Bab 1 : Surga Yang Basah
2013
Pagi itu sepi dan dingin, matahari masih belum naik sepenuhnya. Aruna mencelupkan kaki ke dalam danau yang dingin.
Penginapan ini terlihat menyeramkan ternyata, pikirnya.
Aruna menatap hamparan air danau luas yang tenang itu. Sambil sesekali bergerak menyapu air dengan tangannya. Rasanya tenang yang aneh.
Tubuh bagian bawahku serasa menyatu dengan air, Aruna berpikir dalam hati. Ah, ada-ada saja.
Aruna dan teman-temannya berada di danau ini dari kemarin. Hanya menuruti kegilaan anak muda yang penasaran ingin mencoba telur dadar ajaib khas penduduk lokal, awalnya semua tertawa sambil bernyanyi dan bermain gitar, namun 1 per satu mereka berubah. Mata menangkap spektrum cahaya geometris berwarna-warni dan juga distorsi rupa yang membuat diri merasa menjadi Alice in Wonderland. Yati dan Rini menjadikan malam ini sesi curhat tak berkesudahan, sedang Fina berlari-lari di kegelapan, wajahnya merah dengan wajah penuh senyum,
“Aku sedang di taman bungaaaa”, Fina berteriak sambil berlari di kegelapan.
Mungkin bagi teman-temannya ini hanyalah pengalaman seru anak muda pada umumnya. Mencoba-coba hal-hal liar saat liburan. Tapi tidak bagi Aruna, Ini adalah kali kedua dia memakan telur dadar ajaib ini. sepanjang perjalanan pulang dia berkali-kali mengecek celana dalamnya, rasanya seperti dia membawa-bawa air danau tadi pagi di celananya. Apa aku ngompol? dia berulang kali bertanya dalam hati.
Sensasi dingin basah itu lebih dari fisik, ada sesuatu di dalam diri Aruna yang terasa mencair. Larut, mungkin kata ini lebih tepat menggambarkan sensasi ini. Rasanya seperti dia menatap keberadaannya sendiri di dalam mobil sambil berulang kali mengecek celana dalam sekilas. Aruna melihat sekitarnya, teman-teman nya masih bengong sepanjang jalan pulang. Tapi Aruna merasakan damai yang basah sendirian.
Siang ini hatinya diliputi perenungan mendalam tentang eksistensi dirinya. Akhirnya baru ini kepalanya tenang, tidak memikirkan hidupnya di kota. Dia hanya mengamati sensasi basah dan larut itu.
“Apakah ini damai yang kucari selama ini? Mengapa aku merasa tak berbatas dan menyatu dengan sekitarku, kenapa aku dapat melihat semua potongan kehidupanku seperti pita-pita adegan film yang acak, larut dalam keheningan yang basah ini.”
Mobil melaju menuju dermaga penyeberangan, Aruna masih terus mengecek tubuh bagian bawahnya dengan kepala penuh pertanyaan yang selama ini tak pernah diutarakannya.
Pagi itu sepi dan dingin, matahari masih belum naik sepenuhnya. Aruna mencelupkan kaki ke dalam danau yang dingin.
Penginapan ini terlihat menyeramkan ternyata, pikirnya.
Aruna menatap hamparan air danau luas yang tenang itu. Sambil sesekali bergerak menyapu air dengan tangannya. Rasanya tenang yang aneh.
Tubuh bagian bawahku serasa menyatu dengan air, Aruna berpikir dalam hati. Ah, ada-ada saja.
Aruna dan teman-temannya berada di danau ini dari kemarin. Hanya menuruti kegilaan anak muda yang penasaran ingin mencoba telur dadar ajaib khas penduduk lokal, awalnya semua tertawa sambil bernyanyi dan bermain gitar, namun 1 per satu mereka berubah. Mata menangkap spektrum cahaya geometris berwarna-warni dan juga distorsi rupa yang membuat diri merasa menjadi Alice in Wonderland. Yati dan Rini menjadikan malam ini sesi curhat tak berkesudahan, sedang Fina berlari-lari di kegelapan, wajahnya merah dengan wajah penuh senyum,
“Aku sedang di taman bungaaaa”, Fina berteriak sambil berlari di kegelapan.
Mungkin bagi teman-temannya ini hanyalah pengalaman seru anak muda pada umumnya. Mencoba-coba hal-hal liar saat liburan. Tapi tidak bagi Aruna, Ini adalah kali kedua dia memakan telur dadar ajaib ini. sepanjang perjalanan pulang dia berkali-kali mengecek celana dalamnya, rasanya seperti dia membawa-bawa air danau tadi pagi di celananya. Apa aku ngompol? dia berulang kali bertanya dalam hati.
Sensasi dingin basah itu lebih dari fisik, ada sesuatu di dalam diri Aruna yang terasa mencair. Larut, mungkin kata ini lebih tepat menggambarkan sensasi ini. Rasanya seperti dia menatap keberadaannya sendiri di dalam mobil sambil berulang kali mengecek celana dalam sekilas. Aruna melihat sekitarnya, teman-teman nya masih bengong sepanjang jalan pulang. Tapi Aruna merasakan damai yang basah sendirian.
Siang ini hatinya diliputi perenungan mendalam tentang eksistensi dirinya. Akhirnya baru ini kepalanya tenang, tidak memikirkan hidupnya di kota. Dia hanya mengamati sensasi basah dan larut itu.
“Apakah ini damai yang kucari selama ini? Mengapa aku merasa tak berbatas dan menyatu dengan sekitarku, kenapa aku dapat melihat semua potongan kehidupanku seperti pita-pita adegan film yang acak, larut dalam keheningan yang basah ini.”
Mobil melaju menuju dermaga penyeberangan, Aruna masih terus mengecek tubuh bagian bawahnya dengan kepala penuh pertanyaan yang selama ini tak pernah diutarakannya.
Other Stories
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Desviar : Libur Dari Kata-kata
Dua penulis yang berniat berlibur justru terjebak dalam kolaborasi tak disengaja ketika ke ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...