Aku Ini Kotor
Setelah mengantar Henny, aku berniat segera pulang. Namun ponselku bergetar, nama Mr. Adrian. Regional Director muncul di layar.
“Ya, Pak?” jawabku begitu panggilan terhubung.
“Akira, maaf ganggu malam-malam. Ada revisi mendadak dari kantor pusat Singapura. Bisa ketemu saya di lounge hotel sebelah kantor? Saya butuh kamu jelasin presentasi pagi tadi.”
Pulang terasa begitu dekat, aku sudah membayangkan teh hangat dan kasur empuk. Tapi nada tegasnya tidak memberi ruang untuk menolak.
“Baik, Pak. Saya segera ke sana.”
Beberapa menit kemudian aku duduk berhadapan dengannya. Pak Adrian membuka laptop, menatap layar lalu menatap ke arahku.
“Akira, kamu tahu kenapa saya butuh kamu di sini, kan? Kamu yang paling paham detailnya.”
Aku menunduk. Saat tanpa sengaja menangkap pandangan matanya malam ini, napasku mendadak berat. Seolah ada ratusan mata yang mengawasi dari balik tembok. Lalu terdengar bisikan-bisikan tak terlihat merayap masuk ke telingaku. Jantungku berdegup cepat. Tanganku otomatis meremas kerah blus, menariknya mendekat seperti perisai.
Bayangan kelam dua puluh dua tahun lalu menutup pandanganku, kamar sempit, bau rokok, tangan yang tak seharusnya. Semua kembali begitu nyata. Suara itu juga kembali, mengendap-endap di sudut kepala, memerintah, mengancam.
“Akira, kau tidak apa-apa?” Pak Adrian menyadarkanku dari lorong pikiranku. Suaranya kukenal, hangat, perhatian. Tapi suaranya bersamaan dengan munculnya suara lain, halus, menuduh, mengintimidasi, membuat kulitku merinding.
“Akira, minum dulu,” kata Pak Adrian, menawarkan segelas air.
Suara lain berbisik lebih keras sekarang, menghina, mencela, menegaskan bahwa aku layak menerima hukuman. Aku merasakan sesuatu di dalam kepala seperti sengatan, dunia memutar cepat. Aku menutup telinga dengan kedua tangan, mencoba menenggelamkan semua itu.
“Akira. Akira.” Pak Adrian memanggil lagi. Semakin ia bersuara, semakin banyak bisikan yang menjerat. Panik merayap pada otakku, akal sehatku seperti terkikis oleh rasa takut yang lama terpendam.
Aku berdiri tergesa-gesa, tanpa pikir panjang. Kaki ini melangkah pergi, meninggalkan meja, meninggalkan laptop yang masih menyala. Lututku terasa rapuh.
“Akira, kamu nggak apa-apa? Kamu terlihat pucat. Jangan menyetir sendiri, itu berbahaya. Kuantar kau pulang." Pak Adrian cepat mengikuti, nada khawatirnya berubah panik melihat aku limbung.
Di kepalaku serangkaian kemungkinan hitam berputar, dia akan menertawakanku, menahanku, lalu menyeretku di ruang gelap. Ketakutan itu tidak rasional, tapi terasa begitu riil sampai aku hampir sulit bernapas. Kupikir, aku butuh obat agar pikiranku jernih.
Tanganku sudah menyentuh gagang pintu mobil saat Pak Adrian menyentuh punggung tanganku, mencoba menahan. Sentuhannya hanya sebentar tapi untukku itu seperti sentuhan yang pernah merampas sesuatu yang tak akan kembali.
Refleks seperti kilat. PLAK. Aku menamparnya keras. Suara tamparan membelah keheningan malam. Mataku membelalak sendiri, darah berdetak di telinga. Aku terkejut pada reaksiku sendiri.
Pak Adrian mengerjap, kaget, lalu menatap tanganku yang masih gemetar. “Akira—” suaranya memanggil, antara marah dan khawatir.
Aku segera masuk ke dalam mobil, menguncinya rapat-rapat. Dengan tangan gemetar, aku merogoh tas, mencari botol kecil itu. Saat menemukannya, aku buru-buru menelan obat tanpa pikir panjang. Tenggorokanku terasa perih, tapi aku memaksa menelan sampai habis. Setelahnya, aku menekan pedal gas, hanya ingin pulang secepat mungkin.
Sesampainya di apartemen, tubuhku seolah runtuh. Aku menjatuhkan diri ke kasur, merasakan kantuk menyerang, mungkin efek obat yang baru saja kutelan. Aku hanya ingin tidur, hanya ingin bermimpi indah. Namun, belum lama mataku terpejam, aku merasakan sesuatu merayap di kakiku.
Mata ini langsung terbuka lebar. Aku duduk tegak, menekuk kaki, lalu mengibas-ngibaskannya dengan panik. Tapi bukannya hilang, aku justru merasa semakin banyak semut, bahkan laba-laba, menjalar naik. Dari pergelangan kaki, ke betis, lalu terus merayap lebih tinggi.
“Tidak… tidak…” gumamku terguncang. Kedua tanganku sibuk menyapu kulit, tapi rasa itu tidak kunjung hilang.
Dalam pikiranku, tubuhku terasa menjijikkan. Banyak hewan merayap di tubuhku. Tubuh yang dilapisi lumpur kotor, penuh noda yang tidak bisa dilenyapkan hanya dengan tangan. Aku mual melihat diriku sendiri.
Aku bangkit terhuyung menuju kamar mandi. Lampu terang membuat kepalaku berdenyut. Dengan kasar, aku menyalakan shower. Air dingin mengguyur tubuhku, membuat gigiku bergemeletuk, tapi aku terus berdiri di bawahnya.
“Akira, anak cantik…” suara itu tiba-tiba hadir, menyelinap di telingaku. Suara serak, berat, dan penuh ancaman. “Jangan melawan, Sayang. Bapak cuma mau bersenang-senang dengan Akira.”
Aku menutup telinga, tapi suaranya tetap ada, menggema. Dengan panik, kuraih botol sabun cair. Kutuangkan sebanyak mungkin ke seluruh tubuh, menggosok kulitku dengan kasar, keras, hampir menyakitkan. Seolah kalau aku cukup menggosok, semua kotoran akan hilang. Semua suara itu akan hilang. Semua dosa orang lain yang menempel di tubuhku akan lenyap.
Tapi semakin keras aku menggosok, semakin dalam rasa jijik itu menempel. Aku menangis dalam diam. Isakan itu tertahan di tenggorokanku, tapi dadaku terasa perih seperti diremas. Napasku terputus-putus.
Aku bersimpuh di lantai kamar mandi, air dingin menetes di sekitarku. Kedua lutut kupeluk erat, seakan bisa menjadi benteng terakhir bagi tubuhku yang menggigil.
Aku tidak menikah bukan semata karena belum menemukan yang cocok. Tapi karena aku takut. Takut pada laki-laki. Takut pada kedekatan. Takut pada sebuah hubungan. Kejadian kelam dua puluh dua tahun lalu telah meninggalkan luka yang tidak terlihat. Luka yang terus hidup di pikiranku.
Aku adalah korban pel3cehan oleh ayah tiriku sendiri. Yang paling menyakitkan bukan hanya perlakuannya, tapi juga sikap ibuku yang justru menyalahkanku dan malah membela suaminya.
"Kamu itu jangan sok suci, Akira. Kalau kamu nggak kasih kode, nggak mungkin bapakmu sampai begitu. Dasar kamunya aja yang genit, manja dan kecentilan," ucap ibuku waktu itu.
"Bu... aku nggak pernah—"
"Jangan bohong! Nggak ada asap kalau nggak ada api. Kamu pasti yang mulai duluan, godain bapakmu. Kalau orang lain tahu kelakuanmu, kita bisa malu satu kampung."
Aku diam menunduk bersimpuh di lantai yang dingin. Ibu dengan tatapan merendahkan melanjutkan ucapannya.
"Ingat ya, Aira. Jangan bikin rumah tanggaku hancur gara-gara mulutmu sendiri. Kalau kamu masih mau tinggal di sini, tutup mulutmu rapat-rapat! Dasar anak nggak berguna."
Sejak saat itu, aku hidup dalam ketakutan setiap detik. Setiap lorong rumah, setiap pintu yang menutup, setiap langkah pria itu seperti ancaman. Setiap kesempatan, ia akan merenggutku. Aku tak pernah benar-benar aman.
"Akira, Sayang, layani bapak dengan baik. Jangan berontak atau kau ingin satu kampung tahu kelakuanmu, hmm!"
Pria iblis itu terus berbisik mengancam, menakuti dan menerorku. Trauma itu menempel sampai sekarang. Ia merayap seperti bayangan, mengubahku menjadi perempuan yang tampak kuat di luar, tapi rapuh di dalam.
Aku tidak pernah bercerita pada siapapun termasuk sahabatku. Aku tahu ini aib. Aibku sendiri. Aku takut orang lain berpikir sama seperti ibuku, menyalahkanku dan menghakimiku.
Terkadang, aku ingin menyerah, ingin mengakhiri hidupku, tapi satu hal yang membuatku tetap bertahan, keyakinan bahwa sekalipun hidupku hancur, mungkin aku masih bisa memberi arti bagi semesta. Entah lewat membeli segelas es teh di pinggir jalan atau sekedar menyelamatkan semut yang tenggelam di gelas kopi.
Tuhan telah memberiku hidup sedemikian rupa, agar aku menjadi manfaat untuk sekitar. Tidak mengapa jika aku hancur. Selama Tuhan masih membiarkan nafasku terhembus, akukan tetap hidup dengan sagala luka yang kupeluk.
Setelah lulus kuliah, aku nekat meninggalkan rumah itu dan mencoba menjalani hidup dengan normal. Di Jakarta, aku bertemu dengan dua sahabatku semasa SMA, Moana dan Henny.
** @ **
Pagi hari adalah aku yang kembali ceria, seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Senyumku lebar, penuh semangat, dan berusaha menutupi kepingan rapuh dalam diriku.
“Selamat pagi, Bu Akira,” sapa bawahanku.
“Pagi, Nak. Semangat ya,” jawabku sambil menyodorkan permen, kebiasaanku setiap pagi.
“Terima kasih, Bu. Sehat selalu.”
“Amiinn,” sahutku dengan senyum.
Baru saja aku hendak duduk, asisten direktur bernama Roni mendekat dengan wajah serius.
“Bu, Pak Adrian meminta Ibu segera menghadap. Tiga puluh menit lagi presentasi dimulai.”
Aku terdiam sejenak. Otakku langsung mengingat PR yang seharusnya kuselesaikan semalam.
“Baik, terima kasih ya,” jawabku.
Langkahku terasa berat menuju ruang Pak Adrian. Di depan pintu, aku berhenti, menarik napas panjang. Semalam… aku menamparnya.
“Ya, Pak?” jawabku begitu panggilan terhubung.
“Akira, maaf ganggu malam-malam. Ada revisi mendadak dari kantor pusat Singapura. Bisa ketemu saya di lounge hotel sebelah kantor? Saya butuh kamu jelasin presentasi pagi tadi.”
Pulang terasa begitu dekat, aku sudah membayangkan teh hangat dan kasur empuk. Tapi nada tegasnya tidak memberi ruang untuk menolak.
“Baik, Pak. Saya segera ke sana.”
Beberapa menit kemudian aku duduk berhadapan dengannya. Pak Adrian membuka laptop, menatap layar lalu menatap ke arahku.
“Akira, kamu tahu kenapa saya butuh kamu di sini, kan? Kamu yang paling paham detailnya.”
Aku menunduk. Saat tanpa sengaja menangkap pandangan matanya malam ini, napasku mendadak berat. Seolah ada ratusan mata yang mengawasi dari balik tembok. Lalu terdengar bisikan-bisikan tak terlihat merayap masuk ke telingaku. Jantungku berdegup cepat. Tanganku otomatis meremas kerah blus, menariknya mendekat seperti perisai.
Bayangan kelam dua puluh dua tahun lalu menutup pandanganku, kamar sempit, bau rokok, tangan yang tak seharusnya. Semua kembali begitu nyata. Suara itu juga kembali, mengendap-endap di sudut kepala, memerintah, mengancam.
“Akira, kau tidak apa-apa?” Pak Adrian menyadarkanku dari lorong pikiranku. Suaranya kukenal, hangat, perhatian. Tapi suaranya bersamaan dengan munculnya suara lain, halus, menuduh, mengintimidasi, membuat kulitku merinding.
“Akira, minum dulu,” kata Pak Adrian, menawarkan segelas air.
Suara lain berbisik lebih keras sekarang, menghina, mencela, menegaskan bahwa aku layak menerima hukuman. Aku merasakan sesuatu di dalam kepala seperti sengatan, dunia memutar cepat. Aku menutup telinga dengan kedua tangan, mencoba menenggelamkan semua itu.
“Akira. Akira.” Pak Adrian memanggil lagi. Semakin ia bersuara, semakin banyak bisikan yang menjerat. Panik merayap pada otakku, akal sehatku seperti terkikis oleh rasa takut yang lama terpendam.
Aku berdiri tergesa-gesa, tanpa pikir panjang. Kaki ini melangkah pergi, meninggalkan meja, meninggalkan laptop yang masih menyala. Lututku terasa rapuh.
“Akira, kamu nggak apa-apa? Kamu terlihat pucat. Jangan menyetir sendiri, itu berbahaya. Kuantar kau pulang." Pak Adrian cepat mengikuti, nada khawatirnya berubah panik melihat aku limbung.
Di kepalaku serangkaian kemungkinan hitam berputar, dia akan menertawakanku, menahanku, lalu menyeretku di ruang gelap. Ketakutan itu tidak rasional, tapi terasa begitu riil sampai aku hampir sulit bernapas. Kupikir, aku butuh obat agar pikiranku jernih.
Tanganku sudah menyentuh gagang pintu mobil saat Pak Adrian menyentuh punggung tanganku, mencoba menahan. Sentuhannya hanya sebentar tapi untukku itu seperti sentuhan yang pernah merampas sesuatu yang tak akan kembali.
Refleks seperti kilat. PLAK. Aku menamparnya keras. Suara tamparan membelah keheningan malam. Mataku membelalak sendiri, darah berdetak di telinga. Aku terkejut pada reaksiku sendiri.
Pak Adrian mengerjap, kaget, lalu menatap tanganku yang masih gemetar. “Akira—” suaranya memanggil, antara marah dan khawatir.
Aku segera masuk ke dalam mobil, menguncinya rapat-rapat. Dengan tangan gemetar, aku merogoh tas, mencari botol kecil itu. Saat menemukannya, aku buru-buru menelan obat tanpa pikir panjang. Tenggorokanku terasa perih, tapi aku memaksa menelan sampai habis. Setelahnya, aku menekan pedal gas, hanya ingin pulang secepat mungkin.
Sesampainya di apartemen, tubuhku seolah runtuh. Aku menjatuhkan diri ke kasur, merasakan kantuk menyerang, mungkin efek obat yang baru saja kutelan. Aku hanya ingin tidur, hanya ingin bermimpi indah. Namun, belum lama mataku terpejam, aku merasakan sesuatu merayap di kakiku.
Mata ini langsung terbuka lebar. Aku duduk tegak, menekuk kaki, lalu mengibas-ngibaskannya dengan panik. Tapi bukannya hilang, aku justru merasa semakin banyak semut, bahkan laba-laba, menjalar naik. Dari pergelangan kaki, ke betis, lalu terus merayap lebih tinggi.
“Tidak… tidak…” gumamku terguncang. Kedua tanganku sibuk menyapu kulit, tapi rasa itu tidak kunjung hilang.
Dalam pikiranku, tubuhku terasa menjijikkan. Banyak hewan merayap di tubuhku. Tubuh yang dilapisi lumpur kotor, penuh noda yang tidak bisa dilenyapkan hanya dengan tangan. Aku mual melihat diriku sendiri.
Aku bangkit terhuyung menuju kamar mandi. Lampu terang membuat kepalaku berdenyut. Dengan kasar, aku menyalakan shower. Air dingin mengguyur tubuhku, membuat gigiku bergemeletuk, tapi aku terus berdiri di bawahnya.
“Akira, anak cantik…” suara itu tiba-tiba hadir, menyelinap di telingaku. Suara serak, berat, dan penuh ancaman. “Jangan melawan, Sayang. Bapak cuma mau bersenang-senang dengan Akira.”
Aku menutup telinga, tapi suaranya tetap ada, menggema. Dengan panik, kuraih botol sabun cair. Kutuangkan sebanyak mungkin ke seluruh tubuh, menggosok kulitku dengan kasar, keras, hampir menyakitkan. Seolah kalau aku cukup menggosok, semua kotoran akan hilang. Semua suara itu akan hilang. Semua dosa orang lain yang menempel di tubuhku akan lenyap.
Tapi semakin keras aku menggosok, semakin dalam rasa jijik itu menempel. Aku menangis dalam diam. Isakan itu tertahan di tenggorokanku, tapi dadaku terasa perih seperti diremas. Napasku terputus-putus.
Aku bersimpuh di lantai kamar mandi, air dingin menetes di sekitarku. Kedua lutut kupeluk erat, seakan bisa menjadi benteng terakhir bagi tubuhku yang menggigil.
Aku tidak menikah bukan semata karena belum menemukan yang cocok. Tapi karena aku takut. Takut pada laki-laki. Takut pada kedekatan. Takut pada sebuah hubungan. Kejadian kelam dua puluh dua tahun lalu telah meninggalkan luka yang tidak terlihat. Luka yang terus hidup di pikiranku.
Aku adalah korban pel3cehan oleh ayah tiriku sendiri. Yang paling menyakitkan bukan hanya perlakuannya, tapi juga sikap ibuku yang justru menyalahkanku dan malah membela suaminya.
"Kamu itu jangan sok suci, Akira. Kalau kamu nggak kasih kode, nggak mungkin bapakmu sampai begitu. Dasar kamunya aja yang genit, manja dan kecentilan," ucap ibuku waktu itu.
"Bu... aku nggak pernah—"
"Jangan bohong! Nggak ada asap kalau nggak ada api. Kamu pasti yang mulai duluan, godain bapakmu. Kalau orang lain tahu kelakuanmu, kita bisa malu satu kampung."
Aku diam menunduk bersimpuh di lantai yang dingin. Ibu dengan tatapan merendahkan melanjutkan ucapannya.
"Ingat ya, Aira. Jangan bikin rumah tanggaku hancur gara-gara mulutmu sendiri. Kalau kamu masih mau tinggal di sini, tutup mulutmu rapat-rapat! Dasar anak nggak berguna."
Sejak saat itu, aku hidup dalam ketakutan setiap detik. Setiap lorong rumah, setiap pintu yang menutup, setiap langkah pria itu seperti ancaman. Setiap kesempatan, ia akan merenggutku. Aku tak pernah benar-benar aman.
"Akira, Sayang, layani bapak dengan baik. Jangan berontak atau kau ingin satu kampung tahu kelakuanmu, hmm!"
Pria iblis itu terus berbisik mengancam, menakuti dan menerorku. Trauma itu menempel sampai sekarang. Ia merayap seperti bayangan, mengubahku menjadi perempuan yang tampak kuat di luar, tapi rapuh di dalam.
Aku tidak pernah bercerita pada siapapun termasuk sahabatku. Aku tahu ini aib. Aibku sendiri. Aku takut orang lain berpikir sama seperti ibuku, menyalahkanku dan menghakimiku.
Terkadang, aku ingin menyerah, ingin mengakhiri hidupku, tapi satu hal yang membuatku tetap bertahan, keyakinan bahwa sekalipun hidupku hancur, mungkin aku masih bisa memberi arti bagi semesta. Entah lewat membeli segelas es teh di pinggir jalan atau sekedar menyelamatkan semut yang tenggelam di gelas kopi.
Tuhan telah memberiku hidup sedemikian rupa, agar aku menjadi manfaat untuk sekitar. Tidak mengapa jika aku hancur. Selama Tuhan masih membiarkan nafasku terhembus, akukan tetap hidup dengan sagala luka yang kupeluk.
Setelah lulus kuliah, aku nekat meninggalkan rumah itu dan mencoba menjalani hidup dengan normal. Di Jakarta, aku bertemu dengan dua sahabatku semasa SMA, Moana dan Henny.
** @ **
Pagi hari adalah aku yang kembali ceria, seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Senyumku lebar, penuh semangat, dan berusaha menutupi kepingan rapuh dalam diriku.
“Selamat pagi, Bu Akira,” sapa bawahanku.
“Pagi, Nak. Semangat ya,” jawabku sambil menyodorkan permen, kebiasaanku setiap pagi.
“Terima kasih, Bu. Sehat selalu.”
“Amiinn,” sahutku dengan senyum.
Baru saja aku hendak duduk, asisten direktur bernama Roni mendekat dengan wajah serius.
“Bu, Pak Adrian meminta Ibu segera menghadap. Tiga puluh menit lagi presentasi dimulai.”
Aku terdiam sejenak. Otakku langsung mengingat PR yang seharusnya kuselesaikan semalam.
“Baik, terima kasih ya,” jawabku.
Langkahku terasa berat menuju ruang Pak Adrian. Di depan pintu, aku berhenti, menarik napas panjang. Semalam… aku menamparnya.
Other Stories
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Testing
testing ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...