Nasib Cinta Sunyi Suratemu
Bahagianya Temu adalah saat kehadiran seorang adik laki-laki yang hari berganti bulan, dan tahun gubuk derita itu dihiasi ingar bingar kejahilan dua adik laki-lakinya pada Temu.
Bahagianya Emak Laini dan Bapak Kasmiri bisa terus upayakan anak-anaknya agar makan dengan perut kenyang dan menempuh pendidikan yang tinggi.
Di atas kursi kayu persegi panjang bergaris-garis, tubuh mungil, kering terpanggang api tungku dari batu bata yang dibalur semen, telapak kaki pecah, tebal telanjang berkaus kaki asap putih yang berkabut.
Sedang wanita berambut putih tergulung itu matanya merah basah karena rasa perihnya untuk tetap mengamankan perut keluarganya di pukul tiga sebelum si ayam mengibarkan sayapnya.
Sepulang sekolah, Temu lebih banyak menghabiskan waktu luangnya dengan ikut Emak Laini ngasak, mencari bulir-bulir padi sebelum pecah menjadi berlian yang berharga. Keduanya tempuh belasan kilometer terkadang menyusuri jalan persawahan, atau menunggangi sepeda kayuh besi kuno dengan memangku setengah karung gabah.
Tengah hari, saat matahari sinarnya masih menyengat punggung mungilnya. Hati Suratemu bersikeras ingin pulang, katanya bosan sesekali ingin bermain dengan teman-temannya.
Ia pun pulang diantar Bapaknya menyusuri jalanan sawah yang ilalang-ilalangnya jauh lebih tinggi darinya, telapak kaki harus jauh lebih tajam ketimbang ketiga matanya.
Ketika atap genteng rumahnya sudah tampak di pelupuk mata, akhirnya bernapas lega.
"Sampai sini aja, Pak. Aku bisa pulang sendiri kok!" kata Temu sambil menyandarkan beberapa helai poni rambutnya yang terombang-ambing angin dan menjepitnya ke daun telinga. Bapaknya tak begitu jauh darinya, tepat di belakangnya, keduanya jalan berbanjar dan hanya satu langkah saja. Akan tetapi ia merasa gelisah karena tak ada jawaban, atau mungkin karena Bapaknya tak mendengar ucapannya. Saat ia memutar kepalanya ke belakang, wujud Bapaknya sudah tak ada. Tak ada juga suara gemeresak rumput-rumput yang terinjak, hanya suara dari dalam dadanya yang memompa cepat, dan salivanya yang terasa terikat kuat.
Ia pun kembali menatap lurus ke depan, terus berjalan setengah berlari, dengan terjun bebas peluh dingin mengikat langkahnya yang cepat.
Tapak kaki yang berdarah-darah merah kehitaman karena tertusuk paku berkarat, juga sudah biasa ia nikmati, tertusuk seset jerami mungil mematikan juga kerap ia cicipi. Sampai terus mengorbankan perasaan akan kegiatan belajar bersama teman-teman di sekolahnya, dan nyaris saja membuatnya putus asa karena merasa sudah kakinya susah untuk berjalan, dan tidak lagi memakai seragam sekolah.
Tempat paling ternyaman bagi Temu adalah menginap meski hanya satu malam di rumah neneknya yang jaraknya 500 meter dari rumahnya.
Setelah resmi masa purna sekolah dasar, Temu masih banyak belajar. Ia gigih belajar memasak, dan hobinya yang menyanyi, juga masih melantunkan tembang qosidah, semua dilakukannya di atas panggung yang tingginya menggapai sang bintang dengan banyak ia dapat lembaran uang receh untuk bisa membeli barang kebutuhan dirinya sendiri terkadang juga sekadar membelikan jajan untuk adik-adiknya.
Dari panggung ke panggung bertumbuh, bermekaran cinta yang dijalaninya secara sembunyi-sembunyi di balik panggung nyanyi dengan seorang pria gitaris bernama Suteja yang berperawkan tinggi, rahang tegas, dada bidang, rambut yang selalu tampil necis, berkumis tipis. Bila tak ada agenda menyanyi, arus sungai lah yang menjadi perantara mengalirkan perasaan rindu yang dikemasnya pesan dalam botol sehingga terus-menerus hanyut dalam jarak yang sebenarnya dekat akan tetapi, restu dari keluarga Temu yang membuatnya terasa jauh.
Cinta di zaman Temu mengaku kalah bukan sebab perbedaan agama, belum mapan, atau perangai yang tak tampan, nyaris seperti pria idaman para calon mertua di masa itu.
Cinta kalah pada izin dari seorang nenek, dan kakek yang figur penyayang, penuh pengalaman.
Terkadang, Nenek bisa menjadi rumah ternyaman bagi Temu juga penjara paling membahayakan.
Saat matahari cahayanya belum berubah menjadi warna biru keunguan. Suteja, yang tapak kakinya belum menginjak rumput halaman rumah Temu sudah berbaur garam kasar yang melingkar, dan mengelilingi rumah sang kekasihnya itu, pertanda akan ditenggelami air matanya dan Temu.
"Mbok kira Mas Suteja, Demit?" keluh Temu dengan wajah muram, merah padam.
Tanpa basa-basi, atau kata pamit Suteja melenggang pergi dari sana menggenggam tangan kosong. Matanya berenang air mata, menyaksikan punggung sang kekasih yang semakin jauh. Setelah hari itu, tak ada laki-laki yang meski hanya ingin tahu namanya.
Catatan Kaki :
1). Ngasak : memungut sisa-sisa hasil pertanian yang tertinggal di lahan setelah proses panen selesai.
2). Seset Jerami : memotong atau mengiris batang tanaman padi yang sudah kering atau sisa biji-bijian, yang biasanya dilakukan dengan pisau khusus yang disebut pisau seset.
Bahagianya Emak Laini dan Bapak Kasmiri bisa terus upayakan anak-anaknya agar makan dengan perut kenyang dan menempuh pendidikan yang tinggi.
Di atas kursi kayu persegi panjang bergaris-garis, tubuh mungil, kering terpanggang api tungku dari batu bata yang dibalur semen, telapak kaki pecah, tebal telanjang berkaus kaki asap putih yang berkabut.
Sedang wanita berambut putih tergulung itu matanya merah basah karena rasa perihnya untuk tetap mengamankan perut keluarganya di pukul tiga sebelum si ayam mengibarkan sayapnya.
Sepulang sekolah, Temu lebih banyak menghabiskan waktu luangnya dengan ikut Emak Laini ngasak, mencari bulir-bulir padi sebelum pecah menjadi berlian yang berharga. Keduanya tempuh belasan kilometer terkadang menyusuri jalan persawahan, atau menunggangi sepeda kayuh besi kuno dengan memangku setengah karung gabah.
Tengah hari, saat matahari sinarnya masih menyengat punggung mungilnya. Hati Suratemu bersikeras ingin pulang, katanya bosan sesekali ingin bermain dengan teman-temannya.
Ia pun pulang diantar Bapaknya menyusuri jalanan sawah yang ilalang-ilalangnya jauh lebih tinggi darinya, telapak kaki harus jauh lebih tajam ketimbang ketiga matanya.
Ketika atap genteng rumahnya sudah tampak di pelupuk mata, akhirnya bernapas lega.
"Sampai sini aja, Pak. Aku bisa pulang sendiri kok!" kata Temu sambil menyandarkan beberapa helai poni rambutnya yang terombang-ambing angin dan menjepitnya ke daun telinga. Bapaknya tak begitu jauh darinya, tepat di belakangnya, keduanya jalan berbanjar dan hanya satu langkah saja. Akan tetapi ia merasa gelisah karena tak ada jawaban, atau mungkin karena Bapaknya tak mendengar ucapannya. Saat ia memutar kepalanya ke belakang, wujud Bapaknya sudah tak ada. Tak ada juga suara gemeresak rumput-rumput yang terinjak, hanya suara dari dalam dadanya yang memompa cepat, dan salivanya yang terasa terikat kuat.
Ia pun kembali menatap lurus ke depan, terus berjalan setengah berlari, dengan terjun bebas peluh dingin mengikat langkahnya yang cepat.
Tapak kaki yang berdarah-darah merah kehitaman karena tertusuk paku berkarat, juga sudah biasa ia nikmati, tertusuk seset jerami mungil mematikan juga kerap ia cicipi. Sampai terus mengorbankan perasaan akan kegiatan belajar bersama teman-teman di sekolahnya, dan nyaris saja membuatnya putus asa karena merasa sudah kakinya susah untuk berjalan, dan tidak lagi memakai seragam sekolah.
Tempat paling ternyaman bagi Temu adalah menginap meski hanya satu malam di rumah neneknya yang jaraknya 500 meter dari rumahnya.
Setelah resmi masa purna sekolah dasar, Temu masih banyak belajar. Ia gigih belajar memasak, dan hobinya yang menyanyi, juga masih melantunkan tembang qosidah, semua dilakukannya di atas panggung yang tingginya menggapai sang bintang dengan banyak ia dapat lembaran uang receh untuk bisa membeli barang kebutuhan dirinya sendiri terkadang juga sekadar membelikan jajan untuk adik-adiknya.
Dari panggung ke panggung bertumbuh, bermekaran cinta yang dijalaninya secara sembunyi-sembunyi di balik panggung nyanyi dengan seorang pria gitaris bernama Suteja yang berperawkan tinggi, rahang tegas, dada bidang, rambut yang selalu tampil necis, berkumis tipis. Bila tak ada agenda menyanyi, arus sungai lah yang menjadi perantara mengalirkan perasaan rindu yang dikemasnya pesan dalam botol sehingga terus-menerus hanyut dalam jarak yang sebenarnya dekat akan tetapi, restu dari keluarga Temu yang membuatnya terasa jauh.
Cinta di zaman Temu mengaku kalah bukan sebab perbedaan agama, belum mapan, atau perangai yang tak tampan, nyaris seperti pria idaman para calon mertua di masa itu.
Cinta kalah pada izin dari seorang nenek, dan kakek yang figur penyayang, penuh pengalaman.
Terkadang, Nenek bisa menjadi rumah ternyaman bagi Temu juga penjara paling membahayakan.
Saat matahari cahayanya belum berubah menjadi warna biru keunguan. Suteja, yang tapak kakinya belum menginjak rumput halaman rumah Temu sudah berbaur garam kasar yang melingkar, dan mengelilingi rumah sang kekasihnya itu, pertanda akan ditenggelami air matanya dan Temu.
"Mbok kira Mas Suteja, Demit?" keluh Temu dengan wajah muram, merah padam.
Tanpa basa-basi, atau kata pamit Suteja melenggang pergi dari sana menggenggam tangan kosong. Matanya berenang air mata, menyaksikan punggung sang kekasih yang semakin jauh. Setelah hari itu, tak ada laki-laki yang meski hanya ingin tahu namanya.
Catatan Kaki :
1). Ngasak : memungut sisa-sisa hasil pertanian yang tertinggal di lahan setelah proses panen selesai.
2). Seset Jerami : memotong atau mengiris batang tanaman padi yang sudah kering atau sisa biji-bijian, yang biasanya dilakukan dengan pisau khusus yang disebut pisau seset.
Other Stories
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...