Rahasia Ikal

Reads
1.4K
Votes
13
Parts
12
Vote
Report
Penulis Alfian N. Budiarto

Bagian 4

Pelataran sekolah sudah berada di depan mata. Meski tak terlalu mewah seperti bangunan di Kota Pangkalpinang, namun bagi Ikal itu adalah rumah keduanya. Ia selalu bersuka cita beraktivitas di dalamnya: membaca, menulis, dan mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh sang guru.

Kal, mak ka ade buat rusip, dak?[1] Ibu nek[2] pesan sebotol,” ujar Bu Esti pagi itu ketika Ikal melintas tepat di depan ruang guru. 

Di sekolahnya itu, Ikal memang terkenal sebagai si anak tukang rusip. Bukan tanpa sebab. Pasalnya, pernah beberapa kali Ikal membawakan rusip gratis titipan Liana untuk wali kelasnya. Kata Liana, itu adalah tanda terima kasih karena sudah membuat Ikal pintar, juga telah memperlakukan putranya itu dengan baik di sekolah. Semenjak itu, kelezatan rasa rusip Liana tadi menyebar dari mulut ke mulut para guru di sana.

Dak de, Bu. Mak agik dak buat rusip[3]. Seminggu ini mak sering sakit-sakitan.”

“Sakit ape mak ka, Kal?”

“Demam. Tapi, dak sembuh-sembuh.”

“Oh, aoklah men cem tu. Kabari Ibu kalau mak ka kalau lah sembuh.”

Sejujurnya, Ikal berharap ibunya masih memiliki stok rusip di rumah mereka untuk dijual. Dengan demikian, mereka akan mendapatkan sejumlah uang dari Bu Esti untuk dibelanjakan beras. Tapi, mengingat persediaan rusip terakhir yang mereka punya telah Liana olah pagi tadi sebagai menu sarapan, maka Ikal harus mengubur dalam-dalam harapannya tadi.

Selama ini, Ikal tidak pernah malu menjajakan rusip buatan sang ibu. Ia justru bangga jika bisa membuat dagangan sang ibu laku keras. Pernah suatu kali, menjelang pembagian rapor kenaikan kelas, bertepatan dengan hasil teri yang melimpah, Ikal meminta ibunya membuat banyak rusip. Liana sempat bingung dan bertanya-tanya. Ia hanya takut rusip yang terlalu banyak justru tidak laku dijual.

"Untuk apa, Kal? Sayang kalau dak laku."

Dengan yakin, Ikal tersenyum. "Untuk dijual di sekolah, Mak. Kemarin Ikal lah bilang ke kawan-kawan di kelas, kalau ade mak e yang nek rusip, bisa beli di kite pas bagi rapor."

"Ka yakin ade yang nek beli?"

"Yakin, Mak. Rusip mak kan rusip terenak di kampung sini."

Benar saja, ketika pembagian rapor, lima belas botol rusip yang mereka bawa langsung habis terjual. Bahkan ada beberapa wali murid dan guru yang kehabisan sehingga mereka perlu memesan untuk dua minggu ke depan. Sebab, proses pembuatan rusip memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Perlu waktu lebih dari satu minggu untuk proses fermentasi agar ikan teri mulai lemah dan menciptakan aroma asam yang khas. Dari sanalah, kelezatan rasa rusip buatan Liana mulai tersebar. Namun sayang, bahan baku ikan teri segar juga ada musimnya. Tidak setiap berlayar nelayan bisa mendapatkan teri berlimpah. Terkadang dipengaruhi angin dan kemunculan bulan.

Ikal ingat kejadian pagi tadi. Sebelum berangkat ke sekolah, Ikal merasa ada yang coba sang ibu sembunyikan. Perkara mengapa mereka mesti sarapan menggunakan rusip saja. Tanpa ada nasi secentong pun. Dan begitu Ikal diam-diam mengecek ember penyimpanan beras, dugaan bocah dua belas tahun itu terbukti: butir-butir bahan pangan pokok mereka telah tandas. Itu artinya sang ibu juga tak lagi memiliki sisa uang tabungan dan mereka juga tidak punya apa-apa untuk dimasak. Apalagi setelah beberapa hari ini Ikal mendapati ibunya hanya bisa terbaring di rumah lantaran terserang demam. Sehari saja sang ibu tak berangkat bekerja—entah karena alasan apa pun—maka perempuan itu tak akan mendapatkan sepeser pun pundi-pundi rupiah. Itu pula yang lantas menjadi motivasi Ikal selama ini untuk bersekolah. Meski masih sedemikian belia, namun bocah itu tahu kalau hanya dengan bersekolahlah pelan-pelan ia akan bisa melepaskan perekonomian mereka dari jerat lingkaran kemiskinan. Meski semua itu tentu butuh proses dan waktu yang tak singkat.

Ikal juga tahu bahwa kondisi kesehatan ibunya pagi tadi belum benar-benar membaik. Namun, demi kemaslahatan perut mereka, perempuan paruh baya itu tetap memaksakan diri. Sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga, Liana merasa harus memegang tanggung jawab penuh bagi kesejahteraan Ikal, sang anak kesayangannya. Demikian pun Ikal, begitu menyadari kalau sang ibu tengah berjuang penuh untuknya dan melawan remuk di tubuhnya, diam-diam, beberapa langkah ketika meninggalkan pelataran rumah mereka untuk bersekolah, bocah dua belas tahun itu menangis. Biar bagaimanapun Ikal masihlah anak-anak. Hatinya masih terlalu rapuh untuk memahami nestapa kehidupan, apalagi ketika harus dipaksa mendapati Liana—satu-satunya orang terkasih yang ia miliki—sedang bersusah hati. Hancur pula perasaan Ikal. Meski demikian, ia tetap tak ingin menangis di hadapan sang ibu. Sepanjang langkah kaki mungilnya menyusuri jalanan panjang menuju sekolah itulah, Ikal akhirnya menguraikan segala kesedihannya di sana.

Andai saja ia bisa memutar waktu, Ikal ingin sekali cepat dewasa agar ia bisa meringankan beban sang ibu. Sebab, menurutnya, di usianya yang masih dua belas, Ikal merasa tak bisa berbuat apa-apa selain membantu ibunya bekerja ketika akhir pekan, saat ia libur sekolah. Dalam hati, Ikal ingin sekali bisa membantu ibunya sepanjang hari. Seperti halnya kebanyakan anak-anak pesisir lainnya yang memilih putus sekolah. Namun, jika mengingat cita-cita besarnya untuk menjadi seorang guru dan mengentaskan kemiskinan keluarga, Ikal tak bisa begitu saja menyerah. Ia tak boleh putus asa. Untuk saat ini, Ikal hanya bisa pasrah dengan menunggu waktu. Tapi, di depan dahinya, ia selalu ingat akan sepenggal petuah sebagaimana tertuang dalam buku paket Bahasa Indonesia miliknya yang pernah dibacakan Bu Esti tempo hari di kelas: “berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

***

Di ruang guru, Bu Esti memandangi sebuah potret keluarganya yang sengaja ia letakan dalam pigura di atas meja kerjanya. Pigura itu tidak terlalu besar, namun menyimpan kenangan yang sedemikian dalam. Di sana, di dalam potret, Bu Esti tampak tersenyum ke arah kamera bersama seorang laki-laki dewasa berkacamata dan seorang bocah laki-laki yang usianya menginjak remaja.

Bukan tanpa alasan perempuan itu menyimpan foto keluarga kecilnya di sana. Sebab, itu adalah satu-satunya pengingat bahwa dulu ia pernah memiliki sebuah keluarga kecil yang hangat. Perempuan itu tentu tidak akan pernah lupa peristiwa nahas yang terjadi bertahun-tahun silam. Saat itu, adalah hari penuh jelaga. Awan mendung gelap menggantung di angkasa. Hari tampaknya akan segera hujan. Di dalam rumahnya, Bu Esti memastikan bahwa tidak ada berkas masuk SMP yang tertinggal di rumah. Sebab, pagi itu putranya hendak melakukan pendaftaran ulang ke sekolah menengah pertama di kabupaten. Bu Esti ingin ikut mengantar, namun juga sebagai guru di sekolah dasar, ia pun tengah disibukkan membantu persiapan pendaftaran siswa baru di sekolahnya.

"Hati-hati di jalan. Jas hujan sudah dibawa, kan?" tanya perempuan itu memastikan suami dan anaknya kelak tidak akan kebasahan jika di jalan kelak hujan tiba-tiba saja turun.

"Lah sudah. Aman," sahut suaminya sambil tersenyum hangat. Laki-laki itu selalu senang bila mendapatkan perhatian kecil dari sang istri. Meski usia pernikahan mereka sudah menginjak belasan tahun, namun kehangatan terpancar jelas dari sorot mata masing-masing. Keluarga cemara, setidaknya begitu yang kerap orang-orang sematkan pada keluarga kecil Bu Esti.

Tapi, sayang, kebersamaan mereka rupanya sedemikian singkat. Siang itu, saat sedang berada di sekolahnya dan bertugas mendata nama-nama siswa baru yang akan menginjak bangku sekolah, kabar duka bertandang. Seorang tetangga Bu Esti berjalan tergopoh-gopoh demi menyampaikan sesuatu yang nyaris membuat jantung guru teladan itu berhenti berdetak.

"Suami dan anak ibu kecelakaan. Jalanan licin, mereka mereka menabrak sebuah truk ...."

Bu Esti tidak mampu mencerna kalimat selanjutnya yang terlontar dari mulut si tetangga. Sebab, tiba-tiba saja telinga Bu Esti berdenging, bersamaan dengan tubuhnya yang oleh. Yang ia tahu, suami dan anaknya tidak sedang baik-baik saja. Mereka terlibat kecelakaan hebat. Dengan dada berdegup kencang, Bu Esti menuju ke rumah sakit kabupaten sebagaimana yang disebutkan tetangganya tadi. Di sana, suami dan anaknya pasti sangat membutuhkan kehadirannya.

Namun, malang, begitu sampai di rumah sakit yang dimaksud, Bu Esti mesti menghadapi kenyataan pahit. Anak dan suaminya itu sudah tiada. Luka di kepala mereka begitu parah. Membuat Bu Esti menangis menjerit-jerit. Bagaimana tidak, dalam waktu yang bersamaan, perempuan itu harus kehilangan dua sosok yang amat dicintainya. Setelah lengkingan jerit terakhir, Bu Esti kehilangan kesadaran.

Di kursi kerjanya, Bu Esti menghela napas panjang. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, namun luka kehilangan di hatinya belum juga mengering. Rasanya baru kemarin ia seperti kehilangan kewarasan. Sepertinya baru kemarin pula ia masih bisa bersenda gurau dengan suami dan anaknya. Dalam keheningan ruang guru itu, sepasang mata Bu Esti kembali berkabut. Di indra penglihatannya itu, Bu Esti fokus memperhatian wajah dan rambut almarhum putra semata wayangnya. Kulitnya yang sawo matang, juga rambutnya yang setengah keriting, pun kecerdasannya  yang berada di atas rata-rata, membuat Bu Esti menemukan banyak kesamaan di antara putranya dan Ikal. Hal itulah yang membuat Bu Esti merasa punya ikatan yang lebih dekat dengan siswa kesayangannya tersebut ketimbang dengan siswa-siswa lain.

Ah, nyatanya hidup tidaklah benar-benar mudah bagi perempuan yang dari luarnya tampak begitu tegar itu. Bu Esti begitu rindu pada keluarga kecilnya. Terutama pada anak laki-laki yang tidak pernah sedikit pun membantah ucapannya. Dan itu, lagi-lagi Bu Esti temukan ada pada diri Ikal. 

Bu Esti jadi berandai-andai, apa benar Tuhan sengaja menghadirkan Ikal selama ini di dekatnya sebagai penghiburan bagi dirinya yang diam-diam kesepian? Ah, entahlah. Nyatanya hidup memang sedemikian banyak menyimpan misteri.

***

[1] “Kal, ibumu buat rusip, tidak?”

[2] ingin

[3] “Tidak ada, Bu. Mak sedang tidak buat rusip.”


Other Stories
Melodi Nada

Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...

Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Download Titik & Koma