Bab 3 - Ancaman
Selepas makan. Raka beringsut pergi menuju tempat yang tadi ditunjuk ibu kandungnya. Lelaki kecil itu mencoba kuat meski hatinya nelangsa. Sambil menggendong ransel berwarna hitam miliknya, dia berjalan perlahan menuju bawah lampu jalan itu.
“Hati-hati ya, Ka. Kalau ada apa-apa langsung teriak, Mamak pasti dengar dari sini,” seru Sari tertahan.
Raka hanya mengangguk samar. Tidak ingin menoleh, sebab kelopak matanya mulai mengeluarkan air.
Sama seperti Raka, Sari pun menahan tangis. Pandangan matanya begitu berat. Terlebih saat dia melihat tubuh kecil itu duduk bersila di trotoar, membuka buku dan menunduk di bawah cahaya lampu jalanan. Air mata Sari nyaris jatuh. Hatinya hancur.
Dia tidak menyalahkan Bu Dewi. Dia yang ibunya Raka, jadi tanggung jawab memenuhi tempat layak untuk belajar bagi Raka, memang seharusnya Sari yang mengusahakan.
Ini semua memang salahnya.
Dia baru enam belas tahun saat melahirkan Raka. Tanpa pernikahan, tanpa suami.
Bapak ibunya mengusir Sari dari rumah, sebab Sari bersikeras untuk mempertahankan janin yang dia dapat akibat pergaulan bebas dengan teman sekelasnya. Yang saat mengetahui dia hamil, ayah biologis Raka itu menghilang entah di mana. Sari pun tidak pernah berniat untuk mencarinya.
Sejak itu, hidup Sari terbalik. Tiba-tiba dia harus menjadi orang tua. Tidak ada yang mengajari, tetapi secara alami dia menyesuaikan diri. Meski harus perih, berdarah-darah, bahkan rasanya hampir gila. Sari terus bertahan hidup, karena dia masih takut dosa, takut masuk neraka.
Pagi hari dia bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Bu Ratna. Seorang baik hati, yang tinggal di kompleks perumahan dekat rumah kontrakannya. Sari diupah untuk mencuci dan menyetrika saja. Siang menjelang senja, dia lanjut bekerja di warung Bu Dewi.
“Kesalahanku ini tidak boleh berlanjut untuk anak keturunanku kelak. Aku sudah terjerumus tapi aku tidak boleh kalah dari nasib malang ini. Raka dan anak-anaknya nanti, haruslah menjadi orang yang lebih bermartabat.” Begitu tekad Sari.
Tekad yang dia ulang-ulang setiap menjelang tidur.
Dia tidak mendendam, semua sudah diterima sebagai garis takdir. Sari hanya ingin rantai kesengsaraan tidak berketerusan.
“Mbak Sari, itu Raka kok di sana?” Seorang pemuda yang selalu datang ke warung sehabis mahrib itu menunjuk siluet Raka.
Sari meringis. Melirik pada Bu Dewi, yang ternyata dia juga sedang menatap pada Sari.
“Anu… Raka tuh seneng menggambar. Katanya tadi pengen gambar kendaraan lewat,” sahut Sari. Suaranya kentara tidak mantap.
“Dari depan warung kayak biasa kan bisa. Bahaya loh, kita nggak tau kalau ada kendaraan nyelonong.”
“Halah, Raka itu caper aja. Gara-gara sering dikasih duit sama kamu, kan biar keliatan semakin kasihan,” ceplos Bu Dewi.
Pemuda itu langsung cepat membayar dan pergi.
“Makanya, Sar, sesekali mau kalau aku ajak main. Manyan buat uang jajan Raka beberapa hari,” celetuk pelanggan lain. Yang disambut dengan tawa bernuansa menghinakan.
Dada Sari bergemuruh mendengarnya.
“Sayang loh, masih muda… itunya cuma buat pipis doang.”
Tawa menjadi lebih membahana.
“Heh, Dirin! Kamu jangan mesum deh di warungku!” jerit Bu Dewi kesal. “Nanti yang belum tau dikira beneran! Kalau mau makan, ya makan aja. Kalau mau mesum bukan di sini.”
Tawa langsung lenyap. Lelaki yang dipanggil Dirin itu pun langsung menunduk. Tidak lagi berani jumawa.
Sari beringsut mundur. Sedikit lega dengan pertolongan sang majikan.
Sebelum pergi ke belakang membawa piring kotor, dia menyempatkan diri untuk melongok Raka. Bocah beranjak remaja itu terlihat masih menekuri buku-bukunya.
'Ya Allah… jika cahaya lampu jalan adalah satu-satunya terang yang bisa menemani anakku, ijinkan anakku tetap semangat. Jangan biarkan mimpinya padam hanya karena kemiskinan ibunya’, jerit hati Sari.
Raka bukanlah anak yang terlalu pintar, tetapi dia masih dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Dan Sari bertekad, setidaknya dia harus bisa membuat Raka terus bersekolah hingga tamat SMA. Atau mungkin lebih.
**
Sari selesai mencuci piring terakhir, air sabun di ember sudah dingin dan berminyak. Dia tumpahkan hati-hati, lalu ember kosong itu dia bawa masuk.
“Sudah beres?” Bu Dewi menyambutnya. Dia sudah memakai jaket, tas selempangnya juga sudah tercantol di pundak kiri.
Sari mengangguk. Menyimpan ember di tempat biasa.
“Ini, upahmu.”
Sari segera menerima uang lusuh yang disodorkan Bu Dewi. Uang dua ribuan yang telah tersusun rapi, dan tidak perlu dia hitung lagi. Bu Dewi tidak pernah salah, selalu tepat memberinya sesuai perjanjian. Tiga puluh ribu setiap hari.
“Terima kasih, Bu Dewi,” ucap Sari lirih. Menunduk, tidak berani menatap lama.
“Besok Raka nggak usah ke sini ya. Aku nggak mau jadi bahan omongan, dikira aku jahat. Tapi jujur ya, orang miskin kayak kamu, kalau dikasih kesempatan pasti jadi ngelunjak.” Suara perempuan paruh baya itu tandas.
“Bu—”
“Nggak usah membantah! Aku bisa cari tukang cuci lain,” ketus Bu Dewi saat melihat Sari hendak bicara. “Sudah sana pergi, aku capek!”
“Hati-hati ya, Ka. Kalau ada apa-apa langsung teriak, Mamak pasti dengar dari sini,” seru Sari tertahan.
Raka hanya mengangguk samar. Tidak ingin menoleh, sebab kelopak matanya mulai mengeluarkan air.
Sama seperti Raka, Sari pun menahan tangis. Pandangan matanya begitu berat. Terlebih saat dia melihat tubuh kecil itu duduk bersila di trotoar, membuka buku dan menunduk di bawah cahaya lampu jalanan. Air mata Sari nyaris jatuh. Hatinya hancur.
Dia tidak menyalahkan Bu Dewi. Dia yang ibunya Raka, jadi tanggung jawab memenuhi tempat layak untuk belajar bagi Raka, memang seharusnya Sari yang mengusahakan.
Ini semua memang salahnya.
Dia baru enam belas tahun saat melahirkan Raka. Tanpa pernikahan, tanpa suami.
Bapak ibunya mengusir Sari dari rumah, sebab Sari bersikeras untuk mempertahankan janin yang dia dapat akibat pergaulan bebas dengan teman sekelasnya. Yang saat mengetahui dia hamil, ayah biologis Raka itu menghilang entah di mana. Sari pun tidak pernah berniat untuk mencarinya.
Sejak itu, hidup Sari terbalik. Tiba-tiba dia harus menjadi orang tua. Tidak ada yang mengajari, tetapi secara alami dia menyesuaikan diri. Meski harus perih, berdarah-darah, bahkan rasanya hampir gila. Sari terus bertahan hidup, karena dia masih takut dosa, takut masuk neraka.
Pagi hari dia bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Bu Ratna. Seorang baik hati, yang tinggal di kompleks perumahan dekat rumah kontrakannya. Sari diupah untuk mencuci dan menyetrika saja. Siang menjelang senja, dia lanjut bekerja di warung Bu Dewi.
“Kesalahanku ini tidak boleh berlanjut untuk anak keturunanku kelak. Aku sudah terjerumus tapi aku tidak boleh kalah dari nasib malang ini. Raka dan anak-anaknya nanti, haruslah menjadi orang yang lebih bermartabat.” Begitu tekad Sari.
Tekad yang dia ulang-ulang setiap menjelang tidur.
Dia tidak mendendam, semua sudah diterima sebagai garis takdir. Sari hanya ingin rantai kesengsaraan tidak berketerusan.
“Mbak Sari, itu Raka kok di sana?” Seorang pemuda yang selalu datang ke warung sehabis mahrib itu menunjuk siluet Raka.
Sari meringis. Melirik pada Bu Dewi, yang ternyata dia juga sedang menatap pada Sari.
“Anu… Raka tuh seneng menggambar. Katanya tadi pengen gambar kendaraan lewat,” sahut Sari. Suaranya kentara tidak mantap.
“Dari depan warung kayak biasa kan bisa. Bahaya loh, kita nggak tau kalau ada kendaraan nyelonong.”
“Halah, Raka itu caper aja. Gara-gara sering dikasih duit sama kamu, kan biar keliatan semakin kasihan,” ceplos Bu Dewi.
Pemuda itu langsung cepat membayar dan pergi.
“Makanya, Sar, sesekali mau kalau aku ajak main. Manyan buat uang jajan Raka beberapa hari,” celetuk pelanggan lain. Yang disambut dengan tawa bernuansa menghinakan.
Dada Sari bergemuruh mendengarnya.
“Sayang loh, masih muda… itunya cuma buat pipis doang.”
Tawa menjadi lebih membahana.
“Heh, Dirin! Kamu jangan mesum deh di warungku!” jerit Bu Dewi kesal. “Nanti yang belum tau dikira beneran! Kalau mau makan, ya makan aja. Kalau mau mesum bukan di sini.”
Tawa langsung lenyap. Lelaki yang dipanggil Dirin itu pun langsung menunduk. Tidak lagi berani jumawa.
Sari beringsut mundur. Sedikit lega dengan pertolongan sang majikan.
Sebelum pergi ke belakang membawa piring kotor, dia menyempatkan diri untuk melongok Raka. Bocah beranjak remaja itu terlihat masih menekuri buku-bukunya.
'Ya Allah… jika cahaya lampu jalan adalah satu-satunya terang yang bisa menemani anakku, ijinkan anakku tetap semangat. Jangan biarkan mimpinya padam hanya karena kemiskinan ibunya’, jerit hati Sari.
Raka bukanlah anak yang terlalu pintar, tetapi dia masih dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Dan Sari bertekad, setidaknya dia harus bisa membuat Raka terus bersekolah hingga tamat SMA. Atau mungkin lebih.
**
Sari selesai mencuci piring terakhir, air sabun di ember sudah dingin dan berminyak. Dia tumpahkan hati-hati, lalu ember kosong itu dia bawa masuk.
“Sudah beres?” Bu Dewi menyambutnya. Dia sudah memakai jaket, tas selempangnya juga sudah tercantol di pundak kiri.
Sari mengangguk. Menyimpan ember di tempat biasa.
“Ini, upahmu.”
Sari segera menerima uang lusuh yang disodorkan Bu Dewi. Uang dua ribuan yang telah tersusun rapi, dan tidak perlu dia hitung lagi. Bu Dewi tidak pernah salah, selalu tepat memberinya sesuai perjanjian. Tiga puluh ribu setiap hari.
“Terima kasih, Bu Dewi,” ucap Sari lirih. Menunduk, tidak berani menatap lama.
“Besok Raka nggak usah ke sini ya. Aku nggak mau jadi bahan omongan, dikira aku jahat. Tapi jujur ya, orang miskin kayak kamu, kalau dikasih kesempatan pasti jadi ngelunjak.” Suara perempuan paruh baya itu tandas.
“Bu—”
“Nggak usah membantah! Aku bisa cari tukang cuci lain,” ketus Bu Dewi saat melihat Sari hendak bicara. “Sudah sana pergi, aku capek!”
Other Stories
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...