Aruna Yang Terus Bertanya

Reads
1.1K
Votes
1
Parts
9
Vote
Report
Aruna yang terus bertanya
Aruna Yang Terus Bertanya
Penulis Juwita Septy Ardini Nasution

Bab 4 : Neraka Itu Bernama Pikiran

2012

Mereka tertawa, Aruna dan Nanda.
“Kenapa sih kita ga bisa ketawa-ketawa kayak gini tanpa ini? Hihihihihihi….”

Mereka terkikik menertawakan asap yang mengepul ke udara kosong, di halaman belakang rumah tua yang menjadi kantor Nanda. Mata mereka menyipit dengan senyum sumringah menertawakan ruang kosong.

“Tau ga? Yang dibutuhkan dunia cuma tawa, tapi kenapa manusia berat sekali tertawa lepas tanpa agenda?”

Hubungannya dengan Nanda memang aneh, tak sekalipun mereka menganggap dekat 1 sama lain, mereka saling mendekat namun menjauh. Ada ruang yang tak bisa mereka sentuh dalam keadaan sadar. Selamanya Nanda adalah orang pertama yang menghadirkan dunia penuh tawa bagi Aruna. Walau itu tawa dengan substansi. Ilusi.

Aruna menyesap bir yang sudah mau habis di tangan kirinya. Betapa cepat dunia ini berbalik, pikirnya.

Baru saja beberapa bulan lalu dia melihat neraka. Visi neraka mungkin, karena dia masih hidup sampai saat ini.

Aruna masih ingat langkah kaki goyah menuju Pool Bus antar kota menuju danau itu. Dia baru saja menjejakkan kaki di kotanya, setelah perjalanan dengan pesawat udara. Sepanjang perjalanan hatinya kalut memikirkan hubungan percintaannya yang kacau balau. Perbuatan gila yang dia lakukan minggu sebelumnya di kota asing, dan sakit hati terdalamnya setelah dikhianati berulang kali. Benar-salah menjadi abu-abu. Dialah korban sekaligus tersangka. Aruna hanya ingin mencari lupa sedikit lebih lama. Dengan harapan dalam lupa dia akan merasa damai.

Akhirnya Aruna sampai di danau itu, dengan Fitri sahabatnya dan beberapa mahasiswa anggota kelompok kampus Fitri yang tidak dikenalnya.
Sekelompok mahasiswa culun ini ingin mencoba telur dadar ajaib khas danau itu. Sedang Aruna hanya ingin mencari cara agar lupa lebih lama.

Mereka pergi berjalan kaki ke kafe dekat penginapan, dan memesan telur dadar ajaib disitu. Lalu mereka kembali ke penginapan. Aruna tidak terlalu berbincang dengan yang lain karena dia tidak mengenal mereka. Mereka hanya terdiam menatap satu sama lain.

Telur dadar ajaib itu mulai bereaksi, satu persatu mulai bertingkah aneh. Ada yang tertawa, ada yang menangis, ada yang berteriak, ada yang berusaha mencari cara menyadarkan teman-temannya dengan susu.

Aruna sendiri tidak tahu dengan persis apa yang terjadi malam itu. Di penglihatannya, banyak kepala-kepala membesar, bentuk-bentuk geometris berwarna warni di dinding. Takut. Hanya itu yang dirasakannya. Aruna masih ingat tangannya menelan banyak obat anti depresan yang di simpannya dalam tas. Dia mendengar Fitri berteriak-teriak menelepon keluarganya, ketakutan.

Apakah aku akan mati? pikirnya. Dalam ketakutan itu dia tersadar untuk mengakui semua perbuatan gilanya pada kekasihnya. Karena Aku sudah akan mati, pikirnya. Dia menelepon dan mengakui semuanya dengan tangis dan takut. Hubungan mereka memang sudah berakhir.

Lalu entah apa yang terjadi, semua visinya menjadi gelap. Bentuk-bentuk semakin liar di matanya, manusia berkepala lebih dari 1, anggota tubuh yang tercerai-berai melekat di tempat yang tak seharusnya. Dia tidak bisa melihat atau merasakan dirinya sendiri. Dan semua kegilaan itu diselingi berbagai tawa dan jeritan. Ya, aku sudah mati dan sedang berada di neraka.

-

Tok…tok…tok…, ada langkah kaki bersepatu mendekat.

Hari sudah terang, petugas kebersihan datang membuka pintu kamar.

“Hahhh lihatlah anak-anak ini, main-main sampai kayak gini, bagaimana kita menjelaskan ini pada polisi”, ada suara percakapan di pagi itu.

-

Tok…tok..tok.., ada langkah kaki bersepatu mendekat.

Hari sudah terang, kali ini lebih ramai. Petugas kebersihan datang Bersama Ibu Aruna yang menangisi Aruna yang terbujur kaku, menyesali anaknya yang berakhir seperti ini.

-

Tok…tok..tok.., ada langkah kaki bersepatu mendekat.

Kali ini ada bau kotoran yang menyengat, lalu ada wajah Fitri yang membangunkan Aruna.

Aruna terkesiap setelah 3 kali merasakan hidupnya diputar balik.

Kali ini aku masih hidup, pikirnya.

Dia terbangun menatap sekitarnya, teman-temannya masih dalam ekspresi kosong, dengan kamar sangat berantakan dan bau kotoran manusia menyengat, ada bercak kotoran di beberapa tempat. Entah siapa yang buang air besar disitu. Ternyata keluarga besar Fitri sudah menunggu di dermaga pelabuhan karena Fitri yang berteriak-teriak ketakutan menelpon malam itu.

“Bilang saja kita keracunan makanan”, katanya.

Aruna mengangguk lesu, hanya ingin pulang dengan cepat kerumahnya.

-

Asap mengepul menyadarkan Aruna dalam lamunannya, dirinya kembali bersama Nanda yang tertawa mengikik, membakar gulungan kedua. Kali ini ada dentingan suara gitar dari Aulia yang bernyanyi dengan suara sumbang. Mereka bernyanyi sambil tertawa.

Ah.. andai saja dunia selalu penuh tawa seperti saat ini.

Dengan ilusi substansi yang sama, aruna mendapatkan 2 realita yang berbeda.

Ilusi neraka saat pikiran dan perasaannya sedang kalut beberapa bulan yang lalu di danau itu.

Atau ilusi surga kosong yang penuh tawa, kebersamaan yang semu ini bersama Nanda dan Aulia.

Tidak ada yang nyata, pikir Aruna.

Inner Peace. 1 kata menggaung di relung hati aruna.

Mungkin ini kata yang melekat karena dia teringat adegan di film Kungfu Panda.

Entah apapun itu, kata ini begitu melekat dalam hatinya, hingga bertahun-tahun ke depan.

Inner Peace.


Other Stories
Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Download Titik & Koma