Aruna Yang Terus Bertanya

Reads
1.1K
Votes
1
Parts
9
Vote
Report
Aruna yang terus bertanya
Aruna Yang Terus Bertanya
Penulis Juwita Septy Ardini Nasution

Bab 8 : Kita Mulai Lagi, Ya?

2025

“Aku ngerasa kita hidup bersama namun semakin jauh”

Kata-kata itu terlontar dari mulut suaminya, setelah beberapa minggu hidup terpisah.

Alarm di kepala Aruna meledak, Aku mengulang pola trauma generasi yang sama.

Pernikahan memang berbeda dengan masa pacaran. Dia dan suaminya baik-baik saja, baru kali ini dia benar-benar merasa didengar dan dimengerti oleh orang lain seutuhnya. Dan dia juga teramat kagum dengan manusia yang menjadi teman tidurnya 5 tahun belakangan ini. Mereka saling mencintai, walau hubungan mereka banyak disalahpahami orang lain.

Semua berawal dari percikan ketertarikan, penasaran, rasa cinta yang mendalam, hingga melanjutkan komitmen ke jenjang lebih tinggi. Dari yang awalnya tidak saling berbagi cerita hingga tidak ada lagi yang diceritakan.

Pernikahan membunuh romansa, rutinitas membuat bosan.

Sama seperti anak yang baik dan ceria pada teman-temannya diluar rumah, namun menjadi murung dan pemarah saat bertemu keluarganya di rumah. Padahal semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh keluarga.

Menikah berarti siap menghadapi anak kecil dalam diri pasangan yang terluka, sedang anak kecil dalam diri kita mencari obat lewat cinta dari pasangan.

Selama masih ada kebergantungan seperti ini, selamanya mereka menggantungkan kebahagiaan pada 1 sama lain. Ini lah yang membuat hubungan terasa berat. Karena ada rasa ‘tanggung jawab’. Rasa ‘tanggung jawab’ artinya hidup menjadi peran, suami-istri, ayah-ibu. Hidup hanya sebatas pemenuhan kebutuhan harian, namun ada jiwa yang semakin kering secara emosional. Atas hal-hal yang dipendam atau diwajarkan. Mending tidak usah dibahas, takut jadi ribut, padahal konflik adalah pintu menuju solusi. Kedua kekasih itu membunuh perasaannya,

Hidup berjalan seperti sudah ada polanya. Pagi, bangun tidur, sarapan - berangkat kerja – malam, dirumah tidur. Rutinitas dapat ditanggapi berbeda sesuai kondisi batin kita. Bagi orang yang masa lalunya penuh chaos dan drama, rutinitas membosankan itu memuakkan, karena mereka butuh drama dan gairah untuk merasa hidup.

Sedang bagi mereka yang sudah mengenal luka batinnya, mereka tahu rutinitas adalah kunci hidup yang sehat dan aman karena baik bagi tubuh dan mental.

Dengan inilah ekspektasi “kamu berubah” itu terucap. Karena salah 1 dari mereka berharap masih ada percikan-percikan drama itu. Dan ini adalah hal yang hanya bisa dihadapi oleh diri sendiri.
Jalan jiwa manusia tetap 1, walaupun berbagai peran dialaminya dalam kehidupan. Dan saat manusia menuruti panggilan hatinya, merawat dirinya, disitulah dia bisa berbagi cinta pada orang lain dengan tulus. Tanpa agenda dan tanpa harus dikembalikan dengan jumlah yang sama.

Ketika 2 manusia ini memenuhi panggilan jiwa dalam dirinya, disitulah cinta mereka akan saling menyembuhkan dan menumbuhkan, seperti tanah subur yang menghasilkan hasil bumi terbaik. Segala mimpi dan pemenuhan hidup lahir batin ada dalam hubungan ini.

Saat manusia hanya berharap ‘dilengkapi’ dan ‘disembuhkan’ itu lah yang membebani satu sama lain, namun dogma pernikahan dan rumah tangga membuat manusia terlalu sibuk dengan standar peran yang diagung-agungkan di masyarakat. Seperti potret keluarga bahagia di iklan TV, ayah ibu dan anak yang duduk makan bersama di meja makan, membuat manusia mengukur kebahagiaannya dari situ. Padahal tiap manusia punya ukuran bahagia dan suksesnya masing-masing. Bisa saja keluarga tadi lebih bahagia jika makan di kamar masing-masing, kenapa harus memaksakan di meja yang sama?

Aruna menatap suaminya dengan ekspresi tidak percaya, bagaimana mungkin suaminya merasa tidak bahagia, dia mengingat apa yang sudah dilakukannya. “Aku sudah melakukan yang terbaik, aku merawat kebutuhan kita sampai aku tidak punya waktu untuk diriku sendiri!”

“Justru itu masalahnya, aku pengen liat kamu yang dulu yang lucu, cantik dan manja, bukan yang sok bijak kayak gini…”, ratap suaminya.

Aruna terkesiap, healing nya selama ini membuat dia sibuk menggurui suaminya, sibuk menyadarkan orang sekitarnya. Dia juga sangat mengejar tampilan damai, bahagia dan tercerahkan. Dia menegang kebutuhan dirinya dan selalu mengurus orang lain, tidak jarang hal ini membuatnya meledak.

Dia terlalu sibuk belajar dan mengorek luka sampai lupa apa yang paling membahagiakan dirinya sendiri. Padahal saat dia menatap cermin, dia masih melihat bayangan putus asa yang sama. Dimana self love yang selama ini dia gaungkan?

Semakin lama menikah Aruna semakin menyadari, salah 1 alasan kenapa kita semena-mena dengan pasangan kita adalah karena kita melihat pasangan sebagai diri sendiri. Tidak menjaga penampilan dan sikap lagi di depan satu sama lain. Dan itulah yang menjadi cermin bagaimana kita memperlakukan diri sendiri.

Orang yang mencintai dan merawat dirinya akan otomatis merawat hubungan nya dengan orang terdekatnya, sedang orang yang tidak peduli dengan diri sendiri akan tidak peduli dengan hubungannya dengan orang terdekatnya, karena kita menganggap orang terdekat = kita.

Dan inilah yang terjadi pada hubungan Aruna dan suaminya, 2 kekasih yang terlalu sibuk bertanggung jawab pada yang lain dan melupakan dirinya sendiri, hidup tanpa tujuan yang ingin dilakukan nanti, hanya menghadapi rutinitas tanpa arah, mencari bahagia dan menghadapi sepi sendiri-sendiri.

Aruna sadar, di momen ini dia bisa mengambil sikap yang berbeda. Apakah meneruskan kekeraskepalaannya seperti orang tuanya dulu. Yang membuat mereka hidup terpisah bertahun-tahun hingga akhir hayat, memendam benci tapi rindu yang tak kunjung usai. Atau memilih untuk membuka diri dan melunakkan hati untuk menerima semua keluhan dan emosi orang yang dipilihnya menjadi suami ini apa adanya.

Dan di momen ini Aruna sadar dan bersyukur, dia memiliki kesempatan untuk saling mendengar satu sama lain, hal yang tidak dimiliki pernikahan orang tuanya dulu.

Keterampilan untuk membuka diri, mengakui apa yang benar-benar kita rasakan ternyata tidak dimiliki semua orang. Karena dunia menekankan standar orang dewasa yang tangguh dan membunuh perasaan. Padahal efek langsungnya paling kita rasakan, yaitu tubuh yang sakit adalah jeritan dari rasa yang kita abaikan.

Aruna bersyukur di balik hubungannya yang tidak sempurna satu sama lain, dia dan suaminya sama-sama mau membuka diri dan mengerti satu sama lain.

3 malam selanjutnya mereka menumpahkan segala keluhan dan menyusun ulang hubungan, berbagai sikap dan luka yang tak pernah disampaikan dikeluarkan, saling menerima dan memvalidasi emosi satu sama lain. Jujur pada diri sendiri atas semua yang dipendam dan dirasakan. Sampai rasanya benar-benar kosong.

Hubungan mereka mungkin masih tak seceria dulu, tapi ada rasa ringan dan saling mendukung mimpi masing-masing. Mereka menjadi 2 pemain dalam 1 tim yang sama. Tidak ada lagi beban-beban tanggung jawab dan keharusan berbuat baik. Mereka menegakkan batasan dan aturan, dan saling menghargai batasan masing-masing. Ada masanya untuk bilang tidak dan memenuhi kebutuhan diri sendiri masing-masing.

Aruna belajar mengatur waktu untuk mengerjakan mimpinya sendiri, membuang rasa bersalah jika dia tidak mengerjakan peran istri sempurna dirumah. Menerima bahwa dia tidak sempurna dan itu tidak apa-apa.

Aruna menatap cermin, wajahnya dewasa ini semakin lama semakin mirip almarhum ibunya. Ibu yang selalu bertengkar dengannya. Dia menatap sorot mata lelah di bayangan dalam cermin itu. Wajah yang lelah ditempa kehidupan, melupakan kebahagiaan dirinya sendiri. Anehnya, semakin dia merasa ingin memutus pola trauma generasi, semakin kuat dia melihat pola turunan yang diwariskan dari ibu dan neneknya. Semua kesengsaraan, amarah, rasa benci yang terlihat itu adalah jeritan dari diri yang tak puas dengan dirinya sendiri. Tidak terpenuhi kebutuhannya, dan membuatnya bersikap marah pada orang sekitarnya dan dunia.

Dia menatap ibu, neneknya dan semua leluhur garis keturunannya ada dalam bayangan cermin itu, mewujud pada rupa fisik dan emosi dalam dirinya. Ketidak bahagiaannya, ketidakpuasannya akan dirinya sendiri adalah ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan ibu, nenek dan leluhur perempuannya.

Aruna akhirnya menyadari, merawat dan mencintai diri ternyata bukan hal egois, tapi inilah yang memulihkan dirinya, garis keturunannya dan dunia.

Aruna juga menyadari hubungannya dan suaminya mencapai titik regenerasi komitmen yang sehat. Narasi sehidup semati jika dilihat dari sudut pandang dangkal adalah menerima orang yang sama sejak kita menikah sampai maut memisahkan, nyatanya manusia akan selalu berubah dan bertumbuh. Dan dalam perjalanannya jika masih ada yang harus dipelajari dari 1 sama lain, mau belajar mengerti dan menerima disitulah komitmen beregenerasi. Sedangkan mempertahankan komitmen yang sudah usang hanya karena ekspektasi dunia hanya akan memaksakan hubungan menjadi tidak sehat dan kering. Seperti ayah dan ibunya yang memilih jalan itu.

Aruna tidak lagi melihat dirinya sebagai istri dan anak, dia adalah seorang jiwa yang memiliki tujuan dalam hidupnya sendiri, orang-orang yang hadir dalam hidupnya adalah bagian dari kurikulum pelajaran jiwanya.

Aruna belajar untuk hanya mengendalikan apa yang bisa dikendalikannya, yaitu pikirannya, perasaannya, ucapannya dan tingkah lakunya. Apapun yang diluar dirinya dia serahkan pada Sang Maha pemilik Hati.

Dan itu membuatnya merasa jauh lebih ringan dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya.


Other Stories
Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Cerella Flost

Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Download Titik & Koma