Bab 7 - Jangan Ya
Siang cepat sekali berganti senja.
Sari sengaja mengelap meja terluar, meja dekat pintu warung. Lehernya menjulur sesekali. Melempar pandangan ke luar. Dia tahu jam-jam segini Raka akan datang dari arah selatan.
Dia harus bisa memerintahkan Raka segera ke belakang, begitu sang anak menginjak area warung. Sari tidak ingin mengambil resiko jika Bu Dewi terpantik emosi melihat anaknya.
Beberapa menit kemudian, Sari melihat sosok yang ditunggu.
“Raka.” Sari setengah berlari. Gesit menghadang sang anak. “Kamu langsung ke belakang ya, tunggu Mamak.”
“Takut Bu Dewi mar—”
“Huss…. Ayo cepat, Nak.” Sari sedikit mendorong badan Raka. Senyumnya mengembang, meski hatinya teriris.
Raka melangkah sembari menghela napas. Melirik ke dalam warung, dan segera mempercepat langkah saat matanya bersirobok dengan Bu Dewi.
Bocah lelaki itu duduk di tempat biasa setelah meletakkan karungnya. Hari ini agak apes. Tidak banyak botol atau kardus yang bisa dia temui.
“Raka.”
Raka mendongak. Seperti biasa pula, ibunya membawa nampan berisi piring bekas. Dan dia tahu, gelas yang terisi penuh itu sengaja diambilkan untuk dirinya. Tanpa banyak kata dia teguk setengahnya.
“Makannya nanti dulu ya, Ka, warung lagi ramai,” bisik Sari.
“Iya, Bu. Aku juga belum terlalu lapar, tadi dikasih jajan sama Bu Guru.” Raka tersenyum lebar. Seakan-akan ingin memperlihatkan bahwa dia memang benar-benar tidak lapar.
Sari mengangguk.
“Aku bantu cuci gelasnya ya, Mak?”
Sari tertegun sejenak. Kemudian dia tersenyum. “Tapi janji hati-hati ya.”
“Iya, Mak. Aku nggak akan mecahin gelasnya.” Raka lagi-lagi tersenyum lebar. Kali ini dia ingin menyakinkan ibunya kalau dia bisa dipercaya.
“Makasih, anak Mamak yang ganteng.”
Sari pun kembali ke depan.
“Mbak, bisa numpang kencing nggak ya?” Seorang lelaki yang baru saja memesan kopi menatap Sari.
“Bisa, di belakang ada kamar mandi.” Bu Dewi yang menjawab dengan cepat. Bola matanya menunjuk pintu belakang. “Tapi jangan lupa siram. Nggak mau aku nanti bau pesingmu kemana-mana.”
Sambil menuju arah yang dimaksud Bu Dewi, lelaki itu terbahak. Dia tahu Bu Dewi hanya bercanda, meski nada suaranya sama sekali tidak ada bercanda-bercandanya.
“Hei, Le! Ngapain?" Suara lelaki itu terdengar lagi.
Kencang.
Pasti karena dia melihat Raka.
"Nyuci piring?"
Suara si lelaki semakin kencang. Sebagian pembeli, baik yang sedang makan atau yang sedang menunggu dibungkuskan, bagai dikomando untuk berhenti sejenak.
Bu Dewi spontan melihat ke arah Sari. Pandangan matanya tajam, raut wajahnya langsung mengeras.
Sari terburu lari ke belakang. Dan melihat Raka baru saja membilas gelas terakhir. Semua gelas dan piring kotor yang tadi dia bawa sudah rapi di rak.
“Nggak pecah kan, Mak?” ujar Raka bangga.
“Iya, tapi kamu duduk saja di situ ya." Suara Sari rendah, menunjuk tempat dekat karung dan tas ransel Raka. "Jangan nyuci lagi."
“Kenapa, Mak?”
“Sudah, biar Mamak saja ya.”
Raka yang paham dengan gestur gelisah sang ibu, akhirnya mengangguk.
Sari menuju ke depan kembali. Bersamaan dengan lelaki yang izin ke kamar mandi muncul di pintu belakang.
“Tukang cucinya masih kecil banget, Bu. Kasihan,” celetuknya. Memandang Bu Dewi.
“B-bukan, i-itu anak saya, Pak. Nggak ada yang nyuruh dia nyuci.” Sari cepat menyahut. Matanya melirik ke arah Bu Dewi dengan takut-takut.
“Oh, kasihan loh di belakang gitu. Gelap, banyak nyamuk, mbok yo suruh duduk di depan kan terang.”
"Siapa sih? Anak yang sering ngemper di depan warung ya?" celetuk lelaki lain.
Sari menyeringai bingung. Namun seringainya langsung lenyap saat melihat kilat tajam di mata Bu Dewi.
Sari sengaja mengelap meja terluar, meja dekat pintu warung. Lehernya menjulur sesekali. Melempar pandangan ke luar. Dia tahu jam-jam segini Raka akan datang dari arah selatan.
Dia harus bisa memerintahkan Raka segera ke belakang, begitu sang anak menginjak area warung. Sari tidak ingin mengambil resiko jika Bu Dewi terpantik emosi melihat anaknya.
Beberapa menit kemudian, Sari melihat sosok yang ditunggu.
“Raka.” Sari setengah berlari. Gesit menghadang sang anak. “Kamu langsung ke belakang ya, tunggu Mamak.”
“Takut Bu Dewi mar—”
“Huss…. Ayo cepat, Nak.” Sari sedikit mendorong badan Raka. Senyumnya mengembang, meski hatinya teriris.
Raka melangkah sembari menghela napas. Melirik ke dalam warung, dan segera mempercepat langkah saat matanya bersirobok dengan Bu Dewi.
Bocah lelaki itu duduk di tempat biasa setelah meletakkan karungnya. Hari ini agak apes. Tidak banyak botol atau kardus yang bisa dia temui.
“Raka.”
Raka mendongak. Seperti biasa pula, ibunya membawa nampan berisi piring bekas. Dan dia tahu, gelas yang terisi penuh itu sengaja diambilkan untuk dirinya. Tanpa banyak kata dia teguk setengahnya.
“Makannya nanti dulu ya, Ka, warung lagi ramai,” bisik Sari.
“Iya, Bu. Aku juga belum terlalu lapar, tadi dikasih jajan sama Bu Guru.” Raka tersenyum lebar. Seakan-akan ingin memperlihatkan bahwa dia memang benar-benar tidak lapar.
Sari mengangguk.
“Aku bantu cuci gelasnya ya, Mak?”
Sari tertegun sejenak. Kemudian dia tersenyum. “Tapi janji hati-hati ya.”
“Iya, Mak. Aku nggak akan mecahin gelasnya.” Raka lagi-lagi tersenyum lebar. Kali ini dia ingin menyakinkan ibunya kalau dia bisa dipercaya.
“Makasih, anak Mamak yang ganteng.”
Sari pun kembali ke depan.
“Mbak, bisa numpang kencing nggak ya?” Seorang lelaki yang baru saja memesan kopi menatap Sari.
“Bisa, di belakang ada kamar mandi.” Bu Dewi yang menjawab dengan cepat. Bola matanya menunjuk pintu belakang. “Tapi jangan lupa siram. Nggak mau aku nanti bau pesingmu kemana-mana.”
Sambil menuju arah yang dimaksud Bu Dewi, lelaki itu terbahak. Dia tahu Bu Dewi hanya bercanda, meski nada suaranya sama sekali tidak ada bercanda-bercandanya.
“Hei, Le! Ngapain?" Suara lelaki itu terdengar lagi.
Kencang.
Pasti karena dia melihat Raka.
"Nyuci piring?"
Suara si lelaki semakin kencang. Sebagian pembeli, baik yang sedang makan atau yang sedang menunggu dibungkuskan, bagai dikomando untuk berhenti sejenak.
Bu Dewi spontan melihat ke arah Sari. Pandangan matanya tajam, raut wajahnya langsung mengeras.
Sari terburu lari ke belakang. Dan melihat Raka baru saja membilas gelas terakhir. Semua gelas dan piring kotor yang tadi dia bawa sudah rapi di rak.
“Nggak pecah kan, Mak?” ujar Raka bangga.
“Iya, tapi kamu duduk saja di situ ya." Suara Sari rendah, menunjuk tempat dekat karung dan tas ransel Raka. "Jangan nyuci lagi."
“Kenapa, Mak?”
“Sudah, biar Mamak saja ya.”
Raka yang paham dengan gestur gelisah sang ibu, akhirnya mengangguk.
Sari menuju ke depan kembali. Bersamaan dengan lelaki yang izin ke kamar mandi muncul di pintu belakang.
“Tukang cucinya masih kecil banget, Bu. Kasihan,” celetuknya. Memandang Bu Dewi.
“B-bukan, i-itu anak saya, Pak. Nggak ada yang nyuruh dia nyuci.” Sari cepat menyahut. Matanya melirik ke arah Bu Dewi dengan takut-takut.
“Oh, kasihan loh di belakang gitu. Gelap, banyak nyamuk, mbok yo suruh duduk di depan kan terang.”
"Siapa sih? Anak yang sering ngemper di depan warung ya?" celetuk lelaki lain.
Sari menyeringai bingung. Namun seringainya langsung lenyap saat melihat kilat tajam di mata Bu Dewi.
Other Stories
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...