Musonif Bertemu Akasia
Selama tiga bulan Wayan terus mencari-cari dokter Akasia. Dia hanya mengetahui nama dokter itu. Suatu hari, Wayan kembali mengunjungi rumah sakit, mencoba mencari informasi lain tentang wanita itu di resepsionis.
“Ada yang bisa saya bantu? Mau daftar untuk apa?” Tanya seorang wanita berseragam rapi.
“Saya ingin mendaftar di poli tempat Dokter Akasia berjaga?”
“Dokter Akasia?” Wanita penjaga meja informasi itu sedikit tersenyum. “Kalau boleh tahu, apa hubungan Bapak dengan dokter Akasia?”
Wayan terdiam sejenak. “...Saya pamannya.”
Petugas itu menatapnya lebih tajam, memperhatikan Wayan. “Saya baru tahu kalau dokter Akasia punya paman,” katanya terhenti, “Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan, tapi Dokter Akasia jarang sekali menceritakan keluarganya. Dia selalu mengatakan hal yang berbeda-beda tentang keluarganya.”
Petugas itu melanjutkan bercerita. “Pernah, kami mendapat satu shift malam bersama, dan dia menemaniku mengobrol cukup lama di disini. Kami bercerita tentang keluarga kami. Aku menceritakan padanya kalau aku datang dari pelosok desa di Yogyakarta. Begitu aku menanyakkan padanya dari mana dia berasal, Dokter Akasia enggan menjawab, tapi dia bilang ‘ibunya adalah seorang pemain teater handal dan ayahnya seorang supir.’ Aku tidak langsung percaya, karena ada rumor mengatakan kalau direktur rumah sakit ini adalah ayahnya. Tapi, kalau pun iya, aku tidak mengerti kenapa dokter Akasia mengaku ayahnya seorang supir. Lalu, aku main-main untuk mengetahui seperti apa sebenarnya. Aku menanyakan padanya mengapa ia tidak menjadi seorang aktris dengan wajah seperti itu, siapa tahu bakat ibunya turun padanya. Tiba-tiba saja dia marah.”
Petugas itu meniruka perkataan Akasia padanya. “Aku kasian sekali melihatmu duduk sendiri, makannya aku datang untuk menemanimu mengobrol disini. Setelah mengobrol panjag denganmu, aku baru tahu rupanya cara pandangmu seperti pertunjukan film drama romantis murahan yang pemeran utamanya secara diam-diam mengharap iba seseorang.”
“Maksud dokter Kia?” tanyaku padanya saat itu.
“Ya, kamu seenaknya memintaku menjadi seorang aktris. Memangnya kamu kenal dengan Rhowe Dahlia? Seorang pemain teater handal bahkan ketika di rumah pun dia akan melakukan perannya menjadi apa pun. Entah menjadi juru masak yang terampil menggunakan pisau, tukang kayu yang sibuk memasang papan kayu di setiap jendela rumah, atau seorang pengrajin yang ahli dalam mengikat”
“Maaf, tapi aku tidak mengerti maksud Dokter Kia.”
Akasia tertawa, “’Pemikaranmu luar biasa!’ Lalu, dokter Akasia meninggalkanku dengan tatapan yang sinis. Aku ingat sekali.” Petugas itu menghela napas, “Esoknya, aku menceritakan apa yang terjadi semalam pada temanku, saat temanku mendengarnya dia justru tertawa dan berkata, ‘bahakan seluruh pegawai di rumah sakit ini tidak ada yang mau bicara dengannya, tapi kau malah melakukannya.”’
Wayan mencermati cerita petugas itu. Benaknya terusik. Ia kembali bertanya-tanya tentang keyakinannya. Apakah dokter itu adalah Tanika? Rasanya, tidak mungkin Tanika bersikap kasar seperti itu. Tanika memang anak yang mudah mengambek, tapi dia adalah anak yang sopan pada orang lain
“Dokter Akasia sudah tidak bekerja lagi di sini. Akhirnya direktur rumah sakit memecatnya. Aku tidak memihak siapa pun, tapi dokter Akasia seperti perempuan aneh. Dia masih muda, tapi tempramennya tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang konselor anak sama sekali. Pada saat direktur memecatnya, itu menjadi berita besar di rumah sakit ini. Bayangkan saja, dia membanting plak nama direktur yang terbuat dari kaca sambil mengumpatkan kata-kata kasar. Tapi, hari kacau itu berlalu cepat dengan perayaan pemecatannya yang sudah tidak bergabung dengan rumah sakit ini lagi. Kami semua jadi lebih tenang sekarang tanpa dokter Akasia.”
Wayan mengangguk pelan setelah mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan meja informasi tanpa mengatakan apapun lagi, langkahannya pelan seraya menelaah cerita yang dia dengar tadi
Ia kepalang bingung. Satu sisi, wanita yang dilihatnya amat mirip dengan Tanika. Tapi disisi lain, menurut cerita orang-orang yang bekerja dengannya, wanita itu amat kacau. Hampir tidak ada yang menyukainya. Ia tidak tahu apakah harus menceritakannya pada Musonif atau tetap menyimpannya sendiri. Tapi, ia ingin Musonif melihat wanita itu. Benar atau bukan dokter itu adalah Tanika. Setidaknya, kerinduan Musonif selama lima belas tahun pada putrinya dapat menghentikan sesaknya sebentar.
Paling tidak, walau hanya sekali, Wayan berharap Musonif dan Eda dapat bertemu dengan dokter itu.
Setelah kembali ke kios, Wayan menghela napas dalam. Ia mengalihkan pandangannya dari poster-poster tindik di dinding ke arah Musonif. Dalam tatapan itu, rasa iba melecuti dirinya. Melihat Musonif tidak pernah mengganti posisi duduknya sambil terus menatap pintu, dan hal itu membuatnya sedikit sesak. Namun, di balik harapannya Musonif dapat bertemu dengan Tanika, Wayan lebih menginginkan setidaknya Musonif dapat merelakannya. Meski berat, tapi itulah kenyataan.
Hampir sore, kios masih belum mendapat pelanggan. Di saat sedang sepi-sepinya, suasana dalam kios itu senyap sekali. Tidak ada putaran lagu atau pun suara obrolan, hanya ada suara pergerakan-pergerakan.
Krinng!
Bunyi lonceng memecah kesunyian. Pintu terbuka. Sekejap, di kursinya, Wayan terkejut. Wanita itu? Gumam. Ia langsung menoleh ke arah Musonif, memastikan bahwa Musonif sama terkejutnya dengan dirinya saat begitu melihat wanita itu. Sementara Musonif, tanpa ekspresi bangkit dari kursi, lalu berjalan keluar dari balik konter dengan tatapan datar tanpa emosi.
“Saya ingin menambah tindikan di telinga saya. Tapi, saya ingin di area yang dapat membuat penampilan saya terlihat lebih menonjol?” tanya wanita itu, berdiri di tengah ruangan.
Musonif mengulurkan tangannya ke sisi ruang sambil berjalan, membawa wanita itu ke meja konsultasi, mempersilakannya duduk. Kemudian, wanita itu menarik kursi dan duduk. Begitu pun Musonif, duduk di balik meja.
“Saya ingin menambah tindikan di telinga saya. Saya ingin di area yang dapat membuat penampilan saya terlihat lebih menonjol,” ujar wanita itu mengulang permintaanya. “Saya ingin, jika seseorang di masa lalu melihat saya, mereka menyesal telah membuang saya,” lanjutnya dengan nada muak.
Musonif menanggapi permintaan wanita itu, dan menyarankan, “Tragus?” ucapnya sambil menunjuk benjolan tulang rawan depan telinganya. “Area ini akan membuatmu terlihat menonjol.”
Wanita itu kemudian menyampingkan wajahnya ke cermin rias di meja, memandangi telinganya sambil membayangkan flat back stud dengan ujung permata. “Mmm...” Wanita itu ragu-ragu. “Saya tidak terlalu menyukainya.” Ia menolaknya. “Bisa bawakan katalognya?”
Musonif beranjak dari kursi, melangkah ke konter, dan mengambil katalog di atas etalase. Wayan yang menyaksikan sejak tadi, memilih berpura-pura tidak melihat. Ia sibuk dengan ponselnya begitu Musonif mengambil katalog yang letaknya dekat dari duduknya.
“Silahkan...” Ucap Musonif. Sambil menunggu wanita itu memilih, Musonif mengelurakan peralatan dari rak sebelah kursinya; jarum tindik, pistol tindik, tang penjepit, sarung tangan, larutan antiseptik. Lalu, kembali duduk.
“Mau motode apa, jarum atau pistol?” tanya Musonif.
“Aku mau yang paling sakit.” Katanya, “Bagaimana dengan yang ini?” tanya wanita itu. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk katalog.
“Snug?”
“Ya! Ini akan membuat penampilan saya menonjol.” Sesaat, jari wanita itu bergeser, “Ah, bagaimana kalau yang ini?”
“Orbital?” Musonif menimbang sesuatu untuk dikatakan, “boleh tahu siapa orang yang membuatmu ingin memamerkannya?”
Wanita itu menatap wajahnya di cermin, lalu tertawa kecil. “Ah, aku telalu muak untuk membahas orang itu. Lupakan. Tiga bulan terakhir aku menganggur, dan minggu depan aku mendapat undangan wawancara kerja. Jadi aku ingin mengesankan penampilan yang tak terlupakan.”
Musonif ragu apakah ia perlu menanyakannya kembali di mana wanita itu akan wawancara atau hanya mengikuti permintaannya. Sejenak hening, Musonif membiarkan wanita itu memilih lebih lama.
“Di sekolah,” tiba-tiba wanita itu memberi tahu. “Aku ada wawancara di sekolah.”
Musonif tertawa kecil, menundukkan wajahnya sebentar.
“Ada apa?” Wanita itu sedikit tersinggung.
“Aku rasa kau akan kesulitan untuk mendapat pekerjaan itu. Bukannya seorang guru harus memperlihatkan citra yang baik pada muridnya?”
“Aku bukan seorang guru.”
Musonif menatapnya, “Aku seorang konselor anak.” Jawab wanita itu. “Di sekolah Internasional. Ya, di sana mereka akan selalu membutuhkan jasa orang sepertiku. Kau tahu kan, selain fisik, perundungan budaya dan ras sangat sering sekali terjadi di sana.”
“Rupanya kau seorang konselor anak.” Musonif mengangguk pelan. “Tapi, untuk Orbital tidak cocok untuk wawancara.”
“Kenapa?” katanya sedikit sinis, “kau tidak berhak menilai penampilan seseorang! Kalau begitu aku mau yang ini.” Wanita itu mengetuk-ngetuk katalog pada area scaffold sambil membetulkan duduknya karena kesal. Matanya menyapu rak sebelah Musonif dan berhenti pada bingkai foto ukuran 10x15 centimeter yang bertengger di atas rak penyimpanan peralatan tindik.
Seketika, ekspresi wanita itu berubah. “Wahhh… siapa anak kecil itu? Dia memiliki mata yang sama sepertiku, tahi lalat di bola mata.” Wanita itu beranjak, mencondongkan tubuhnya, mengambil bingkai foto, dan memerhatikannya lama. Lalu, ia meletakkannya kembali dengan tidak hati-hati, kemudian kembali duduk.
Di kursinya, Wayan terkejut. Wanita itu bertingkah terlalu sembrono. Ia hendak menghampiri dan menghentikannya, namun ia mengurungkan niatnya. Ia merasa perlu memberikan Musonif waktu dengan wanita yang mirip dengan putrinya itu, Akasia. Wayan berharap pertemuan ini dapat mengembalikan hidupnya yang telah lama mati. Seketika Wayan menyadari, Musonif telah banyak bicara setelah selama lima belas tahun. Wayan pun kembali berlagak sibuk dengan ponselnya.
Musonif menatapnya tertegun.
“Rambutnya bagus. Siapa yang memberikannya, kau atau istrimu? Kalau rambutku buatan, setiap tiga bulan sekali aku ke salon untuk mengikalnya. Apa dia anakmu?” tanyanya.
Hening.
Wayan yang mendengarnya, seketika menghentikan jarinya di layar ponsel. Ia memekakkan telinganya, menunggu jawaban Musonif. Sementara itu, Akasia menatap Musonif dengan alis terangkat.
Musonif menghela napas, “Ya, dia putriku. Kalau dia masih ada, mungkin dia seusiamu.” Katanya singkat dengan nada tenang.
“Memangnya dia kemana? Usiaku 27 tahun sekarang. Kemarin aku baru saja berulang tahun.”
“Dia hilang lima belas tahun yang lalu.”
Sejenak hening kembali.
Other Stories
Testing
testing ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...