Konselor

Reads
650
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Rizkinawala

Kios Tindik

Lelaki paruh baya itu duduk di pojok ruang, di kursi yang sama, di balik konter perhiasan tindik. Kursi itu menghadap langsung ke pintu, mengarah ke jalan yang biasa dilintasi kendaraan. Di pinggir jalan, trotoar sempit membentang, jaraknya jika dilewati pejalan kaki hanya sekitar satu hingga dua uluran tangan dewasa dari pintu kios. Kios tindik itu berdiri di ujung tikungan sebelum memasuki jalan besar. Sekitar satu kilometer dari sana terdapat sebuah sekolah dasar, dua kilometer berikutnya berdiri rumah sakit swasta, yang usianya tidak lebih tua dari kios tindik milik Musonif dan Wayan. Usia kios tindik itu sudah hampir dua puluh tahun.

Dua blok di belakang kios terdapat sebuah pasar induk. Sekitar lima ratu meter dari pasar, terdapat stasiun kereta. Saat memasuki jam sibuk, pemandangan di luar kios akan dipenuhi lalu lalang anak-anak sekolah, para pegawai yang turun dari ojek menuju stasiun, pedagang kaki lima yang mendorong gerobaknya, dan orang-orang yang sibuk mengantar, mencari sarapaan, atau pergi berbelanja ke pasar. Ojek-ojek jarang sekali mau masuk ke jalur sempit yang terkenal biang kemacetan.

Kios tindik itu tidak terlalu ramai. Dalam sehari, paling banyak kios itu

mendatangkan enam sampai tujuh pelanggan. Jika ditanya kapan terakhir kali kios itu mendapat banyak pengunjung, mungkin jawabannya sebelum Musonif terpasung rasa bersalah pada ketidakpastian selama belasan tahun.

Berdasarkan kecintaanya pada tindik menindik, perlahan Musonif tidak lagi mendapat essensi dari pekerjaannya itu. Lambat laun kebinarannya pudar, dan yang tertinggal hanya keahliannya saja. Musonif bukan seseorang dengan latar belakang tenaga medis, ketertarikannya yang membuat ia menekuni bidang tersebut. Dulu, sebelum dia benar-benar mengikatkan diri pada bisnisnya itu, secara sukarela ia akan melakukannya ketika orang-orang datang meminta ditindik. Dari anak-anak punk, preman-preman, ketua ormas dan anggotanya, kelompok anak motor, para remaja dalam pencarian jati diri, sampai para perempuan untuk kebutuhan spiritual dan kecantikan. Selain menerima menindik telianga, ia juga menerima bagian hidung, sekitar mulut dan bibir, bagian badan seperti pusar, dan lidah.

Hingga pada suatu hari Musonif bertemu dengan Wayan, mahasiswa Antropologi asal Bali yang memiliki minat khusus pada simobolisme tindik. Saat itu, Wayan mengenali nama Musonif dari teman ke teman untuk menemani seorang wanita dari India yang ingin menindik hidungnya. Kini, wanita itu telah menjadi istrinya. Singkatnya, setelah mereka terlibat obrolan panjang, begitu saja mereka memutuskan untuk membangun bisnis kios tindik bersama. Berdasarkan komunikasi yang jelas dan terjaga, komitmen yang teguh, saling menghargai, dan kematangan emosi satu sama lain, hubungan bisnis itu menjelma menjadi persahabatan yang erat.

Kios tindik itu bernama “Kios Artifisial”, yang berarti ‘buatan’, dalam maksud lubang buatan. Mereka membangunnya saat usia mereka di pertengahan dua puluhan.

Menurut nasibnya, kios itu harusnya sudah menjadi sebuah studio tindik profesional, estetis, tercatat dalam Nomor Induk Berusaha, memiliki sertifikasi Kesehatan dan Higienitas, serta Sertifikasi Pelatihan dengan standar tinggi. Sayangnya, nasib cerah itu bisa dikatakan telah binasa sejak lima belas tahun yang lalu. Bisnis itu tumbuh tanpa perkembangan, mandek, dan stagnan.

Leletnya pertumbuhan bisnis kios tindik mereka bukan karena kurangnya promosi, pelayanan yang tidak menyenangkan, penindik yang tidak profesional, atau pun kios yang terletak menjorok di ujung tikungan. Alasannya berawal sejak hilangnya Tanika, anak Musonif, yang usianya sepuluh tahun. Saat itu, sekitar sore menjelang malam, Eda, istri Musonif, menelpon. Wayan sedang sibuk memindahkan perhiasan dan aksesoris dari kardus yang baru saja datang ke konter etalase. Sementara Musonif, ia sedang menghitung jumlah produk yang terjual dan pelanggan yang datang pada hari itu. Ia akan menghitung siapa pun yang datang walaupun orang itu hanya untuk bertanya-tanya. Baginya, itu adalah langkah awal untuk membuat kios mereka lebih dikenal luas. 


Other Stories
Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Download Titik & Koma