Bab 22 — Sebelum Badai
Bab 22 — Sebelum Badai
sebelum rencana penyerangan bangsa elf dan dwarf ke Stormcoast, aku dapat kabar mengejutkan.
“Mas… kami mau nikah,” kata Dina, dengan suara pelan tapi mantap. Di sebelahnya, Agus berdiri tegak, wajahnya campuran antara gugup dan lega.
Aku melongo. “Hah? Serius? Kalian? Nikah? Di tengah perang?”
Dina mengangguk. “Justru karena perang, Mas. Kita nggak tahu akan selamat atau nggak. Jadi sebelum semuanya terlambat…”
Aku terdiam. Otakku belum sempat memproses informasi itu, tapi mulutku sudah auto respon, “Selamat ya. Kalian pasangan yang… lumayan cocok.” (Itu kalimat paling diplomatis yang bisa kupikirkan dalam keadaan syok.)
Agus nyengir. “Makasih, Mas. Jangan lupa datang. Tiga hari lagi. Sebelum kita semua berangkat perang.”
Aku cuma mengangguk, setengah tak percaya. Dunia benar-benar gila. Portal antar dimensi, naga, elf, perang… dan sekarang nikahan kilat.
Tapi dalam hati, aku iri.
Mereka berani. Mereka tahu waktu mereka mungkin tidak banyak, dan mereka tidak menyia-nyiakannya. Sementara aku?
Aku bahkan belum berani bilang ke Chintya bahwa aku jatuh cinta. Sudah beberapa kali aku membayangkan skenarionya: Aku menyatakan cinta… Lalu dia tersenyum, dan membalas perasaanku… Lalu kami menikah, punya anak, hidup damai…
Tapi versi realistisnya di kepalaku? Aku bilang cinta, dia melotot sambil bilang, “Kau manusia bodoh yang hanya bisa naik bebek cerewet!”
Yah, cinta memang kadang butuh keberanian lebih dari sekadar melawan pasukan dwarf.
Aku menatap langit Stormcoast malam itu. Awan mulai bergulung. Udara terasa berat. Seperti alam pun tahu, badai akan datang.
Tapi sebelum badai menghantam, beberapa orang memutuskan untuk mencuri sepotong kebahagiaan.
Dan mungkin, aku juga harus segera memutuskan. Sebelum semuanya terlambat.
Jalan-Jalan Sebelum Perang
Kalau Dina dan Agus bisa nikah… kenapa aku nggak?
Itu pertanyaan yang terus muter-muter di kepalaku sepanjang hari. Di sela suara denting palu menempa logam, para tukang sihir yang mengumpulkan mana ke dalam kristal-kristal, dan tentara ras tikus yang latihan baris-berbaris dengan irama aneh—aku malah mikirin cinta.
Aku pun nekat mengajak Chintya jalan-jalan sore keliling kota Stormcoast.
Kami jalan berdua, menyusuri jalan-jalan batu yang mulai penuh tumpukan karung pasir. Anak-anak manusia dan nekomimi bermain di dekat para pandai besi. Aroma kayu terbakar, keringat, dan harapan bercampur jadi satu.
Aku melirik Chintya. Ia tampak tenang seperti biasa. Rambut peraknya tergerai, baju tempurnya mengilap walau tidak terlalu mencolok. Di punggungnya, pedang panjang yang tampaknya hanya dia dan Tuhan yang tahu cara pakenya.
Aku celingukan, nyari suasana yang pas buat buka topik. Begitu lihat penjual roti bulat isi keju—langsung beli dua. Satu aku sodorin ke Chintya.
Dia menerimanya. “Apa ini?”
“Roti bulat isi keju. Nggak ada di Anorithil,” jawabku.
Dia menggigitnya pelan, lalu tersenyum. “Lumayan.”
Oke. Ini momen yang tepat. Maka aku buka suara.
“Enng… Chintya,” kataku sambil melirik ke depan pura-pura santai. “Apa nggak kepikiran… apakah kita bakal selamat dengan peperangan ini?”
Chintya menghela napas. “Aku juga ragu. Tapi yang pasti… kita telah memperjuangkan keyakinan kita. Itu cukup bagiku.”
“Eh, nggak kepikiran… misalnya kita kalah perang terus mati gitu… ya kayak Dina dan Agus… mereka nikah duluan…”
Chintya menoleh. Tatapannya datar. “Kami bangsa elf lebih mementingkan kehormatan daripada hubungan cinta.”
Aku langsung lemes. Kayak roti isi keju yang udah kelamaan dibiarkan di bawah matahari.
“Oh…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Napas kutarik dalam-dalam. Mungkin aku harus siap mundur teratur. Atau nyemplung ke lubang parit terdekat.
Tapi…
“Tapi…” lanjut Chintya.
Mataku langsung fokus. Otot wajah menegang. Jantung deg-degan kayak genderang perang.
“…jika kita menang, aku ingin kau mengajakku ke duniamu,” katanya pelan. “Kita cari cara agar kau bisa kembali… dan aku ikut.”
Aku melongo.
“Aku… kamu… ke dunia… aku?” kataku patah-patah.
Dia menatap ke depan, tersenyum kecil, tapi matanya penuh harap. “Ya. Aku ingin lihat dunia yang kau ceritakan. Dunia yang damai. Tempat di mana tidak ada perang karena ras berbeda.”
Dan di situlah jantungku meledak. Bukan karena sihir. Bukan karena bahaya.
Tapi karena ada harapan.
Aku ingin teriak, ingin joget, ingin ngeguling di tengah jalan kayak anak kecil lihat odong-odong.
Untung nggak ada bebek cerewetku. Kalau ada, udah kugigit kepalanya karena gemes dan bahagia.
Dan di tengah kota yang sedang bersiap perang, di tengah ancaman kehancuran, ada sepotong harapan kecil.
Bahwa setelah badai ini berakhir… kami bisa pulang. Bersama.
Pernikahan di Ujung Perang
Upacara pernikahan Agus dan Dina berlangsung hari itu. Bukan di istana megah, bukan di taman bunga, bukan juga di aula bertirai emas—tapi di jalan utama kota Stromcoast, di tengah-tengah rakyat yang siap mati untuk tanah mereka.
Sebuah upacara yang sederhana… tapi meriah luar biasa.
Tidak ada karpet merah. Yang ada hanya jalanan batu kasar, dihiasi bendera-bendera kecil dari tiap ras yang berkibar di atas kepala. Tidak ada bunga berhamburan. Tapi wajah-wajah bahagia tersebar di mana-mana.
Dan tidak ada gaun pengantin.
Agus dan Dina mengenakan pakaian tempur mereka. Masih berlumur bekas sihir dan debu pelatihan. Dina dengan belati dan mantel tempur ringan. Agus dengan panah di punggung dan ranting sakti di pinggang. Tapi wajah mereka… penuh cahaya.
Semua rakyat kota hadir. Ras manusia, nekomimi, anjing, tikus, hingga makhluk yang belum aku kenal nama latinnya pun ikut menonton dari atap.
Raja Arthur Stoneaxe sendiri yang memimpin upacara. Ia berdiri di atas podium darurat yang dibangun dari sisa-sisa puing rumah tua. Kapak besinya bersinar di punggung. Jubah perang menghiasi tubuh tuanya. Ia menatap semua yang hadir dengan bangga.
“Hari ini,” katanya lantang, “di tengah persiapan perang, kita merayakan cinta. Karena cinta adalah alasan kita berjuang.”
Semua bersorak. Suara klakson tanduk tikus bersahutan. Seekor griffin melolong dari udara. Bahkan bebekku—entah datang dari mana—ikut menyemburkan suara cempreng yang nggak jelas nadanya.
Aku datang bersama Chintya.
Kali ini, untuk pertama kalinya… dia mengizinkanku menggandeng tangannya.
Tangan itu dingin, halus, tapi terasa kuat. Seperti logam yang ditempa dengan cinta.
Aku sempat melirik Fredy. Dia senyum-senyum di belakang. Mungkin bahagia. Mungkin juga geli lihat aku akhirnya berhasil nyentuh tangan cewek tanpa jatuh pingsan.
Pak Sukoco datang dengan pasukan putihnya. Dedy berdiri tak jauh, memantau situasi dengan waspada. Miau duduk manis di atas pundak seekor orc yang entah kenapa jadi penggemarnya.
Semua tampak bahagia. Meski kita semua tahu—bahwa setelah hari ini, mungkin besok atau lusa, peperangan bisa saja meletus.
Tapi tak satu pun dari kami menunjukkan ketakutan.
Karena hari ini adalah tentang harapan.
Tentang pernikahan dua pejuang.
Tentang tangan yang digenggam erat di tengah persiapan perang.
Dan tentang keberanian untuk mencintai… walau esok bisa saja tak ada lagi.
Tiga Bulan, Satu Harapan
Perayaan pernikahan telah usai.
Rakyat kembali ke posisi masing-masing. Ada yang tidur di sudut tembok dengan pelindung dada masih terpasang, ada yang tetap berjaga dengan mata separuh terpejam. Kota Stromcoast kembali dalam posisi siaga. Hening, tapi tegang.
Aku kebagian berjaga di menara timur—menara tertinggi kota—bersama Chintya.
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma arang dari sisa perayaan dan bau tanah yang lembap karena embun.
Di bawah kami, kota terlihat seperti lautan cahaya obor dan lentera. Damai dari kejauhan, tapi setiap cahaya itu menandakan satu jiwa yang siap bertempur demi tanah tempat mereka berpijak.
Chintya duduk di ujung tembok menara, jubahnya berkibar pelan. Rambutnya memantulkan cahaya bulan—bulan yang… ada tiga.
Ya, tiga bulan. Bulan merah yang besar dan berat seperti luka lama. Bulan biru yang pucat dan tenang seperti air dan kenangan. Satu lagi kecil dan keemasan—seperti harapan kecil yang selalu terselip bahkan di dunia sekelam ini.
Aku berdiri di sampingnya, bersandar pada dinding
"Chintya," kataku, memecah sunyi, "di peperangan manusia dan ras campuran ini... apa kita benar-benar bisa menang melawan elf dan dwarf?"
Chintya tak langsung menjawab. Matanya masih tertuju ke langit.
"Secara kekuatan... tidak," katanya akhirnya. Suaranya lembut, tapi jujur. "Bangsa elf dan dwarf terlalu kuat. Sihir mereka ribuan tahun lebih maju. Senjata mereka dibuat dari teknologi dan sihir yang tak bisa ditiru."
Aku mengangguk pelan. Itu juga yang kurasakan. Tapi kemudian, dia menoleh ke arahku. Senyum samar muncul di wajahnya.
"Tapi... entah kenapa," lanjutnya, "bersama kamu aku merasa ada keberuntungan yang menyertaiku."
Aku menoleh. Bertemu matanya. Dalam, jujur, dan... hangat. Mungkin itu sebabnya elf punya umur panjang—karena mereka menyimpan terlalu banyak rasa yang belum sempat diucap.
Aku tersenyum.
"Kalau begitu, semoga keberuntunganku cukup buat kita semua," gumamku, setengah bercanda.
Dia ikut tersenyum.
Lalu kami memandang langit bersama. Memandang tiga bulan di atas kepala. Di dunia yang berbeda, langit tetap menyimpan rasa yang sama.
Harapan. Cinta. Dan pertanyaan tentang esok.
Tiga bulan di atas sana. Tapi malam ini, kami di tempat yang sama.
Dan untuk sesaat... dunia seolah bisa ditahan sebentar agar kami menikmati damainya bintang.
sebelum rencana penyerangan bangsa elf dan dwarf ke Stormcoast, aku dapat kabar mengejutkan.
“Mas… kami mau nikah,” kata Dina, dengan suara pelan tapi mantap. Di sebelahnya, Agus berdiri tegak, wajahnya campuran antara gugup dan lega.
Aku melongo. “Hah? Serius? Kalian? Nikah? Di tengah perang?”
Dina mengangguk. “Justru karena perang, Mas. Kita nggak tahu akan selamat atau nggak. Jadi sebelum semuanya terlambat…”
Aku terdiam. Otakku belum sempat memproses informasi itu, tapi mulutku sudah auto respon, “Selamat ya. Kalian pasangan yang… lumayan cocok.” (Itu kalimat paling diplomatis yang bisa kupikirkan dalam keadaan syok.)
Agus nyengir. “Makasih, Mas. Jangan lupa datang. Tiga hari lagi. Sebelum kita semua berangkat perang.”
Aku cuma mengangguk, setengah tak percaya. Dunia benar-benar gila. Portal antar dimensi, naga, elf, perang… dan sekarang nikahan kilat.
Tapi dalam hati, aku iri.
Mereka berani. Mereka tahu waktu mereka mungkin tidak banyak, dan mereka tidak menyia-nyiakannya. Sementara aku?
Aku bahkan belum berani bilang ke Chintya bahwa aku jatuh cinta. Sudah beberapa kali aku membayangkan skenarionya: Aku menyatakan cinta… Lalu dia tersenyum, dan membalas perasaanku… Lalu kami menikah, punya anak, hidup damai…
Tapi versi realistisnya di kepalaku? Aku bilang cinta, dia melotot sambil bilang, “Kau manusia bodoh yang hanya bisa naik bebek cerewet!”
Yah, cinta memang kadang butuh keberanian lebih dari sekadar melawan pasukan dwarf.
Aku menatap langit Stormcoast malam itu. Awan mulai bergulung. Udara terasa berat. Seperti alam pun tahu, badai akan datang.
Tapi sebelum badai menghantam, beberapa orang memutuskan untuk mencuri sepotong kebahagiaan.
Dan mungkin, aku juga harus segera memutuskan. Sebelum semuanya terlambat.
Jalan-Jalan Sebelum Perang
Kalau Dina dan Agus bisa nikah… kenapa aku nggak?
Itu pertanyaan yang terus muter-muter di kepalaku sepanjang hari. Di sela suara denting palu menempa logam, para tukang sihir yang mengumpulkan mana ke dalam kristal-kristal, dan tentara ras tikus yang latihan baris-berbaris dengan irama aneh—aku malah mikirin cinta.
Aku pun nekat mengajak Chintya jalan-jalan sore keliling kota Stormcoast.
Kami jalan berdua, menyusuri jalan-jalan batu yang mulai penuh tumpukan karung pasir. Anak-anak manusia dan nekomimi bermain di dekat para pandai besi. Aroma kayu terbakar, keringat, dan harapan bercampur jadi satu.
Aku melirik Chintya. Ia tampak tenang seperti biasa. Rambut peraknya tergerai, baju tempurnya mengilap walau tidak terlalu mencolok. Di punggungnya, pedang panjang yang tampaknya hanya dia dan Tuhan yang tahu cara pakenya.
Aku celingukan, nyari suasana yang pas buat buka topik. Begitu lihat penjual roti bulat isi keju—langsung beli dua. Satu aku sodorin ke Chintya.
Dia menerimanya. “Apa ini?”
“Roti bulat isi keju. Nggak ada di Anorithil,” jawabku.
Dia menggigitnya pelan, lalu tersenyum. “Lumayan.”
Oke. Ini momen yang tepat. Maka aku buka suara.
“Enng… Chintya,” kataku sambil melirik ke depan pura-pura santai. “Apa nggak kepikiran… apakah kita bakal selamat dengan peperangan ini?”
Chintya menghela napas. “Aku juga ragu. Tapi yang pasti… kita telah memperjuangkan keyakinan kita. Itu cukup bagiku.”
“Eh, nggak kepikiran… misalnya kita kalah perang terus mati gitu… ya kayak Dina dan Agus… mereka nikah duluan…”
Chintya menoleh. Tatapannya datar. “Kami bangsa elf lebih mementingkan kehormatan daripada hubungan cinta.”
Aku langsung lemes. Kayak roti isi keju yang udah kelamaan dibiarkan di bawah matahari.
“Oh…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Napas kutarik dalam-dalam. Mungkin aku harus siap mundur teratur. Atau nyemplung ke lubang parit terdekat.
Tapi…
“Tapi…” lanjut Chintya.
Mataku langsung fokus. Otot wajah menegang. Jantung deg-degan kayak genderang perang.
“…jika kita menang, aku ingin kau mengajakku ke duniamu,” katanya pelan. “Kita cari cara agar kau bisa kembali… dan aku ikut.”
Aku melongo.
“Aku… kamu… ke dunia… aku?” kataku patah-patah.
Dia menatap ke depan, tersenyum kecil, tapi matanya penuh harap. “Ya. Aku ingin lihat dunia yang kau ceritakan. Dunia yang damai. Tempat di mana tidak ada perang karena ras berbeda.”
Dan di situlah jantungku meledak. Bukan karena sihir. Bukan karena bahaya.
Tapi karena ada harapan.
Aku ingin teriak, ingin joget, ingin ngeguling di tengah jalan kayak anak kecil lihat odong-odong.
Untung nggak ada bebek cerewetku. Kalau ada, udah kugigit kepalanya karena gemes dan bahagia.
Dan di tengah kota yang sedang bersiap perang, di tengah ancaman kehancuran, ada sepotong harapan kecil.
Bahwa setelah badai ini berakhir… kami bisa pulang. Bersama.
Pernikahan di Ujung Perang
Upacara pernikahan Agus dan Dina berlangsung hari itu. Bukan di istana megah, bukan di taman bunga, bukan juga di aula bertirai emas—tapi di jalan utama kota Stromcoast, di tengah-tengah rakyat yang siap mati untuk tanah mereka.
Sebuah upacara yang sederhana… tapi meriah luar biasa.
Tidak ada karpet merah. Yang ada hanya jalanan batu kasar, dihiasi bendera-bendera kecil dari tiap ras yang berkibar di atas kepala. Tidak ada bunga berhamburan. Tapi wajah-wajah bahagia tersebar di mana-mana.
Dan tidak ada gaun pengantin.
Agus dan Dina mengenakan pakaian tempur mereka. Masih berlumur bekas sihir dan debu pelatihan. Dina dengan belati dan mantel tempur ringan. Agus dengan panah di punggung dan ranting sakti di pinggang. Tapi wajah mereka… penuh cahaya.
Semua rakyat kota hadir. Ras manusia, nekomimi, anjing, tikus, hingga makhluk yang belum aku kenal nama latinnya pun ikut menonton dari atap.
Raja Arthur Stoneaxe sendiri yang memimpin upacara. Ia berdiri di atas podium darurat yang dibangun dari sisa-sisa puing rumah tua. Kapak besinya bersinar di punggung. Jubah perang menghiasi tubuh tuanya. Ia menatap semua yang hadir dengan bangga.
“Hari ini,” katanya lantang, “di tengah persiapan perang, kita merayakan cinta. Karena cinta adalah alasan kita berjuang.”
Semua bersorak. Suara klakson tanduk tikus bersahutan. Seekor griffin melolong dari udara. Bahkan bebekku—entah datang dari mana—ikut menyemburkan suara cempreng yang nggak jelas nadanya.
Aku datang bersama Chintya.
Kali ini, untuk pertama kalinya… dia mengizinkanku menggandeng tangannya.
Tangan itu dingin, halus, tapi terasa kuat. Seperti logam yang ditempa dengan cinta.
Aku sempat melirik Fredy. Dia senyum-senyum di belakang. Mungkin bahagia. Mungkin juga geli lihat aku akhirnya berhasil nyentuh tangan cewek tanpa jatuh pingsan.
Pak Sukoco datang dengan pasukan putihnya. Dedy berdiri tak jauh, memantau situasi dengan waspada. Miau duduk manis di atas pundak seekor orc yang entah kenapa jadi penggemarnya.
Semua tampak bahagia. Meski kita semua tahu—bahwa setelah hari ini, mungkin besok atau lusa, peperangan bisa saja meletus.
Tapi tak satu pun dari kami menunjukkan ketakutan.
Karena hari ini adalah tentang harapan.
Tentang pernikahan dua pejuang.
Tentang tangan yang digenggam erat di tengah persiapan perang.
Dan tentang keberanian untuk mencintai… walau esok bisa saja tak ada lagi.
Tiga Bulan, Satu Harapan
Perayaan pernikahan telah usai.
Rakyat kembali ke posisi masing-masing. Ada yang tidur di sudut tembok dengan pelindung dada masih terpasang, ada yang tetap berjaga dengan mata separuh terpejam. Kota Stromcoast kembali dalam posisi siaga. Hening, tapi tegang.
Aku kebagian berjaga di menara timur—menara tertinggi kota—bersama Chintya.
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma arang dari sisa perayaan dan bau tanah yang lembap karena embun.
Di bawah kami, kota terlihat seperti lautan cahaya obor dan lentera. Damai dari kejauhan, tapi setiap cahaya itu menandakan satu jiwa yang siap bertempur demi tanah tempat mereka berpijak.
Chintya duduk di ujung tembok menara, jubahnya berkibar pelan. Rambutnya memantulkan cahaya bulan—bulan yang… ada tiga.
Ya, tiga bulan. Bulan merah yang besar dan berat seperti luka lama. Bulan biru yang pucat dan tenang seperti air dan kenangan. Satu lagi kecil dan keemasan—seperti harapan kecil yang selalu terselip bahkan di dunia sekelam ini.
Aku berdiri di sampingnya, bersandar pada dinding
"Chintya," kataku, memecah sunyi, "di peperangan manusia dan ras campuran ini... apa kita benar-benar bisa menang melawan elf dan dwarf?"
Chintya tak langsung menjawab. Matanya masih tertuju ke langit.
"Secara kekuatan... tidak," katanya akhirnya. Suaranya lembut, tapi jujur. "Bangsa elf dan dwarf terlalu kuat. Sihir mereka ribuan tahun lebih maju. Senjata mereka dibuat dari teknologi dan sihir yang tak bisa ditiru."
Aku mengangguk pelan. Itu juga yang kurasakan. Tapi kemudian, dia menoleh ke arahku. Senyum samar muncul di wajahnya.
"Tapi... entah kenapa," lanjutnya, "bersama kamu aku merasa ada keberuntungan yang menyertaiku."
Aku menoleh. Bertemu matanya. Dalam, jujur, dan... hangat. Mungkin itu sebabnya elf punya umur panjang—karena mereka menyimpan terlalu banyak rasa yang belum sempat diucap.
Aku tersenyum.
"Kalau begitu, semoga keberuntunganku cukup buat kita semua," gumamku, setengah bercanda.
Dia ikut tersenyum.
Lalu kami memandang langit bersama. Memandang tiga bulan di atas kepala. Di dunia yang berbeda, langit tetap menyimpan rasa yang sama.
Harapan. Cinta. Dan pertanyaan tentang esok.
Tiga bulan di atas sana. Tapi malam ini, kami di tempat yang sama.
Dan untuk sesaat... dunia seolah bisa ditahan sebentar agar kami menikmati damainya bintang.
Other Stories
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...