Konselor

Reads
653
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Rizkinawala

Seorang Wanita Bernama Akasia

Wayan terbangun dari lamunan di kursinya. Di luar, hujan turun rintik-rintik sebelum semakin deras. Sudah seminggu terakhir memasuki musim penghujan. Para pengendara motor dan pejalan kaki berlarian berteduh di depan kios, menunggu hujun reda.

Musonif sedang pergi ke kota mengambil barang untuk memenuhi pasok ulang. Sementara itu, Wayan hanya duduk memerhatikan orang-orang yang menutupi kiosnya yang sedang berteduh.

Di antara keramaian itu, seorang wanita memeluk sebuah kardus memasuki kios. Lonceng kecil yang tergantung di kusen pintu berdenting.

“Permisi…” Ujar Wanita itu. Ia mencondongkan setengah badannya ke dalam, menahan pintu dengan badan dan kardusnya, “Bolehkah saya meneduh disini?” tanyanya sambil mengusap pelipisnnya yang basah.

Wayan yang sedang duduk terlonjak begitu melihat wajah wanita itu. “Tanika!” serunya. Ia langsung menghampiri wanita tersebut.

Wanita itu tidak mendengar jelas apa yang diucapkan Wayan. Ia melangkah masuk, wajahnya sedikit bingung. “Ya? Maaf...?” Tanyanya ragu.

“Tanika!” seru Wayan tidak percaya.

Wanita itu tersenyum kaku, merasa tidak nyaman dengan sikap Wayan. Suasana menjadi canggung. Hujan yang sejak tadi mengguyur tiba-tiba saja reda. Waktu seolah-olah tak berpihak pada Wayan.

“Permisi!” Katanya, lalu bergegas keluar. Langakahannya hampir seperti lari.

Wayan belum sepenuhnya yakin. Tapi, dilihat sekilas, wajah wanita itu mirip sekali dengan Tanika. Ia masih ingat dengan rambut ikal Tanika yang jatuh. Sedang rambut Wanita itu persis sama, meski diikat kebelakang. Sekejap, Wayan menyesal. Ia lupa menanyai nama wanita tersebut.

Tapi, saat memperhatikan kepergian wanita itu, matanya membaca cetakan tulisan pada kardus yang perempuan itu bawa. Tertulis nama rumah sakit swasta yang jaraknya dua kilo dari kiosnya. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Musonif, sekonyong-konyong Wayan pergi meninggalkan kios menuju rumah sakit tersebut.

Beberapa saat kemudian, Wayan tiba di rumah sakit. Di gerbang utama halaman rumah sakit, berdiri sebuah pos kecil penjaga di samping portal. Wayan berjalan menuju pos, menghampiri petugas keamanan yang sedang berjaga.

“Permisi, apa disini ada seorang dokter bernama Tanika?”

“Ya? Dokter Tanika?” Petugas itu berpikir sejenak, lalu tersenyum kecil. “Maaf, saya pegawai baru disini,” ucapnya. “Ah, Bapak bisa bertanya dengan teman saya. Dia sudah bekerja sepuluh tahun disini.” lanjutnya. Kemudian petugas itu keluar dari pos, menghampir rekan kerjannya yang sedang memantau tak jauh dari sana. Tak lama, kedua penjaga itu kembali menghamipiri Wayan.

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya penjaga senior.

“Maaf, apa ada seorang dokter bernama Tanika di rumah sakit ini?”

“Dokter Tanika?” Penjaga itu melayangkan pandangannya sejenak. “Tidak ada dokter yang bernama Tanika disini.”

“Umm...” Wayan kebingungan untuk menjelaskannya. “Kalau begitu, apakah ada seorang tenaga medis seperti perawat, apoteker, fisioterapis? Atau seorang staf administrasi, bagian keuanan, resepsionis, petugas kebersihan, dapur, laundry, atau siapa pun pegawai perempuan yang bernama Tanika?”

Petugas senior itu mencoba mengingat seluruh pegawai yang bekerja di rumah sakit itu. Dari Manajer, dokter setiap poli, perawat, tim analisis laboratorium, radiografer, teknisi medis, resepsionis, semuanya terasa sulit untuk dipastika. “Maaf, tapi selama saya bekerja disini selama sepuluh tahun, saya belum pernah mendengar seorang pegawai bernama Tanika di rumah sakit ini.”

Wayan mencoba sekali lagi, “Kalau begitu, wanita dengan rambut ikal jatuh, dan berkulit agak kuning. Apa bapak mengenalinya?”

Sejenak pikiran penjaga senior itu mengerucut pada satu orang. “Dokter Akasia?”

“Dokter Akasia?” Wayan mengulanginya. Mendengar nama itu, jantung Wayan berdebar tak karuan.

“Ya, dokter Akasia. Beberapa pegawai di rumah sakit ini ada yang memiliki rambut ikal, tapi hanya dokter Akasia yang memiliki rambut ikal jatuh.”

Wayan yakin, wanita itulah yang dilihatnya pagi tadi. “Kalau begitu kapan saya bisa bertemu? Boleh tahu kapan Dokter Akasia berjaga?”

“Maksudmu bertemu dengan dokter Akasia?” Seketika penjaga itu mengalihkan wajahnya pada temannya sambil tertawa keras. Penjaga satunya, yang tidak mengerti apa-apa, menatap Wayan dengan tersenyum canggung.

“Dokter Akasia adalah dokter paling sembrono yang pernah saya temui. Cantik… tapi sangat keras kepala. Hampir seluruh pegawai di rumah sakit ini tidak ada yang senang berbicara dengannya. Cara bicaranya kalau tidak sarkas, pasti sinis. Sepertinya dia tak akan kembali lagi ke rumah sakit ini.”

Wayan menatap penjaga di depannya dengan jijik. Ia memalingkan wajahnya dan menarik napas. “Maksudnya tidak kembali? Apakah dia dimutasi. Boleh saya tahu di mana dia pindah tugas?”

Penjaga keamanan itu kembali tertawa, “Memangnya ada rumah sakit lain yang mau menerimanya?” Penjaga itu menghela napas akibat terlalu banyak tertawa. “Saya tidak mengetahuinya secara pasti. Tapi, dari desas-desus yang saya dengar, sepertiya hari ini adalah hari terakhirnya berkerja di rumah sakit ini.”

Wayan menarik napas dalam, menyimpan rasa muak menahan sabar. Situasinya menjadi rumit. Dimana dia bisa bertemu dengan dokter Akasia. “Boleh saya tahu dimana dokter Akasia tinggal?”

Seketika, ekspresi petugas itu berubah. Ia memperhatikannya dengan sedikit curiga. Penjaga keamanan itu baru saja menyadari, kalau dia sedang berbicara dengan orang asing yang ingin menemui Dokter Akasia. Tiba-tiba, penjaga itu kembali tertawa. Sementara Wayan yang masih menjaga batasan, menahan emosi meski sudah amat jijik.

“Baiklah, terima kasih...” Wayan menundukkan kepalanya, lalu meninggalkan kedua penjaga itu. “Dasar orang gila!” Gumamnya sambil berjalan.


Other Stories
Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Download Titik & Koma