DARAH NAGA

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
27
Vote
Report
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 19 – Rahasia Darah Naga


Bab 19 – Rahasia Darah Naga

Kami kembali ke kapal yang tersangkut di tebing Greatspire, tempat persembunyian kami yang sekarang juga jadi markas darurat.

Misi penyergapan berhasil. Darah naga sudah di tangan. Dan lebih penting lagi, kami berhasil menangkap satu elf tua—penyihir yang tadi memimpin ritual pencarian darah naga. Sekarang dia duduk di sudut ruangan, tangan terikat, wajahnya tenang tapi jelas menahan emosi.

Kami mulai menginterogasi. Fredy membuka pembicaraan dengan gaya khas agen rahasia: pelan, intimidatif, dan diselingi jargon yang kami sendiri nggak ngerti artinya.

Elf itu tetap diam.

Aku coba pendekatan yang lebih… manusiawi.

“Aku tahu kamu orang pintar, Pak Elf. Tapi aku juga mantan copet yang lulus S3 jurusan bikin orang ngaku.”

Dia tetap diam.

Akhirnya, aku pakai senjata pamungkas: bulu bebek. bulu yang ku ambil dari bebek tunggangan ku. yang sampae sekarang ngomel ngomel sejak bulu pantatnya aku cabut..1

“Fredy, pegangin kakinya. Chintya, tutup pintu. Operasi Gelitik dimulai!”

Aku mulai menggoyangkan bulu bebek ke bawah dagunya.

“Hi…hi…HIHIHI STOP STOP STOP!” teriak si elf tua sambil menggeliat.

“Mulutmu masih bisa ketawa, berarti bisa ngomong! Ayok, ngaku! Darah naga buat apa?!”

Elf tua itu akhirnya menyerah. Nafasnya tersengal karena tertawa. “Baik… aku akan bicara…”

Kami langsung duduk melingkar. Serius.

“Darah naga… bukan sekadar batu atau energi. Ia adalah katalis utama untuk ritual peningkatan sihir dan kekuatan tubuh. Dengan satu darah naga, kami bisa memperkuat ribuan pasukan. Memberi mereka kecepatan, ketahanan, dan kekuatan yang jauh melampaui makhluk biasa…”

“Jadi… kayak bikin pasukan super?” tanya Fredy.

Elf itu mengangguk. “Bukan cuma kuat. Mereka akan disatukan dengan energi kuno. Tidak bisa ditaklukkan kecuali oleh… naga lain.”

Aku menelan ludah.

“Dan rencana kalian?”

“Menyiapkan ritual besar di lembah Crysalune. Bangsa elf sudah mengirim batu darah naga sebelumnya. Tapi ini yang terakhir… yang paling murni.”

Chintya berdiri. “Kita harus cegah itu semua sebelum pasukan super itu terbentuk.”

Fredy menatapku. “Kita punya batu, dan tahu rencananya. Tapi sekarang kita juga punya masalah: semua pihak pasti akan datang mengejar batu ini. Elf, dwarf, dragonian…”

Aku menghela napas. “Dan aku cuma pengen balik ke duniaku, nonton serial dan makan gorengan.”

Semua diam.

Chintya menoleh padaku. “Tapi kamu tahu kamu gak bisa pulang sebelum semua ini selesai, kan?”

Aku diam.

Batu darah naga di kantongku tiba-tiba berdenyut pelan. Hangat… seolah hidup.

Aku menatap batu merah di tanganku. Denyutnya masih terasa. Seolah hidup. Seolah... mengawasi.

Aku benar-benar terkejut. Bayangkan, bangsa elf saja tanpa darah naga sudah bisa bikin sihir yang bisa nyulap es jadi badai, bikin cahaya jadi tombak, dan ngobrol pakai pikiran. Lha kalau mereka dapat kekuatan dari darah naga? Bisa-bisa mereka jadi penguasa dunia ini.

Fredy mengernyit. “Kalau satu batu ini bisa buat ribuan pasukan super, terus kalau mereka ngumpulin lebih dari satu...?”

“Game over,” jawab Chintya dingin.

Kami terdiam. Belum sempat menyusun strategi, BOOOOOM!

Tiba-tiba kapal kami terguncang hebat. Dinding sebelah kanan berlubang, serpihan kayu berjatuhan. Kami semua terlempar ke sisi kapal.

“WOY! APAAN ITU?!” teriakku.

Fredy mengintip lewat celah. “Batu api! Dwarf menyerang! Mereka tahu posisi kita!”

Satu batu api lagi meledak tidak jauh dari sayap kapal. Kapal oleng. Chintya dengan sigap menarik tuas sihir pelindung, sementara aku buru-buru mengikat si elf tua ke tiang agar dia tidak kabur.

“Waktunya kabur!” teriak Fredy. “Kita gak bisa bertahan di sini!”

Aku lompat ke punggung bebekku—yang entah kenapa malah semangat seperti habis minum susu berenergi. Fredy sudah menaiki griffin-nya. Chintya mengendarai pegasus dan membawa si elf tua yang kini pingsan karena syok.

Kapal mulai terbakar. Kami meloncat dari tebing sambil terbang menjauh, meninggalkan kobaran api dan reruntuhan kapal.

“Rutenya ke mana sekarang?!” aku teriak di udara, diterpa angin.

“Pemukiman Nekomimi!” jawab Chintya.

Aku menoleh. “Serius?! Kampung kucing humanoid itu?”

“Ya! Mereka netral, tapi punya sistem pelindung terbaik! Kita bisa sembunyi di sana dulu sambil cari cara hadapi elf dan dwarf sekaligus!”

Fredy nyengir. “Asal jangan aku yang disuruh bawa makanan kucing!”

Aku hanya bisa menghela napas. Masalah semakin besar. Dunia ini di ambang perang, darah naga jadi rebutan, dan kami... hanya tiga orang dengan satu batu dan satu bebek cerewet.

Dan tujuan awalku cuma mau pulang.

Jalan ke Selatan

Kami akhirnya tiba di desa Nekomimi. Begitu kaki kami menapak tanah, suara lonceng kecil terdengar dari atap-atap rumah. Di antara kabut pegunungan, sosok bertelinga kucing dan berekor lentik mulai muncul satu per satu.

“Miauuu!” teriak seseorang dari kejauhan.

Itu dia. Miau, komandan pasukan Nekomimi sekaligus spesialis cakar cepat lima jari. Ia melambai-lambaikan tangan (dan ekornya) sambil berlari ke arah kami.

Di belakangnya, berdiri tegap seorang pria paruh baya berbaju loreng dengan ekspresi wajah seperti sedang membaca laporan keuangan.

“Pak Sukoco!” seruku.

Beliau tersenyum, lalu menyambut kami dengan anggukan khas jenderal pensiun. “Kalian selamat,” katanya singkat.

Kami disambut dengan hangat oleh pasukan putih, sebutan untuk koalisi tentara dari Nekomimi, bangsa tikus, dan bangsa anjing. Ternyata mereka semua bersiap untuk eksodus besar-besaran ke Stromcoast. Posisinya yang terjepit di antara dua kerajaan yang nyaris perang membuat desa ini tidak lagi aman.

Sebelah kiri desa ada Anorithil, kerajaan elf dengan menara sihir dan hutan bercahaya. Sebelah kanan, Durnholgar, markas para dwarf yang suka bikin ledakan dari palu ajaib mereka. Di tengah? Ya mereka. Bangsa berkuping hewan yang cinta damai, tapi bisa berubah ganas kalau bulunya ditarik.

Kami menceritakan perjalanan kami. Tentang naga, tentang darah naga, tentang penyergapan elf dan ritual sihirnya. Dan tentu saja, tentang batu merah yang kini disimpan dalam tas kain hitam yang aku gendong erat-erat.

Setelah mendengar semua itu, kepala penyihir Nekomimi, seorang nenek bertelinga panjang bernama Nyai Telinga Tiga, memberikan saran mengejutkan.

“Bawa kembali darah naga itu ke... Kepulauan Naga Selatan. Di sanalah para naga sejati tinggal. Mereka layak menerima jasad saudara mereka kembali.”
Aku langsung diam.
Kepulauan naga?
Naga-naga asli? Bukan yang mirip manusia seperti Dragonian?

“Kalau mereka tahu aku yang membunuh saudaranya gimana, Nek?” tanyaku pelan.

Nyai Telinga Tiga menatapku lekat-lekat.

“Itu risiko yang harus kau ambil. Tapi jangan takut. Mereka bukan makhluk pembalas dendam. Mereka makhluk penjaga keseimbangan.”
Aku masih ragu.
Fredy menepuk pundakku. “Yah, kalau mereka ngamuk, tinggal kasih darah naganya terus kabur. Biasa, taktik orang utang.”

Aku mendengus. “Ini bukan kredit panci, Fred.”

Paginya, kami berpencar.

Pak Sukoco, Miau, dan seluruh pasukan eksodus bergerak menuju Stromcoast lewat jalur darat, melindungi para rakyat kecil yang ikut mengungsi.

Sedangkan aku, Fredy, dan Chintya—kembali menaiki tunggangan masing-masing.

Fredy dengan Griffin milik Raja Arthur, Chintya menunggang Pegasus, dan aku… yah, tetap dengan bebek cerewet terbang modifikasi milikku. Suaranya makin nyaring, tapi setidaknya sekarang dia bisa terbang zigzag sambil ngomel.

Tujuan kami: Kepulauan Naga di Selatan.

Aku memeluk tas berisi darah naga itu lebih erat.

Perjalanan menuju pulau para naga bukan sekadar misi... ini semacam mengantar maaf, sekaligus taruhan nyawa.

Dan semoga, naga-naga di sana tidak punya agenda lain—seperti, misalnya, menyantap manusia bertampang sok polos yang tidak sengaja membunuh saudara mereka.





Other Stories
Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Download Titik & Koma