Bab 27Serangan Dari Langit
Bab 27
Serangan dari Langit
Awan-awan tipis berkelebat cepat, seperti debu-debu yang beterbangan di medan pertempuran tak kasatmata. Udara terasa tebal oleh aroma logam dan sihir. Suara ledakan sihir dan tembakan plasma terdengar samar di kejauhan. Tapi di sini, di langit, aku dan Chintya telah siap untuk babak baru pertempuran.
Chintya menunggangi kuda terbangnya dengan mantap, matanya menatap tajam dua elf penjaga yang bersenjata tombak. Tombaknya sendiri—senjata dari logam ringan dan batu sihir—memanjang secara ajaib. Dari satu tombak, muncul bayangan belasan, bahkan ratusan ujung tajam, menghujam udara ke arah musuh seperti kawanan ular terbang yang lapar.
Kedua elf yang menaiki kuda terbang itu panik. Mereka berputar, memutar tombaknya membentuk pusaran defensif, menciptakan perisai berputar dari logam dan sihir. Tapi itu justru membuat mereka fokus ke depan.
Sementara itu...
"Ayo, Bebek," bisikku ke tunggangan setiaku yang berwujud bebek raksasa cerewet.
"Kwaaakk!" sahut si bebek dengan gaya khasnya yang jauh dari menakutkan tapi sangat cepat.
Kami melesat ke depan. Aku mengangkat pedangku tinggi, dan saat kuayunkan, sebuah portal terbuka di depan kami—berkilauan seperti riak air di tengah badai sihir.
Tanpa ragu, aku dan bebek masuk ke dalam portal itu.
Sepersekian detik kemudian, kami muncul di belakang kedua kuda terbang elf itu—tepat saat mereka masih sibuk menghalau tombak Chintya.
"Kwaaak...!" bebekku bersuara—entah sebagai aba-aba atau sekadar ekspresi gembira.
Aku menebas ke depan, dua ayunan cepat dan presisi—dan dalam sekejap, dua kepala elf terbang melayang, terputus bersih dari tubuh mereka. Kuda-kuda terbang itu kehilangan arah, terbang liar sebelum menghilang ke balik awan.
Aku kembali berdampingan dengan Chintya. Dia tersenyum—dingin, percaya diri.
"Dua tumbang. Tinggal tujuh," ujarku.
Di kejauhan, pertempuran udara masih berlangsung sengit. Fredy menembakkan senapan serbunya ke pembawa panah yang lincah, sementara Agus meluncurkan panah-panah tanaman yang berubah menjadi makhluk karnivora udara. Panah dan sinar plasma saling bersilang di angkasa—mirip seperti adegan perang pesawat tempur, hanya saja ini lebih kacau, lebih ajaib... dan lebih absud.
Langit masih jadi medan tempur. Tapi kini, kita mulai menguasainya.
Langit di atas Stromcoast makin riuh. Suara siulan anak panah, ledakan sihir, dan debur angin dari sayap tunggangan beterbangan ke segala arah. Kami semua adalah makhluk biasa yang kini dipersenjatai senjata luar biasa. Dan senjata itu bukan hanya alat tempur—tapi anugerah yang memberi kami kekuatan setara pahlawan legenda.
Aku dan Chintya tengah melayang tak jauh dari medan pertempuran ketika pandanganku tertuju pada Dina. Dia sedang berlari di udara, cepat, lincah, nyaris seperti menari di antara awan. Tapi dua penunggang kuda terbang elf bersenjata pedang mengejarnya seperti bayangan maut.
Salah satu elf mengayunkan pedangnya. Bukan hanya sabetan biasa—udara di depannya terkoyak, menciptakan gelombang sabetan tak kasat mata yang menyambar seperti cambuk. Dina sempat menghindar, tapi satu sabetan mengenai lengannya. Ia terhuyung di udara. Darah menetes. Tapi dia masih terbang.
"Aku turun bantu!" seruku ke Chintya lewat radio.
"Gas! Aku cover dari atas!"
Chintya langsung bergerak, tombaknya berputar membentuk perisai spiral, memotong sabetan udara dari para elf. Aku, bersama bebek cerewetku, menyerbu dari samping. Dalam sekejap, pedangku kuganti jadi bentuk tumpul dan berat—seperti palu raksasa dari logam bintang.
Elf itu melihatku dan mencoba menangkis, tapi...
BRAK!
Pedangku menghantam pedangnya, menghantam tubuhnya, menghantam kudanya. Semuanya terpental seperti bola bekel dilempar anak SMA yang lagi marah. Mereka mental menabrak lereng gunung, lalu jatuh menghilang ditelan semak dan batu. Nggak bakal balik.
"Nice hit!" teriak Chintya.
Aku menoleh, dan kulihat ia sudah memanjangkan tombaknya. Memanjang terus, terus, sampai lebih dari seratus meter. Ujungnya seperti cambuk ilahi yang menyapu langit.
Tiga elf tersisa mencoba melindungi diri dengan perisai udara—semacam dinding sihir tak kasat mata yang membelokkan serangan.
Tapi sabetan tombak Chintya bukan main-main. Sekali sabet dari atas, seperti guratan petir membelah langit, menyambar perisai mereka dan memecahnya seperti kaca. elf langsung jatuh, tubuh mereka berputar seperti daun gugur, lalu menghantam tanah dan diam.
Kini tinggal satu elf bersenjata busur yang masih mengejar Dina.
Dan kami akan pastikan... itu jadi pengejaran terakhirnya.
Dari ketinggian langit yang mulai gelap, aku melihat dua elf dan kuda terbangnya sedang terjebak. Mereka menjerit, berputar, mencoba lepas dari cengkeraman tanaman karnivora raksasa, tanaman buatan Agus. Tanaman itu punya mulut sebesar ember dan taring seperti gergaji besi. Daunnya bisa terbang, mengejar, lalu menggulung mangsanya seperti lumpia maut.
Dua elf lain... sudah tak bergerak di tanah. Kami tak tahu pasti apa yang terjadi. Mungkin serangan balik dari Dina sebelumnya. Mungkin ledakan sihir tersesat. Atau mungkin... si bebek cerewet kami yang tiba-tiba punya agenda pribadi. Siapa tahu?
Yang jelas, hanya satu yang tersisa. Dan dia masih mengejar Dina.
Tidak lama.
DOR!
Suara tembakan membelah udara. Kilat kecil menyala dari arah tebing barat.
Elf itu terhenti. Tubuhnya menegang, lalu mengendur. Kudanya melayang lemah, kemudian mulai jatuh perlahan seperti kapas tertiup angin.
Kami melihatnya—sebutir peluru menembus dada armor peraknya. Sniper Fredy. Akurat. Mematikan. Tanpa kompromi.
Aku, Chintya, Dina, Agus, dan Fredy kini berkumpul di udara. Kuda terbang dan elang bercampur dalam formasi longgar. Kami terdiam beberapa saat, memandangi sisa-sisa pertempuran di langit yang mulai kelam.
Matahari telah menyentuh cakrawala. Sinar oranye terakhir memantul di tepi gunung.
Dalam dunia ini... ada satu aturan penting yang tak tertulis tapi dipatuhi oleh semua, tidak ada perang di malam hari.
Sihir menjadi tidak stabil. Makhluk malam menjadi tak terduga. Dan langit berubah menjadi lautan misteri yang memakan segalanya.
Kami semua mengerti itu. Bahkan musuh pun menghormatinya.
Dengan kelelahan yang belum sempat berubah jadi rasa lega, kami meluncur menuju arah kota Stromcoast. Di sana, tenda-tenda perkemahan kami sudah mulai menyala dengan cahaya kuning hangat. Asap dari sup jamur ramuan elf mulai terlihat, dan suara nyanyian pelan mulai terdengar dari kejauhan.
Perang berhenti untuk malam ini.
Tapi kami tahu... esok pagi, semuanya akan dimulai lagi.
Penutupan Malam Strategi
Kami sudah kembali. Perkemahan besar di lembah dekat kota Stromcoast kini berubah jadi pusat kekuatan semua sekutu. Tenda-tenda berdiri rapat. Api unggun menyala. Cahaya lentera menari di kanvas putih dan aroma sup akar-akar hutan bercampur dengan daging panggang menyambut kami.
Raja Arthur dan pemimpin Klan Serigala datang dengan jubah bulu peraknya. Pemimpin Klan Harimau berdiri gagah di belakangnya, dengan corak wajah hitam-putih seperti dicat peperangan.
Pak Dedy dan Pak Sukoco, bersama Pasukan Putih. pasukan manusia yang mengenakan armor dan jubah panjang, sudah duduk di kursi bundar. Mereka menyambut kami dengan anggukan.
Di sisi lain perkemahan, Miau dan Albert. perwakilan dari klan Elang, mengenakan armor kulit ringan dan ikat kepala berbulu—baru saja kembali dari kota.
"Jalur selatan aman," kata Miau sambil mengikat ulang pedangnya. "Tidak ada gerakan, tidak ada sinyal bahaya."
Albert menambahkan, "Pikiran para elang kami bersih dari bayangan sihir Elf. Jalur itu tetap kosong sejak fajar."
Aku berdiri, membuka gulungan peta besar di meja bundar, ditopang balok kayu. Semua mata mengarah padaku.
"Bangsa Elf... saat ini terkepung," kataku perlahan, menunjuk peta.
"Utara," aku menunjuk bagian atas peta, "pasukan bangsa Dwarf sudah siaga di celah gunung dan dataran"
"Barat," kutarik jari ke kiri, "bangsa Undead dari Tanah Kelam mulai bergerak. Mereka sekutu kita, mereka juga bukan sahabat Elf."
"Selatan," kuletakkan tanganku di tempat kami berdiri, "ada kita. Klan Serigala, Harimau, Pasukan Putih, klan Elang, dan—" aku menunjuk ke wajah-wajah sekutuku, "—kita semua."
"Dan timur..." aku menatap jauh ke arah gunung. "Benteng Es. Di sanalah mereka bertahan. Satu-satunya tempat yang tak bisa kita tembus... belum bisa."
Suasana hening. Hanya suara gemeretak api unggun yang terdengar. Chintya melangkah maju dan meletakkan radio kristal kecil di atas meja.
"Ada kabar dari bangsa Dwarf," katanya serius.
Suara berat keluar dari alat itu—seperti suara dari perut bumi.
"Ini Raja Gorn Rockbeard. Bantuan sedang dalam perjalanan. Kami mengirim unit tank mekanik dari lembah . Mereka akan tiba dari sisi selatan. Perkuat sisi timur. Kami temukan tanda-tanda pengeboran sihir di balik Gunung Stromcoast..."
Semua mata membelalak.
Pengeboran sihir?
"Jika Elf berniat membuka jalur bawah tanah," gumam Pak Sukoco, "mereka tidak mundur... mereka sedang memutar."
"Perang belum selesai," ujar Dina pelan. "Tapi sekarang... kita lebih siap."
Aku menatap langit malam. Bintang mulai bermunculan.
Besok... dunia bisa berubah.
Dan malam ini... kita berdoa agar tetap hidup sampai matahari terbit.
Serangan dari Langit
Awan-awan tipis berkelebat cepat, seperti debu-debu yang beterbangan di medan pertempuran tak kasatmata. Udara terasa tebal oleh aroma logam dan sihir. Suara ledakan sihir dan tembakan plasma terdengar samar di kejauhan. Tapi di sini, di langit, aku dan Chintya telah siap untuk babak baru pertempuran.
Chintya menunggangi kuda terbangnya dengan mantap, matanya menatap tajam dua elf penjaga yang bersenjata tombak. Tombaknya sendiri—senjata dari logam ringan dan batu sihir—memanjang secara ajaib. Dari satu tombak, muncul bayangan belasan, bahkan ratusan ujung tajam, menghujam udara ke arah musuh seperti kawanan ular terbang yang lapar.
Kedua elf yang menaiki kuda terbang itu panik. Mereka berputar, memutar tombaknya membentuk pusaran defensif, menciptakan perisai berputar dari logam dan sihir. Tapi itu justru membuat mereka fokus ke depan.
Sementara itu...
"Ayo, Bebek," bisikku ke tunggangan setiaku yang berwujud bebek raksasa cerewet.
"Kwaaakk!" sahut si bebek dengan gaya khasnya yang jauh dari menakutkan tapi sangat cepat.
Kami melesat ke depan. Aku mengangkat pedangku tinggi, dan saat kuayunkan, sebuah portal terbuka di depan kami—berkilauan seperti riak air di tengah badai sihir.
Tanpa ragu, aku dan bebek masuk ke dalam portal itu.
Sepersekian detik kemudian, kami muncul di belakang kedua kuda terbang elf itu—tepat saat mereka masih sibuk menghalau tombak Chintya.
"Kwaaak...!" bebekku bersuara—entah sebagai aba-aba atau sekadar ekspresi gembira.
Aku menebas ke depan, dua ayunan cepat dan presisi—dan dalam sekejap, dua kepala elf terbang melayang, terputus bersih dari tubuh mereka. Kuda-kuda terbang itu kehilangan arah, terbang liar sebelum menghilang ke balik awan.
Aku kembali berdampingan dengan Chintya. Dia tersenyum—dingin, percaya diri.
"Dua tumbang. Tinggal tujuh," ujarku.
Di kejauhan, pertempuran udara masih berlangsung sengit. Fredy menembakkan senapan serbunya ke pembawa panah yang lincah, sementara Agus meluncurkan panah-panah tanaman yang berubah menjadi makhluk karnivora udara. Panah dan sinar plasma saling bersilang di angkasa—mirip seperti adegan perang pesawat tempur, hanya saja ini lebih kacau, lebih ajaib... dan lebih absud.
Langit masih jadi medan tempur. Tapi kini, kita mulai menguasainya.
Langit di atas Stromcoast makin riuh. Suara siulan anak panah, ledakan sihir, dan debur angin dari sayap tunggangan beterbangan ke segala arah. Kami semua adalah makhluk biasa yang kini dipersenjatai senjata luar biasa. Dan senjata itu bukan hanya alat tempur—tapi anugerah yang memberi kami kekuatan setara pahlawan legenda.
Aku dan Chintya tengah melayang tak jauh dari medan pertempuran ketika pandanganku tertuju pada Dina. Dia sedang berlari di udara, cepat, lincah, nyaris seperti menari di antara awan. Tapi dua penunggang kuda terbang elf bersenjata pedang mengejarnya seperti bayangan maut.
Salah satu elf mengayunkan pedangnya. Bukan hanya sabetan biasa—udara di depannya terkoyak, menciptakan gelombang sabetan tak kasat mata yang menyambar seperti cambuk. Dina sempat menghindar, tapi satu sabetan mengenai lengannya. Ia terhuyung di udara. Darah menetes. Tapi dia masih terbang.
"Aku turun bantu!" seruku ke Chintya lewat radio.
"Gas! Aku cover dari atas!"
Chintya langsung bergerak, tombaknya berputar membentuk perisai spiral, memotong sabetan udara dari para elf. Aku, bersama bebek cerewetku, menyerbu dari samping. Dalam sekejap, pedangku kuganti jadi bentuk tumpul dan berat—seperti palu raksasa dari logam bintang.
Elf itu melihatku dan mencoba menangkis, tapi...
BRAK!
Pedangku menghantam pedangnya, menghantam tubuhnya, menghantam kudanya. Semuanya terpental seperti bola bekel dilempar anak SMA yang lagi marah. Mereka mental menabrak lereng gunung, lalu jatuh menghilang ditelan semak dan batu. Nggak bakal balik.
"Nice hit!" teriak Chintya.
Aku menoleh, dan kulihat ia sudah memanjangkan tombaknya. Memanjang terus, terus, sampai lebih dari seratus meter. Ujungnya seperti cambuk ilahi yang menyapu langit.
Tiga elf tersisa mencoba melindungi diri dengan perisai udara—semacam dinding sihir tak kasat mata yang membelokkan serangan.
Tapi sabetan tombak Chintya bukan main-main. Sekali sabet dari atas, seperti guratan petir membelah langit, menyambar perisai mereka dan memecahnya seperti kaca. elf langsung jatuh, tubuh mereka berputar seperti daun gugur, lalu menghantam tanah dan diam.
Kini tinggal satu elf bersenjata busur yang masih mengejar Dina.
Dan kami akan pastikan... itu jadi pengejaran terakhirnya.
Dari ketinggian langit yang mulai gelap, aku melihat dua elf dan kuda terbangnya sedang terjebak. Mereka menjerit, berputar, mencoba lepas dari cengkeraman tanaman karnivora raksasa, tanaman buatan Agus. Tanaman itu punya mulut sebesar ember dan taring seperti gergaji besi. Daunnya bisa terbang, mengejar, lalu menggulung mangsanya seperti lumpia maut.
Dua elf lain... sudah tak bergerak di tanah. Kami tak tahu pasti apa yang terjadi. Mungkin serangan balik dari Dina sebelumnya. Mungkin ledakan sihir tersesat. Atau mungkin... si bebek cerewet kami yang tiba-tiba punya agenda pribadi. Siapa tahu?
Yang jelas, hanya satu yang tersisa. Dan dia masih mengejar Dina.
Tidak lama.
DOR!
Suara tembakan membelah udara. Kilat kecil menyala dari arah tebing barat.
Elf itu terhenti. Tubuhnya menegang, lalu mengendur. Kudanya melayang lemah, kemudian mulai jatuh perlahan seperti kapas tertiup angin.
Kami melihatnya—sebutir peluru menembus dada armor peraknya. Sniper Fredy. Akurat. Mematikan. Tanpa kompromi.
Aku, Chintya, Dina, Agus, dan Fredy kini berkumpul di udara. Kuda terbang dan elang bercampur dalam formasi longgar. Kami terdiam beberapa saat, memandangi sisa-sisa pertempuran di langit yang mulai kelam.
Matahari telah menyentuh cakrawala. Sinar oranye terakhir memantul di tepi gunung.
Dalam dunia ini... ada satu aturan penting yang tak tertulis tapi dipatuhi oleh semua, tidak ada perang di malam hari.
Sihir menjadi tidak stabil. Makhluk malam menjadi tak terduga. Dan langit berubah menjadi lautan misteri yang memakan segalanya.
Kami semua mengerti itu. Bahkan musuh pun menghormatinya.
Dengan kelelahan yang belum sempat berubah jadi rasa lega, kami meluncur menuju arah kota Stromcoast. Di sana, tenda-tenda perkemahan kami sudah mulai menyala dengan cahaya kuning hangat. Asap dari sup jamur ramuan elf mulai terlihat, dan suara nyanyian pelan mulai terdengar dari kejauhan.
Perang berhenti untuk malam ini.
Tapi kami tahu... esok pagi, semuanya akan dimulai lagi.
Penutupan Malam Strategi
Kami sudah kembali. Perkemahan besar di lembah dekat kota Stromcoast kini berubah jadi pusat kekuatan semua sekutu. Tenda-tenda berdiri rapat. Api unggun menyala. Cahaya lentera menari di kanvas putih dan aroma sup akar-akar hutan bercampur dengan daging panggang menyambut kami.
Raja Arthur dan pemimpin Klan Serigala datang dengan jubah bulu peraknya. Pemimpin Klan Harimau berdiri gagah di belakangnya, dengan corak wajah hitam-putih seperti dicat peperangan.
Pak Dedy dan Pak Sukoco, bersama Pasukan Putih. pasukan manusia yang mengenakan armor dan jubah panjang, sudah duduk di kursi bundar. Mereka menyambut kami dengan anggukan.
Di sisi lain perkemahan, Miau dan Albert. perwakilan dari klan Elang, mengenakan armor kulit ringan dan ikat kepala berbulu—baru saja kembali dari kota.
"Jalur selatan aman," kata Miau sambil mengikat ulang pedangnya. "Tidak ada gerakan, tidak ada sinyal bahaya."
Albert menambahkan, "Pikiran para elang kami bersih dari bayangan sihir Elf. Jalur itu tetap kosong sejak fajar."
Aku berdiri, membuka gulungan peta besar di meja bundar, ditopang balok kayu. Semua mata mengarah padaku.
"Bangsa Elf... saat ini terkepung," kataku perlahan, menunjuk peta.
"Utara," aku menunjuk bagian atas peta, "pasukan bangsa Dwarf sudah siaga di celah gunung dan dataran"
"Barat," kutarik jari ke kiri, "bangsa Undead dari Tanah Kelam mulai bergerak. Mereka sekutu kita, mereka juga bukan sahabat Elf."
"Selatan," kuletakkan tanganku di tempat kami berdiri, "ada kita. Klan Serigala, Harimau, Pasukan Putih, klan Elang, dan—" aku menunjuk ke wajah-wajah sekutuku, "—kita semua."
"Dan timur..." aku menatap jauh ke arah gunung. "Benteng Es. Di sanalah mereka bertahan. Satu-satunya tempat yang tak bisa kita tembus... belum bisa."
Suasana hening. Hanya suara gemeretak api unggun yang terdengar. Chintya melangkah maju dan meletakkan radio kristal kecil di atas meja.
"Ada kabar dari bangsa Dwarf," katanya serius.
Suara berat keluar dari alat itu—seperti suara dari perut bumi.
"Ini Raja Gorn Rockbeard. Bantuan sedang dalam perjalanan. Kami mengirim unit tank mekanik dari lembah . Mereka akan tiba dari sisi selatan. Perkuat sisi timur. Kami temukan tanda-tanda pengeboran sihir di balik Gunung Stromcoast..."
Semua mata membelalak.
Pengeboran sihir?
"Jika Elf berniat membuka jalur bawah tanah," gumam Pak Sukoco, "mereka tidak mundur... mereka sedang memutar."
"Perang belum selesai," ujar Dina pelan. "Tapi sekarang... kita lebih siap."
Aku menatap langit malam. Bintang mulai bermunculan.
Besok... dunia bisa berubah.
Dan malam ini... kita berdoa agar tetap hidup sampai matahari terbit.
Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Blek Metal
Cerita ini telah pindah lapak. ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...