Konselor

Reads
654
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Rizkinawala

Hilangnya Tanika

Di atas etalase, ponsel Musonif berdering.

“Siapa?” Tanyanya pada Wayan. Wayan segera menghentikannya sejenak. Ia mencondongkan tubuhnya, membaca nama panggilan, “Eda,” katanya, lalu kembali menata perhiasan.

Musonif meninggalkan meja, melangkah ke konter untuk menjawab panggilan ponselnya. Seketika, Wayan berhenti ketika mendengar suara Eda dari sambungan telepon yang terdengar meraung. Bahkan dengung jeritannya masih terdengar setelah Eda berhenti. Wayan menatapnya, memilih untuk tidak ikut campur. Perlahan ia melangkah pergi, meninggalkan Musonif sendiri. Begitu ia meletakkan kardus di pojok ruang, wajah Musonif memerah. Matanya memancar keterkejutan tidak percaya yang perlahan kosong. Wayan kembali, lalu menanyainya. “Ada apa?” tanyanya cemas. Musonif tidak menjawab. Ia justru bergegas melangkah ke pintu. Wayan yang merasa ada yang tidak baik-baik saja, segera berlari menyusul. “Aku ikut!” Seru Wayan. “Biar aku yang mengendarai,” lanjutnya tergesa-gesa sammbil mengunci pintu.

Wayan membonceng Musonif dengan kecepatan tinggi, Dua puluh menit kemudian mereka sampai.

Musonif turun dari motor dengan tergesa-gesa. Ia membuka pintu dengan kasar, langsung berlari menghampiri istrinya yang sedang menangis lemas tak berdaya di lantai.

“Tadi, aku menggantikan temanku yang tidak masuk hari ini. Aku harus mengurus pekerjaannya. Tapi, sebelumnya aku sudah menelpon sekolah dan memberitahu kalau aku akan terlambat. Dua jam kemudian, ketika aku sampai di sekolah, wali kelas Tanika sudah menungguku di depan pintu kantor. Wajahnya gelisah seperti orang yang menyimpan rasa bersalah. Guru itu bilang, ‘Tanika hilang.’” Cerita Eda sambil terisak. Suaranya bergetar penuh kepanikan.

Terus terang, bisikan hati pertama Musonif saat mengetahui Tanika hilang adalah menyalahkan Eda. Tapi, melihat Eda yang sangat terpukul, secara logis Eda pun tidak mungkin menjadi penyebabnya.

Musonif berusaha membangkitkan Eda, memapahnya ke kursi. Namun, Eda menolaknya dengan kasar. Ia justru menarik lengan Musonif, memintanya untuk segera mencari Tanika. “Kita harus cari sekarang! Kasian Tanika... Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Gimana kalau dia…,” Eda tak mampu melanjutkan perkataannya. Bayang-bayang buruk menggerogoti pikirannya.

Wajah Musonif memucat, matanya merah menyimpan sedih yang ditahan. Ia dan Eda bergegas mencari Tanika, memulainya dari rumah teman-teman terdekat putrinya. Sementara itu, Wayan membantu dengan mencarinya di sekitar area sekolah, berharap mendapat kabar baik.

Berjam-jam penuh kecemasan belum berlalu, hingga hampir dini hari masih belum ada tanda-tanda keberadaan Tanika di mana pun. Pikiran Eda melayang jauh; bagaimana jika Tanika menjadi korban perdagangan anak. Sekejap Eda hampir jatuh. Kakinya tak sanggup lagi menopang pikirannya. Musonif yang berusaha tetap tegar, dengan cepat meraih Eda.

Esoknya, mereka mencetak ribuan lembar foto Tanika dan pesan “ANAK HILANG. HUBUNGI 0888271088” Ditulisnya semua ciri-ciri Tanika dengan detail. Tinggi seratus dua puluh centimeter, kulit kuning kentang, mata kanan lebih besar satu sampai dua millimeter dari mata kiri. Terdapat tahi lalat di bola mata sebelah kiri. Rambutnya ikal jatuh, terdapat bekas luka kecokelatan di dekat mata kaki sebelah kiri. Bibirnya kecil terhimpit dengan kedua pipi tembamnya. Alis pendek namun tebal, dan hidung mancung dengan cuping tebal. Dengan ciri-ciri sedetail itu, mereka berharap seseorang akan menghubungi mereka, menyampaikan berita baik dengan menyebutkan ciri-ciri yang persis tertulis.

Musonif dan Eda mulai menempelnya di setiap tiang listrik, pohon-pohon, dinding-dinding rumah orang, dan gedung-gedung. Berita hilangnya Tanika beredar cepat di lingkungan sekolah. 


Other Stories
Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Aku Versi Nanti

Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...

Download Titik & Koma