Turut Berduka Cinta

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
13
Vote
Report
Penulis Sagara

Chapter 11: Kita Berdua Sudah Bertumbuh

Butuh waktu dua minggu yang terasa seperti dua tahun. Faris dan Reza tidak saling bicara. Reza membatalkan semua rencana taaruf dan Faris kembali ke rutinitasnya sebagai perantara. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Setiap hari, ia menghafal ulang filosofi hidupnya: Kepastian lebih mulia daripada Kerinduan.

Hingga suatu malam, Reza menelepon.

"Gue butuh lo, Ris. Lo harus dateng ke tempat gue sekarang."

Faris bergegas. Ia menemukan Reza duduk di lantai ruang tamunya yang mewah, dikelilingi oleh sketsa-sketsa desain interior Nayla, wajahnya tampak lelah, tetapi matanya lebih damai.

"Dia datang, Ris," kata Reza, suaranya tenang, bukan lagi marah. "Dia cerita semuanya. Dari awal sampai akhir. Tentang utang, tentang nama Nisa, tentang betapa hancurnya dia harus meninggalkan lo. Dia nggak memohon, dia nggak berdalih. Dia cuma cerita sambil menangis. Dia bahkan menceritakan perpisahan terakhir kalian di taman."

Reza mendongak menatap Faris. "Dia bilang, dia nggak akan menikah sama gue kalau gue nggak bisa menerima Nisa di dalam diri Nayla. Dia bilang, dia memilih gue karena gue adalah lembaran barunya, bukan karena dia nggak cinta lagi sama lo, tapi karena dia tahu lo sudah menempuh jalan yang berbeda. Dan dia bilang lo yang meyakinkan dia untuk memilih gue. Lo yang memaksanya untuk menjadi Nayla seutuhnya."

Air mata Reza mulai menetes. "Gue tahu, Ris. Gue tahu lo cinta sama dia. Dan gue tahu betapa sakitnya lo ngorbanin perasaan lo buat gue. Gue nggak akan pernah bisa membalasnya."

Faris duduk di samping Reza. "Gue nggak berkorban, Za. Gue memilih. Gue memilih lo, persahabatan kita, dan gue memilih kebahagiaan Nayla. Kalau dia kembali sama gue, dia akan selalu dihantui rasa bersalah ke kamu. Kalau dia bersama kamu, dia bebas. Kamu tulus, Za. Kamu lebih cocok sama Nayla yang sudah matang ini. Kamu adalah kepastian yang dulu gue gagal berikan."

Reza memeluk Faris, pelukan yang kikuk dan penuh emosi. "Gue terima Nayla, Ris. Gue terima Nisa. Gue akan jadi rumah untuk Nayla, dan gue akan jadi sahabat lo selamanya. Maafkan kebodohan gue."

Faris memejamkan mata. Dinding benteng yang ia bangun selama ini akhirnya runtuh, bukan karena direbut paksa, melainkan karena ia memilih untuk membukanya sendiri, membiarkan cinta yang tulus mengalir keluar dalam bentuk pengorbanan.

Proses pernikahan Reza dan Nayla berlanjut dengan cepat setelah badai itu mereda. Faris, kembali pada perannya yang sesungguhnya: sahabat terbaik. Ia membantu mengurus segala keperluan, memastikan Reza mendapat semua yang ia butuhkan. Ia menghindari Nayla, bukan karena benci, tetapi karena ia perlu menjaga jarak agar proses ikhlas-nya berjalan sempurna.


Other Stories
Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

Kk

jjj ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )

Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Download Titik & Koma