Bab 21 – Kebenaran Di Balik Langit
Bab 21 – Kebenaran di Balik Langit
Dalam perjalanan udara menuju kota Stromcoast, kami masih dikawal para naga. Terbang melintasi awan, membelah langit sore yang mulai meremang, pemandangannya sangat luar biasa. Pegasus, grifin , bebek terbang dan para naga, apakah ini surga? Bukan. Ini dunia yang berantakan oleh sejarah yang dipelintir dan darah yang tertumpah sia-sia.
Sampai pertengahan jalan, para naga berhenti. Mereka berhenti di langit, mengangguk pelan, lalu membalikkan tubuh mereka yang raksasa dan kembali ke selatan.
Kami bertiga—aku dengan bebek terbangku yang mulai ngos-ngosan, Fredy dengan Griffin kebanggaannya yang sok anggun, dan Chintya dengan Pegasus peraknya—terbang dalam diam. Angin menampar pipi kami. Tapi yang lebih keras menamparku... adalah rasa penasaran.
“Chintya,” tanyaku, memecah sunyi. “Kenapa kamu kabur dari bangsa elf langit? Bukankah mereka kasta tertinggi di antara para elf?”
Ia diam sejenak. Membelai lembut surai Pegasus-nya. Angin membuat rambutnya berkibar, seperti adegan sinetron, tapi yang ini beneran dramatis.
“Aku lahir tepat setelah perang dengan bangsa naga,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Orangtuaku... dibunuh.”
Aku menoleh cepat. “Hah?”
“Oleh pemimpin tertinggi elf langit,” lanjut Chintya. “Saat aku remaja. Mereka tahu sesuatu. Ada rahasia besar yang akan mereka ungkap. Tapi sebelum sempat mereka berbicara... mereka dibungkam.”
Aku menelan ludah. Angin terasa makin dingin.
“Pesan terakhir orang tuaku... hanya satu. Cari pedang perobek portal. Kalau bisa dihancurkan, hancurkan. Kalau tidak, musnahkan dari dunia ini. Jangan sampai dipakai bangsa mana pun.”
Ia menoleh padaku. Matanya teduh, tapi menyimpan bara.
“Dan sekarang... setelah mendengar kebenaran dari bangsa naga... aku tahu siapa sebenarnya yang menjadi akar kehancuran dunia ini.”
Aku mengangguk pelan. Rasanya langit tak lagi seindah tadi. Kami bertiga kembali terbang, mendekati Stromcoast, membawa kebenaran... dan mungkin, awal dari peperangan baru
Kebenaran Menyulut Perang
Kami akhirnya tiba di kota Stromcoast.
Langit sudah keemasan saat kami mendarat di pelataran istana kerajaan, disambut oleh barisan penjaga berseragam baja ringan berkilau dan panji-panji kota yang berkibar gagah. Raja Arthur sendiri sudah berdiri di sana, bersama para pemimpin ras lainnya—pemimpin bangsa tikus, anjing, nekomimi, manusia padang rumput, hingga manusia hutan dari barat jauh.
“Selamat datang, para pembawa kebenaran,” ucap Raja Arthur. Suaranya berat dan bijak, tapi ada kilatan tegang di balik senyumnya. Seperti tahu bahwa angin damai sedang berubah arah.
Kami tidak membuang waktu. Di aula besar yang dikelilingi tiang-tiang ukiran zaman awal dunia, kami menyampaikan semuanya.
Tentang kebenaran sejarah Drak’Terra.
Tentang invasi awal dari bangsa elf dan dwarf melalui gurun kematian.
Tentang gosip yang disebar demi menumbangkan naga.
Tentang pengusiran mereka, dan kutukan bisu yang membuat bangsa naga tak bisa membela diri.
Seketika aula hening.
Raja Arthur mengepalkan tangan di atas singgasana.
“Lalu, bagaimana kita tahu ini bukan tipu daya naga?”
“Aku sendiri yang melihatnya,” ucapku. “Dengan mata kepala sendiri. Aku bahkan telah mengembalikan darah naga kepada mereka. Dan... aku yang membunuh naga penjaga portal itu.”
Semua menoleh padaku. Ada tatapan tak percaya. Ada yang kaget. Tapi tak ada yang menghakimi.
Chintya ikut bicara, menjelaskan pesan terakhir orang tuanya—dua bangsawan elf langit yang dibungkam karena tahu kebenaran ini sejak dulu.
Fredy menambahkan detail dari jurnal-jurnal kuno yang dia temukan di perpustakaan bawah tanah di reruntuhan kastil naga.
Perlahan, wajah Raja Arthur mengeras. Seorang pengintai berlari masuk ke aula, napasnya memburu.
“Paduka! Berita penting! Mata-mata kami di wilayah utara melihat pasukan bangsa elf dan dwarf mulai bergerak. Mereka sedang mengumpulkan logistik, dan mempersiapkan kendaraan perang. Tujuan mereka—Stromcoast.”
Semua mata di aula membelalak. Suasana mendadak menegang.
Raja Arthur berdiri.
“Jika mereka datang membawa perang, maka kita tidak akan menyambut mereka dengan bunga. Kita akan menyambut mereka... dengan barisan yang siap bertarung.”
Ia memandang ke seluruh aula.
“Atas nama keadilan, dan atas nama kebenaran yang disembunyikan selama ratusan tahun, aku—Raja Arthur dari Stromcoast—mengumumkan: Kita akan bersiap untuk perang.”
Sorak sorai para pemimpin ras lain meledak.
Begitu juga detak jantungku.
Perang besar... tak bisa dihindari.
Pertemuan dan Pergolakan:
Rapat dewan aliansi akhirnya selesai.
Langit sudah gelap. Bintang-bintang menggantung di atas kota Stromcoast yang bersiap jadi medan perang.
Aku melangkah keluar dari aula kerajaan, dan melihat wajah-wajah yang sudah lama tidak kulihat. Wajah-wajah dari Bumi.
“WOY!” seru seseorang.
“HANDOYO!” suara lain menyusul.
Dina berlari kecil ke arahku, diikuti Agus, Pak Dedy yang masih dengan jaket tuanya, dan si jenius paling absurd dari kelompok kami—Albert.
Kupeluk mereka satu per satu.
“Kalian... kalian masih hidup,” kataku lirih.
Pak Dedy tertawa. “Yah, meski beberapa kali hampir dijadikan sup oleh troll. Tapi masih hidup.”
Agus menepuk dadanya. “Masih kuat, Bro. Kita ini alumni KKN Lintas Dimensi.”
Dina hanya tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Lalu Albert maju. Ia menatapku sebentar, lalu menatap Fredy dan Chintya yang berdiri di belakangku.
“Aku dengar kalian berhasil menyampaikan kebenaran ke Raja Arthur,” katanya.
Aku mengangguk.
Albert menghela napas panjang, lalu duduk di bangku batu dekat taman kecil di halaman istana. “Kalau begitu... aku harus ikut mengambil keputusan besar.”
Kami duduk melingkar. Albert membuka tas punggungnya yang biasa dia angkut ke mana-mana. Isinya bukan TV atau makanan ringan seperti dulu, tapi...
Sebuah tabung logam sepanjang lengan manusia dewasa, dengan inti yang berpendar biru.
“Ini... baterai nuklir yang kuciptakan waktu terdampar di reruntuhan kota tua itu,” jelas Albert. “Awalnya aku ingin menyimpannya, meneliti pelan-pelan. Tapi... dengan situasi sekarang, aku berpikir untuk mengubahnya jadi senjata.”
Kami terdiam.
“Bom?” tanya Agus pelan.
“Bom, atau plasma cannon,” jawab Albert. “Aku bisa bikin seperti senjata laser... mirip lightsaber atau senapan laser Star Wars. Tapi daya rusaknya... bisa melelehkan tembok kastil kalau aku gak batasi dayanya.”
“Dulu kamu nolak bikin senjata, Bert,” kata Dina pelan.
Albert menatap baterai itu. Wajahnya gelap, ragu, seperti bertarung dengan dirinya sendiri.
“Aku tahu... aku gak mau ikut memperpanjang kekerasan. Tapi... kalau kita gak punya senjata, kita akan kalah. Kebenaran tidak bisa bertahan kalau tidak ada yang melindunginya.”
Pak Dedy mengangguk pelan. “Kadang... bukan soal ingin berperang. Tapi soal bertahan hidup dan membela yang benar.”
Aku menepuk bahu Albert.
“Kamu gak sendirian, Bert. Kalau kamu putuskan lanjut... kami akan membantumu.”
Albert tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita mulai dari membuat senjata pemusnah yang etis... setidaknya kita masih manusia.”
Kami semua tertawa kecil.
Meski dalam hati, kami semua tahu: tawa itu bisa jadi tawa terakhir sebelum badai besar datang.
Kekuatan yang Berkembang.
Malam itu, setelah pembicaraan serius dengan Albert, kami memutuskan untuk beristirahat di barak khusus para pejuang. Tapi rasa kantuk tidak datang. Terlalu banyak hal yang mengendap di kepala—termasuk bagaimana teman-temanku kini... bukan lagi sekadar manusia biasa.
Di halaman latihan, aku melihat sosok bergerak cepat seperti kilat. Hanya ada satu orang yang bisa begitu.
“Dina?”
ZRAAKK!
Sabetannya menggores pilar batu, dan pilar itu... terbelah dua. Seperti dipotong laser.
“Woy!” panggilku, kaget. “kamu latihan atau mau meratakan kastil?”
Dina menghentikan gerakannya dan tersenyum. “Hehe. Maaf. Aku lagi nguji batas kecepatanku. Sejak dapat liontin cahaya dari kuil kuno di Selatan, aku bisa gerak secepat pikiran. Dan ini...” —ia mengangkat senjatanya— “...sabetannya bisa motong baja. Bahkan kamu.”
“Uh... noted. Jangan main-main pas kamu lagi PMS,” jawabku ngeri-ngeri lucu.
Tak jauh dari sana, terdengar suara bergemuruh. Tanah bergetar. Dari balik semak, tanaman berduri muncul merayap, lalu berubah jadi... mulut?
“AGUS?”
Agus muncul dari balik tanaman itu, tertawa. “Keren, kan?”
“kamu bikin kebun binatang atau senjata biologis sih?”
“Tanamanku sekarang bisa berubah bentuk. Bahkan... bisa ngejar musuh,” jelasnya. “Aku kasih nama ini Si Cemong.”
Tiba-tiba mulut tanaman itu menjilati bahuku. Aku lompat setengah meter.
“OKE, CEMONG AGAK NYEREMIN!”
Kami semua tertawa.
Lalu, dari arah barak, muncul suara gedebuk berat.
Pak Dedy berdiri di sana. Tapi bukan seperti biasa. Tubuhnya dipenuhi lapisan kayu dan akar—menyatu dengan perisai besarnya, yang kini berubah menjadi pelindung tubuh penuh.
“Waduh...” aku melongo.
“Kalian gak kira-kira sih,” gumamku.
Pak Dedy menjelaskan, “Perisaiku sekarang bisa berubah bentuk. Jadi armor. Bahkan bisa aku gunakan untuk berubah...”
Dan tiba-tiba tubuh Pak Dedy membesar, akar menjulur, dan ia menjelma menjadi pohon raksasa.
“INI NGGAK NGERTI LAGI!” teriakku.
Fredy yang ikut melihat hanya berkomentar datar, “Kalau semua bisa berubah bentuk... jangan-jangan nanti Handoyo berubah jadi bebek terbang.”
Aku menatap bebekku. Si bebek hanya menatap balik dengan ekspresi tidak tertarik.
Ya... di dunia ini, kami yang dulu cuma copet penerima warisan biasa, kini berubah jadi pejuang dengan kekuatan di luar nalar. Tapi... musuh yang akan kami hadapi juga bukan main-main.
Dan perang... tinggal menunggu waktu.
Dalam perjalanan udara menuju kota Stromcoast, kami masih dikawal para naga. Terbang melintasi awan, membelah langit sore yang mulai meremang, pemandangannya sangat luar biasa. Pegasus, grifin , bebek terbang dan para naga, apakah ini surga? Bukan. Ini dunia yang berantakan oleh sejarah yang dipelintir dan darah yang tertumpah sia-sia.
Sampai pertengahan jalan, para naga berhenti. Mereka berhenti di langit, mengangguk pelan, lalu membalikkan tubuh mereka yang raksasa dan kembali ke selatan.
Kami bertiga—aku dengan bebek terbangku yang mulai ngos-ngosan, Fredy dengan Griffin kebanggaannya yang sok anggun, dan Chintya dengan Pegasus peraknya—terbang dalam diam. Angin menampar pipi kami. Tapi yang lebih keras menamparku... adalah rasa penasaran.
“Chintya,” tanyaku, memecah sunyi. “Kenapa kamu kabur dari bangsa elf langit? Bukankah mereka kasta tertinggi di antara para elf?”
Ia diam sejenak. Membelai lembut surai Pegasus-nya. Angin membuat rambutnya berkibar, seperti adegan sinetron, tapi yang ini beneran dramatis.
“Aku lahir tepat setelah perang dengan bangsa naga,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Orangtuaku... dibunuh.”
Aku menoleh cepat. “Hah?”
“Oleh pemimpin tertinggi elf langit,” lanjut Chintya. “Saat aku remaja. Mereka tahu sesuatu. Ada rahasia besar yang akan mereka ungkap. Tapi sebelum sempat mereka berbicara... mereka dibungkam.”
Aku menelan ludah. Angin terasa makin dingin.
“Pesan terakhir orang tuaku... hanya satu. Cari pedang perobek portal. Kalau bisa dihancurkan, hancurkan. Kalau tidak, musnahkan dari dunia ini. Jangan sampai dipakai bangsa mana pun.”
Ia menoleh padaku. Matanya teduh, tapi menyimpan bara.
“Dan sekarang... setelah mendengar kebenaran dari bangsa naga... aku tahu siapa sebenarnya yang menjadi akar kehancuran dunia ini.”
Aku mengangguk pelan. Rasanya langit tak lagi seindah tadi. Kami bertiga kembali terbang, mendekati Stromcoast, membawa kebenaran... dan mungkin, awal dari peperangan baru
Kebenaran Menyulut Perang
Kami akhirnya tiba di kota Stromcoast.
Langit sudah keemasan saat kami mendarat di pelataran istana kerajaan, disambut oleh barisan penjaga berseragam baja ringan berkilau dan panji-panji kota yang berkibar gagah. Raja Arthur sendiri sudah berdiri di sana, bersama para pemimpin ras lainnya—pemimpin bangsa tikus, anjing, nekomimi, manusia padang rumput, hingga manusia hutan dari barat jauh.
“Selamat datang, para pembawa kebenaran,” ucap Raja Arthur. Suaranya berat dan bijak, tapi ada kilatan tegang di balik senyumnya. Seperti tahu bahwa angin damai sedang berubah arah.
Kami tidak membuang waktu. Di aula besar yang dikelilingi tiang-tiang ukiran zaman awal dunia, kami menyampaikan semuanya.
Tentang kebenaran sejarah Drak’Terra.
Tentang invasi awal dari bangsa elf dan dwarf melalui gurun kematian.
Tentang gosip yang disebar demi menumbangkan naga.
Tentang pengusiran mereka, dan kutukan bisu yang membuat bangsa naga tak bisa membela diri.
Seketika aula hening.
Raja Arthur mengepalkan tangan di atas singgasana.
“Lalu, bagaimana kita tahu ini bukan tipu daya naga?”
“Aku sendiri yang melihatnya,” ucapku. “Dengan mata kepala sendiri. Aku bahkan telah mengembalikan darah naga kepada mereka. Dan... aku yang membunuh naga penjaga portal itu.”
Semua menoleh padaku. Ada tatapan tak percaya. Ada yang kaget. Tapi tak ada yang menghakimi.
Chintya ikut bicara, menjelaskan pesan terakhir orang tuanya—dua bangsawan elf langit yang dibungkam karena tahu kebenaran ini sejak dulu.
Fredy menambahkan detail dari jurnal-jurnal kuno yang dia temukan di perpustakaan bawah tanah di reruntuhan kastil naga.
Perlahan, wajah Raja Arthur mengeras. Seorang pengintai berlari masuk ke aula, napasnya memburu.
“Paduka! Berita penting! Mata-mata kami di wilayah utara melihat pasukan bangsa elf dan dwarf mulai bergerak. Mereka sedang mengumpulkan logistik, dan mempersiapkan kendaraan perang. Tujuan mereka—Stromcoast.”
Semua mata di aula membelalak. Suasana mendadak menegang.
Raja Arthur berdiri.
“Jika mereka datang membawa perang, maka kita tidak akan menyambut mereka dengan bunga. Kita akan menyambut mereka... dengan barisan yang siap bertarung.”
Ia memandang ke seluruh aula.
“Atas nama keadilan, dan atas nama kebenaran yang disembunyikan selama ratusan tahun, aku—Raja Arthur dari Stromcoast—mengumumkan: Kita akan bersiap untuk perang.”
Sorak sorai para pemimpin ras lain meledak.
Begitu juga detak jantungku.
Perang besar... tak bisa dihindari.
Pertemuan dan Pergolakan:
Rapat dewan aliansi akhirnya selesai.
Langit sudah gelap. Bintang-bintang menggantung di atas kota Stromcoast yang bersiap jadi medan perang.
Aku melangkah keluar dari aula kerajaan, dan melihat wajah-wajah yang sudah lama tidak kulihat. Wajah-wajah dari Bumi.
“WOY!” seru seseorang.
“HANDOYO!” suara lain menyusul.
Dina berlari kecil ke arahku, diikuti Agus, Pak Dedy yang masih dengan jaket tuanya, dan si jenius paling absurd dari kelompok kami—Albert.
Kupeluk mereka satu per satu.
“Kalian... kalian masih hidup,” kataku lirih.
Pak Dedy tertawa. “Yah, meski beberapa kali hampir dijadikan sup oleh troll. Tapi masih hidup.”
Agus menepuk dadanya. “Masih kuat, Bro. Kita ini alumni KKN Lintas Dimensi.”
Dina hanya tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Lalu Albert maju. Ia menatapku sebentar, lalu menatap Fredy dan Chintya yang berdiri di belakangku.
“Aku dengar kalian berhasil menyampaikan kebenaran ke Raja Arthur,” katanya.
Aku mengangguk.
Albert menghela napas panjang, lalu duduk di bangku batu dekat taman kecil di halaman istana. “Kalau begitu... aku harus ikut mengambil keputusan besar.”
Kami duduk melingkar. Albert membuka tas punggungnya yang biasa dia angkut ke mana-mana. Isinya bukan TV atau makanan ringan seperti dulu, tapi...
Sebuah tabung logam sepanjang lengan manusia dewasa, dengan inti yang berpendar biru.
“Ini... baterai nuklir yang kuciptakan waktu terdampar di reruntuhan kota tua itu,” jelas Albert. “Awalnya aku ingin menyimpannya, meneliti pelan-pelan. Tapi... dengan situasi sekarang, aku berpikir untuk mengubahnya jadi senjata.”
Kami terdiam.
“Bom?” tanya Agus pelan.
“Bom, atau plasma cannon,” jawab Albert. “Aku bisa bikin seperti senjata laser... mirip lightsaber atau senapan laser Star Wars. Tapi daya rusaknya... bisa melelehkan tembok kastil kalau aku gak batasi dayanya.”
“Dulu kamu nolak bikin senjata, Bert,” kata Dina pelan.
Albert menatap baterai itu. Wajahnya gelap, ragu, seperti bertarung dengan dirinya sendiri.
“Aku tahu... aku gak mau ikut memperpanjang kekerasan. Tapi... kalau kita gak punya senjata, kita akan kalah. Kebenaran tidak bisa bertahan kalau tidak ada yang melindunginya.”
Pak Dedy mengangguk pelan. “Kadang... bukan soal ingin berperang. Tapi soal bertahan hidup dan membela yang benar.”
Aku menepuk bahu Albert.
“Kamu gak sendirian, Bert. Kalau kamu putuskan lanjut... kami akan membantumu.”
Albert tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita mulai dari membuat senjata pemusnah yang etis... setidaknya kita masih manusia.”
Kami semua tertawa kecil.
Meski dalam hati, kami semua tahu: tawa itu bisa jadi tawa terakhir sebelum badai besar datang.
Kekuatan yang Berkembang.
Malam itu, setelah pembicaraan serius dengan Albert, kami memutuskan untuk beristirahat di barak khusus para pejuang. Tapi rasa kantuk tidak datang. Terlalu banyak hal yang mengendap di kepala—termasuk bagaimana teman-temanku kini... bukan lagi sekadar manusia biasa.
Di halaman latihan, aku melihat sosok bergerak cepat seperti kilat. Hanya ada satu orang yang bisa begitu.
“Dina?”
ZRAAKK!
Sabetannya menggores pilar batu, dan pilar itu... terbelah dua. Seperti dipotong laser.
“Woy!” panggilku, kaget. “kamu latihan atau mau meratakan kastil?”
Dina menghentikan gerakannya dan tersenyum. “Hehe. Maaf. Aku lagi nguji batas kecepatanku. Sejak dapat liontin cahaya dari kuil kuno di Selatan, aku bisa gerak secepat pikiran. Dan ini...” —ia mengangkat senjatanya— “...sabetannya bisa motong baja. Bahkan kamu.”
“Uh... noted. Jangan main-main pas kamu lagi PMS,” jawabku ngeri-ngeri lucu.
Tak jauh dari sana, terdengar suara bergemuruh. Tanah bergetar. Dari balik semak, tanaman berduri muncul merayap, lalu berubah jadi... mulut?
“AGUS?”
Agus muncul dari balik tanaman itu, tertawa. “Keren, kan?”
“kamu bikin kebun binatang atau senjata biologis sih?”
“Tanamanku sekarang bisa berubah bentuk. Bahkan... bisa ngejar musuh,” jelasnya. “Aku kasih nama ini Si Cemong.”
Tiba-tiba mulut tanaman itu menjilati bahuku. Aku lompat setengah meter.
“OKE, CEMONG AGAK NYEREMIN!”
Kami semua tertawa.
Lalu, dari arah barak, muncul suara gedebuk berat.
Pak Dedy berdiri di sana. Tapi bukan seperti biasa. Tubuhnya dipenuhi lapisan kayu dan akar—menyatu dengan perisai besarnya, yang kini berubah menjadi pelindung tubuh penuh.
“Waduh...” aku melongo.
“Kalian gak kira-kira sih,” gumamku.
Pak Dedy menjelaskan, “Perisaiku sekarang bisa berubah bentuk. Jadi armor. Bahkan bisa aku gunakan untuk berubah...”
Dan tiba-tiba tubuh Pak Dedy membesar, akar menjulur, dan ia menjelma menjadi pohon raksasa.
“INI NGGAK NGERTI LAGI!” teriakku.
Fredy yang ikut melihat hanya berkomentar datar, “Kalau semua bisa berubah bentuk... jangan-jangan nanti Handoyo berubah jadi bebek terbang.”
Aku menatap bebekku. Si bebek hanya menatap balik dengan ekspresi tidak tertarik.
Ya... di dunia ini, kami yang dulu cuma copet penerima warisan biasa, kini berubah jadi pejuang dengan kekuatan di luar nalar. Tapi... musuh yang akan kami hadapi juga bukan main-main.
Dan perang... tinggal menunggu waktu.
Other Stories
Horor
horor ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...