Broken Wings

Reads
634
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Diahputri

Bab 3. Ini Arahnya Kemana?

Sudah hampir satu bulan sejak kecelakaan yang menimpanya itu,rhea masih belum sepenuhnya menerima keadaannya sekarang,ia selalu termenung diatas kursi roda, yang tidak bisa lagi berjalan berlari bahkan menari balet sekalipun, tepat dua hari lalu,ia di keluarkan dari grup ballet nya,teman temannya dan coach nya memberikan beberapa kenangan yang selalu akan ia ingat, tangannya berusaha keras mengambil sebuah figura yang terdapat fotonya bersama teman teman semasa ia masih tergabung dalam klub ballet.

"Aku tidak menyangka bahwa takdir seperti ini yang menimpaku.." gumamnya menangis,ia mendekap erat figura nya.
Lalu rhea mengambil hp nya,ia berpikir bahwa dirinya tidak bisa diam saja seperti ini, walaupun kakinya sedang cacat,ia mencari cari kegiatan di internet,ia menemukan satu artikel yang menjelaskan kegiatan yang bisa dilakukan dalam kegiatan duduk dan menggunakan tangan, crochet adalah percobaan pertamanya, setelah benang yang ia pesan sampai,ia langsung mencobanya mencari tutor di YouTube dan lain lain.

Beberapa kali gagal, beberapa kali dirinya mencoba hingga pada akhirnya ia menyerah, "huh...sudah banget butuh ketelitian yang jeli." Keluhnya seraya meletakkan benang dan hakpen di meja, sesekali ia meneguk segelas air putih merasa ini adalah perjuangan yang harus ia tempuh, "ayo rhea kamu pasti bisa.." ia lagi lagi gagal...

Bu ilah kelihatan masuk rumah sambil menenteng sebuah tas belanja,"Bu... tolong ambilkan air minum di botol,ini udah mau abis,tangan rhea daritadi capek jalanin kursi roda, tolong sebentar ya Bu..." Pintanya sambil tersenyum tapi respon Bu ilah kali ini beda, beliau terlihat sedikit bringas.

"Sampai kapan kamu kek gini terus rhea...ibu tuh juga capek dari pasar ini baru duduk,ambil sendiri sana." Jawabnya cuek tanpa melirik rhea.

Tanpa banyak bicara lagi rhea langsung mengambil sendiri air minumnya dengan tangannya yang menggayuh sabar roda kursi rodanya. Suara token listrik yang habis, terdengar keras,Bu ilah memutar malas bola matanya, "astaga...ada aja... kemarin bayar air, sekarang token listrik abis... sedangkan uangnya semakin habis." Titahnya merengek,rhea kemudian menghampirinya.

"maafkan rhea Bu, karena rhea kalian harus mengalami ini, ekonomi kita menjadi anjlok,aku janji aku akan segera mencari kerja yang pas untuk keadaan ku."

"Kerja apa yang kamu maksud ha? Nggak akan ada yang Nerima kamu,udah kalau gini kita akan miskin selamanya,ibu juga nggak bisa kerja terlalu lama karena badan ibu yang sakit sakitan." Seketika rhea menjadi sedih lagi, bagaimana dirinya harus mengangkat lagi ekonomi keluarga sementara kondisinya seperti itu.

Ia mengeluarkan hp dari sakunya dan menatap sejenak, kemudian mengambil tangan ibunya, "Bu...ambil saja hp ku,ibu bisa jual untuk menyambung hidup kita." Pintanya sembari memberikan ke tangan Bu ilah.

"Hmm..iya setidaknya ini akan sedikit membantu." Lalu Bu ilah memasukkan hp ke tas dan pergi lagi untuk menjual hp nya.

Kini rhea tidak lagi memiliki hiburan,ia hanya bisa pasrah dengan keadaan, beberapa kali dirinya sudah terjatuh lalu bangkit kemudian kembali jatuh lagi dan tidak tahu roda kehidupannya yang sudah dibawah ini apakah bisa kembali berputar ke atas lagi atau tidak?...

Saat ini dirinya sangat terpuruk, merasa bahwa dirinya tidak pantas, merasa bahwa dirinya buruk,tidak berguna,ia masih belum bisa menerima keadaannya.

Ia sedang dalam suasana yang kalut,takut,dan gelisah,tangan lembutnya mengayuh roda kursi roda pelan menuju ke taman,ia sesekali meneteskan air matanya, merasakan udara luar sedikit membantunya bisa rileks.

Sampa di taman,ia langsung merapat ke dekat pohon yang besar dan ada danau indah di depannya,ia merenung disana, melihat beberapa orang melintas sedang olahraga ia ada rasa iri dan kecewa atas dirinya meskipun itu terjadi tanpa sengaja tapi disisi lain ia melihat tukang rongsokan yang tidak bisa berjalan hanya mengesot dan tangannya hanya satu sembari memunguti sampah sampah dan memasukkan ke kreseknya,lantas ia berpikir... sudahkah aku bersyukur hari ini? Walaupun aku cacat tapi aku masih bisa duduk di kursi roda ini,tangan kuat ku ini masih mampu bersamaku, jika dibandingkan dengan orang itu,aku jauh terbilang lebih mampu, melihat semangat dan tawa orang itu... rasanya diriku tertampar, seharusnya aku bersyukur setidaknya aku masih bisa selamat dari kecelakaan itu,masih bisa bernafas,masih bisa melihat,masih bisa mendengar dan merasakan...iya...itu semuanya anugerah dari Tuhan yang sudah semestinya aku harus syukuri...

Rhea tersenyum mengelap air matanya,ia tertawa kecil melihat orang orang disekitarnya.
Lalu tangannya kembali mengayuh roda,ia menuju ke tempat latihan ballet nya,rhea mengintip dari balik jendela belakang, begitu senangnya ia masih bisa melihat teman temannya menari meskipun dirinya tidak lagi bisa ikut,ia terus tertawa,hingga seorang fotografer yang sedang memotret para ballerina yang sedang latihan itu melihat ada seseorang yang mengintip dari balik jendela.

"Hai..." Sapanya setelah menghampiri rhea,cowok itu menyodorkan tangannya untuk bersalaman,rhea sedikit awkward tapi lalu membalas jabatan tangannya.

"Hai..." Balasnya sambil tersenyum.

"Kamu suka ballet ya?.." pertanyaan cowok itu sontak membuat rhea flashback dengan masa lalunya,ia meneteskan air matanya lagi tapi dengan terburu buru mengusapnya.

"Lihatlah...setiap gerakan mereka terlihat indah bukan?" Ucapnya sambil melirik cowok itu.

"Iya,aku bisa membawamu kesana untuk melihat mereka dengan leluasa, ayo.." ajak cowok itu yang hendak mendorong rhea,tapi rhea mencegahnya.

"Tidak,aku disini saja." Responnya singkat, bukannya pergi si fotografer itu malah duduk di depannya.

"Baiklah kalaugitu,aku akan menemanimu." Mendengar itu,tentu rhea merasa tidak enak, karena mereka juga baru kenal.

"Terimakasih tapi tidak usah, sebaiknya kamu lanjut kerja." Rhea kekeh menolak tapi cowok itu tetap menemani rhea,cowok itu menatap dalam senyum tulus rhea yang sedang menikmati latihan para ballerina itu.

"Ekhmm...ohh iya,namaku Julian." Sahutnya memperkenalkan diri,lalu berdiri.

"Aku...Rhea." balasnya tersenyum lagi.

"Baiklah,aku akan pergi sekarang karena waktunya kerja lagi, kapanpun kamu pengen datang ke sini untuk melihat latihan mereka,cari saja Aku,aku akan menemanimu,aku kerja disini kok sebagai fotografer utama mereka,aku baru dua Minggu ada disini." Jelasnya lalu meninggalkan rhea.

"OHH pantesan dulu nggak pernah lihat." Gumamnya tersenyum sambil mengingat wajah lian.

Other Stories
Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Download Titik & Koma