Chapter 12: Dan Walau Tidak Bersama Lagi
Hari pernikahan tiba. Sebuah pesta kebun yang indah dan intim, dihiasi bunga-bunga melati dan mawar putih yang harum. Faris mengenakan setelan jas terbaiknya, berdiri di sudut area akad. Ia merasakan jantungnya berdebar, bukan karena gugup sebagai pengantin, tetapi karena ia adalah penjaga gerbang takdir yang pahit.
Ia menyaksikan Reza, yang tampak gagah dan cerah, duduk di hadapan penghulu dan wali Nayla. Wajah Reza memancarkan ketenangan yang hanya bisa datang dari kepastian, kepastian yang Faris berikan padanya melalui pengorbanan.
Saat Nayla berjalan diapit ayah dan ibunya menuju tempat akad, Faris merasakan semua mata tertuju pada keanggunannya. Nayla, dalam balutan gaun pengantin berwarna putih gading, tampak seperti lukisan. Ia adalah Nayla yang sempurna, tapi di mata Faris, ia tetap Nisa yang telah ia lepaskan.
Saat Nayla semakin dekat, matanya secara otomatis mencari Faris. Mata mereka bertemu sekali lagi. Kali ini, tidak ada ketegangan, tidak ada rahasia, tidak ada 'jika'. Yang ada hanyalah rasa terima kasih yang tak terhingga dan perpisahan yang damai. Nayla tersenyum, senyuman tulus, senyuman Nayla—bukan Nisa. Faris membalas senyuman itu. Senyuman yang mengakui kekalahan, tetapi juga kemenangan atas ego.
Di pelaminan, Reza menyambutnya dengan tangan terbuka. Lalu, Faris mendengar kalimat yang menjadi palu terakhir di atas peti mati cintanya:
"Saya terima nikahnya Nayla binti Budi Hermawan..."
Faris menahan napas. Ia mendengar nama Nayla dan Reza disebut dalam satu ikatan suci, mengukuhkan takdir yang telah ia bantu fasilitasi. Nafasnya terlepas perlahan, membawa serta semua kerinduan yang tersisa.
Malam harinya, Faris menghampiri pasangan pengantin yang tengah menyambut tamu.
"Selamat ya, Za. Lo berhasil, Bro," kata Faris tulus, memeluk Reza erat.
"Makasih, Ris. Tanpa lo, ini nggak akan terjadi," balas Reza, suaranya penuh haru.
Faris kemudian beralih ke Nayla. Nayla menatapnya dengan mata yang masih basah oleh air mata bahagia, bercampur dengan sedikit kesedihan yang tak terhindarkan.
"Turut berduka cinta, Nayla," Faris berbisik pelan, hanya untuk didengar oleh mereka berdua, mengutip judul yang tak pernah terucap. Turut berduka cita atas cinta yang telah kita kubur bersama.
Nayla tersenyum tulus. Air matanya menetes sedikit. "Terima kasih, Faris. Kamu sudah memberikan kami hadiah terbaik. Kepastian, dan kebahagiaan."
Faris mengangguk. Ia menjabat tangan Nayla—tangan yang kini resmi menjadi milik sahabatnya. Sentuhan terakhir, yang kini terasa begitu suci dan jauh. Ia merasakan kedamaian.
Faris berjalan menjauh dari keramaian pesta. Ia mengeluarkan ponselnya. Ia membuka kembali profil taaruf yang ia simpan untuk dirinya sendiri, profil seorang wanita yang ia tolak beberapa bulan lalu karena ia merasa belum siap. Sekarang, ia merasa siap. Bukan untuk mencari pengganti Nisa, tetapi untuk memulai babak baru Faris. Ia telah merelakan cintanya, dan kini ia siap menerima takdirnya.
Ia mengambil napas dalam-dalam, menatap langit malam yang bersih. Ia tidak menyesal. Terkadang, cinta sejati bukanlah tentang memiliki, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk melepaskan, demi melihat kebahagiaan orang yang kita cintai. Dan itu, bagi Faris, adalah definisi tertinggi dari cinta yang matang.
Other Stories
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...