Rahasia Ikal

Reads
1.4K
Votes
13
Parts
12
Vote
Report
Penulis Alfian N. Budiarto

Bagian 8

Liana bangun dan menemukan Ikal duduk di sampingnya. Sepasang tangan bocah laki-laki itu erat menggenggam tangan Liana. Seolah-olah anak semata wayangnya itu tidak ingin ditinggalkan sebatang kara. Hati Liana terenyum. Belum lagi perempuan itu juga mendapati sepasang mata putranya tersebut dalam keadaan sembap dan memerah.

"Mak lah sadar?" tanya bocah dua belas tahun itu. "Mak jangan sakit-sakit. Ikal takut."

Liana tahu maksud putranya itu. Selain dirinya, Ikal memang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia itu, selain sang suami yang pelan-pelan Liana yakini memang sudah mati. Selama ini, Liana hanya berusaha menyangkal takdir Tuhan. Ia hanya masih belum menerima permainan kehidupan yang sedemikian memberikan luka di hidupnya. Namun, dengan adanya Ikal di sisinya, perempuan itu tahu ia tidak boleh menyerah. Ia masih punya satu-satunya alasan untuk terus berjuang dan menjalani hidup yang sedemikian payah.

"Mak dak ke mane-mane, Kal. Mak bakal selalu ada di sisi ka." Janji Liana guna menenangkan hati sang buah hati. Perempuan itu juga mengusap lembut pucuk kepala Ikal yang beraroma garam dan matahari.

Sekali lagi Liana berandai-andai. Seandainya ia bisa memilih, ia ingin Ikal lahir bukan dari rahimnya. Ia ingin Ikal lahir dari rahim perempuan yang jauh lebih baik darinya, yang lebih lembut, dan tentu saja lebih sejahtera dari hidupnya. Bukan karena Liana membenci Ikal. Justru sebaliknya. Ia sedih bukan main ketika mendapati hidup Ikal yang penuh nestapa bersamanya. Liana ingin Ikal bisa mendapatkan hidup yang jauh lebih layak seperti anak-anak lain seusianya di kota. Liana merasa Ikal terlalu baik untuk diturunkan Tuhan kepadanya. Bocah itu semestinya punya masa depan yang cemerlang, yang bisa diwujudkan oleh orangtua lain di luar sana.

Setetes air mata jatuh dari sudut netra perempuan paruh baya itu.  Namun, lekas-lekas ia membasuhnya dengan telapak tangan. Liana tidak ingin Ikal tahu kepedihan yang ia rasakan saat ini. Demi sang putra semata wayangnya itu, Liana rela menyembunyikan semua perasaan tidak baik-baik saja yang ia rasakan.

Dengan kesadaran yang mulai pulih sepenuhnya, Liana memperhatikan jam dinding usang yang menempel di atas pintu kamar sederhana mereka. Perempuan itu terkesiap. Waktu menunjukkan menjelang magrib. Itu artinya sudah lebih dari enam jam dirinya kehilangan kesadaran. Liana ingat sekali ia belum sempat menghidangkan apa-apa di atas meja makan. Liana tahu betul kalau saat ini Ikal pasti sedang menahan lapar. Sepulang sekolah, anak laki-lakinya itu tentu belum sedikitpun mengganjal perut.

Liana hendak bangkit, namun Ikal melarangnya. "Mak istirahat bai."

Liana menggeleng. "Tapi, Mak lum masak ape-ape, Kal."

Ikal tersenyum. "Ikal lah masak mi instan same telur dadar buat Mak."

Liana terkesiap. "Ka dapet duit dari mane, Nak?"

Sekali lagi Ikal tersenyum. "Dari Bu Esti. Hari ini Ikal bantu Bu Esti rapikan ruang guru." 

Mendengar itu, Liana tidak lagi mampu menahan air matanya. Sungguh, hati perempuan itu begitu kecut ketika harus berulang kali mendapati anak kesayangan itu mesti berkelahi dengan kerasnya kehidupan.

***


Other Stories
Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Download Titik & Koma