Bab 6 - Memohon
Pekerjaan di rumah Bu Ratna selesai.
Sari menghela napas. Entahlah, kalau di rumah Bu Ratna, waktu terasa cepat sekali berlalu. Mungkin karena bekerja dengan majikan yang tidak cerewet dan baik hati seperti Bu Ratna membuat pikiran Sari enteng. Jadi tidak terlalu merasa terbebani.
Sari pun pamit, untuk segera menuju warung makan Bu Dewi. Langkahnya tergesa, berpikir akan dapat berbicara tentang kehadiran Raka sebelum memulai kerja.
“Assalamualaikum,” sapa Sari setiba di warung makan.
Dua kepala, Bu Dewi dan putrinya, menoleh bersama. Secara bersamaan, mereka juga menjawab salam Sari.
Bu Dewi memang memasak sendiri, dibantu oleh anak perempuannya. Sari hanya bertugas untuk menjaga kebersihan dan kerapian warung, plus mencuci peralatan kotor.
“Bu Dewi, apa saya boleh bicara sesuatu?” tanya Sari hati-hati. Kakinya mendekat tanpa bunyi. Badan kurus itu sedikit membungkuk.
“Lah, ngomong tinggal ngomong kok pakai ijin,” jawab Bu Dewi ketus. Matanya melirik sebentar. Namun setelah itu dia sibuk.
Sari meringis. Kedua tangan perempuan itu saling meremas. “S-soal anak s-saya, Bu.”
“Eh, kenapa sama Raka, Mbak?” Fara, putri Bu Dewi menyela.
Spontan Bu Dewi mendengkus kasar. “Sar, tapi anakmu itu memang mengganggu pemandangan. Bawa karung, ngemper di depan warung… Yang mau makan jadi jijik!”
Mata Sari berpandangan dengan Fara.
“Lagian anakmu itu sudah gede, Sar. Laki-laki lagi, masa yo mau ngikut mamaknya kemana pun,” tandas Bu Dewi. “Nanti jadi laki-laki manja, cemen.”
“B-bukan gitu, Bu Dewi.” Sari memberanikan diri bicara. “S-saya yang agak kuatir. Kalau Raka tidak di sini, dia pasti nggak mau diam di rumah menunggu saya. Maunya keliling cari rongsok."
"Loh ya bagus itu. Kamu harusnya mendukung. Aneh kamu, dibantuin cari duit halal malah dilarang." Bu Dewi bicara tinggi. Hanya melirik sedetik pada Sari.
Sari menelan ludah. Sebelum akhirnya menjawab dengan nada setengah menahan tangis. "T-tapi sekarang kejahatan sama anak kan bikin ngeri, Bu.”
Bu Dewi tertawa. "Ada... saja alesanmu, Sar."
“Kayaknya bener Mbak Sari, Mah.” Fara buka suara. Terdengar hati-hati sekali.
“Iya, Bu. Nanti kalau Raka sudah sedikit lebih besar, bisa menjaga dirinya sendiri, pasti saya nggak ajak ke sini.” Sari bicara cepat. Seperti melihat kesempatan untuk memohon.
Bu Dewi mendengkus. Menatap Sari dan Fara bergantian.
“Tolong, Bu… hari ini Raka saya pastiin ada di belakang warung. Nggak akan keliatan sama pelanggan.”
“Mah… kasian,” desis Fara.
“Iya, iya… tapi awas aja kalau anakmu bikin ulah lagi!” sungut Dewi.
“Terima kasih, Bu.” Sari tersenyum lebar. Lalu dia menoleh, menatap Fara. Kepada gadis berambut panjang itu, Sari menganggukkan kepala. Sebagai ganti ucapan terima kasih.
“Udah sana, jangan bengong di sini saja!” Bu Dewi melotot.
Dengan gugup Sari berbalik. Mengambil sapu dan lap. Bersiap membersihkan warung.
“Mah, apa nggak sebaiknya kalau Raka disuruh bantuin Mbak Sari? Yang ringan-ringan saja. Anak segede Raka pasti udah bisa cuci piring, atau ngelap meja. Kasihlah upah makan sama duit buat beli jajan sekedarnya,” usul Fara.
“Far, bukannya Mamah tega ya sama anak yatim kayak si Raka. Tapi kamu liat sendiri jaman sekarang itu ngeri. Dikit-dikit dikontenin, dikit-dikit diviralin, ya mending kalau beritanya nggak dipelintir.” Bu Dewi tampak geregetan.
Dia sampai menghentikan aktifitas memotong sayuran. “Kalau tiba-tiba ada yang posting video Raka lagi kerja di warung kita, apa nanti Mamah nggak dituduh jadi orang jahat? Mempekerjakan anak dibawah umur?”
Fara menelan ludah. Dia membenarkan asumsi ibu kandungnya itu. “Atau kalau sore, Raka suruh nyapu di rumah kita aja, Mah? Kan—”
“Udahlah, Far. Raka itu bukan tanggung jawab kita!”
Sari yang tengah menata gelas di meja panjang, menahan napas. Hanya bisa sedih. Ingin marah, tetapi apa yang dikatakan Bu Dewi memang benar. Raka adalah tanggung jawabnya. Tanggung jawab yang lahir dari kecerobohan dia di masa lalu.
Sari menghela napas. Entahlah, kalau di rumah Bu Ratna, waktu terasa cepat sekali berlalu. Mungkin karena bekerja dengan majikan yang tidak cerewet dan baik hati seperti Bu Ratna membuat pikiran Sari enteng. Jadi tidak terlalu merasa terbebani.
Sari pun pamit, untuk segera menuju warung makan Bu Dewi. Langkahnya tergesa, berpikir akan dapat berbicara tentang kehadiran Raka sebelum memulai kerja.
“Assalamualaikum,” sapa Sari setiba di warung makan.
Dua kepala, Bu Dewi dan putrinya, menoleh bersama. Secara bersamaan, mereka juga menjawab salam Sari.
Bu Dewi memang memasak sendiri, dibantu oleh anak perempuannya. Sari hanya bertugas untuk menjaga kebersihan dan kerapian warung, plus mencuci peralatan kotor.
“Bu Dewi, apa saya boleh bicara sesuatu?” tanya Sari hati-hati. Kakinya mendekat tanpa bunyi. Badan kurus itu sedikit membungkuk.
“Lah, ngomong tinggal ngomong kok pakai ijin,” jawab Bu Dewi ketus. Matanya melirik sebentar. Namun setelah itu dia sibuk.
Sari meringis. Kedua tangan perempuan itu saling meremas. “S-soal anak s-saya, Bu.”
“Eh, kenapa sama Raka, Mbak?” Fara, putri Bu Dewi menyela.
Spontan Bu Dewi mendengkus kasar. “Sar, tapi anakmu itu memang mengganggu pemandangan. Bawa karung, ngemper di depan warung… Yang mau makan jadi jijik!”
Mata Sari berpandangan dengan Fara.
“Lagian anakmu itu sudah gede, Sar. Laki-laki lagi, masa yo mau ngikut mamaknya kemana pun,” tandas Bu Dewi. “Nanti jadi laki-laki manja, cemen.”
“B-bukan gitu, Bu Dewi.” Sari memberanikan diri bicara. “S-saya yang agak kuatir. Kalau Raka tidak di sini, dia pasti nggak mau diam di rumah menunggu saya. Maunya keliling cari rongsok."
"Loh ya bagus itu. Kamu harusnya mendukung. Aneh kamu, dibantuin cari duit halal malah dilarang." Bu Dewi bicara tinggi. Hanya melirik sedetik pada Sari.
Sari menelan ludah. Sebelum akhirnya menjawab dengan nada setengah menahan tangis. "T-tapi sekarang kejahatan sama anak kan bikin ngeri, Bu.”
Bu Dewi tertawa. "Ada... saja alesanmu, Sar."
“Kayaknya bener Mbak Sari, Mah.” Fara buka suara. Terdengar hati-hati sekali.
“Iya, Bu. Nanti kalau Raka sudah sedikit lebih besar, bisa menjaga dirinya sendiri, pasti saya nggak ajak ke sini.” Sari bicara cepat. Seperti melihat kesempatan untuk memohon.
Bu Dewi mendengkus. Menatap Sari dan Fara bergantian.
“Tolong, Bu… hari ini Raka saya pastiin ada di belakang warung. Nggak akan keliatan sama pelanggan.”
“Mah… kasian,” desis Fara.
“Iya, iya… tapi awas aja kalau anakmu bikin ulah lagi!” sungut Dewi.
“Terima kasih, Bu.” Sari tersenyum lebar. Lalu dia menoleh, menatap Fara. Kepada gadis berambut panjang itu, Sari menganggukkan kepala. Sebagai ganti ucapan terima kasih.
“Udah sana, jangan bengong di sini saja!” Bu Dewi melotot.
Dengan gugup Sari berbalik. Mengambil sapu dan lap. Bersiap membersihkan warung.
“Mah, apa nggak sebaiknya kalau Raka disuruh bantuin Mbak Sari? Yang ringan-ringan saja. Anak segede Raka pasti udah bisa cuci piring, atau ngelap meja. Kasihlah upah makan sama duit buat beli jajan sekedarnya,” usul Fara.
“Far, bukannya Mamah tega ya sama anak yatim kayak si Raka. Tapi kamu liat sendiri jaman sekarang itu ngeri. Dikit-dikit dikontenin, dikit-dikit diviralin, ya mending kalau beritanya nggak dipelintir.” Bu Dewi tampak geregetan.
Dia sampai menghentikan aktifitas memotong sayuran. “Kalau tiba-tiba ada yang posting video Raka lagi kerja di warung kita, apa nanti Mamah nggak dituduh jadi orang jahat? Mempekerjakan anak dibawah umur?”
Fara menelan ludah. Dia membenarkan asumsi ibu kandungnya itu. “Atau kalau sore, Raka suruh nyapu di rumah kita aja, Mah? Kan—”
“Udahlah, Far. Raka itu bukan tanggung jawab kita!”
Sari yang tengah menata gelas di meja panjang, menahan napas. Hanya bisa sedih. Ingin marah, tetapi apa yang dikatakan Bu Dewi memang benar. Raka adalah tanggung jawabnya. Tanggung jawab yang lahir dari kecerobohan dia di masa lalu.
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...