DARAH NAGA

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
27
Vote
Report
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 25 Diplomasi Di Ujung Kapak

Bab 25

Diplomasi di Ujung Kapak

Dari tanah Undead, Kami terbang menuju wilayah perkemahan bangsa dwarf. Lokasinya di lereng Utara Gunung Stromcoast. Terlihat dari atas—tenda-tenda logam berjajar rapi seperti barisan mur dan baut. Di tengahnya ada menara komunikasi tua yang dikelilingi pipa-pipa batu mana. Albert pasti ngiler liat beginian.

"Kalau mereka setuju aliansi, kita bisa bikin jaringan komunikasi multiras," kata Albert dari radio portabel yang dia titipin ke tas Fredy.

Aku melirik ke arah Chintya yang diam-diam agak tegang. Mungkin karena bangsa elf dan dwarf dulunya pernah bersekutu dalam kejahatan masa lalu. Kini mereka musuh bebuyutan.

Pesan diplomatik dari Raja Arthur Stoneaxe sudah kukantongi, lengkap dengan stempel kerajaan dan bonus tanda tangan asli pakai pena bulu ayam. Ya, gaya klasik masih dihormati di dunia ini.

Begitu mendarat, kami dikepung sekelompok dwarf berbaju zirah baja perunggu. Mereka mengangkat kapak, bukan untuk menyerang, tapi untuk memberi hormat.

"Kau Handoyo?" tanya pemimpinnya, berjenggot perak dan satu matanya ditutup logam. Suaranya seperti amplas diseret di lantai ubin.

"Iya. Kami datang membawa perdamaian," jawabku sambil mengangkat dua tangan dan menahan Fredy yang udah pegang pistol plasma kayak orang mau rampok toko kelontong.

Mereka mengantar kami ke sebuah aula pertemuan dari batu obsidian yang dingin dan berbau logam. Di situ sudah menunggu Raja Gorn Rockbeard, pemimpin bangsa dwarf.

Rambutnya panjang, janggutnya dipilin seperti tali tambang kapal, dan di bahunya tergantung palu sebesar ember air galon. Tampangnya serius, tapi matanya cerdas.

"Apa yang dibawa manusia dari dunia lain?" tanyanya tanpa basa-basi.

Aku maju, menyerahkan surat dari Raja Arthur. Lalu aku bicara lantang, "Kami ingin membentuk aliansi. Kota Stromcoast akan jadi benteng terakhir dari kesombongan ras-ras yang merasa paling tinggi derajatnya. Aku tahu bangsa dwarf juga dijadikan alat politik bangsa elf dulu. Kini saatnya sejarah berubah."

Raja Gorn mengerutkan dahi. "Kau bawa elf ke sini, dan minta kami percaya?" katanya menunjuk Chintya.

Aku menatap Chintya, lalu balik menatap Gorn. "Justru karena dia elf—dan kini membela kebenaran. itulah alasan kami percaya perdamaian itu mungkin."

Ruangan jadi hening. Lalu, Raja Gorn tertawa. Keras. Menggelegar. Bahkan helm Agus sampai geser sedikit karena getaran.

"Kau gila, Handoyo. Tapi aku suka gila yang bisa bikin sejarah baru."

Lalu dia menyodorkan perjanjian damai. Syarat mereka?

1. Semua ras mengakui kemerdekaan Durnholgar.

2. Mereka ingin akses ke teknologi radio manusia.

3. Mereka ingin kuota suara tetap di Dewan Multiras.

Aku teken perjanjian itu. Dan Kita sah beraliansi dengan bangsa dwarf.

Fredy menepuk bahuku. "Gila, Mas. Kita bisa punya pasukan palu-palu raksasa!"

Aku senyum kecil."Dan radio. Jangan lupa radionya."

Tanah yang Terlupakan

Kami duduk di aula batu besar, di jantung perkemahan bangsa dwarf. Api unggun menyala terang di tengah ruangan, dan bau logam panas serta batu basah memenuhi udara. Raja Gorn Rockbeard duduk di singgasananya, terbuat dari potongan gear dan lempengan baja yang berkilau, menunjukkan kejayaan industri bangsa dwarf.

Wajah raja itu keras, jenggotnya tebal mengkilap seperti kawat tembaga yang disisir rapi. Tapi sorot matanya—itu yang paling berkesan. Bukan amarah, bukan arogansi. Tapi kerinduan. Kerinduan pada sesuatu yang jauh... dan hilang.

"Aku lahir di tanah yang bukan tanah leluhurku," kata Raja Gorn dengan suara berat dan pelan. "Kami semua di sini... pengungsi dari masa lalu kami sendiri."

Ia membuka gulungan peta tua, memperlihatkan sesuatu yang tidak tercantum di peta dunia biasa.

"Elf'terra," katanya menunjuk ke utara. "Benua yang dipisahkan padang pasir kematian. Tempat kami dahulu berasal."

Peta itu menunjukkan dua wilayah di daratan Elf'terra. Sebelah barat bertuliskan "Kerajaan Elf Althurion", dan di sebelah timur bertuliskan "Guntherad, Kerajaan Dwarf Kuno". Dua wilayah itu dipisahkan sungai panjang berwarna biru gelap yang membelah benua.

"Dulu kami hidup berdampingan. Tapi penambangan batu mana—yang katanya akan memperkuat sihir—menghancurkan tanah kami. Elf tak peduli. Mereka terus menggali, menebang, menghancurkan... dan menyalahkan kami."

Gorn menggenggam erat gagang kursinya.

"Bangsa kami akhirnya pergi, menyeberangi padang pasir, dan tiba di dunia ini. Tapi... kami tidak pernah lupa tanah kami. Kami ingin memperbaikinya. Kami ingin pulang."

Aku memandang pedangku. Pedang perobek portal. Ya, kunci untuk kembali ke tanah yang hilang itu.

"Kau butuh pedang ini untuk membuka jalan ke Elf'terra?" tanyaku pelan.

Raja Gorn mengangguk. "Benar. Tapi kami bukan peminta-minta. Kami akan membantu kota Stromcoast. Kami akan melawan para elf yang memandang rendah bangsa lain. Kami akan bertarung di baris depan."

Aku menatap rekan-rekanku. Chintya menunduk, wajahnya sendu. Fredy pelan, Dina memandang serius, Agus menggenggam busurnya erat.

"Kami bersedia membuat aliansi," ucapku. "Dengan satu syarat."

Raja Gorn mengangkat alis. "Apa itu?"

"Saat perang ini berakhir, dan portal ke Elf'terra berhasil dibuka... jangan hanya memperbaiki tanahmu. Bawalah kebenaran. Buktikan pada dunia bahwa bangsamu tak seperti yang dituduhkan."

Gorn mengangguk perlahan. "Kau punya jiwanya seorang pemimpin, Handoyo. Aku bersumpah demi leluhurku, para penempa dunia, kami akan menepati janji."

Lalu, kami berdiri dan saling menjabat tangan. Aliansi telah terbentuk. Manusia dunia lain, elf pelarian, dua prajurit pemberani, seorang teknokrat, dan raja para pandai besi.

Langit malam di atas perkemahan dwarf terasa lebih terang malam itu. Bukan karena bintang... tapi karena harapan. Janji di Balik Baja.

Kami duduk di tenda utama perkemahan bangsa dwarf. Api unggun kecil membara, dan aroma asap bercampur dengan bau logam yang menguar dari peralatan tempur yang sedang diasah. Raja Gorn Rockbeard duduk bersandar di kursi besi tuanya, menatapku dengan tatapan penuh harap.

Aku menatap pedang perobek portal yang bersandar di lututku. Pancaran energinya kadang masih terasa menyengat di kulit. Pedang ini... bisa membuka jalan ke Elf'terra, tanah leluhur bangsa dwarf dan elf. Tapi sekarang, aku belum siap.

"Aku belum bisa menggunakannya sekarang," kataku jujur. "Pedang ini... terlalu kuat. Terlalu misterius. Aku tidak tahu cara mengendalikannya. Tapi setelah perang ini selesai, dan kami menang... aku akan mencari caranya. Aku janji."

Raja Gorn tidak langsung menjawab. Ia memandangku lama, lalu berdiri perlahan.

"Itu lebih dari cukup, Handoyo," ucapnya. "Kami bangsa dwarf tidak butuh kepastian—kami butuh harapan. Dan kau telah memberikannya."

Ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, lalu menancapkannya ke tanah.

"Mulai hari ini, kami bersekutu denganmu. Dengan kota Stromcoast. Kami akan bertempur bersamamu bukan hanya demi kemenangan... tapi demi dunia yang adil bagi semua bangsa."

Aku berdiri dan menjabat tangannya erat.

"Besok," kataku, "kita kembali ke Stromcoast. Bukan sebagai tamu. Tapi sebagai saudara. Sebagai bangsa-bangsa yang menginginkan perdamaian dan persamaan hak. Tak ada lagi kasta. Tak ada lagi ras agung atau rakyat rendahan. Semua setara, karena semua... hidup."

Fredy bertepuk tangan, Agus bersiul kecil, sementara Dina hanya mengangguk mantap. Chintya menatapku diam-diam, lalu tersenyum kecil.

Langit malam di atas perkemahan terasa lebih hangat. Angin gurun yang dulu seperti menyimpan amarah kini terasa tenang. Kami tidur dengan perasaan baru: harapan.

Esok pagi, saat matahari pertama muncul dari balik bebatuan, kami akan berangkat. Menuju Stromcoast. Menuju takdir yang telah menunggu kami sejak awal.



Other Stories
Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Download Titik & Koma