Bagian 9
Liana kira setelah mengistirahatkan tubuhnya semalaman kondisinya akan jauh lebih baik. Liana pikir tadi malam ia hanya meriang seperti yang sudah-sudah, yang hanya diminumi kaplet obat sakit kepala akan membaik dengan sendirinya. Rupanya ia salah. Rasa ngilu justru seolah menjalar ke seluruh sendi dan tulangnya.
Meski kondisinya sedemikian buruk, tapi Liana tidak bisa tinggal diam saja. Ia tetap harus menyiapkan sarapan untuk Ikal sebelum putranya itu berangkat ke sekolah. Namun, satu hal yang ia lupa, lagi-lagi ia tidak punya persediaan beras dan lauk pauk. Untuk makan tadi malam saja ia harus berterima kasih pada Ikal yang membelikannya mi dan telur dari uang pemberian sang guru. Sementara jika harus kembali memetik pucuk daun ubi di belakang rumah, ia yakin bekas yang lama saja belum bersemi kembali.
Liana nyaris kehabisan akal. Satu-satunya yang ia punya hanyalah sisa sebotol rusip buatannya sendiri. Tapi, tanpa lalapan pendamping, rusip yang ia miliki pun tidak akan ada gunanya.
Walau masih belum mendapatkan jalan keluar, Liana tetap memaksakan tubuh lemahnya itu untuk bangkit menuju dapur. Namun, baru juga bangkit dari balai-balai tempatnya berbaring, Liana sudah mampu mendengar suara sesuatu yang digoreng di dalam minyak. Ia tahu itu pastilah ulah Ikal yang memasak sesuatu. Tapi, Liana penasaran mengenai apa yang bocah dua belas tahun itu masak di pagi buta tanpa bahan makanan di rumah mereka.
Aroma lezat menyeruak di indra penciuman Liana. Begitu menyadari kehadiran sang ibu, Ikal tersenyum. "Alhamdulillah, makan enak kita Mak pagi ni."
Liana masih dengan tatapan bingungnya. "Ka masak ape, Kal?"
"Ikan goreng."
Liana jauh lebih kaget lagi. "Dapet ikan di mane ka, Nak?"
"Tadi malem ku masang tajur di parit deket kebun kelapa Wak Dulah. Dapet dua ekor." Ikal nyengir, memamerkan geliginya yang agak kuning.
Liana membelalakkan matanya. "Malem-malem ka ke kebun Wak Dulah sendirian?"
"Aok, Mak."
"Bahaya, Kal. Kata orang, di sane ade buaya."
"Kate orang, di parit yang ade buaya e banyak ikan e juga, Mak."
Liana geleng-geleng kepala. Ia tahu Ikal tidak sedang membantah. Anak laki-lakinya itu hanya sedang berusaha membuat agar dirinya tidak terlalu khawatir. Liana pun sadar ia tidak boleh marah pada Ikal. Sebab, apa yang Ikal lakukan tentu untuk kebaikannya juga. Putranya itu nyatanya mampu menemukan solusi untuk mengatasi kebuntuannya dalam memikirkan urusan perut. Sungguh, pemikiran Ikal jauh berada di atas rata-rata bocah seumurannya. Ikal benar-benar dipaksa keadaan untuk bisa dewasa sebelum waktunya.
Setelah meniriskan ikan gabus goreng dari kuali yang pemanasnya berasal dari kayu bakar, ragu-ragu Ikal mengutarakan sesuatu. "Mak, hari ini Ikal dak usah masuk sekolah ok?"
Liana memandangi wajah putranya lamat-lamat. Ia hampir tidak percaya Ikal mengatakan hal demikian. Padahal sedari dulu, walau sakit sekalipun, Ikal akan terus memaksakan diri untuk berangkat ke sekolah. Baginya, sakit bukanlah halangan untuk menuntut ilmu dan bertemu teman-temannya. Maka, ketika pagi ini Ikal mengutarakan niatnya untuk membolos, Liana jadi bertanya-tanya.
"Kenapa?"
Ikal yang sedari tadi melemparkan pandangannya ke perapian, kini beralih menatap sepasang mata ibunya. "Ikal mau jagain Mak bai di rumah."
Liana menggeleng sambil tersenyum meyakinkan sang putra. "Mak dak ape, Kal. Bentar lagi juga sehat."
"Tapi, Mak ...."
"Ingat cita-citamu, Mak. Sekolah itu penting. Orang baik juga harus punya ilmu. Kalau memang bisa datang ke sekolah, datanglah. Mak bakal nunggu ka di rumah cem biasa."
Ikal luluh. Lebih tepatnya ia tidak ingin beradu debat dengan sang ibu. Ia tahu kondisi ibunya itu belum stabil. Mendebat hanya akan membuat keadaan Liana semakin memburuk. Maka, menuruti permintaan sang ibu adalah hal yang kemudian Ikal pilih.
"Janji, ya, Mak. Pulang sekolah kelak, Mak harus lah sehat seperti biasa."
Liana mengangguk, dan Ikal memegang janjinya itu. Namun, satu hal yang tidak pernah Ikal duga, bahwa nyatanya siang nanti ketika Ikal pulang sekolah, Liana tidak pernah menepati janjinya. Untuk kali pertama, perempuan bertubuh ringkih itu berdusta. Bukan karena sengaja, tetapi takdir yang memaksanya harus demikian. Perempuan itu tertidur begitu dalam dan tidak pernah bangun lagi untuk selamanya.
***
Other Stories
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...