Konselor

Reads
648
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Rizkinawala

Tanika Tidak Akan Kembali

Kondisi Eda kian melemah, Musonif membujuknya untuk pulang dan akan melanjutkannya sendiri. Musonif kembali ke sekolah Tanika. Mungkin ada kesalahpahaman dari semua ini. Bisa saja kemarin Tanika sedang bermain, lalu tidak sengaja tertidur disalah satu rumah teman yang belum pernah mereka kenal. Atau barang kali, karena sudah terlalu malam, orang tua dari temannya itu terlalu segan membangunkannya dan tidak tahu harus menghubungi siapa.

Atau, bisa jadi Tanika tersesat. Mungkin ia salah jalan, lalu duduk sebentar untuk beristirahat hingga lupa waktu. Lalu, seorang sebaya kebetulan lewat menghampirinya dan menolongnya, menanyai di mana rumahnya, tapi karena panik, Tanika lupa menjawab. Hingga orang baik itu memintanya menginap semalam di rumahnya. Musonif menebak segala kemungkinan terbaik pada putrinya, meyakinkan dirinya berkali-kali bahwa tidak ada hal buruk apa pun yang terjadi.

Berjam-jam Musonif memantau dari jauh, memastikan satu persatu wajah murid-murid yang berlalu lalang sampai gerombolan terakhir. Tidak ada Tanika di antara wajah-wajah yang ia pantau sejak tadi. Kegelisahan Musonif mencuat. Segela kemungkinan terbaik yang ia tanamkan rupanya tak sesuai harapan. Dengan sedikit menyerah, ia mencoba masuk ke dalam sekolah, menemui wali kelas Tanika. Namun, pihak sekolah angkat tangan. Menurut wali kelas yang mendampingi Tanika, Tanika mengatakan akan pulang bersama teman-temannya. Saat itu, wali kelas sudah mencoba untuk menahanya, Tapi, Tanika menolak dan tetap ingin pulang bersama teman-temannya.

Musonif kehabisan tuntutan.

“Kalau begitu, apa ibu tahu siapa saja teman-teman Tanika yang pulang bersamanya?” Musonif menyerah, “tolong saya...”

Wali kelas itu menyebutkan empat nama anak perempuan. Tiga dari mereka teman satu kelas, satu siswi lainnya berbeda tingkat dari mereka. “Sania, Dayu, Iriana, dan Cantika.” Ujar wali kelas. “Cantik anak kelas enam. Sejauh yang saya tahu, Cantika teman dekat Sania dan rumah mereka berdekatan.”

“Bolehkah saya tahu alamat mereka?” Lirih Musonif.

Wajah wali kelas itu nampak keberatan, karena data pribadi siswa bersifat rahasia dan pihak sekolah melarang keras membeberkannya pada pihak lain.

“Saya mohon…” pinta Musonif.

Wali kelas itu berdiri, lalu mengambil kertas dan alat tulis. Ia meraih dua map besar dari lemari yang bertuliskan ‘Kelas 5’ dan ‘Kelas 6’, kemudian mulai menyalinnya di selembar kertas. Beberapa saat kemudian, ia menyerahkan secarik kertas itu pada Musonif.

“Tolong saling mengerti… Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini,” katanya pelan.

Musonif mengangguk seraya mengambil kertas itu. Ia membukanya sekilas, membaca isinya, lalu menyimpannya di saku celana. Setelah itu, Musonif bergegas meninggalkan sekolah, dan mendatangi rumah-rumah dari yang paling dekat. Mengenaskannya, setiap rumah yang ia datangi tidak satu pun orang tua mereka mau sedikit saja memberi jawaban. Semuanya, begitu pintu rumah mereka diketuk dan melihat Musonif yang datang, mereka enggan menemuinya. Seolah tak mau kena cipratan dan berhubungan dengan polisi.

Musonif tidak mau menyerah. Ia pergi menyebarkan selembaran putrinya di terminal bus, stasiun, tempat biasa angkutan kota mangkal. Ia juga mengiklankan orang hilang di koran-koran, radio, mengumumkan di masjid-masjid sekitar, kantor pos, dan semua yang bisa dilakukannya. Kenyataanya, iklan itu perlahan-lahan dilupakan. Tujuh tahun berlalu, tidak ada satu pun telepon yang diterima, atau pun orang asing datang ke rumahnya. Mungkin karena penyebaran berita itu tidak ada imbalan yang harus diterima. Bukan suatu hal yang klise untuk menerjemahkan hal itu.

Seiring berjalannya hari, kesehatan Eda semakin menurun. Sementara Musonif semakin dibuat gila oleh pikirannya sendiri. Sudah tujuh tahun Tanika hilang, tujuh tahun pula Musonif dan Eda hidup dalam keheningan. Eda ingin menopang beban ini bersama, nyatanya tak sesuai harapan. Musonif hampir tidak pernah lagi bicara dengannya. Seakan-akan keheningan antara mereka memberitahu Eda bahwa ia tidak bisa lari dari hari itu, bahwa kecerobohan dari kekacauan ini dia lah penyebabnya. Eda menilai bahwa semua yang terjadi, dia lah yang harus bertanggung jawab. Pada tahun itu juga mereka bercerai. Mereka tidak secara resmi bercerai, tetapi Eda memutuskan pergi dari Musonif. Tak ada upaya pencarian untuk Eda, dan secara harfiah, seorang suami yang tidak menafkahinya lahir dan batin selama lima belas tahun, bisa dikatakan cerai.

Kini, situasi Musoif semakin jelas. Tanika belum juga kembali dan Eda telah meninggalkannya. Sisanya, ia hanya memilliki Wayan dan kios tindik yang dalam surat kepelimikan tertulis jelas, bahwa Wayan memiliki enam puluh lima persen dari kios itu sejak hilangnya Tanika. Sebetulnya Wayan enggan melakukan ini, tetapi melihat Musonif yang tak ada ubahnya membuatnya muak.

Bagi Wayan, duka Musonif telah larut dalam jiwanya, detak jantungnya, setiap hembusan hapasnya, dan akalnya. Di sisi lain, ini bukan lah kesempatan untuk menguasai kepemilikan kios itu. Tetapi, lima belas tahun dirinya dan kios pun dibuat menunggu karenanya. Kadang-kadang, setiap kali ia ingin marah pada Musonif, yang terlintas di kepalanya adalah, Tanika bukan darah dagingnya. Ia tidak akan bisa mengerti rasa itu, rasa kehilang yang mencekik sahabatnya. Hilangnya Tanika juga membuatnya terpukul. Sebab Tanika sudah seperti putrinya sendiri.

Simpatinya tertuju pada keluarga Musonif. Setelah belasan tahun berlalu, ia bertanya-tanya, apakah Musonif akan mengenali putrinya jika Tanika kembali? Wajahnya pasti sudah tak sama lagi. Begitu pun sebaliknya, apakah Tanika akan mengenali Musonif dan Eda? Apakah dia akan memeluknya saat waktu mempertemukan mereka kembali? Saat memikirkan itu, Wayan menjadi lebih takut dari yang dia bayangkan. Bagaimana jika mereka saling bertemu namun tidak saling mengingat satu sama lain. Dalam pikiran Wayan, sebuah duka yang panjang seolah keajaiban itu tak pernah ada.


Other Stories
Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Download Titik & Koma