Bab 5 : Banyak Cara Menuju Tuhan
2017
“Kita tidak boleh mencintai Allah, karena cinta itu bikin gila dan orang gila bisa berbuat tidak pantas! Kita harus tunduk, takut dan malu pada Allah atas semua perbuatan kita!”
Aruna duduk di dalam masjid itu Bersama Febri, temannya yang mengajaknya hadir di kajian pertamanya. Aruna memakai gaun Panjang bunga-bunga dan jilbab Panjang sepinggang dia merasa cantik. Sebelumnya dia teringat perasaannya saat mendatangi komplek bazar di luar masjid, saat mencoba-coba penutup wajah yang hanya menunjukkan sepasang matanya saja. Aruna melihat sekeliling, orang-orang dengan pakaian yang sama. Namun punggung kaki Aruna sedikit terbuka karena dia lupa pakai kaus kaki. Aruna benar-benar merasa malu dan bersalah di sekeliling orang dengan pakaian tertutup itu. Punggung kakinya terasa dingin dan telanjang.
Apakah ini yang dimaksud rasa takut, malu dan bersalah pada Allah yang dimaksudkan ustadz ini?, pikir Aruna.
Tapi entah kenapa dia jadi semakin tertarik mengetahui kenapa Tuhan tak boleh dicintai. Jarinya menekan layar HP nya mengetikkan beberapa kata kunci. Lalu dia tahu ada aliran lain di agamanya yang dianggap sesat dan bukan islam. Dia melihat gambar laki-laki yang menari berputar dengan gaun semata kaki dan topi yang memanjang. Oh ini yang dimaksud mabuk cinta pada Allah. Ada rasa tertarik dalam dirinya, kenapa ada kelompok yang bisa berbeda dalam mendefinisikan Tuhan padahal berada dalam agama yang sama?
-
Beberapa minggu kemudian, Aruna mengikuti les privat berbagai Bahasa untuk kelengkapan lamaran kerjanya, dia mengambil berbagai Bahasa asing, salah 1 nya Bahasa mandarin. Laoshi atau sebutan guru Bahasa mandarinnya mengajarkan Aruna cara membaca karakter-karakter rumit di huruf Mandarin.
Hari ini di akhir kelas ada diskusi menarik dengan Laoshi, mereka membahas suatu prinsip universal alam semesta bernama Tao, dimana semua itu berpasang-pasangan, benar dan salah adalah dualitas yang saling melengkapi keseimbangan kehidupan. Tujuan manusia hidup hanya untuk hidup selaras dengan jalan Tao dalam dirinya. Harmonis dengan alam, sederhana dan beradaptasi dengan perubahan, mengutamakan kebajikan dalam diri dan dengan selaras dalam Tao ini lah manusia bisa ’naik terangkat’ dalam pencerahan kebahagiaan abadi.
Penjelasan ini hampir semua bisa diterima Aruna selain ‘naik terangkat’ yang tak bisa dipahaminya, apakah saat kita sudah di puncak Tao kita akan naik terbang ke langit? Logika nya belum bisa menerima ini.
Aruna menyadari ternyata ada berbagai cara bisa digapai menuju Tuhan. Entah yang mana yang paling benar tapi semua sama benarnya di mata masing-masing hambanya. Dan ini adalah definisi paling tepat baginya. Dia bisa menerima sekaligus tidak bisa menerima berbagai ajaran yang dilihatnya. dan tidak seharusnya dia menghakimi siapa yang paling tepat, siapa yang tersesat. Yang penting tidak mengganggu satu sama lain.
-
Beberapa minggu kemudian, kisah cintanya hancur lagi, setelah kisah singkat harapan dari kakak kelasnya dulu. Ada ketertarikan, namun serta-merta langsung diputus begitu saja karena Aruna tidak dalam jalur hijrah yang sama. “cari yang sekufu”, katanya.
Malam itu Aruna mengendarai mobilnya sendirian. Lagu mercusuar – Kunto Aji melantun berulang-ulang di dalam mobilnya.
Dari yang sudah-sudah, Cinta hanyalah bualan..
Dari yang sudah-sudah, hanya rasa tanpa tujuan..
Aku merasa sedang pulang..
Sampai nanti sampai kita bertemu kembali
Sampai nanti cahaya mu menuntunku lagi…
Aruna menangis tersedu-sedu sambil meneriakkan bait lagu yang sama diulang-ulang. Malam itu dia sangat sedih, bukan karena hubungan dengan kakak kelasnya yang kandas. Lebih dari itu, rasanya ada jurang lebar dalam dirinya yang bertanya,
Pulang kemana yang selama ini kurindukan?
“Kita tidak boleh mencintai Allah, karena cinta itu bikin gila dan orang gila bisa berbuat tidak pantas! Kita harus tunduk, takut dan malu pada Allah atas semua perbuatan kita!”
Aruna duduk di dalam masjid itu Bersama Febri, temannya yang mengajaknya hadir di kajian pertamanya. Aruna memakai gaun Panjang bunga-bunga dan jilbab Panjang sepinggang dia merasa cantik. Sebelumnya dia teringat perasaannya saat mendatangi komplek bazar di luar masjid, saat mencoba-coba penutup wajah yang hanya menunjukkan sepasang matanya saja. Aruna melihat sekeliling, orang-orang dengan pakaian yang sama. Namun punggung kaki Aruna sedikit terbuka karena dia lupa pakai kaus kaki. Aruna benar-benar merasa malu dan bersalah di sekeliling orang dengan pakaian tertutup itu. Punggung kakinya terasa dingin dan telanjang.
Apakah ini yang dimaksud rasa takut, malu dan bersalah pada Allah yang dimaksudkan ustadz ini?, pikir Aruna.
Tapi entah kenapa dia jadi semakin tertarik mengetahui kenapa Tuhan tak boleh dicintai. Jarinya menekan layar HP nya mengetikkan beberapa kata kunci. Lalu dia tahu ada aliran lain di agamanya yang dianggap sesat dan bukan islam. Dia melihat gambar laki-laki yang menari berputar dengan gaun semata kaki dan topi yang memanjang. Oh ini yang dimaksud mabuk cinta pada Allah. Ada rasa tertarik dalam dirinya, kenapa ada kelompok yang bisa berbeda dalam mendefinisikan Tuhan padahal berada dalam agama yang sama?
-
Beberapa minggu kemudian, Aruna mengikuti les privat berbagai Bahasa untuk kelengkapan lamaran kerjanya, dia mengambil berbagai Bahasa asing, salah 1 nya Bahasa mandarin. Laoshi atau sebutan guru Bahasa mandarinnya mengajarkan Aruna cara membaca karakter-karakter rumit di huruf Mandarin.
Hari ini di akhir kelas ada diskusi menarik dengan Laoshi, mereka membahas suatu prinsip universal alam semesta bernama Tao, dimana semua itu berpasang-pasangan, benar dan salah adalah dualitas yang saling melengkapi keseimbangan kehidupan. Tujuan manusia hidup hanya untuk hidup selaras dengan jalan Tao dalam dirinya. Harmonis dengan alam, sederhana dan beradaptasi dengan perubahan, mengutamakan kebajikan dalam diri dan dengan selaras dalam Tao ini lah manusia bisa ’naik terangkat’ dalam pencerahan kebahagiaan abadi.
Penjelasan ini hampir semua bisa diterima Aruna selain ‘naik terangkat’ yang tak bisa dipahaminya, apakah saat kita sudah di puncak Tao kita akan naik terbang ke langit? Logika nya belum bisa menerima ini.
Aruna menyadari ternyata ada berbagai cara bisa digapai menuju Tuhan. Entah yang mana yang paling benar tapi semua sama benarnya di mata masing-masing hambanya. Dan ini adalah definisi paling tepat baginya. Dia bisa menerima sekaligus tidak bisa menerima berbagai ajaran yang dilihatnya. dan tidak seharusnya dia menghakimi siapa yang paling tepat, siapa yang tersesat. Yang penting tidak mengganggu satu sama lain.
-
Beberapa minggu kemudian, kisah cintanya hancur lagi, setelah kisah singkat harapan dari kakak kelasnya dulu. Ada ketertarikan, namun serta-merta langsung diputus begitu saja karena Aruna tidak dalam jalur hijrah yang sama. “cari yang sekufu”, katanya.
Malam itu Aruna mengendarai mobilnya sendirian. Lagu mercusuar – Kunto Aji melantun berulang-ulang di dalam mobilnya.
Dari yang sudah-sudah, Cinta hanyalah bualan..
Dari yang sudah-sudah, hanya rasa tanpa tujuan..
Aku merasa sedang pulang..
Sampai nanti sampai kita bertemu kembali
Sampai nanti cahaya mu menuntunku lagi…
Aruna menangis tersedu-sedu sambil meneriakkan bait lagu yang sama diulang-ulang. Malam itu dia sangat sedih, bukan karena hubungan dengan kakak kelasnya yang kandas. Lebih dari itu, rasanya ada jurang lebar dalam dirinya yang bertanya,
Pulang kemana yang selama ini kurindukan?
Other Stories
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...