Bab 7 : Awal Mula Kegilaan
2018
Tubuh mereka hanya berbalut selembar kain putih lebar, Aruna dan teman-temannya sampai di pulau ini. Di malam yang dingin itu mereka mandi di kolam dalam area Pura itu, katanya mandi disini bisa membersihkan diri dari energi negatif. Area pura itu bersih dan gelap, ada beberapa bunga dan wadah anyaman janur diletakkan di beberapa titik. Patung-patung batu gelap. Hanya mereka berlima yang mandi tengah malam disitu. Ini adalah pengalaman baru bagi Aruna yang tidak pernah mengunjungi pulau ini sebelumnya.
Aruna berpikir kembali tentang kegilaannya memutuskan untuk ikut di perjalanan gila ini dengan sahabatnya. Di tengah kondisi finansialnya yang semakin mengkhawatirkan, dia malah memutuskan menghabiskan sisa-sisa tabungannya untuk ikut berkendara berbulan-bulan melewati berbagai pulau di Indonesia.
Ada rasa bahagia saat berada di kota asing, dengan logat dan budaya yang jauh berbeda dengan dirinya. Rasanya hidupnya benar-benar Bahagia dan berwarna menjelajah dunia begitu luas. Ada rasa diterima oleh orang-orang asing di tiap kota yang dikunjunginya.
Ah.. andai saja aku hidup disini, dia menanam mimpi di tiap kota yang dikunjunginya, untuk pergi jauh dari kota kelahirannya.
Sebelumnya, kehidupannya hampir sempurna dirantau , andai saja dia tidak kembali ke kota asalnya karena Ibunya yang meninggal dunia, namun sebagai anak tertua ada rasa tidak tega dan bersalah jika harus hidup berjauhan dengan ayah dan adik perempuannya. Sebagai anak pertama Aruna merasa harus memegang tanggung jawab keberlangsungan keluarganya.
Kembali ke kota asal memadamkan gairahnya berkarir. Sulitnya mencari pekerjaan karena lowongan pekerjaan hanya dibagikan untuk ‘orang dalam’, tidak ada kompetisi sehat berdasarkan kemampuan seperti yang dialaminya sebelumnya di Ibu Kota. Belum lagi dia harus menelan pil pahit kesenjangan upah yang tidak layak dengan kemampuan diri dan pendidikannya, apakah aku harus selamanya hidup seperti ini? pertanyaan yang sama terus terulang di kepalanya saat dia berpindah pada profesi apapun. Dia bekerja dengan setengah hati, memberontak pada atasan karena aturan – aturan yang kolot dan drama tak berkesudahan. Hidupnya hanya seperti robot, yang bekerja autopilot.
Ada 1 harapannya bekerja sebelum memulai perjalanan ini, suatu pekerjaan yang dijanjikan oleh saudaranya sendiri. Namun apa yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan yang diterima. Aruna harus berusaha sedemikian rupa mengambil berbagai sertifikat dengan biaya yang tidak sedikit, belum lagi harus menempuh jarak puluhan kilometer sendirian pulang pergi untuk tes masuk kerja. Padahal salah 1 pemimpin perusahaan adalah saudaranya sendiri.
Perlakuan berbeda dirasakan oleh sepupu Aruna yang juga mendaftar di perusahaan yang sama. Lain dengan Aruna yang mandiri dan mengikuti semua aturan tanpa bertanya. Orang tua saudaranya ini memaksa dengan berbagai cara sedemikian rupa agar anaknya masuk ke dalam perusahaan. Dan akhirnya memang masuk.
Aruna bertanya dalam hatinya, kenapa hanya mereka yang jahat dan menjilat yang mendapat kesuksesan? Dimana Tuhan yang Maha Adil?
-
2025
Setelah perenungannya atas perjalanan karirnya, ternyata Aruna menyadari, Tuhan itu adil dan akan mengabulkan keinginan mereka yang mau mengusahakan niatnya.
Ternyata ini bukan soal benar-salah. Para penjahat dan penjilat mendapatkan apa yang mereka inginkan karena mereka sepenuh hati mengusahakan apa yang mereka impikan dengan berbagai cara.
Terlepas dari apapun yang terjadi setelah mereka menuruti keinginan liar itu. Tuhan adil karena ada peraturan tak terlihat yang mengikat semua makhluk di alam semesta. Si penjahat dan penjilat mungkin terlihat mendapat kesuksesan, tapi kita tak tahu apa neraka yang terjadi dalam hidupnya. Dan tak seharusnya kita mengurusi surga-neraka orang lain.
Setelah menghitung alur waktu dengan berbagai hitungan kuno, ternyata momen awal mandi ke pura itu salah 1 titik balik hidupnya, sepulangnya dari sana hidupnya benar-benar ‘dibersihkan’ dari berbagai sisi, baik finansial, keluarga, rumah, tubuh, pasangan, pertemanan, karir. Rasanya benar-benar dikosongkan sampai sekosong-kosongnya. Hingga membentuk dirinya yang saat ini.
Tubuh mereka hanya berbalut selembar kain putih lebar, Aruna dan teman-temannya sampai di pulau ini. Di malam yang dingin itu mereka mandi di kolam dalam area Pura itu, katanya mandi disini bisa membersihkan diri dari energi negatif. Area pura itu bersih dan gelap, ada beberapa bunga dan wadah anyaman janur diletakkan di beberapa titik. Patung-patung batu gelap. Hanya mereka berlima yang mandi tengah malam disitu. Ini adalah pengalaman baru bagi Aruna yang tidak pernah mengunjungi pulau ini sebelumnya.
Aruna berpikir kembali tentang kegilaannya memutuskan untuk ikut di perjalanan gila ini dengan sahabatnya. Di tengah kondisi finansialnya yang semakin mengkhawatirkan, dia malah memutuskan menghabiskan sisa-sisa tabungannya untuk ikut berkendara berbulan-bulan melewati berbagai pulau di Indonesia.
Ada rasa bahagia saat berada di kota asing, dengan logat dan budaya yang jauh berbeda dengan dirinya. Rasanya hidupnya benar-benar Bahagia dan berwarna menjelajah dunia begitu luas. Ada rasa diterima oleh orang-orang asing di tiap kota yang dikunjunginya.
Ah.. andai saja aku hidup disini, dia menanam mimpi di tiap kota yang dikunjunginya, untuk pergi jauh dari kota kelahirannya.
Sebelumnya, kehidupannya hampir sempurna dirantau , andai saja dia tidak kembali ke kota asalnya karena Ibunya yang meninggal dunia, namun sebagai anak tertua ada rasa tidak tega dan bersalah jika harus hidup berjauhan dengan ayah dan adik perempuannya. Sebagai anak pertama Aruna merasa harus memegang tanggung jawab keberlangsungan keluarganya.
Kembali ke kota asal memadamkan gairahnya berkarir. Sulitnya mencari pekerjaan karena lowongan pekerjaan hanya dibagikan untuk ‘orang dalam’, tidak ada kompetisi sehat berdasarkan kemampuan seperti yang dialaminya sebelumnya di Ibu Kota. Belum lagi dia harus menelan pil pahit kesenjangan upah yang tidak layak dengan kemampuan diri dan pendidikannya, apakah aku harus selamanya hidup seperti ini? pertanyaan yang sama terus terulang di kepalanya saat dia berpindah pada profesi apapun. Dia bekerja dengan setengah hati, memberontak pada atasan karena aturan – aturan yang kolot dan drama tak berkesudahan. Hidupnya hanya seperti robot, yang bekerja autopilot.
Ada 1 harapannya bekerja sebelum memulai perjalanan ini, suatu pekerjaan yang dijanjikan oleh saudaranya sendiri. Namun apa yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan yang diterima. Aruna harus berusaha sedemikian rupa mengambil berbagai sertifikat dengan biaya yang tidak sedikit, belum lagi harus menempuh jarak puluhan kilometer sendirian pulang pergi untuk tes masuk kerja. Padahal salah 1 pemimpin perusahaan adalah saudaranya sendiri.
Perlakuan berbeda dirasakan oleh sepupu Aruna yang juga mendaftar di perusahaan yang sama. Lain dengan Aruna yang mandiri dan mengikuti semua aturan tanpa bertanya. Orang tua saudaranya ini memaksa dengan berbagai cara sedemikian rupa agar anaknya masuk ke dalam perusahaan. Dan akhirnya memang masuk.
Aruna bertanya dalam hatinya, kenapa hanya mereka yang jahat dan menjilat yang mendapat kesuksesan? Dimana Tuhan yang Maha Adil?
-
2025
Setelah perenungannya atas perjalanan karirnya, ternyata Aruna menyadari, Tuhan itu adil dan akan mengabulkan keinginan mereka yang mau mengusahakan niatnya.
Ternyata ini bukan soal benar-salah. Para penjahat dan penjilat mendapatkan apa yang mereka inginkan karena mereka sepenuh hati mengusahakan apa yang mereka impikan dengan berbagai cara.
Terlepas dari apapun yang terjadi setelah mereka menuruti keinginan liar itu. Tuhan adil karena ada peraturan tak terlihat yang mengikat semua makhluk di alam semesta. Si penjahat dan penjilat mungkin terlihat mendapat kesuksesan, tapi kita tak tahu apa neraka yang terjadi dalam hidupnya. Dan tak seharusnya kita mengurusi surga-neraka orang lain.
Setelah menghitung alur waktu dengan berbagai hitungan kuno, ternyata momen awal mandi ke pura itu salah 1 titik balik hidupnya, sepulangnya dari sana hidupnya benar-benar ‘dibersihkan’ dari berbagai sisi, baik finansial, keluarga, rumah, tubuh, pasangan, pertemanan, karir. Rasanya benar-benar dikosongkan sampai sekosong-kosongnya. Hingga membentuk dirinya yang saat ini.
Other Stories
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...