Bab 5 - Tekad Sari
Sari terkikik, meski hatinya nelangsa. Dia hanya ingin mengajarkan Raka agar tidak perlu terlalu mengambil hati pada hinaan semacam itu.
Melihat ibunya berderai, Raka pun ikut terkekeh.
Sesampai di rumahnya yang gelap, Sari menyuruh Raka untuk segera mandi. Rencananya untuk mengajak sang anak berbicara soal masa depan, terpaksa dia urungkan. Ternyata tubuhnya terlalu lelah. Raka pun sudah tertidur saat dia selesai mandi.
***
“Enak banget, Mak!” Raka mengacungkan jempolnya. Satu piring nasi goreng tandas ke dalam perutnya.
Sari tertawa bahagia. Dia mengulurkan kotak bekal plastik, untuk makan siang Raka nanti. Isinya sama dengan yang baru saja Raka makan.
“Nanti kalau ada pe er, dikerjakan dulu, baru kamu mulung ya, Ka.”
“Biar nggak perlu cari lampu ya, Mak,” sahut Raka cepat.
Sari tersenyum. Miris.
“Ayok, Mak.”
Kali ini Sari mengangguk.
Berdua mereka berjalan berdampingan.
“Jangan nakal di sekolah ya, Ka,” ucap Sari. “Nggak boleh berantem, kalau dikata-katain diam saja. Tapi kalau kamu dipukul….”
“Harus berani berteriak,” lanjut Raka. Seakan hafal nasehat sang ibu. Bibirnya merekah jahil.
“Jangan lupa bilang sama Mamak,” sahut Sari cepat. Lalu terkekeh. “Eh, di kelas Raka ada yang pacaran-pacaran nggak?”
Raka menoleh. Terlihat kaget. Senyumnya yang lebar spontan menguncup.
Sari mengelus kepala sang anak. “Pokoknya sekolah itu untuk belajar ya, bukan yang lain-lain.”
“Mamak katanya mau ngomong serius tadi malam,” celetuk Raka.
“Iya, tapi Mamak lupa….” Derai tawa Sari terdengar tidak tulus. “Nanti kalau Mamak inget ya.”
Sejujurnya Sari belum tahu harus mulai dari mana untuk memberitahu Raka, agar anak semata wayangnya itu tidak mempunyai nasib yang sama dengan dirinya.
Mungkin Raka memang belum sepenuhnya dewasa, tetapi Sari takut terlambat. Dahulu, tidak ada yang memberitahunya bahwa bergaul dengan teman lelaki itu ternyata bisa menjurus hal yang berbahaya.
"Ah," desah Sari lirih. Dadanya masih sesak dengan masa lalunya.
"Kenapa, Mak?"
Sari hanya tersenyum.
Sampai di persimpangan, mereka berpisah. Raka melangkah ke arah sekolah, sementara Sari menuju rumah Bu Ratna.
Sesampainya di halaman rumah majikannya, Sari menahan napas, mencoba menyembunyikan perasaan yang bergemuruh. Dia melihat Dani, anak bungsu Bu Ratna yang seumuran Raka. Memakai seragam cemerlang, sepatu dan tas yang bagus….
Rasanya hatinya yang sesak sedari tadi malam, menjadi semakin sesak. Ada sesuatu yang menghimpit dadanya. Antara rasa iri, sedih, sekaligus doa yang tak putus-putus.
Dalam hati, Sari berjanji. ‘Raka tidak boleh terjebak dalam lingkar kemiskinan yang aku ciptakan. Aku harus menebus kesalahanku. Cukup aku saja yang menanggung kesalahanku.’
Terkadang Sari mengkhayal keluarganya datang mencari dirinya, lalu membawanya pulang. Mengingat betapa bapak, ibu dan kakaknya dulu begitu menyayangi dirinya. Namun dia selalu cepat sadar bahwa kesalahannya begitu besar. Bapak bahkan dulu terus pingsan saat pertama kali dia mengungkap kehamilannya untuk pertama kali.
“Mbak Sari, sudah datang toh. Kok nggak langsung masuk?” Bu Ratna memecah lamunan Sari.
“Eh, iya, Bu.” Sari menunduk malu.
“Ayo, masuk. Tadi Ibu bikin roti bakar buat sarapan Dani, masih ada sisa. Sayang kalau nggak dihabiskan."
Bu Ratna masuk, Sari mengikutinya.
"Ayo dimakan mumpung masih hangat. Jadi nanti nyetrikanya kuat.” Bu Ratna tertawa di akhir kalimat.
Sari ikut tertawa.
Melihat ibunya berderai, Raka pun ikut terkekeh.
Sesampai di rumahnya yang gelap, Sari menyuruh Raka untuk segera mandi. Rencananya untuk mengajak sang anak berbicara soal masa depan, terpaksa dia urungkan. Ternyata tubuhnya terlalu lelah. Raka pun sudah tertidur saat dia selesai mandi.
***
“Enak banget, Mak!” Raka mengacungkan jempolnya. Satu piring nasi goreng tandas ke dalam perutnya.
Sari tertawa bahagia. Dia mengulurkan kotak bekal plastik, untuk makan siang Raka nanti. Isinya sama dengan yang baru saja Raka makan.
“Nanti kalau ada pe er, dikerjakan dulu, baru kamu mulung ya, Ka.”
“Biar nggak perlu cari lampu ya, Mak,” sahut Raka cepat.
Sari tersenyum. Miris.
“Ayok, Mak.”
Kali ini Sari mengangguk.
Berdua mereka berjalan berdampingan.
“Jangan nakal di sekolah ya, Ka,” ucap Sari. “Nggak boleh berantem, kalau dikata-katain diam saja. Tapi kalau kamu dipukul….”
“Harus berani berteriak,” lanjut Raka. Seakan hafal nasehat sang ibu. Bibirnya merekah jahil.
“Jangan lupa bilang sama Mamak,” sahut Sari cepat. Lalu terkekeh. “Eh, di kelas Raka ada yang pacaran-pacaran nggak?”
Raka menoleh. Terlihat kaget. Senyumnya yang lebar spontan menguncup.
Sari mengelus kepala sang anak. “Pokoknya sekolah itu untuk belajar ya, bukan yang lain-lain.”
“Mamak katanya mau ngomong serius tadi malam,” celetuk Raka.
“Iya, tapi Mamak lupa….” Derai tawa Sari terdengar tidak tulus. “Nanti kalau Mamak inget ya.”
Sejujurnya Sari belum tahu harus mulai dari mana untuk memberitahu Raka, agar anak semata wayangnya itu tidak mempunyai nasib yang sama dengan dirinya.
Mungkin Raka memang belum sepenuhnya dewasa, tetapi Sari takut terlambat. Dahulu, tidak ada yang memberitahunya bahwa bergaul dengan teman lelaki itu ternyata bisa menjurus hal yang berbahaya.
"Ah," desah Sari lirih. Dadanya masih sesak dengan masa lalunya.
"Kenapa, Mak?"
Sari hanya tersenyum.
Sampai di persimpangan, mereka berpisah. Raka melangkah ke arah sekolah, sementara Sari menuju rumah Bu Ratna.
Sesampainya di halaman rumah majikannya, Sari menahan napas, mencoba menyembunyikan perasaan yang bergemuruh. Dia melihat Dani, anak bungsu Bu Ratna yang seumuran Raka. Memakai seragam cemerlang, sepatu dan tas yang bagus….
Rasanya hatinya yang sesak sedari tadi malam, menjadi semakin sesak. Ada sesuatu yang menghimpit dadanya. Antara rasa iri, sedih, sekaligus doa yang tak putus-putus.
Dalam hati, Sari berjanji. ‘Raka tidak boleh terjebak dalam lingkar kemiskinan yang aku ciptakan. Aku harus menebus kesalahanku. Cukup aku saja yang menanggung kesalahanku.’
Terkadang Sari mengkhayal keluarganya datang mencari dirinya, lalu membawanya pulang. Mengingat betapa bapak, ibu dan kakaknya dulu begitu menyayangi dirinya. Namun dia selalu cepat sadar bahwa kesalahannya begitu besar. Bapak bahkan dulu terus pingsan saat pertama kali dia mengungkap kehamilannya untuk pertama kali.
“Mbak Sari, sudah datang toh. Kok nggak langsung masuk?” Bu Ratna memecah lamunan Sari.
“Eh, iya, Bu.” Sari menunduk malu.
“Ayo, masuk. Tadi Ibu bikin roti bakar buat sarapan Dani, masih ada sisa. Sayang kalau nggak dihabiskan."
Bu Ratna masuk, Sari mengikutinya.
"Ayo dimakan mumpung masih hangat. Jadi nanti nyetrikanya kuat.” Bu Ratna tertawa di akhir kalimat.
Sari ikut tertawa.
Other Stories
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...