Diary Superhero

Reads
326
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Diary superhero
Diary Superhero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 4: Misi, Mall, Dan Momen Aneh

Bab 4: Misi, Mall, dan Momen Aneh

Pagi itu, Maya sudah lenyap dari radar. Dia ninggalin sepucuk catatan di atas meja kamar. “Aku duluan ke lokasi. Jangan nungguin. Gunakan interkom kalau butuh. – M.”
Khas banget. Pendek, padat, dan penuh rahasia.

Wulan dan Evi juga sudah berangkat. Mereka menyamar jadi pelajar unyu-unyu di Taman Bungkul. Katanya sih mau “observasi perilaku sosial remaja yang berpotensi jadi target pengedar.” Tapi aku curiga mereka cuma mau jajan cilok sambil ngintip cowok-cowok keren.

Dan aku?Tinggal aku. Targetku hari ini  Cahyo. Alasan resminya Mengajak dia menyamar ke mall untuk menyelidiki jaringan pengedar yang katanya mulai merambah pusat perbelanjaan. Alasan nggak resminya. Hmm. Biarin aja aku yang tahu.

Aku meluncur ke rumah Cahyo pakai motor listrik warna pink metalik. Setiba di sana, aku disambut pemandangan ikonik. Cahyo, pakai kaos oblong, celana pendek, sedang mengangkat ember berisi sisa-sisa sambel pecel dan bungkusan nasi. Warung ibunya masih ramai. Tapi dia udah selesai bantu-bantu dan baru aja nyalain kipas angin sambil selonjoran.

“Yo!” panggilku sambil melepas helm.

Dia noleh dan langsung berdiri. “Eh, Sefia! Tumben ke sini…”

“Aku ada misi. Tapi butuh pasangan... buat nyamar.” Aku nyengir kecil. “Kamu ikut, ya?”

Cahyo ngusap keringat dari jidatnya. “Ke mana?”

“Mall,” jawabku santai. “Cuma buat nyari info. Tapi kita harus kelihatan kayak... pasangan. Supaya gak dicurigai.”

Dia mendadak kaku. “P-pasangan? Kayak... pacaran?”

Aku pura-pura mikir, lalu ngangguk. “Iya. Tapi cuma nyamar. Lagian, kamu pernah jadi separuh kodok. Masa nyamar jadi cowokku aja gak bisa?”

Dia garuk kepala. “Ya bisa sih... cuma...”

“Berarti fix. Kamu ganti baju. Yang bersih. Yang wangi. Jangan kayak baru kelar ngulek sambel.”

Dan 15 menit kemudian, kami sudah berangkat. Dengan motorku. Dengan Hoodie kami disembunyikan di ransel. Dan dengan sesuatu di dada yang deg-degan gak karuan.

Bukan karena misi. Tapi karena untuk pertama kalinya aku dan Cahyo pergi berdua. dan aku gak yakin.  ini masih bagian dari penyamaran.

Mall Kota Surabaya siang itu ramai. Anak muda lalu-lalang dengan gaya sok edgy dan jaket oversized. Musik K-pop dari toko sepatu sebelah bikin kepala ikut goyang meski hati lagi gelisah.

Aku dan Cahyo masuk ke toko airsoft gun. Tempat ini jadi salah satu target pengamatan karena beberapa laporan menyebut transaksi obat sering terjadi di komunitas hobi ekstrim.

Di dalam, berjejer replika senjata yang bikin Dani bisa histeris kalau lihat. Cahyo malah langsung pegang-pegang salah satu laras panjang sambil bilang. "Kalau ini buat main perang beneran... aku pasti jadi tim support. Sambil bawa nasi bungkus.”

Penjaga tokonya, cowok brewok dengan tatapan tajam tapi ramah, menyapa kami.

“Main airsoft juga, Dek?” tanyanya padaku.

Sebelum aku jawab, Cahyo mendahului dengan ekspresi sok yakin.

“Dia ini... adik... eh pacar... eh, maksud saya adik pacar saya... aduh, maksudnya adik pacar saya yang saya pacarin... eh gimana sih...”

Aku menutup muka. “Yo... stop.”

Penjaga toko malah tertawa. “Tenang Mas. Saya paham.”

Sumpah. Gimana caranya dia bisa paham?

Kami berdua dikasih brosur dan nomor WhatsApp untuk bergabung dengan komunitas “SUKIR” (Surabaya Kirim Rasa Perang). Komunitas airsoft yang sering main di gudang-gudang kosong.

Aku tersenyum sopan. Tapi indra instingku mulai aktif. Dan ternyata bukan cuma aku.
Pas keluar toko, Cahyo bisik pelan.

“Fia... kamu ngerasa nggak?”
“Ngerasa apa?”
“Bau badannya.”
“Yo, jangan bahas bau badan orang di publik.”
“Serius. Indra penciumanku beda. Itu bukan keringat biasa. Ada sesuatu yang aneh. Kayak... zat asing. Bau kimia tapi bercampur hormon adrenalin. Kayak efek obat...”

Aku langsung berhenti jalan. Kami saling tatap. Ini bukan kunjungan biasa.
“Aku catat nama tokonya. Kita kabari yang lain,” kataku.

Cahyo mengangguk, kali ini ekspresinya lebih serius dari biasanya. Misi cewek ternyata gak sesimpel belanja sambil investigasi. Dan mungkin, penjaga toko itu... bukan cuma penggemar airsoft. Dia bisa saja pemakai. Atau lebih parah, Pengedar.


Langit sore menguning ketika kami, squad cewek paling kece tapi ngeri, duduk melingkar di atap rumah kakekku — markas kami yang tak resmi tapi sakral. Angin semilir membawa aroma nasi goreng.

“Fredy masak,” kata Evi sambil mengendus. “Fix, itu nasi goreng rasa Eropa.”

Kami duduk dengan Hoodie masing-masing, sebagian sudah dibuka karena panas. Hanya topeng neon tergantung di leher, tanda siap tempur meski sedang santai.

Kakek dan Dolce lagi ke luar kota. Katanya "Ngurusin upgrade Hoodie batch
selanjutnya."
Tapi kami tahu itu artinya  “Jangan ganggu, lagi cari inspirasi sambil karaoke di luar kota.”

Fredy di dapur, sibuk memasak sambil sesekali nyanyi lagu lawas.

Kami rapat investigasi. Serius awalnya.

Maya memulai. Duduk bersila, wajahnya kalem khas ninja habis meditasi.

“Aku menyusup ke pertemuan rahasia di rooftop mall Galaxy. Ada distribusi obat dari luar negeri, yang diklaim bisa menaikkan kemampuan tubuh 5x lipat. Tapi efek sampingnya buas, tidak stabil. Obat itu masih dalam tahap uji coba.”

Kami diam.

“Siapa yang dijadikan kelinci percobaan?” tanya Wulan pelan.

“Remaja kota. Terutama yang aktif di medsos dan mudah dipengaruhi. Mereka dijanjikan kekuatan instan. Sebagian influencer juga sudah mulai terlibat...”

Evi angkat tangan, ekspresinya serius banget, tapi tangannya masih pegang kerupuk nasi goreng.

“Bener. Aku dan Wulan ke taman Bungkul. Banyak remaja pamer kekuatan, entah lompat tinggi, nahan motor, atau push-up sambil live TikTok. Dan kita nemu brosur acara 'Try Your Limit' yang disponsori akun nggak jelas.”

Wulan menambahkan, “Dan tempat kumpul mereka tuh... kayak digiring. Kayak ada yang sengaja nyebar.”

Kami semua mengangguk, menyadari ini serius. Ada yang mengatur semua ini dengan pola tertentu.

Lalu... giliran aku.

Mereka semua menatapku. “Fia, kamu dapat apa?”

Aku diam sebentar. “Eh... aku... ke mall. Sama Cahyo.”

Langsung semua bereaksi.

“ASTAGA!”
“Fix. Kamu undercover buat nyari perasaan dia ya?”
“Gimana... udah ditembak belum?”

Aku panik. “Woi! Aku serius! Kami investigasi juga!”

“Terus... gimana investigasinya?” tanya Maya, senyum licik.

Aku menarik napas. “Cahyo mencium sesuatu yang aneh dari penjaga toko airsoft. Bau badannya. Katanya ada aroma kimia kayak efek zat asing... bisa jadi pengguna. Kami dapat selebaran komunitas main perang. Kemungkinan itu jaringan.”

Mereka langsung serius lagi.

Maya mengangguk. “Itu penting. Kita bisa telusuri dari situ juga.”
Akhirnya, Maya membuka data paling penting hari itu.

“Tempat penyimpanan utama... kemungkinan besar ada di pergudangan tua di Rungkut. Aku sempat lihat beberapa pengiriman mencurigakan. Kita harus susun rencana penyusupan.”

Kami semua diam. Menyerap info ini. Lalu Fredy keluar dari dapur bawa 5 piring nasi goreng dengan telur ceplok dan sosis Eropa.

“Kalau kalian berani menyusup ke gudang gelap... harus berani juga habisin nasi goreng Fredy. Siapa takut?”

Kami semua tertawa. Tapi jauh di dalam hati... kami tahu. Misi ini lebih besar dari dugaan.
Dan aku? Ya... aku mungkin masih mikirin Cahyo.
Tapi misi ini... tentang menyelamatkan remaja kota kami dari perangkap kekuatan semu. Dan kami adalah garis pertahanan terakhir.









Other Stories
Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Download Titik & Koma