Rahasia Ikal

Reads
1.4K
Votes
13
Parts
12
Vote
Report
Penulis Alfian N. Budiarto

Bagian 3

Hari ini Liana tengah merasa gusar. Ember bekas cat tempat ia menyimpan beras, telah tandas isinya. Hanya menyisakan beberapa butir, yang bahkan jika sengaja diberikan kepada seekor burung gereja saja, sudah dapat dipastikan tak akan kenyang. Sementara di sumur belakang rumah, di remangnya fajar, Liana bisa menatap Ikal yang tengah mengguyur tubuhnya dengan jernih air sumur. Sesekali terdengar suara decit putaran katrol yang berkarat, disertai irama gesekan tali tambang yang dikerek. Dengan sebuah timba yang tertambat di ujung tambang, Ikal sudah terbiasa menaikkan air dari kedalaman sumur.

Liana tahu putra semata wayangnya itu sebentar lagi akan bersiap ke sekolah. Sementara sebagai seorang ibu yang begitu perhatian, Liana tak akan sanggup mengatakan pada sang putra bahwa pagi ini ia mesti berangkat dengan perut keroncongan. Padahal rentang jarak rumah dengan sekolah terbilang sangatlah jauh. Apalagi bagi kaki mungil Ikal yang dipenuhi bekas luka gores.

Liana memeras otak. Di antara remangnya fajar kini, perempuan kepala empat tadi seolah menemukan secercah harapan. Apalagi setelah Liana menyadari masih bahwa masih ada sebotol rusip yang baru selesai ia buat pekan lalu di atas meja dapur. Gegas Liana beranjak meninggalkan ember bekas cat yang telah melompong. Dengan mengenakan sandal usang sekenanya, ia melangkah menuju kebun belakang rumah mereka yang dipenuhi pucuk daun ubi ranum.

Ikal yang agak penasaran dengan kelakuan ibunya pagi ini, sejenak menahan guyuran air dalam gayung di tangannya. Tak biasanya sang ibu memetik pucuk daun ubi sedini ini.

“Pagi benar, Mak, lah mutik[1] pucuk ubi?” tanya bocah dua belas tahun itu ingin tahu.

Tanpa menoleh ke arah sang putra, Liana melepas sebuah senyum simpul. Sepasang tangannya mahir benar memilah daun muda di antara rimbun batang ubi di halaman belakang rumah mereka yang sudah cukup semak. Semenjak suaminya tiada, Liana hanya sebulan hingga dua bulan sekali memperhatikan kondisi gulma yang tumbuh semena-mena di kebun sederhana tadi. Jika ia masih memiliki cukup waktu luang di sela rutinitasnya menjadi buruh di pelelangan atau membuat rusip, Liana sesekali akan membersihkan rumput yang tumbuh di sana dengan sabit.

Dak hal kan men pagi ini kite cuma makan pucuk ubi rebus kek rusip bai, Kal?[2]balas Liana dengan sebuah pertanyaan.

Dak hal, dak, Mak[3].”

Mendengar jawaban Ikal, Liana masih bisa bernapas lega. Meski jujur di kedalaman hatinya, perempuan itu sedih bukan main. Ikal benar-benar bocah yang tak banyak mau. Di usianya yang baru dua belas, Liana seolah bisa menemukan kedewasaan di dalam diri Ikal. Kerasnya hidup yang selama ini telah mereka lalui, seolah mampu menempa kesabaran dan ketulusan pada diri Ikal.

Asap putih membumbung memenuhi atap dapur. Suara air mendidih di atas tungku, samar terdengar menggelegak di antara riuh kerik jangkrik di luar sana. Setelah mencuci bersih pucuk daun ubi yang baru saja ia petik tadi, Liana kini lantas menjerangnya ke dalam air mendidih. Baginya, dua genggam daun ubi rebus—tanpa nasi—dengan semangkuk rusip yang dibubuhi irisan serai segar sudah mampu untuk mengganjal perut dua kepala yang tinggal di dalam rumah beratap rumbia tersebut.

Setelah sarapan dan melepas kepergian Ikal ke sekolah, Liana kembali memastikan sisa uang simpanan di dompetnya. Benar saja, hanya ada selembar uang dua ribu. Semua lantaran kondisi tubuhnya yang belakangan sering sakit-sakitan. Hingga upah hariannya menjadi buruh pilah ikan, nyaris tak pernah penuh karena kerap meminta izin pulang lebih cepat. Hasilnya, perempuan empat puluh tahun itu juga tak mendapat tambahan sekantong teri segar dari sang tauke. Imbasnya, ia jadi tak memiliki bahan baku untuk membuat rusip. Maka pagi ini, demi bisa mendapatkan uang untuk membeli setengah kilo beras dan dua butir telur, Liana memaksakan diri untuk pergi ke pelelangan ikan meski kondisi tubuhnya tidak dalam kondisi prima. Apa boleh buat, semua harus ia lakukan demi masa depan Ikal. Atau paling tidak, malam nanti, ia tak mesti harus melihat sang putra kelaparan.

***

Di tengah pekerjaannya memilah ikan hasil tangkapan pagi ini, Liana tampak beberapa kali menahan mual. Bahkan lima menit lalu, perempuan itu sempat lari meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menepi dan memuntahkan remahan pucuk daun ubi rebus yang bercampur rusip ke atas permukaan pasir pantai. Liana merasa tubuhnya sudah tak lagi dapat diajak kompromi. Atau bisa jadi pagi ini ia sedang terserang masuk angin. Pasalnya, malam tadi ia hanya menelan seujung centong nasi sisa dengan lauk sejumput garam. Ikal yang sesorean terlalu asyik bermain di laut, merasa perutnya terlalu lapar jika hanya dijejali sepiring nasi berlauk tumis kangkung kegemarannya. Hingga Liana sengaja memberikan jatah makan malamnya untuk sang putra. Perempuan itu berdalih kalau ia sudah makan sore tadi. Baginya, memandangi Ikal yang makan dengan lahap meski hanya berlauk sederhana, sudah lebih dari cukup untuk mengukir bahagia di sudut bibir ibunya itu. Mirisnya, Liana lupa kalau beras yang ia masak sore tadi adalah stok beras terakhir yang mereka punya. Dengan perut lapar perempuan itu mencoba memejamkan mata. Akibatnya, pagi hari tadi ia jadi bangun kesiangan dan lupa kalau ia harus bangun lebih awal untuk mencabut ubi dan merebusnya sebagai pengganti nasi. Ketika membuka wadah beras yang kosong, barulah ingatan Liana kembali. Alhasil, ia dan sang putra harus makan daun ubi rebus dengan rusip buatannya sebagai pelengkap.

“Jangan-jangan Liana hamil?”

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pelelangan, meski samar, Liana masih bisa mendengar suara desas-desus yang meluncur dari bibir rekannya di tempat kerja.

“Hamil? Sama siapa? Dia kan janda.”

“Tauke Isal, barangkali.”

Semakin Liana mendengar baik-baik gunjingan di belakangnya itu, semakin sesak dadanya terasa. Ia sungguh tak menyangka kalau rekannya sesama pemilah ikan di pelelangan milik Tauke Isal ada yang berpikir negatif mengenai dirinya. Padahal ia sama sekali tak memiliki hubungan khusus dengan sang bos. Terlebih, Tauke Isal sudah memiliki seorang istri dan tiga orang putra. Dan kini, yang bisa Liana lakukan hanyalah bersikap pura-pura tidak tahu. Sebab, satu-satunya alasan ia bekerja di tempat Tauke Isal hanyalah karena alasan ekonomi. Sebagai orangtua tunggal, ia hanya ingin bisa memenuhi seluruh kebutuhan Ikal. Sedang jikapun ia memilih mendebat rekan-rekan yang menggunjingnya barusan, Liana takut keputusannya tersebut justru akan berimbas pada kerenggangan hubungan dengan sesama pekerja di antara mereka. Perempuan itu sungguh tak menyukai pertikaian. Menurutnya, pertikaian hanya akan memperkeruh apa pun, meski sejatinya hal tersebut ia lakukan untuk membela diri. Bagi Liana, terserah orang mau bilang apa, asalkan orang tersebut tak mengusik kebahagiaan sang putra.

Sejujurnya, andai bisa memilih, Liana ingin bisa bekerja pada tauke lain. Namun, tenaga perempuan sepertinya tidak banyak dimanfaatkan tauke-tauke lain. Pasalnya, ia memiliki pengalaman buruk dengan Tauke Isal. Dulu, pada awal dirinya bekerja di bawah pimpinan sang tauke, Liana kerap didekati oleh lelaki berperut tambun itu. Tidak jarang, saat Liana hanya berdua dengan bos kaya dan terpandang di kampung mereka tersebut, lelaki tadi kerap menggodanya. Padahal sudah sering pula Liana memberikan kode tidak nyaman. Namun, Tauke Isal seperti tidak peduli. Maka sejak itu Liana memilih menjaga jarak dengan laki-laki beranak istri tersebut.

"Kalau kau mau jadi istri keduaku, hidup kau bakal sejahtera. Pelelangan ini bisa kau kelola semau kau, Liana."

Di telinga Liana, tawaran Tauke Isal itu bukan menjadi hal menggiurkan, melainkan tawaran yang mampu membikin bulu kuduk Liana berdiri. Ngeri. Tidak pernah tebersit sedikit pun di kepala perempuan itu untuk menjadi istri dari seorang laki-laki beristri. Memang, banyak yang membolehkan seorang laki-laki menikahi lebih dari satu perempuan, namun perempuan itu bukanlah Liana. Meski berulang kali Tauke Isal menjanjikan bahwa dirinya akan berlaku adil, tapi Liana tidak berani memegang janji manusia yang sering ingkar. Terlebih, Liana juga tidak ingin menyakiti hati perempuan lain, istri pertama Tauke Isal. Liana sendiri adalah seorang perempuan, jadi ia paham sekali bahwa tidak mudah bagi seorang perempuan untuk benar-benar siap dan rela berbagi suami. Maka, keputusan Liana sudah bulat: ia tidak akan menerima tawaran Tauke Isal apa pun iming-iming dari laki-laki itu.  

***

[1] Sudah memetik

[2] Tidak masalah kan kalau pagi ini kita makan hanya pakai pucuk ubi rebus dengan rusip saja, Kal?

[3] Tidak masalah, Mak


Other Stories
Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Bayangan Malam

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Cerella Flost

Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...

Download Titik & Koma