Pasti Ada Jalan

Reads
674
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Pasti ada jalan
Pasti Ada Jalan
Penulis Rijke Rie

Bab 1 - Pengen Kenyang

“Mak….”

Sari menoleh. Di ambang pintu warung, Raka berdiri sambil menyeringai lebar. Wajahnya basah oleh keringat. Kaosnya kusam, ada noda tanah di beberapa bagian. 

“Haus, Mak.” Anak itu meletakkan sebuah karung lusuh yang tampak menggembung. Dia hendak masuk, tetapi urung saat mendengar ibu kandungnya itu sedikit berseru.

“Tunggu Mamak di belakang ya.” Mata Sari melirik ke sudut tertentu. 

Raka mengerti, dan dia gegas mengangguk. Bocah dua belas tahun itu langsung bergerak. Meninggalkan karungnya, lalu mengayunkan langkah memutari warung. Sekejap dia sudah sampai di sisi belakang yang dimaksud sang ibu.

Dalam pencahayaan minim, mata kecil Raka menemukan ember besar berisi air yang berkilat minyak di permukaannya. Beberapa peralatan memasak tampak sudah bersih. Teronggok rapi di dekat ember.

Biasanya Raka akan membantu mencuci, tetapi kali ini sepertinya sang ibu sudah membereskan sebelum dia datang. Jadi dia mencari tempat yang kering untuk dia sekedar berselonjor sejenak. Kakinya cukup pegal setelah hampir tiga jam berjalan mengais rongsok.

Sambil duduk, Raka menurunkan ransel di punggungnya. Meletakkan hati-hati tas tempat dia menyimpan buku-buku sekolah. Mamaknya sering kali mengingatkan bahwa harta paling berharga yang mereka punya adalah buku-buku tersebut, jadi Raka harus menjaganya sepenuh hati.

Sementara Sari di dalam warung, buru-buru meneruskan pekerjaannya. Membereskan piring bekas-bekas pelanggan. Menumpuknya menjadi satu dalam nampan. Tangan satunya cekatan mengelap meja, menjadikan benda itu bersih seperti semula.

Dia melirik halus ke arah kanan, tempat Bu Dewi, pemilik warung. Perempuan berbadan besar itu sedang santai menghitung uang, sambil sesekali melihat ke layar telepon genggam. Bibir Bu Dewi terlihat tersenyum-senyum.

Sari pun mengambil kesempatan. Tangannya yang kurus kembali cekatan bergerak. Kali ini mengambil gelas bersih yang tersedia di dekatnya, kemudian memenuhinya dengan air putih. Sedikit terburu, dia letakkan gelas itu dalam nampan. Bersebelahan dengan piring-piring kotor. Masih dengan langkah terburu, Sari pergi ke belakang. 

“Raka,” panggilnya lirih. Anaknya yang menunggu dalam keremangan pun langsung mendekat. 

“Minumnya.” Sari menunjuk gelas menggunakan bola mata.

“Eh, nasinya masih sisa banyak, Mak,” ujar Raka berbinar. Menunjuk nampan yang dibawa Sari, seraya mengambil gelasnya. “Aku bantu kumpulin ya.”

“Biar nanti Mamak saja, kamu ada pe er kan?” bisik Sari. “Abis ini kamu makan, terus ngerjain pe er. Kayaknya warung mau tutup gasik. Laris dari tadi, makanan juga tinggal sedikit.”

“Wih, dapat bonus dong Mamak,” celoteh Raka. Dia mengulurkan gelas yang sudah kosong. Airnya sudah tandas masuk ke lambungnya.

“Tunggu di depan ya, Mamak ambil jatah makan dulu.”

“Aku makan di sini saja, Mak. Sambil nunggu Mamak, aku pisahin ini ya.” Lagi-lagi menunjuk tumpukan piring.

Sari menghela napas. Sebelum akhirnya mengangguk. 

Bukan sekali dua kali, mereka bahkan melakukannya setiap hari. Makan sisa dari pelanggan warung. Sudah tidak ada rasa jijik. Perut lapar yang meronta lebih penting untuk diisi daripada memikirkan apakah itu bekas mulut orang, meski orang itu sedang batuk sekalipun. 

“Hati-hati ya, jangan sampai ada yang pecah,” lirih Sari.

Tanpa menunggu sang anak menjawab, Sari masuk ke dalam.

“Bu, saya ambil jatah makan saya ya. Mumpung warung sepi.” Sari bersikap hormat di hadapan Bu Dewi.

Pemilik warung dengan badan besar itu spontan menghentikan aktivitasnya. Bola matanya yang besar bergerak. Dia tidak segera menjawab, melainkan melirik jauh. Memindai keadaan warungnya. Terutama meja-meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan. 

Setelah merasa yakin warungnya bersih, dia berkata, “Jatahmu dua centong, jangan berani curang!”

“Iya, Bu.”

“Dua sendok sayur, tempe dua potong. Cari yang paling kecil atau yang gosong,” sembur Bu Dewi. 

“Iya, Bu.”

Sari menahan-nahan air matanya. Walaupun hampir setiap hari dia mendengar ujaran seperti itu dari majikannya, tetapi hati Sari masih saja diliputi nelangsa. Apalagi dia tahu benar, jika Raka yang tidak jauh di belakang mereka pasti mendengarnya. Suara Bu Dewi kencang.

“Saya ijin makan dulu ya, Bu.” Sari kembali menghadap Bu Dewi. Tujuan sebenarnya memperlihatkan isi piringnya. 

Dan benar. Bu Dewi menelisik piring yang ada di tangan ibu kandung Raka tersebut. 

“Sana, tapi makannya nggak usah dilama-lamain. Kamu di sini kerja, bukan ngurusin anakmu. Aku masih baik hati menerima anakmu di sini, coba kalau kamu kerja di tempat lain. Nggak mungkin ada yang sebaik aku!”

Sari mengangguk. “Iya, Bu. Terima kasih. Saya sekalian cuci piring setelah ini.”

“Hmmm.” Bu Dewi melirik lagi. Lirikan tajam.

“Mak, lumayan nih.” Raka menyambut Sari yang berangsur mendekat. Tersenyum. Menunjukkan nasi yang sudah berhasil dia kumpulkan. “Tadi Mamak udah dapat banyak belum?”

Sari membalas senyuman. “Alhamdulillah, banyak. Cukup kayaknya untuk sarapan besok. Apa yang ini mau kamu makan sekarang?”

Raka mengangguk. “Aku pengen makan kenyang, Mak.”

Sari menengadah sekejap. Menahan air matanya agar tidak turun. 

“Ayo, Mak. Aku udah lapar.”

“Kamu makan nasi yang baru–”

“Sama saja, Mak… sama-sama nasi juga. Yuk, jangan kelamaan.” Raka menjulurkan leher. Melongok ke arah dalam. “Takut ibu bos ngomel.”

Sari berderai lembut. Tawa dengan nuansa perih. Tangannya sampai bergetar saat mengulurkan satu tempe, lalu menyendok sayur buncis ke piring yang ada di tangan Raka.

Hati perempuan dua puluh delapan tahun itu tercubit saat melihat Raka benar-benar lahap memakan nasi sisa orang. Sang anak tampak menikmati betul. Wajahnya yang semakin hari semakin menghitam, terlihat bahagia. Mengunyah dengan mulut penuh.

'Maafkan Mamakmu ini, Raka. Kamu harus sengsara akibat kebodohan Mamak’, gumam Sari sedih.




Other Stories
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Download Titik & Koma