Rahasia Ikal

Reads
1.4K
Votes
13
Parts
12
Vote
Report
Penulis Alfian N. Budiarto

Bagian 10

Sepulang sekolah, Ikal masuk dengan senyum semringah. Di tangannya, tergenggam sebuah kantong kresek hitam berisi dua kilogram beras, lima bungkus mi instan, dan sepuluh butir telur. Sejujurnya, barang yang kemarin Ikal bawa ke rumah itu juga bukanlah hasil dari membantu Bu Esti membereskan ruang guru. Ikal berdusta. Tapi, ia berbohong demi kebaikan. Setidaknya begitu yang Ikal pikirkan. Semua barang belanjaan yang ia bawa kemarin dan juga yang ia bawa hari ini adalah pemberian cuma-cuma dari Bu Esti. Ikal tidak punya pilihan lain. Bocah dua belas tahun yang merasa dirinya tidak mampu berbuat banyak untuk membantu perekonomian keluarganya itu terpaksa menceritakan semuanya kepada sang guru kesayangan: perihal beras yang habis, juga uang tabungan yang ludes tak bersisa.

Ikal tahu meminta-minta bukanlah hal yang baik sebagaimana yang pernah Liana ajarkan kepadanya. Tapi, Ikal tidak sepenuhnya mengemis. Ia berjanji kepada Bu Esti bahwa ketika sukses kelak, Ikal akan mengembalikan semua yang pernah ia terima dari gurunya itu. Terbukti, Ikal mencatat semua pemberian Bu Esti di dalam sebuah buku khusus agar tidak lupa. Meski Ikal sendiri tidak yakin kapan ia akan sukses dan bisa mengembalikan semua barang-barang tadi. 

Ikal mendorong pintu rumah yang tidak terkunci. Ketika Ikal mengucapkan salam, tidak seperti biasanya Liana tidak menjawab. Ikal pikir Liana sedang keluar rumah. Tapi, ketika memasuki kamar, Ikal menemukan ibunya itu sedang berbaring di atas tempat tidur. Dengan hati-hati bocah itu meletakkan tas usangnya di atas keranjang dan berganti pakaian.  Ikal tidak ingin menciptakan bunyi berisik. Sebab, itu bisa saja mengganggu istirahat sang ibu. Demikian pula ketika bocah dua belas tahun tadi berkutat di dapur, ia memperhatikan betul supaya setiap alat yang dipakainya tidak saling beradu satu sama lain dan menciptakan dentingan kuat.

Tidak muluk-muluk lauk yang Ikal siapkan. Hanya nasi putih dan telur ceplok. Sementara mi instan yang Bu Esti berikan, rencananya akan ia olah untuk makan malam saja.

***

Menjelang magrib, Liana tidak kunjung bangun. Dari kursi yang berada tidak jauh dari tempat Liana berbaring, ikal terus memperhatikan bagaimana wajah sang ibu yang begitu tenang. Belum pernah Ikal melihat ibunya setenang demikian. Bahkan, dalam tidurnya itu, Liana sama sekali tidak bergerak yang tentu saja membuat Ikal menyadari sesuatu. Jantung Ikal berdesir kencang. Tubuhnya seketika gemetar saat memperhatikan dada dan perut Liana yang tertutup selimut usang itu tidak lagi terlihat naik-turun. Ditambah, jika diperhatikan baik-baik, wajah dan bibir perempuan itu tampak ... pucat.

"Mak, bangun, Mak. Lah nak magrib." Ikal berjalan terhuyung ke arah Liana terbaring. Tenaganya seolah-olah sirna. Ikal bahkan merasa seperti tidak lagi menginjak bumi. "Mak, bangun! Ikal lah masak makan malam. Mak pasti lapar." 

Suara bocah dua belas tahun itu semakin terbata-bata. Hingga begitu jarak tubuh Liana telah dalam jangkauan, Ikal menempelkan telapak tangannya ke kening Liana. Dingin. Tubuh Liana seperti membeku. Lebih dingin dari air kendi yang biasa Ikal minum. 

Sontak saja hal itu membuat air mata Ikal tumpah seketika. Tangisannya pecah, membelah langit yang bersemu jingga di ufuk barat. Hanya teriakan nestapa bocah itu yang selanjutnya terdengar. Mengiris. Bersamaan dengan kerik jangkrik yang mulai bermunculan. Tanpa tetangga, malam itu Ikal menangis sendirian di samping jasad sang ibu hingga air matanya nyaris mengering.

***


Other Stories
Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Download Titik & Koma