Part 9 Berdamai Dengan Diri Sepenuhnya
Saat mendekati semester akhir, ada sebuah mata kuliah yang mengharuskan mahasiswanya membuat sebuah event sendiri. Aku dan teman-teman ku berunding untuk menentukan acara apa yang ingin di buat. Sekian lama berunding akhirnya kami menemukan konsep acara yang ingin di buat.
Acara itu adalah workshop menulis untuk mengedukasi anti bullying yang di kemas dengan nama "Satu Cerita Event". Kami menargetkan murid-murid SMP dengan alasan pada umur mereka lah yang rentan sekali terjadi tindakan bullying. Aku sebagai wakil ketua pelaksana waktu itu mencetuskan sebuah ide.
Aku berfikir apabila anak-anak SMP itu hanya di beri materi dan tidak di beri kasus nyata maka tidak akan di dengar. Ketika bertanya apakah ada yang pernah di bully kepada rekan tim, ternyata mereka tidak pernah ada yang di bully.
Mengingat diri ku yang memiliki pengalaman sedikit tidak mengenakan dan sangat berbekas di hidup ku, akhirnya aku memutuskan untuk tampil memberikan edukasi kepada anak-anak SMP sebagai kasus nyata bahwa tindakan bullying itu tidak benar dan akan berdampak sekali bagi si korban walaupun korban tidak menunjukan secara langsung.
Aku tidak ingin kejadian di hidup ku kejadian di hidup orang lain. Aku tidak ingin ada yang terbully lagi karena di bully itu sangat tidak enak. Korban bully pasti akan memiliki kesehatan mental yang tidak baik. Mereka yang menjadi korban pasti memiliki rasa takut berlebihan untuk bertindak setelah mendapatkan perilaku perundungan dari sekitarnya.
Maka dari itu, kami sebagai mahasiswa sekaligus panitia ingin bersama-sama mencegah tindak bullying dalam bentuk apapun. Perjalanan ku yang panjang untuk mengembalikan rasa berani dan percaya akan diri sendiri itu membuahkan hasil.
Aku sudah menemukan keberanian ku dan lebih percaya diri ketika melakukan berbagai hal. Selain itu juga, aku sudah berdamai dengan diri ku yang dulu dan menjadikan kisah itu sebagai motivasi dalam diri sendiri. Sesekali aku juga suka memberikan semangat kepada orang yang ku kenal ketika dirinya sedang berada di ambang tidak percaya diri.
Akhirnya aku bisa hidup dengan bahagia sekarang dan jauh lebih tenang dari sebelumnya. Aku belajar bahwa percaya diri dan keberanian muncul ketika kita sendiri memiliki tekad untuk meningkatkannya. Bersama karya ini, aku mengajak kalian semua untuk bersama-sama mencegah dan memerangi segala rupa dan bentuk tindakan bullying dalam bentuk apapun dan dimana pun kalian berada.
Kita harus bisa mencegah tindakan perundungan di sekitar kita. Tidak ada yang pantas untuk di jadikan korban perundungan dan jangan pernah memberi panggung bagi para pelaku perundungan untuk menjalankan aksinya. Selain itu juga aku ingin mengingatkan kalian semua untuk tetap percaya dengan diri sendiri, jangan mudah minder dengan orang lain, berdamailah dengan diri sendiri karena itu salah satu cara untuk dapat menerima diri dengan apa adanya dan membuat mental kita jauh lebih baik.
Tidak ada yang harus di takuti, tidak ada yang harus minder, semua manusia sudah mendapatkan takdirnya masing-masing. Maka dari itu tetaplah semangat dengan takdir yang sudah ditentukan dalam perjalanan hidup kita. Selain kesehatan fisik, kesehatan mental kita juga sangat berharga. Jangan sampai mental kita jatuh terjun ke jurang yang sangat dalam.
~Bersambung~
Acara itu adalah workshop menulis untuk mengedukasi anti bullying yang di kemas dengan nama "Satu Cerita Event". Kami menargetkan murid-murid SMP dengan alasan pada umur mereka lah yang rentan sekali terjadi tindakan bullying. Aku sebagai wakil ketua pelaksana waktu itu mencetuskan sebuah ide.
Aku berfikir apabila anak-anak SMP itu hanya di beri materi dan tidak di beri kasus nyata maka tidak akan di dengar. Ketika bertanya apakah ada yang pernah di bully kepada rekan tim, ternyata mereka tidak pernah ada yang di bully.
Mengingat diri ku yang memiliki pengalaman sedikit tidak mengenakan dan sangat berbekas di hidup ku, akhirnya aku memutuskan untuk tampil memberikan edukasi kepada anak-anak SMP sebagai kasus nyata bahwa tindakan bullying itu tidak benar dan akan berdampak sekali bagi si korban walaupun korban tidak menunjukan secara langsung.
Aku tidak ingin kejadian di hidup ku kejadian di hidup orang lain. Aku tidak ingin ada yang terbully lagi karena di bully itu sangat tidak enak. Korban bully pasti akan memiliki kesehatan mental yang tidak baik. Mereka yang menjadi korban pasti memiliki rasa takut berlebihan untuk bertindak setelah mendapatkan perilaku perundungan dari sekitarnya.
Maka dari itu, kami sebagai mahasiswa sekaligus panitia ingin bersama-sama mencegah tindak bullying dalam bentuk apapun. Perjalanan ku yang panjang untuk mengembalikan rasa berani dan percaya akan diri sendiri itu membuahkan hasil.
Aku sudah menemukan keberanian ku dan lebih percaya diri ketika melakukan berbagai hal. Selain itu juga, aku sudah berdamai dengan diri ku yang dulu dan menjadikan kisah itu sebagai motivasi dalam diri sendiri. Sesekali aku juga suka memberikan semangat kepada orang yang ku kenal ketika dirinya sedang berada di ambang tidak percaya diri.
Akhirnya aku bisa hidup dengan bahagia sekarang dan jauh lebih tenang dari sebelumnya. Aku belajar bahwa percaya diri dan keberanian muncul ketika kita sendiri memiliki tekad untuk meningkatkannya. Bersama karya ini, aku mengajak kalian semua untuk bersama-sama mencegah dan memerangi segala rupa dan bentuk tindakan bullying dalam bentuk apapun dan dimana pun kalian berada.
Kita harus bisa mencegah tindakan perundungan di sekitar kita. Tidak ada yang pantas untuk di jadikan korban perundungan dan jangan pernah memberi panggung bagi para pelaku perundungan untuk menjalankan aksinya. Selain itu juga aku ingin mengingatkan kalian semua untuk tetap percaya dengan diri sendiri, jangan mudah minder dengan orang lain, berdamailah dengan diri sendiri karena itu salah satu cara untuk dapat menerima diri dengan apa adanya dan membuat mental kita jauh lebih baik.
Tidak ada yang harus di takuti, tidak ada yang harus minder, semua manusia sudah mendapatkan takdirnya masing-masing. Maka dari itu tetaplah semangat dengan takdir yang sudah ditentukan dalam perjalanan hidup kita. Selain kesehatan fisik, kesehatan mental kita juga sangat berharga. Jangan sampai mental kita jatuh terjun ke jurang yang sangat dalam.
~Bersambung~
Other Stories
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Fatimah (Fafa), seorang gadis kota yang lebih akrab dengan diskon skincare daripada kitab ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...