Bab 2
Ayam di rumah tetangga dan burung-burung yang serusp pagi selalu hadir kini terasa lebih sepi, setelah tadi malam memberikan obat pada sang Adik, Yura ternyata ketiduran, dia masih melihat Adiknya tertidur pulas. Namun, ketika Yura menatap lebih dekat, jantungnya kembali berdegup kencang, raut wajah sang Adik sangat pucat. Dengan mata yang masih terbelalak, Yura membawa jari-jari sang Adik, tangannya pun dingin. Harapan itu hanya seperti butiran debu, Yura memeriksa kembali napas yang ke luar dari hidung sang Adik, dan ya, tubuh Yura terjatuh tak berdaya, nyatanya ini seperti mimpi sakit, kehilangan sudah beberapa kali menjadi teman Yura, kepalanya sangat pusing sekali, bibir bahkan seluruh tubuhnya gemetar membawa air mata yang mulai detik itu mengalir tak padam.
Sudah ketiga kalinya rumah orang tua kembali ramai, bendera kuning itu sepertinya tidak ingin beranjak dari rumah Yura. Dengan mata yang masih sembab, ditemani Givano, sepupu Yura, dari tadi dirinya hanya melamun, seperti orang yang telah kehilangan akal.
“Bentar lagi sepertinya akan ada kibaran bendera kuning keempat di rumah ini,” lirih Yura tanpa menatap ke arah Givano.
Ekspresi Givano tentu terbelalak, tangan kirinya berusaha meraih pundak Yura, berharap bisa menenangkan Sepupunya itu. Napas panjang Givano cukup terdengar, membuat pandangan Yura teralihkan ke arahnya.
“Ra, saya tahu kamu lagi sedih, semoga kamu enggak berbuat macam-macam ya. Kamu tenang aja, saya bakal temenin kok. Tadi Mamah juga nawarin untuk kamu ikut ke rumah, daripada kamu di sini sendirian kan.”
Kedua mata yang masih meninggalkan air mata itu menatap Givano penuh kekacauan. “Kenapa di kehidupan yang cuma satu kali ini isinya kehilangan, Kak? Aku capek, pusing, aku mau menyusul mereka saja!”
Yura kembali mencurahkan emosinya, tubuhnya berdiri dengan melempar kedua tangan mengepal, air mata kembali berjatuhan cepat. Tangisan itu sangat sakit, tangisan yang membuat bunga anggrek di depan rumah Yura layu, tangisan yang membuat dunia ikut bersedih, karena awan mendung itu kembali lagi.
Givano menatap pasrah Yura yang sedang mencurahkan emosinya, tubuh dan pandangannya lalu menunduk, melihat tanah yang masih basah akan hujan tadi malam. Menurutnya, Yura memang perlu waktu untuk mencurahkan semuanya, masih bagus dia mau bicara, kalau sudah di tahap diam saja Givano tentunya harus waspada, dia harus menemani Yura setiap saat, kalau tidak malah terjadi hal-hal yang dikhawatirkan seperti yang Yura katakan sendiri tadi.
Dengan pemikiran panjang, saat tangisan Yura sudah semakin mereda serta wajahnya yang tampak lebih tenang, Givano membuka suaranya. “Besok pagi hari sabtu ikut saya, kamu enggak boleh menolak.”
Yura yang telah kembali duduk menatap Givano, kali ini tatapannya sedikit tenang. Sampai akhirnya di sebuah senyuman yang sangat Yura usahakan senyumannya tulus ke arah Givano.
“Ra, cita-cita kamu apa? Kamu mau enggak kerja juga di tempat saya? Ya mengisi waktu luang kamu, kan, sama untuk biaya hidup,” Givano kembali membuka pembicaraan, suaranya sedikit ragu.
Givano sudah memikirkan jika pertanyaannya tadi tidak akan Yura jawab, tetapi ternyata Yura meresponnya cukup baik.
“Kalau ditanya cita-cita, seorang penulis berita jawabannya, enggak pernah berubah semenjak masuk sekolah menengah,” suara Yura terdengar masih lemah.
“Wih, hebat! Kebetulan banget saya kan kerja di redaksi liputan. Redaksi CT. Akhir-akhir ini memang lagi membuka lowongan untuk penulis berita, kesempatan baik buat kamu nih, Ra.”
Saat Givano menyebutkan “Redaksi CT” semangat Yura kembali melemah, di pikirannya masih teringat kejadian kemarin, sungguh memancing emosi.
“Oh Redaksi CT, ya?” Yura terdiam sejenak, dia menemukan ide cemerlang. “Kak, besok kita ketemu lagi, ya? Aku boleh minta tolong Kakak bawakan koran terbaru dari Redaksi CT, Kakak di bagian liputan kan divisinya?”
“Iya lebih tepatnya News Anchor. Boleh-boleh nanti saya sekalian bawakan.”
Yura menampakkan senyum manis, tubuhnya kini melangkah ke arah depan rumah, pagar kayunya masih jelas mengibarkan bendera kuning. Dengan pasti walau sedikit sakit, Yura melepas bendera itu, lalu dibuang ke tempat seharusnya. Tanpa sadar, seorang Anak kecil laki-laki yang dari jarak 10 langkah tengah memperhatikannya.
Sudah ketiga kalinya rumah orang tua kembali ramai, bendera kuning itu sepertinya tidak ingin beranjak dari rumah Yura. Dengan mata yang masih sembab, ditemani Givano, sepupu Yura, dari tadi dirinya hanya melamun, seperti orang yang telah kehilangan akal.
“Bentar lagi sepertinya akan ada kibaran bendera kuning keempat di rumah ini,” lirih Yura tanpa menatap ke arah Givano.
Ekspresi Givano tentu terbelalak, tangan kirinya berusaha meraih pundak Yura, berharap bisa menenangkan Sepupunya itu. Napas panjang Givano cukup terdengar, membuat pandangan Yura teralihkan ke arahnya.
“Ra, saya tahu kamu lagi sedih, semoga kamu enggak berbuat macam-macam ya. Kamu tenang aja, saya bakal temenin kok. Tadi Mamah juga nawarin untuk kamu ikut ke rumah, daripada kamu di sini sendirian kan.”
Kedua mata yang masih meninggalkan air mata itu menatap Givano penuh kekacauan. “Kenapa di kehidupan yang cuma satu kali ini isinya kehilangan, Kak? Aku capek, pusing, aku mau menyusul mereka saja!”
Yura kembali mencurahkan emosinya, tubuhnya berdiri dengan melempar kedua tangan mengepal, air mata kembali berjatuhan cepat. Tangisan itu sangat sakit, tangisan yang membuat bunga anggrek di depan rumah Yura layu, tangisan yang membuat dunia ikut bersedih, karena awan mendung itu kembali lagi.
Givano menatap pasrah Yura yang sedang mencurahkan emosinya, tubuh dan pandangannya lalu menunduk, melihat tanah yang masih basah akan hujan tadi malam. Menurutnya, Yura memang perlu waktu untuk mencurahkan semuanya, masih bagus dia mau bicara, kalau sudah di tahap diam saja Givano tentunya harus waspada, dia harus menemani Yura setiap saat, kalau tidak malah terjadi hal-hal yang dikhawatirkan seperti yang Yura katakan sendiri tadi.
Dengan pemikiran panjang, saat tangisan Yura sudah semakin mereda serta wajahnya yang tampak lebih tenang, Givano membuka suaranya. “Besok pagi hari sabtu ikut saya, kamu enggak boleh menolak.”
Yura yang telah kembali duduk menatap Givano, kali ini tatapannya sedikit tenang. Sampai akhirnya di sebuah senyuman yang sangat Yura usahakan senyumannya tulus ke arah Givano.
“Ra, cita-cita kamu apa? Kamu mau enggak kerja juga di tempat saya? Ya mengisi waktu luang kamu, kan, sama untuk biaya hidup,” Givano kembali membuka pembicaraan, suaranya sedikit ragu.
Givano sudah memikirkan jika pertanyaannya tadi tidak akan Yura jawab, tetapi ternyata Yura meresponnya cukup baik.
“Kalau ditanya cita-cita, seorang penulis berita jawabannya, enggak pernah berubah semenjak masuk sekolah menengah,” suara Yura terdengar masih lemah.
“Wih, hebat! Kebetulan banget saya kan kerja di redaksi liputan. Redaksi CT. Akhir-akhir ini memang lagi membuka lowongan untuk penulis berita, kesempatan baik buat kamu nih, Ra.”
Saat Givano menyebutkan “Redaksi CT” semangat Yura kembali melemah, di pikirannya masih teringat kejadian kemarin, sungguh memancing emosi.
“Oh Redaksi CT, ya?” Yura terdiam sejenak, dia menemukan ide cemerlang. “Kak, besok kita ketemu lagi, ya? Aku boleh minta tolong Kakak bawakan koran terbaru dari Redaksi CT, Kakak di bagian liputan kan divisinya?”
“Iya lebih tepatnya News Anchor. Boleh-boleh nanti saya sekalian bawakan.”
Yura menampakkan senyum manis, tubuhnya kini melangkah ke arah depan rumah, pagar kayunya masih jelas mengibarkan bendera kuning. Dengan pasti walau sedikit sakit, Yura melepas bendera itu, lalu dibuang ke tempat seharusnya. Tanpa sadar, seorang Anak kecil laki-laki yang dari jarak 10 langkah tengah memperhatikannya.
Other Stories
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...