chintya menoleh, wajahnya yang biasanya kaku mendadak tersenyum kecil. "Bakso? Mie rebus? Sepertinya menarik. Kenapa tidak kau buatkan di sini?"
Aku garuk-garuk kepala. "Eh… bahan dan gerobak abang baksonya belum ada di tas dwarf, hehehe. Tapi… nanti kalau kita selamat pulang ke bumi, aku traktir kamu makan bakso sepuluh mangkok. Gratis, spesial."
Chintya tertawa tipis. Tawanya lembut, bikin jantungku sempat macet setengah ketukan.
"Kau manusia yang aneh," katanya, matanya menatap api. "Dunia kalian terdengar lebih… hangat. Meski keras, tapi penuh cerita lucu dan makanan aneh."
Aku nyengir lebar. "Iya, makanya… kalau nanti kamu mau, boleh banget main ke bumi. Aku ajak keliling. Ke pasar malam, naik bianglala. Kalau nggak takut ketinggian."
Chintya menghela napas panjang. "Kalau dunia kalian seindah ceritamu, aku mau lihat. Tapi… aku ini buronan di sini. Banyak yang mencariku karena pedang itu. Aku tidak bisa meninggalkan Drak’terra begitu saja."
Aku mendekat, setengah serius setengah iseng.
"Kalau kamu mau… kita kabur bareng. Kita tinggal di bumi. Kamu jadi istri… eh… jadi partner, maksudnya. Nggak usah mikirin dunia ini."
Chintya langsung menatapku, tajam. Aku langsung kaku, keringat dingin ngucur.
"Tidak semudah itu, Handoyo. Aku punya tanggung jawab. Tapi…"
Dia melirik pedang elf di sampingku. "Kau… mungkin orang bodoh, tapi hatimu besar. Itu sebabnya pedang itu memilihmu."
Aku kikuk. "Bodoh tapi hatinya besar? Kayak gajah yang kelamaan nganggur, ya?"
Chintya tertawa pelan lagi. Lalu dia berdiri, memandang ke arah langit.
"Kalau kita selamat… dan kau masih mau… mungkin aku mau coba makan bakso itu," katanya.
Aku langsung berdiri juga. "DEAL! Tulis di kontrak pakai tongkat elf sekalian!"
Chintya hanya menoleh sambil menggeleng, lalu berjalan menuju tenda.
"Ayo tidur, Handoyo. Besok kita punya perjalanan panjang."
Aku menatap punggungnya sampai hilang di balik tenda.
Aku duduk lagi, menatap bintang sambil senyum sendiri.
"Bakso sepuluh mangkok… ini bakal jadi alasan paling kocak untuk selamat di dunia fantasy," gumamku.
Dan malam itu, entah kenapa, aku merasa sedikit lebih hangat.
Other Stories
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...