Broken Wings

Reads
633
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Diahputri

Bab 4. Lamunan Di Kursi Roda

Pagi ini rhea menghadapi hal yang kurang mengenakkan lagi dari ibunya,ia harus mengerjakan kerjaan rumah dalam keadaan nya yang duduk di kursi roda, beberapa hari ini ibunya terus terusan emosi entah apa yang sebenarnya dirasakan nya, mungkin saja karena kondisi ekonomi yang anjlok sehingga membuat Bu ilah semakin bingung,dan penyakitnya yang sering kumat kumatan.

Bulir bulir keringat yang mengucur di dahi rhea menunjukkan bahwa pagi ini ia cukup lelah dengan pekerjaan rumah sementara ibunya harus rebahan istirahat karena sedang tidak sehat, beberapa kali ibunya memanggil untuk dimintai tolong tapi tetap,emosi Bu ilah seolah sedang naik turun. "Aku berangkat dulu kak." Diandra dan Roni pamit untuk sekolah.

"Iya,kalian hati hati dijalan ya." Ucapnya lalu Diandra dan Roni memeluknya.

"Kakak yang kuat ya...jangan pernah merasa sendiri karena aku dan Roni disini." Ucap Diandra setelah memeluk kakaknya itu.
...

Setelah urusan rumah tangga selesai,rhea kembali datang ke tempat latihan,hari ini ada murid baru,tentu saja itu membuatnya senang,ia mengingat perjuangannya dulu betapa berharganya momen momen itu, seperti membuka luka lama, mengingat kejadian kecelakaan itu membuatnya menangis lagi,lian sedari tadi sudah melihat nya ia merasa tidak bisa melihat gadis manis itu bersedih kemudian menghampirinya.

"Are you okey?" Ucapnya seraya duduk didepan rhea, melihat kedatangan lian...rhea segera mengusap air matanya.

"Hmm.." gumam rhea tersenyum dan kembali lagi melihat para ballerina latihan.

"Apakah kamu percaya dengan ku?" Tanya Lian sambil menatap rhea yang masih sibuk melihat latihan itu.

"Tidak juga.." rhea sesekali melirik Lian kemudian melihat lagi ke ruangan latihan.

"Harus bagaimana kah membuat mu percaya dengan ku?"

"Ajak aku ke taman." Pintanya,tanpa banyak kata,Lian langsung mengalungkan kamera nya ke lehernya,ia segera mendorong kursi roda rhea untuk ke taman.

Sampai di taman,Lian duduk ia awalnya bingung karena rhea hanya diam menatap tenangnya danau kecil itu dan sesekali tersenyum,tapi Lian melihat ketulusan dan rasa kecil disana.
"Kamu mau disini saja?" Ucapnya menoleh ke rhea, respon rhea hanya mengangguk pelan. Dan Lian ikut diam hanya melihat danau sesekali melirik rhea.

Rhea juga sesekali melirik Lian, Ini yang aku maksud...kamu mengerti tanpa banyak bertanya kepadaku,kamu membiarkan aku merasa tenang dengan diriku sendiri tanpa banyak melontarkan pertanyaan,tapi...siapa dia,orang yang meluangkan waktunya untuk menemaniku melihat danau hijau ini? bahkan aku belum terlalu mengenal nya begitupun dengan dia,tapi dia dengan yakin nya mendorong kursi roda ku dengan penuh keharusan...

Sesaat kemudian lian memberikan sebuah kertas dan bolpoin untuk rhea, "untuk apa?" Desisnya penasaran tapi mengambil kertas nya juga.

"Tulis saja segala keluh kesah mu,maka kamu tidak perlu mengatakan nya secara gamblang,dan aku pun hanya perlu membaca, setidaknya kamu punya teman berbagi." Ucapnya meyakinkan rhea,dengan awal yang sedikit ada keraguan akhirnya rhea mulai menulis apa yang menjadi kegelisahan nya itu.

Hanya perlu waktu lima menit untuk selesai menulis nya,rhea langsung memberikan kertas itu untuk Lian,satu kalimat yang cukup panjang tertera di kertas putih itu.
"Kecelakaan hari itu... sudah membuatku kehilangan segalanya... Panggung tari ku,kostum ballet yang indah itu,dan kaki ku juga, bahkan hubungan ku dengan ibuku terancam punah." Setelah membaca tulisan itu dalam hati,Lian cukup bisa mengerti penderitaan yang sedang dialami gadis di sampingnya itu,ia juga mengerti ternyata rhea dulunya adalah penari ballet sebelum kecelakaan itu merenggut semuanya,maka dari itu rhea selalu bahagia ketika melihat para penari ballet sedang latihan.

Julian berkali kali melirik rhea yang malang itu,ia melihat harapan yang rapuh di mata rhea, "mungkin sekarang aku tidak berharga lagi untuk siapapun." Ujar rhea sambil menunduk,ia kembali meneteskan air matanya tapi langsung mengusapnya.
Rasa tidak tega itu muncul menggebu nggebu, sampai ia lupa bahwa mereka baru saja saling kenal,Lian mendekat ke rhea ia merendahkan bahunya bermaksud memberikan sandaran untuk rhea.

Rhea pun melihatnya,dan Lian mengangguk, "Maaf..." Celetuk rhea lalu menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Lian.

"Kursi roda ini tidak akan pernah bisa merampas siapa dirimu,kamu tetap kupu kupu indah yang selalu bercahaya meskipun satu sayapmu sudah patah,kamu masih berharga bagi keluarga mu,tapi saat ini mungkin mereka sedang tersesat sesaat, yakinlah semua itu akan berlalu." Ucap Lian.

"Aku tidak yakin..."

"Aku tahu kamu ngerasa semuanya sedang hancur sekarang,tapi coba lihat aku." Sambung Lian,lalu rhea menatap Lian.

" Kamu tidak hancur,kamu masih bisa bernafas,masih punya hati yang tidak akan pernah bisa dipatahkan dengan apapun itu,semua ini bukan tanda kemunduran tapi ini menjadi penanda bahwa dirimu kuat bertahan." Sahutnya lagi, mendengar itu rhea tidak menyangka bahwa masih ada orang yang bisa mengerti kondisinya, meskipun itu orang asing baginya.

"Terimakasih, bukankah ini terlalu berlebihan,kamu harus jauh jauh dariku,aku bisa sendiri,kita hanyalah orang asing yang baru saja mengenal."

"Tidak,aku hanya ingin membantu seseorang yang sedang merasakan titik terendahnya, bahwa itu bukanlah rasa yang harus terus dimanjakan." Balasnya lalu berdiri,ia tersenyum sejenak menatap rhea kemudian beranjak meninggalkan rhea.

Sementara rhea masih merenung lagi,dan seorang guru lewat didepannya, "Rhea...apa kabar?" Sapanya mendekati rhea.

"Baik Miss tiya." Balasnya tersenyum,Miss tiya sendiri merupakan guru fashion yang gedungnya berseberangan dengan gedung studio ballet,ia mengajar pembuatan kostum kostum ballet, untuk dikenakan para penari ballet.

" Rhea anak yang manis, semangat terus ya.." lalu Miss tiya berlalu, seperti semburat cahaya yang terang sesaat,rhea kemudian kepikiran kenapa dirinya tidak mencoba belajar membuat kostum ballet, karena masih dalam satu universe Dengan dirinya dulu,dirinya tentu tidak asing dengan kostum yang dulu ia sering kenakan.tapi dirinya kembali berpikir,tapi bagaimana caranya belajar sementara ia tidak punya hp.

Ia kembali jatuh ke dalam jurang kekalutan,ia pengen belajar sendiri tapi tidak punya hp untuk menjadi sumber ilmunya,pengen les tapi terkendala biaya juga,ia kembali galau setelah sejenak tadi merasa terbangun.

Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Test

Test ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Download Titik & Koma