Bab 2 – Garasi Superhero Dan Liburan Naik Kelas
Bab 2 – Garasi Superhero dan Liburan Naik Kelas
Liburan kali ini, aku resmi naik ke kelas dua.
Yes, akhirnya gak dibilang “anak bawang” lagi oleh
Empat cowok superhero kelas 3 berdiri di depanku sekarang:
Cahyo, manusia kodok dengan kelakuan absurd.
Dani, si ahli drone yang mukanya polos, tapi pikirannya kayak insinyur MIT.
Aryo, si hoodie army bertangan besi, sok cool, padahal kalau ketemu kecoa lari duluan.
Dan tentu saja Rico. Si playboy sejuta gaya. Kaki bionic, mulut beracun, dan ego setinggi tower BTS.
Mereka semua lagi ngumpul di garasi kakekku—yang secara teknis juga markas rahasia kami.
Tujuannya Bukan buat ngebenerin motor trail atau main Mobile Legend. Tapi ngebenerin lengan bionic Aryo dan kaki bionic Rico yang rusak habis nendang robot gorila minggu lalu.
Di pojokan garasi, berdiri seseorang dengan rambut acak-acakan, pakai celemek Hello Kitty, dan nenteng solder listrik.
Dolce. Sang teknisi sakti. Si pembuat semua hoodie tempur, gadget, senjata, dan mimpi buruk musuh kami. Orangnya agak slebor. Kadang-kadang ngomong sendiri. Suka lupa mandi tapi bertabur farfum wangi. kami semua sayang dia. Karena tanpa Dolce, kami hanyalah anak-anak berseragam dengan hoodie lucu.
“Bro, tangan gue goyang kalau nembak. Coba dicek lagi sensornya, Dol!” keluh Aryo sambil ngangkat lengan bionicnya yang kedutan kayak ayam goreng belum matang.
“Ya sabar, lo kira gue punya tangan enam?!” jawab Dolce sambil nyolder, ngerokok, dan ngerap lagu lawas sekaligus.
Aku duduk di sofa bekas pinggir garasi sambil ngemil ciki. Dalam hati aku berpikir Tim kami ini aneh. Tapi justru itu yang bikin kami kuat. Karena dari delapan orang, hanya 5 yang benar-benar punya kekuatan super:
Aku (telekinetis),
Maya (aroma manipulatif ninja),
Cahyo ( Power kodok gila),
dan Evi (teleportasi).
Wulan (penyembuh kami)
Sedangkan tiga cowok lainnya—Aryo, Rico, dan Dani—gak punya kekuatan super. Tapi mereka punya teknologi Dolce, otak nekat, dan keberanian super. Dan ada satu sosok lagi yang jarang kelihatan tapi selalu kami andalkan, Dolce.
Mungkin dia bukan petarung di garis depan, Tapi dia senjata rahasia kami di balik layar.
Kadang aku mikir, kalau tanpa mereka semua, apa aku bisa tetap bertahan jadi superhero? dan saat aku tenggelam dalam pikiran. Rico tiba-tiba nyeletuk sambil duduk nyelonong deketku.
“Fia... kamu kok dari tadi ngelamun sih? Kangen aku ya?”
Ugh. Mulutnya masih bionic juga rupanya.
Liburan Tanpa Ledakan
Sudah seminggu ini kota Surabaya damai. Terlalu damai. Gak ada perampokan, gak ada robot gila, gak ada geng motor nyasar. CCTV kota pun kayak bosan sendiri—isinya cuma kucing nyebrang jalan dan bapak-bapak senam pagi.
Sebagai superhero part-time, harusnya aku senang.
Tapi kenyataannya? Aku... kangen. Kangen lempar mobil pake pikiran. Kangen nendang pintu gudang musuh. Dan yang paling penting, kangen beraksi bareng skuad cewekku.
Tim cewek kami itu epik banget.
Setiap ada misi, kami udah kayak girlband dengan jurus masing-masing.
Kak Maya – sang ninja aromaterapi. Sekali ngehembus aroma melati, musuh bisa nyanyi dangdut sambil tidur.
Kak Evi – ahli teleportasi. Bawa ketapel ajaib yang pelurunya bisa nyasar ke dompet musuh. Pernah tuh copet nangis karena uangnya ditembak balik ke pemiliknya.
Kak Wulan – penyembuh dengan lendir berwarna warni. Tangannya kayak charger manusia, bisa nyetrum dan nyembuhin. Jangan tanya bentuk lendirnya… menjijikkan tapi ampuh.
Kalau bareng mereka, misi terasa kayak piknik.
Ngobrol sambil nyetrum, ketawa sambil teleportasi, dan makan cilok habis nyerang markas musuh.
Dan kalau lagi gak ada misi, paling seru tuh Jalan bareng Kak Cahyo ke mall. Jangan tanya kenapa cuma Cahyo.
Yang lain? Malesin.
Rico? Playboy abis. Paling doyan pamer otot dan nanya, "Fia, kamu udah lihat six-pack aku belum?"
Aryo? Suka ngamuk gak jelas.
Pernah tuh karena kehabisan sambal, dia nyaris lempar motor.
Dani? Lemot. Kalau diajak ngomong, jawabnya dua menit kemudian. Kayak buffering.
Tapi… walau begitu...
Kalau soal aksi? Mereka bisa diandalkan. sekali disuruh pasang strategi, Dani berubah jadi Tony Stark. Begitu musuh kelihatan, Aryo langsung mode Hulk. dan Rico? Gaya boleh banyak, tapi tendangan bionic-nya bisa bikin pintu baja copot engsel.
Tim ini aneh. Berisik. Kadang kayak anak TK ketemu mie ayam. Tapi Mereka adalah rumah kedua buatku.
Dan di minggu yang damai ini, aku tahu. sesuatu pasti akan terjadi. karena kalau hidup terlalu tenang,
biasanya badai sedang bersiap di ujung jalan.
Belanja Berdarah Diskon
Lagi asyik duduk di sofa sambil ngemil makaroni pedas buatan Kak Wulan, Evi muncul di depanku kayak Pokemon.
"FI—SUPERMARKET. SEKARANG. AKU BUTUH TEMAN!"
Kalimat pembukanya lebih horor dari notifikasi 'Saldo Tidak Cukup'.
"Ada apaan?" tanyaku, masih pegang makaroni.
"Fredy nyuruh aku belanja kebutuhan dapur. Dan aku males sendirian. Plis." Evi setengah merengek, setengah ngambek.
Fredy, asisten kakekku.Master masakan eropa.
Tukang marah kalau tomat disimpan di freezer. Dan diam-diam... sniper handal pemilik Hoodie ungu.
Aku bangkit, nyengir.
"Yaudah, tapi kita teleport ke tempat aman ya. Jangan tiba-tiba di tengah rak mie instan."
Evi mengangguk. Tapi sebelum pergi, dia bilang ke Dani.
"Dani, WC mall 666 kosong gak?"
Mall 666.
Nama yang bikin mikir itu mall apa rumah hantu.
Dani, si empunya seluruh CCTV dan drone di kota, langsung buka tabletnya.
"Tenang Vi. Aman. Nggak ada yang beol di situ," katanya sok serius.
Dan...
ZHHHAPPP!
Kami teleport dan muncul di WC supermarket. Jadi superhero memang artinya mandi bisa di kamar mandi sendiri, teleport bisa di kamar mandi umum.
Kami keluar dari WC dengan anggun, kayak princess baru mendarat dari dimensi lain—bau sabun lemon menyelimuti aura kami.
Belanja dimulai. Kami ambil pasta, keju, sosis, dan tisu dapur.
Sampai akhirnya...
DUARRR!!!
Suara pecahan kaca dan teriakan.
Empat orang bersenjata masuk. Dua ke arah kasir.
Dua lagi ke arah pengunjung sambil acungin senjata rakitan.
Aku melirik Evi.
Dia lirik balik.
Dan kami tahu waktunya aksi.
Aku tarik Hoodie pink-ku.
Telekinetis mode ON.
Evi buka Hoodie kuning-nya.
Teleportasi aktif. Ketapel di tangan, siap tembak.
Dua perampok yang ke kasir, aku angkat mereka ke langit-langit pake pikiran. nabrak lampu, Mereka kejet-kejet kayak ikan kena setrum.
Satu yang jaga pintu, langsung kena peluru ketapel Evi. peluru berubah jadi semangka. Bikin dia pingsan sambil senyum.
Sisa satu, nyaris tembak pengunjung—Evi teleport ke belakangnya, pencet tombol di Hoodie.
BZZZZT.
Listrik keluar dari sarung tangannya (lha itu bukanya sarung tangan cahyo?) Perampok terakhir jatuh... nyium rak sabun colek.
Semua pengunjung tepuk tangan. Ada ibu-ibu yang sempat rekam.
Ada bapak-bapak yang cuma sibuk ambil tisu promo.
Kami nyengir dan menghilang, balik ke wc lalu berjalan sambil dorong troli belanjaan.
"Fredy pasti bangga," kataku.
Evi menjawab,
"Asal keju dan menteganya gak ketembak sih."
Sampai rumah, aku dan Evi mendarat di ruang tamu dengan troli penuh belanjaan. Yes, teleport troli juga bisa—walau rasanya kayak bawa koper isi batu bata.
Fredy sudah menunggu dengan tatapan serius ala chef Juna lokal.
“Keju aman?” tanyanya tanpa basa-basi.
Aku dan Evi saling lirik.
“Eh… iya aman,” jawab Evi, meletakkan plastik keju di meja kayak mempersembahkan bayi baru lahir.
Fredy mengecek satu-satu. Pasta? Aman. Mentega? Aman. Sosis? Aman.
Tisu dapur? Robek separo kena semangka Evi.
Fredy mendesah, tapi masih legawa.
“Bagus. Setidaknya keju nggak kena peluru. Kalau sampai keju ini lecet, kalian berdua sudah saya masukkan oven,” katanya.
Aku terdiam, antara ketawa atau takut.
Evi bisik ke aku:
“Kadang aku bingung, Fredy itu asisten rumah tangga atau jenderal perang.”
Kami berdua nyengir, lalu kabur sebelum Fredy berubah pikiran dan benar-benar bikin kami jadi lasagna.
Hari itu ditutup dengan makan makaroni pedas sambil ketawa bareng di ruang tamu.
Other Stories
O
o ...
Percobaan
percobaan ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...