Bab 2 – Menghadapi Cermin: Mengakui Dan Memeluk Perasaan
“To heal is to be willing to feel.” – Anonymous
Memasuki penjara adalah pengalaman yang mengguncang. Kita kehilangan kendali atas hidup, terpisah dari keluarga, pasangan, anak-anak, karier, dan pekerjaan. Perasaan sedih, marah, kecewa, takut, dendam, malu, dan bingung datang silih berganti, seringkali dalam intensitas yang ekstrem.
Kita sedih karena direnggut dari kehidupan lama. Marah karena merasa tidak bersalah, merasa dijebak, atau dikorbankan. Takut akan masa depan kita dan keluarga. Malu berada di tempat yang dianggap hina, mengenakan seragam tahanan, difoto dengan baju oranye, dan diperlakukan seperti bukan manusia. Menyesal atas keputusan atau tindakan yang membawa kita ke titik ini.
Semua perasaan ini dapat membanjiri pikiran, membuat kita sulit berpikir jernih. Meskipun sebelumnya kita mungkin memahami teori-teori psikologi tentang stres atau kehilangan, semua itu seakan hilang ditelan kabut kekecewaan dan keputusasaan.
Saya ingat pertama kali sang suami datang dan menatap mata saya, terlihat sorot mata kesedihan dan keputus asaan yang tidak pernah saya lihat selama 25 tahun menikah. Runtuh rasanya dunia melihat orang yang selama ini begitu ceria dan supportif terhadap apapun yang saya dan anak-anak lakukan menjadi kelu dan tidak dapat berkata apa-apa selain memeluk saya dengan erat dengan mata yang berkaca-kaca.
Anak-anak sedikit terlihat lega pada saat saya diberi kesempatan untuk berkomunikasi melalui video call. Tetapi sebagai ibu yang selama ini selalu menekankan kepada mereka tentang pentingnya menjadi orang baik yang bisa dibanggakan, pentingnya membangun kredibilitas dan kepercayaan, yang menekankan bahwa harus menjadi orang yang Rahmatan Lil Alamin, dan jangan melakukan hal-hal yang akan menodai nama baik keluarga.
Malu luar biasa rasanya. Saya berusahaan setegar dan seceria mungkin didepan mereka untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan mereka tetapi di dalam hati saya hancur berkeping-keping. Terbayang malunya mereka terhadap keadaan saya, bagaimana nanti mereka menjelaskan terhadap teman-teman mereka, calon pasangan mereka, calon besan. Apakah anak-anak masih akan melihat saya dengan kebanggaan, rasa sayang yang sama?
“Terkadang, titik terendah bukan akhir — tapi undangan untuk kembali pada diri yang sejati.”
Saya pernah berdiri di tempat yang tinggi. Dihormati, dipercaya, bahkan dipuji. Tapi saya tahu — jauh di dalam hati — ada kegelisahan yang tak bisa disangkal. Ada ketakutan dan kegamangan atas persepsi, harapan, ekspektasi orang-orang sekitar dengan kenyataan tertatih-tatih menjalani hambatan demi hambatan. Lalu, hidup memberi pelajaran yang tak pernah terbayangkan. Saya jatuh. Bukan tersandung, tapi terhempas.
Semua yang dulu saya anggap pegangan — nama besar keluarga, jabatan, status, kehormatan — runtuh satu per satu. Nama saya pernah disebut dengan rasa hormat, lalu berubah menjadi bisik-bisik penghakiman. Saya kehilangan banyak hal: kebebasan, kepercayaan, dan arah. Kesadaran datang seperti tamparan: bahwa mimpi buruk ini nyata, dan saya tidak bisa membangunkan diri darinya. Saya benar-benar di sini. Bukan sedang berlibur dari kenyamanan, tapi terlempar paksa ke dasar kehidupan yang penuh luka dan ketidakadilan. Rasa marah, kecewa, dan hampa bercampur menjadi satu, membuat setiap detik terasa berat. Tak ada lagi ruang untuk pura-pura kuat. Dinding bisu menjadi saksi bisik kegelisahan, ketakutan, dan rasa malu yang menyergap tanpa ampun.
Perlahan mata saya mulai terbuka—bukan karena saya ingin, tapi karena saya tidak punya pilihan lain. Sayapun mulai memahami: kadang, Allah membiarkan kita hancur terlebih dulu agar kita belajar membangun kembali—bukan kehidupan yang sama, tapi diri yang sepenuhnya baru.
Di ruang sunyi tempat saya dihentikan, saya bertemu dengan siapa diri saya sebenarnya. Bukan versi yang dibentuk untuk memenuhi ekspektasi dunia—bukan sosok yang selalu tampak tegar, percaya diri, dan sukses. Disini saya dipaksa menanggalkan semua lapisan citra, posisi, pencapaian dan yang terpenting EGO. Ternyata yang tersisa hanyalah jiwa yang lelah, terluka, dan tercabik habis oleh kenyataan yang tak terduga. Yang terberat adalah hilangnya kepercayaan dari orang-orang yang saya cintai yang selama ini menjadi pusat kehidupan saya yaitu saya kehilangan keluarga besar saya.
Sebelum kita dapat mengambil hikmah dari kejatuhan, kita harus terlebih dahulu mengalami dan berdamai dengannya. Merasakan kegelapan, kehinaan, keputusasaan, ketakutan, rasa bersalah dan rasa malu yang tidak terperi hingga akhirnya kita menyadari bahwa dari dasar jurang itulah cahaya harapan perlahan muncul—bukan untuk segera membebaskan, tapi untuk menuntun kita pulang, selangkah demi selangkah, menuju versi terbaik dari diri kita yang sesungguhnya
Melangkah dari Luka: Proses Memulihkan Diri dari Rasa Malu
Rasa malu adalah luka yang tak terlihat, tapi bisa terasa lebih menyakitkan daripada luka fisik mana pun. Ia menyerang diam-diam, meruntuhkan harga diri, membekukan harapan, bahkan membuat kita mempertanyakan nilai keberadaan kita sendiri. Saya tahu rasanya, karena saya pernah mengalaminya. Dalam sunyi jeruji, bukan hanya kebebasan yang direnggut, tapi juga rasa percaya pada diri sendiri. Malu—karena gagal menjaga, malu—karena merasa mengecewakan, malu—karena orang-orang yang saya cintai ikut menanggung aib yang bukan sepenuhnya milik mereka.
Berikut adalah langkah-langkah yang saya coba jalani dalam memulihkan diri dari rasa malu:
1. Hadapi, Jangan Sembunyikan
Langkah pertama yang paling berat adalah berani mengakui bahwa saya merasa malu. Di awal, saya mencoba menyangkal, menolak, bahkan menyibukkan diri agar tidak perlu merasakannya. Tapi rasa malu bukan sesuatu yang bisa dikubur. Ia akan tetap hidup, dan tumbuh dalam diam. Maka saya belajar untuk duduk bersama perasaan itu. Saya menuliskannya dalam jurnal, saya menangis dalam diam, dan saya izinkan rasa malu itu hadir—tanpa penolakan. Aneh, tapi justru di situ saya mulai merasa sedikit lebih ringan.
2. Ceritakan pada Orang yang Tepat
Ada satu titik di mana saya hampir menyerah karena tak sanggup memikul semua sendiri. Tapi ketika saya mulai bercerita—secara jujur dan terbuka perasaan saya kepada suami dan teman terdekat saya—saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya rasakan sejak masuk ke jeruji: kelegaan. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena saya tidak lagi merasa sendirian. Ternyata, rasa malu bisa melemah jika kita memberanikan diri untuk menyuarakannya dan disambut dengan empati, bukan penghakiman.
3. Kamu Bukan Kesalahanmu
Butuh waktu lama untuk memisahkan antara siapa saya dan apa yang saya alami. Di benak saya, vonis itu seperti cap permanen yang menghapus seluruh kisah baik sebelumnya. Apalagi tuduhan-tuduhan yang datang dari orang-orang yang selama ini kita bela menambah hancur diri saya. Tapi saya selalu diingatkan: kita bukan kesalahan kita. Dan saya mulai belajar mengamini itu. Saya mungkin pernah gagal, pernah salah langkah, tapi saya bukan kegagalan itu sendiri. Saya tetap manusia—yang layak untuk mencoba kembali, dan layak untuk dimaafkan, terutama oleh diri sendiri.
4. Bersikap Lembut pada Diri Sendiri
Saya terbiasa menjadi keras pada diri sendiri. Setiap kali mengingat masa lalu, saya mengutuk dan menghukum diri dengan pikiran-pikiran buruk. Tapi saya pelan-pelan belajar untuk berbicara kepada diri saya seperti saya berbicara kepada sahabat yang sedang terluka. Saya mulai mengucapkan kalimat seperti, “Aku sedang terluka, dan itu tidak apa-apa,” bahkan jika awalnya terasa canggung. Belajar menyayangi diri sendiri setelah dihantam rasa malu bukan hal mudah, tapi ternyata sangat mungkin—dan sangat menyembuhkan.
5. Ambil Tanggung Jawab, Jangan Salahkan Orang Lain
Mengambil tanggung jawab atas peran saya dalam semua ini bukan berarti menyalahkan diri sendiri. Justru dari kejujuran itulah saya mulai menemukan kedamaian—bukan karena semua menjadi baik-baik saja, tetapi karena saya mulai bisa berdamai dengan kenyataan. Menyadari bahwa saya tidak sempurna, bahwa saya pernah salah, tapi saya masih punya kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Dengan mengambil tanggung jawab, saya merasa punya kendali atas diri saya sendiri. Punya kendali atas masa depan saya.
6. Ubah Narasi, Tulis Ulang Cerita
Saya tak ingin hidup saya diingat hanya dari satu bab yang kelam. Saya ingin menulis bab baru—bukan untuk melupakan masa lalu, tapi untuk menebusnya. Saya ingin menjadi seseorang yang bisa berkata, “Ya, saya pernah jatuh. Tapi saya memilih untuk bangkit.” Dalam narasi baru saya, penjara bukan akhir, tapi pit stop. Tempat di mana saya belajar, bertumbuh, dan menemukan kembali makna hidup. Dalam narasi baru saya saya berjanji demi suami dan anak-anak saya. Saya akan bangkit lebih tinggi dan lebih bijaksana.
Ini bukan perjalanan yang mudah. Tapi saya bisa bersaksi, bahwa pemulihan itu nyata. Asalkan kita memilih untuk memandang diri sendiri bukan dengan mata yang menghakimi, tapi dengan mata yang penuh kasih dan hati yang bersedia memberi kesempatan kedua. Karena setiap orang, termasuk saya dan kamu, layak untuk sembuh
“Tidak apa-apa merasa sedih, marah, atau malu. Ini adalah bagian dari proses penyembuhan.”
Pertanyaannya bukan lagi mengapa ini terjadi, tetapi:
Apakah kita akan terjebak dalam luka ini, atau memilih untuk bangkit dan menjadikannya pijakan menuju kehidupan yang lebih bermakna?
Apakah kita akan membiarkan diri kita dihancurkan oleh stigma, atau justru menunjukkan bahwa manusia bisa tumbuh bahkan dari tanah yang paling kering?
Apakah kita akan menyerah, dan menerima cap hina dari dunia, atau kita buktikan bahwa harga diri tidak ditentukan oleh masa lalu, tapi oleh keberanian untuk berubah?
Apakah kita akan membiarkan pasangan dan anak-anak kita terus memendam malu, atau kita perjuangkan agar suatu hari mereka bisa berkata dengan bangga, “Itu ibuku. Dia pernah jatuh, tapi dia bangkit lebih kuat.”
Akankah kita sia-siakan doa mereka yang terucap dalam diam, air mata mereka yang jatuh tanpa suara, harapan mereka yang masih menggantung di langit malam?
Dan dari kesadaran itu, pelan-pelan, saya mulai bisa bernapas lagi. Napas pertama itu berat—penuh air mata dan rasa takut. Tapi dari situlah lahir harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, luka ini akan menjadi bagian dari kisah hidup yang bisa saya ceritakan tanpa rasa malu, tapi dengan kekuatan.
Dalam perjalanan ini, saya belajar bahwa mengakui dan memahami perasaan bukan tanda kelemahan, tapi langkah awal menuju kekuatan sejati. Saat saya mulai membuka diri terhadap emosi yang selama ini saya tekan—kesedihan, kemarahan, malu, dan penyesalan—saya menemukan satu cahaya kecil di dalam kegelapan: harapan. Saya teringat pesan almarhum ibu saya, “Berlian tetaplah berlian. Sekalipun dibuang di tempat sampah, ia akan tetap berkilau dan bernilai.” Kalimat itu kini menjadi penyangga jiwa saya. Ya, saya tidak akan membiarkan penjara ini membuat saya hancur
Demi suami dan anak-anak saya, saya tidak akan membiarkan diri ini hancur dan hilang arah. Saya tahu saya tidak berasal dari tempat ini—tetapi jika inilah takdir yang Allah tuliskan untuk saya, maka saya akan menjalaninya dengan penuh makna. Saya akan buktikan bahwa saya tetap berlian, dan bahwa luka ini bukan akhir, melainkan awal dari kebangkitan. Saya ingin anak-anak saya melihat bukan hanya kejatuhan ibunya, tetapi juga bagaimana ia bangkit.
“Saya menemukan cahaya dari dalam diri saya sendiri. Setiap luka menjadi pelajaran, setiap air mata menjadi kekuatan. Dan dari reruntuhan, saya bertekad membangun kembali diri saya — lebih kuat, lebih utuh, lebih bijaksana.”
Other Stories
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...