Bab 1 Burung Walet Itu Saksinya
Matahari padahal belum sepenuhnya terbenam, tapi sepertinya kali ini sudah lebih gelap seperti cemasnya perasaan Yura, degup jantung wanita yang baru saja lulus dari SMK itu seriuh suara burung walet berlarian di awan. Jemari yang telah lelah bekerja buruh cuci, kini membawa sebuah kresek putih berisikan obat, hari ini bahkan hari-hari sebelumnya adalah hari paling lelah dan sakit.
Tiap langkah yang Yura lalui, tiap memori juga berjatuhan, netranya yang terus menahan air mata terasa perih. Bibir mungilnya gemetar, suara itu bersua terlalu kecil, namun di dadanya jelas meriuh kencang. 'Dek, kamu bertahan dulu, ya, Kakak enggak mau yang kemarin-kemarin keulang lagi, Kakak enggak mau ngerasain ditinggal lagi, cukup Ibu dan Ayah saja yang meninggalkan Kakak, kamu jangan ikut juga.'
Sudah hampir satu Minggu, Beno belum sembuh juga akan sakit demamnya. Sanak saudara pernah menawarkan Yura dan Beno untuk ikut dengan mereka saja, tapi Yura tetap menahannya untuk tinggal di rumah orang tuanya itu, meskipun memang Ayah dan Ibu sudah tidak membersamai mereka kembali.
Tiba di rumah, tubuh Yura semakin lunglai, dari mulai orang tua, Anak-anak dan dewasa sudah ramai mengelilingi rumah orang tua Yura, seolah telah terjadi sesuatu yang gempar. Beberapa dari mereka menatap Yura sedih, ada yang menunjuk ke arah dalam rumah seolah memberitahukan Yura ada pula yang matanya berkaca-kaca. Semua orang tengah menutupi jalannya, Yura trabas, di hatinya benar-benar teriris perih. Sampai di kamar sang Adik, ada dua Ibu-ibu di sana, mereka melangkah mundur ketika melihat Yura mendekat. Napas Yura yang tersengal tadi langsung menghembuskan napas panjang ketika melihat sang Adik berbaring dengan mata masih terbuka, perasaan lega itu muncul kembali seperti peluang baik.
Buru-buru Yura menurunkan tubuhnya, mengusap kepala sang Adik dengan air mata yang tak terasa berjatuhan deras seperti hujan rintik-rintik mulai terdengar di atap rumah Yura.
"Bu, kenapa bisa rame banget gini, ya, tadi pas saya pergi kenapa?" tanya Yura menatapi kedua Ibu di depannya bergantian.
"Tadi pas kamu ke luar, kami dengar suara orang teriak sambil nangis, asalnya dari rumah kamu, sampai akhirnya kami ke sini, ternyata Adik kamu kesakitan, kami enggak tahu obatnya di mana jadi kami ambilkan air putih saja."
Yura mengucapkan terima kasih pada Ibu-ibu di depannya, sebelum memberikan obat pada sang Adik, Yura ingin rumahnya kembali sepi, tak seperti sekarang, ramai.
"Ibu, mohon maaf, karena saya sudah ada di sini, silakan boleh kembali ke rumah Ibu, terima kasih banyak sudah peduli dengan Adik saya, tolong beritahu yang di luar juga, Bu."
Yura dengan sopan mengikuti langkah kedua Ibu tersebut, orang-orang di luar mulai berhamburan pulang ke rumah masing-masing, ada yang sambil bisik-bisik tentunya dan menatap sendu ke arah Yura. Namun, baru selang beberapa detik, tiga orang datang ke rumahnya berpakaian rapi, satu perempuan dan dua laki-laki, di seragamnya sebelah kanan atas saku bertuliskan "Redaksi CT," laki-laki itu membawa kamera dan handphone sementara yang perempuan membawa dua microphone seolah ingin mewawancarai Yura. Benar saja, perempuan itu dengan nama Friska langsung melontarkan pertanyaan.
"Mba, dengan Mba siapa? Apa benar Mba membiarkan Adik Mba yang sedang sakit di rumah sendirian? Kasihan sekali, Mba."
Yura yang sudah lelah menghadapi warga tadi ditambah wartawan yang asal bicara ini membuat emosinya naik. Padahal hujan di luar rintik-rintik, tapi mereka bisa-bisanya tetap mengunjungi rumah Yura.
"Maaf, saya capek, mau merawat Adik saya, silakan kembali nanti. Dan tolong, jangan asal bicara. Terima kasih." Yura menyunggingkan senyum masam, lalu menutup pintu rumah pelan. Sementara wartawan tadi terlihat kurang puas akan jawaban Yura, mereka saling pandang dan akhirnya dengan keterpaksaan mereka meninggalkan rumah Yura.
Burung-burung walet telah hilang mengudara jauh, karena tuannya telah datang, hujan di luar semakin deras, tapi bagaimana pun itu, Yura selalu mengupayakan agar suasana rumah tetap hangat.
Other Stories
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...