BAB 2. DIJEMPUT IBU
Dika menyeringai serigala. Winarti bergidik ngeri. Air matanya merebak berjatuhan. Tangis gadis itu kemudian pecah saat coba mempertahankan pakaian yang ditarik paksa.
"Kakung...."Winarti segugukan, membayangkan raut teduh Mbah Darso.
Selama ini hanya lelaki tua itu yang peduli padanya. Tega sekali Kakung pergi. Sekarang tidak ada lagi sosok pelindung. Dunia begitu kejam untuk Winarti.
Brakk!
Tiba-tiba daun pintu terbanting sangat keras. Seolah ada seseorang yang sengaja melakukannya dengan penuh amarah.
Pyarr!
Sebuah figura fhoto di atas meja ikut terhempas jatuh bersama benda-benda lainnya. Kaca pecah berserakan ke lantai. Fas fhoto hitam putih wajah Mbah Darso semasa masih muda turut tergeletak.
Terperanjat Dika menyaksikan semua itu. Cengkraman pada tubuh Winarti spontan dia lepaskan. Sambil merapikan resluiting celana matanya menyapu sekeliling ruangan. Tidak ada angin, tidak ada hujan pintu tiba-tiba terbanting sebegitunya. Kekuatan dari mana?
Aneh.
Di luar sepi, hanya derik jangkrik dan kesiur angin malam yang menelisik dedaunan. Nafsu yang membakar ubun-ubun Dika seketika lenyap bak disembur segalon air. Apalagi saat matanya bersirobok dengan mata Mbah Darso dalam foto, yang seakan sedang menatap tajam.
Bulu kuduk Dika seketika merinding. Jangan-jangan arwah Mbah Darso masih gentayangan sebelum genap 40 hari kematiannya. Arwah itu mungkin saja marah melihat cucu kesayangan akan dikerjai Dika. Hiiih, Dika bergidik.
Si pemuda brengsek tapi luar biasa penakut itu tergesa keluar rumah lewat pintu belakang. Namun langkahnya kemudian berhenti, jantungnya serasa melorot jatuh
"Huuwaaaah han-hantu!" Dia menjerit sejadi-jadinya.
Currr....
Sekarang pemuda itu terkencing-kencing.
Sesosok hantu perempuan berdiri menghadang di kegelapan pekarangan. Rambut panjang semrawut menutupi sebagian wajah, terlihat sangat menakutkan. Manik mata menatap tajam.
Gemetar hebat tubuh Dika, tetapi dia masih bisa berjalan menyisi melewati, kemudian terpontal-pontal berlari melintasi pekarangan yang memisahkan rumahnya diiringi satu tatapan dingin.
"Kenapa dia?" gumam perempuan yang dikira Dika penampakan hantu. Disibak rambut yang menutupi pandangan, sebelum melangkah masuk melewati pintu belakang yang masih menganga.
Klewat takut membuat Dika tak bisa lagi membedakan antara setan dan manusia. Perempuan yang berdiri di belakang rumah itu Sari -- ibu Winarti yang sudah lama tak pulang. Seorang supir truk kenalan Sari membawakan kabar tentang Mbah Darso, bahwa beliau telah berpulang. Mengetahui Winarti kini tinggal sendiri, Sari segera berangkat.
Winarti belum menyadari kehadiran sang ibu yang sedang memerhatikan dirinya dari sudut kusen pintu. Sari menghela napas, mendapati buah hati kini terlihat lebih kurus dari sebelum terakhir mereka bertemu.
Sedu sedan tangis Winarti terdengar pilu, membuat Sari bertanya-tanya. Apa gerangan yang telah terjadi pada gadis kecil itu?
Barusan Dika anak tetangga keluar dari pintu belakang rumah mereka seperti orang kesurupan. Lalu di dalam kamar dia melihat Winarti hanya mengenakan pakaian dalam.
Tanpa suara Sari melangkah masuk. Tubuhnya lalu membungkuk untuk memungut sehelai baju rumahan yang terongok di lantai. Darah Sari seketika mendidih melihat kondisi baju itu telah sobek. Naluri seorang ibu bicara, jika sesuatu hal buruk telah menimpa anaknya.
"Winarti, ini ibu, Nak," desis Sari tercekat, dari sisi ranjang. Berbagai rasa berkecamuk dalam dada.
Winarti tak bergeming. Kelopak mata yang telah basah terpejam rapat. Dia berbaring meringkuk, dengan kedua tangan menyilang memeluk diri sendiri. Tubuh kecil itu kedinginan.
Bukannya Winarti tak mendengar suara ibu. Tapi , Winarti mengira itu hanya imajinasi. Dia terlalu sering berkhayal ibu ada di dekatnya, terlalu sering berkhayal ibu selalu ada di rumah itu tinggal bersama dia juga Kakung. Pun saat tubuhnya dipeluk oleh Sari, Winarti masih tak bereaksi
.
"Apa yang sudah Dika lakukan ke kamu, Nak? Jawab!" Sari mengguncang pelan kedua bahu Winarti.
"Ibu..." Winarti mengerjapkan mata.
"Iya ini ibu, Nak." Sari membiarkan Winarti meraba wajahnya.
"Kamu diapakan sama Dika?!" ulang Sari, menangkup kedua pipi tirus Winarti.
Namun, si anak menggeleng keras. Dika sangat menakutkan. Dia bisa mati jika berani mengadu ke ibu. Winarti tidak mau mati sekarang, Winarti masih ingin hidup sebelum cita-citanya jadi dokter tercapai.
Tak mendapat jawaban, Sari hanya bisa melenguh dalam hati. Lalu diamatinya sprei kusut bercorak batik yang melapisi kasur. Tidak ada noda yang mencurigakan. Pakaian dalam di tubuh sang anak pun masih utuh. Berkerut dahi Sari memikirkan penyebab Dika tampak begitu ketakutan. Pemuda itu sepertinya tidak sempat melakukan niat jahatnya.
****
Bel pertanda pulang berbunyi panjang. Pintu-pintu kelas terbuka. Sejurus kemudian lorong sekolah berisik oleh langkah tergesa anak-anak berseragam merah putih yang saling mendahului.
Winarti tampak di antara mereka Kali ini bocah perempuan itu terlihat lebih bersemangat. Senang sekali ibu sudah pulang dan sekarang sedang menunggu di rumah. Kira-kira ibu masak apa ya hari ini?
Senyum Winarti mengembang tanpa sadar. Dia tidak peduli pada siapa pun yang mengatai ibunya lotek, peyek, perempuan sandal ataupun sebutan aneh lainnya. Winarti tetap sayang ibu.
'Lihatlah, ibuku gak seperti yang kalian katakan. Mana rok pendek? Gak ada rok pendek, ' Winarti membatin sembari menelengkan kepala memindai penampilan sang ibu, lalu mencebik kecil. Sejurus kemudian mata beningnya membulat sempurna.
"Ibu?!" Setengah memekik suara Winarti.
Perempuan yang berdiri beberapa meter di depan sana, ternyata memang ibu. Sempat Winarti mengira itu hanya imajinasinya belaka, saking senangnya bisa berkumpul ibu lagi. Di mana-mana dia seolah melihat ada ibu.
Sama sekali dia tak menyangka kalau ibu akan menjemput dirinya di sekolah siang ini. Tangan ibu tampak keberatan membawa sebuah koper besar entah berisi apa. Mirip orang mudik lebaran.
"Kamu ikut Ibu, kita pindah. Berkas sekolahmu sudah ibu urus," ucap Sari serak, menyeka keringat yang membasahi leher.
Di siang yang panas itu mereka berjalan bersisian menapaki trotoar. Makan siang sebentar di sebuah warung kaki lima, lalu berdiri lama di halte menunggu hingga angkot lewat. Ibu tak banyak bicara. Ada kesedihan yang terpancar dari sorot matanya. Membuat Winarti enggan bertanya. Kenapa mereka harus seburu-buru ini meninggalkan rumah?
Winarti tidak keberatan tinggal bersama ibu. Sedari ibu pergi dulu, dia sangat berharap bisa ikut. Gadis kecil itu terlihat pasrah. Apa pun yang terjadi yang penting sekarang dia sudah bersama ibu lagi. Hanya saja, Winarti akan sangat merindukan kenangan bersama Kakung di rumah mereka.
Sari menghela napas berat, memandangi wajah sendu gadis kecilnya. Dia terpaksa melakukan ini, sebab tidak ingin Winarti sampai menyaksikan rumah mereka telah rusak karena diamuk warga. Betapa keadaan hampir tidak terkendali. Mereka beramai-ramai datang mengusir Sari dari rumahnya sendiri. Para tetangga tak ingin dia berlama-lama di sana. Dia harus segera pergi karena dianggap akan membawa malapetaka bagi yang lain.
Sayur lodeh dan ayam goreng kesukaan Winarti, belum tersentuh sama sekali. Tertinggal begitu saja di dapur. Sari sampai lupa membawanya.
****
Sebuah mobil taksi berlogo burung biru meluncur pelan menembus gerimis tipis. Memasuki kawasan wisata yang berada di pinggiran kota dengan jalan yang naik turun. Dari balik kaca mobil yang tertutup kabut, tampak hamparan hijau kebun teh. Villa-villa cantik serta rumah yang terselip di antaranya terlihat hanya sebesar kuku.
Hawa dingin memeluk. Panorama alam memikat berupa bukit-bukit hijau, terlewatkan begitu saja oleh Winarti, yang tengah tertidur pulas sembari memeluk erat pinggang sang ibu. Sepanjang jalan hujan gerimis mengiringi perjalanan mereka.
"Losmen Kembang Kuning, iya, Buk?" Pak supir menatap Sari dari spion.
Tempat yang dituju tinggal satu belokan lagi. Sudah ke sekian kali dia menanyakan hal yang sama. Khawatir kesalahan ada pada kupingnya. Masa iya ibu dan anak ini mendatangi tempat esek-esek? Dia membatin.
To be continued....
"Kakung...."Winarti segugukan, membayangkan raut teduh Mbah Darso.
Selama ini hanya lelaki tua itu yang peduli padanya. Tega sekali Kakung pergi. Sekarang tidak ada lagi sosok pelindung. Dunia begitu kejam untuk Winarti.
Brakk!
Tiba-tiba daun pintu terbanting sangat keras. Seolah ada seseorang yang sengaja melakukannya dengan penuh amarah.
Pyarr!
Sebuah figura fhoto di atas meja ikut terhempas jatuh bersama benda-benda lainnya. Kaca pecah berserakan ke lantai. Fas fhoto hitam putih wajah Mbah Darso semasa masih muda turut tergeletak.
Terperanjat Dika menyaksikan semua itu. Cengkraman pada tubuh Winarti spontan dia lepaskan. Sambil merapikan resluiting celana matanya menyapu sekeliling ruangan. Tidak ada angin, tidak ada hujan pintu tiba-tiba terbanting sebegitunya. Kekuatan dari mana?
Aneh.
Di luar sepi, hanya derik jangkrik dan kesiur angin malam yang menelisik dedaunan. Nafsu yang membakar ubun-ubun Dika seketika lenyap bak disembur segalon air. Apalagi saat matanya bersirobok dengan mata Mbah Darso dalam foto, yang seakan sedang menatap tajam.
Bulu kuduk Dika seketika merinding. Jangan-jangan arwah Mbah Darso masih gentayangan sebelum genap 40 hari kematiannya. Arwah itu mungkin saja marah melihat cucu kesayangan akan dikerjai Dika. Hiiih, Dika bergidik.
Si pemuda brengsek tapi luar biasa penakut itu tergesa keluar rumah lewat pintu belakang. Namun langkahnya kemudian berhenti, jantungnya serasa melorot jatuh
"Huuwaaaah han-hantu!" Dia menjerit sejadi-jadinya.
Currr....
Sekarang pemuda itu terkencing-kencing.
Sesosok hantu perempuan berdiri menghadang di kegelapan pekarangan. Rambut panjang semrawut menutupi sebagian wajah, terlihat sangat menakutkan. Manik mata menatap tajam.
Gemetar hebat tubuh Dika, tetapi dia masih bisa berjalan menyisi melewati, kemudian terpontal-pontal berlari melintasi pekarangan yang memisahkan rumahnya diiringi satu tatapan dingin.
"Kenapa dia?" gumam perempuan yang dikira Dika penampakan hantu. Disibak rambut yang menutupi pandangan, sebelum melangkah masuk melewati pintu belakang yang masih menganga.
Klewat takut membuat Dika tak bisa lagi membedakan antara setan dan manusia. Perempuan yang berdiri di belakang rumah itu Sari -- ibu Winarti yang sudah lama tak pulang. Seorang supir truk kenalan Sari membawakan kabar tentang Mbah Darso, bahwa beliau telah berpulang. Mengetahui Winarti kini tinggal sendiri, Sari segera berangkat.
Winarti belum menyadari kehadiran sang ibu yang sedang memerhatikan dirinya dari sudut kusen pintu. Sari menghela napas, mendapati buah hati kini terlihat lebih kurus dari sebelum terakhir mereka bertemu.
Sedu sedan tangis Winarti terdengar pilu, membuat Sari bertanya-tanya. Apa gerangan yang telah terjadi pada gadis kecil itu?
Barusan Dika anak tetangga keluar dari pintu belakang rumah mereka seperti orang kesurupan. Lalu di dalam kamar dia melihat Winarti hanya mengenakan pakaian dalam.
Tanpa suara Sari melangkah masuk. Tubuhnya lalu membungkuk untuk memungut sehelai baju rumahan yang terongok di lantai. Darah Sari seketika mendidih melihat kondisi baju itu telah sobek. Naluri seorang ibu bicara, jika sesuatu hal buruk telah menimpa anaknya.
"Winarti, ini ibu, Nak," desis Sari tercekat, dari sisi ranjang. Berbagai rasa berkecamuk dalam dada.
Winarti tak bergeming. Kelopak mata yang telah basah terpejam rapat. Dia berbaring meringkuk, dengan kedua tangan menyilang memeluk diri sendiri. Tubuh kecil itu kedinginan.
Bukannya Winarti tak mendengar suara ibu. Tapi , Winarti mengira itu hanya imajinasi. Dia terlalu sering berkhayal ibu ada di dekatnya, terlalu sering berkhayal ibu selalu ada di rumah itu tinggal bersama dia juga Kakung. Pun saat tubuhnya dipeluk oleh Sari, Winarti masih tak bereaksi
.
"Apa yang sudah Dika lakukan ke kamu, Nak? Jawab!" Sari mengguncang pelan kedua bahu Winarti.
"Ibu..." Winarti mengerjapkan mata.
"Iya ini ibu, Nak." Sari membiarkan Winarti meraba wajahnya.
"Kamu diapakan sama Dika?!" ulang Sari, menangkup kedua pipi tirus Winarti.
Namun, si anak menggeleng keras. Dika sangat menakutkan. Dia bisa mati jika berani mengadu ke ibu. Winarti tidak mau mati sekarang, Winarti masih ingin hidup sebelum cita-citanya jadi dokter tercapai.
Tak mendapat jawaban, Sari hanya bisa melenguh dalam hati. Lalu diamatinya sprei kusut bercorak batik yang melapisi kasur. Tidak ada noda yang mencurigakan. Pakaian dalam di tubuh sang anak pun masih utuh. Berkerut dahi Sari memikirkan penyebab Dika tampak begitu ketakutan. Pemuda itu sepertinya tidak sempat melakukan niat jahatnya.
****
Bel pertanda pulang berbunyi panjang. Pintu-pintu kelas terbuka. Sejurus kemudian lorong sekolah berisik oleh langkah tergesa anak-anak berseragam merah putih yang saling mendahului.
Winarti tampak di antara mereka Kali ini bocah perempuan itu terlihat lebih bersemangat. Senang sekali ibu sudah pulang dan sekarang sedang menunggu di rumah. Kira-kira ibu masak apa ya hari ini?
Senyum Winarti mengembang tanpa sadar. Dia tidak peduli pada siapa pun yang mengatai ibunya lotek, peyek, perempuan sandal ataupun sebutan aneh lainnya. Winarti tetap sayang ibu.
'Lihatlah, ibuku gak seperti yang kalian katakan. Mana rok pendek? Gak ada rok pendek, ' Winarti membatin sembari menelengkan kepala memindai penampilan sang ibu, lalu mencebik kecil. Sejurus kemudian mata beningnya membulat sempurna.
"Ibu?!" Setengah memekik suara Winarti.
Perempuan yang berdiri beberapa meter di depan sana, ternyata memang ibu. Sempat Winarti mengira itu hanya imajinasinya belaka, saking senangnya bisa berkumpul ibu lagi. Di mana-mana dia seolah melihat ada ibu.
Sama sekali dia tak menyangka kalau ibu akan menjemput dirinya di sekolah siang ini. Tangan ibu tampak keberatan membawa sebuah koper besar entah berisi apa. Mirip orang mudik lebaran.
"Kamu ikut Ibu, kita pindah. Berkas sekolahmu sudah ibu urus," ucap Sari serak, menyeka keringat yang membasahi leher.
Di siang yang panas itu mereka berjalan bersisian menapaki trotoar. Makan siang sebentar di sebuah warung kaki lima, lalu berdiri lama di halte menunggu hingga angkot lewat. Ibu tak banyak bicara. Ada kesedihan yang terpancar dari sorot matanya. Membuat Winarti enggan bertanya. Kenapa mereka harus seburu-buru ini meninggalkan rumah?
Winarti tidak keberatan tinggal bersama ibu. Sedari ibu pergi dulu, dia sangat berharap bisa ikut. Gadis kecil itu terlihat pasrah. Apa pun yang terjadi yang penting sekarang dia sudah bersama ibu lagi. Hanya saja, Winarti akan sangat merindukan kenangan bersama Kakung di rumah mereka.
Sari menghela napas berat, memandangi wajah sendu gadis kecilnya. Dia terpaksa melakukan ini, sebab tidak ingin Winarti sampai menyaksikan rumah mereka telah rusak karena diamuk warga. Betapa keadaan hampir tidak terkendali. Mereka beramai-ramai datang mengusir Sari dari rumahnya sendiri. Para tetangga tak ingin dia berlama-lama di sana. Dia harus segera pergi karena dianggap akan membawa malapetaka bagi yang lain.
Sayur lodeh dan ayam goreng kesukaan Winarti, belum tersentuh sama sekali. Tertinggal begitu saja di dapur. Sari sampai lupa membawanya.
****
Sebuah mobil taksi berlogo burung biru meluncur pelan menembus gerimis tipis. Memasuki kawasan wisata yang berada di pinggiran kota dengan jalan yang naik turun. Dari balik kaca mobil yang tertutup kabut, tampak hamparan hijau kebun teh. Villa-villa cantik serta rumah yang terselip di antaranya terlihat hanya sebesar kuku.
Hawa dingin memeluk. Panorama alam memikat berupa bukit-bukit hijau, terlewatkan begitu saja oleh Winarti, yang tengah tertidur pulas sembari memeluk erat pinggang sang ibu. Sepanjang jalan hujan gerimis mengiringi perjalanan mereka.
"Losmen Kembang Kuning, iya, Buk?" Pak supir menatap Sari dari spion.
Tempat yang dituju tinggal satu belokan lagi. Sudah ke sekian kali dia menanyakan hal yang sama. Khawatir kesalahan ada pada kupingnya. Masa iya ibu dan anak ini mendatangi tempat esek-esek? Dia membatin.
To be continued....
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...