Pak Adrian
Aku mengetuk pelan pintu ruangan Pak Adrian.
“Masuk,” jawab suara dari dalam.
Aku melangkah perlahan, menunduk, berusaha menghindari tatapannya.
“Silakan duduk, Ra,” ucap Pak Adrian tenang, nada suaranya sulit kutebak.
“Terima kasih, Pak,” sahutku, lalu duduk berhadapan dengannya.
Dia tidak banyak bicara. Hanya memutar layar laptop ke arahku, menunjukkan beberapa slide.
“Kamu yang paling paham tentang ini,” katanya tegas, matanya menatap langsung ke arahku. “Jelaskan secara singkat. Sepuluh menit."
Aku mengangguk lalu segera memaparkan ide-ide dan sistem kerja yang ada di file itu dengan cermat dan lugas.
“Poin-poin ini memiliki nilai lebih, tetapi yang paling menonjol adalah yang terakhir,” jelasku, menatap layar lalu beralih kepadanya. “Saya yakin poin ini bisa menarik investor ke perusahaan kita.”
Pak Adrian mengangguk pelan. “Hm. Bagus.”
Matanya tetap mengawasi layar. “Hanya itu. Silakan keluar,” ucapnya singkat.
Aku mengangguk cepat, lalu berdiri. Tapi langkahku terhenti. Menelan ludah dengan susah payah lalu kembali membalik badan menatapnya.
“Emm, Pak… maaf tentang semalam.”
Sunyi sejenak. Lalu aku mendengar helaan napasnya.
“Saya pikir kamu tidak ingat sudah menampar saya semalam,” katanya tenang, tapi nada suaranya sulit kuterka.
Aku menunduk dalam-dalam. “Saya…”
“Liburlah kalau kamu lelah, Akira.” Nada suaranya berubah sedikit lebih lembut.
Aku mendongak sekilas. Wajahnya tetap datar. Aku tersenyum tipis lalu pamit keluar.
Setelah jam kantor selesai, aku mengirim pesan pada Henny.
"Henn, mau seblak nggak? Pulang kerja aku mampir bawain seblak ya."
"Wah, udah ngiler duluan euy. Buruan, buruan. Kita makan bareng di rumahku ya."
"Oke, tunggu."
Aku juga mengirim pesan pada Moana. Aku tahu dia sedang menjaga pola makan untuk program hamilnya.
"Mau salad nggak nih, Nyonya Moana cantik?"
"Mau, mau!" balasan cepat kudapat. Lalu lagi.
"Ketemuan di luar aja yuk. Budek telingaku di rumah terus. Sekarang ya. Kamu udah selesai jam kantor kan?"
"Aku mau ke rumah Henny bawa seblak," balasku.
"Oke, kita ketemuan di sana ya."
Chat berakhir. Aku segera meninggalkan ruangan dan melangkah menuju lift untuk turun ke lantai bawah.
Saat pintu terbuka, aku tertegun. Pak Adrian berdiri di sana. Sendiri. Aku mematung. Ragu untuk melangkah masuk. Rasa takut tiba-tiba menggerogoti dadaku, seperti semalam.
“Kok bengong? Jadi pulang nggak?” suaranya menyadarkanku.
Mataku menatap tangannya yang menahan pintu lift agar tidak tertutup. Aku menghela napas panjang. Jika aku mundur sekarang, ia pasti sadar kalau aku menghindarinya. Jadi, kuputuskan untuk masuk.
Aku berdiri kaku di sampingnya. Jarak begitu dekat, membuat ruang sempit ini terasa menyesakkan. Anehnya, aku seolah bisa mendengar napasnya, terlalu jelas, terlalu dekat. Aku mulai takut. Jangan sampai bisikan itu muncul. Jangan. Aku harus tetap waras, setidaknya hingga aku sampai di apartemen.
“Sebagai atasan, apakah saya pernah terlalu galak sama kamu, Akira?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menggeleng cepat tapi justru pertanyaan itu membuat ruangan semakin menyempit di kepalaku. Keringat mulai mengalir di pelipis. Kedua tanganku refleks menutup telinga, menahan agar aku tidak mendengar bisikan aneh. Aku tahu semuanya hanya delusi tapi otakku tidak mampu mengendalikannya. Nafasku mulai memburu.
“Kamu kenapa?” suaranya terdengar makin dekat. “Ra…”
Aku mundur sampai punggungku menyentuh dinding lift yang dingin. Logikaku tahu itu hanya tembok. Tapi pikiranku berkata lain, dingin itu menjelma menjadi tangan kasar yang pernah merobek pakaianku.
Napas tercekat. Aku panik. Aku takut. Aku merasa tidak bisa bernapas lagi.
** @ **
Saat kelopak mataku terbuka, yang pertama kali kutangkap adalah langit-langit putih asing, bukan langit-langit apartemenku.
“Sudah bangun?”
Suaranya langsung membuatku menoleh. Pak Adrian duduk di kursi samping ranjang, wajahnya datar tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa lega. Seketika aku sadar, aku ada di rumah sakit.
Serangan panik itu … lagi. Entah sudah berapa kali, sampai aku sendiri tak sanggup menghitung. Biasanya, aku pingsan sendirian, lalu bangun sendirian, menutupinya dengan senyum dan tawa. Tapi kali ini berbeda. Ada saksi. Ada dia. Pak Adrian.
Kondisiku semakin tak terkendali. Kurasa mungkin aku memang sudah gila.
“Saya panggil dokter dulu,” katanya singkat, lalu menekan tombol di sisi ranjang.
Tak lama, dokter dan perawat datang memeriksa. Banyak pertanyaan diajukan, dan kujawab dengan seperlunya. Hasilnya selalu sama, organ tubuhku sehat, baik-baik saja. Lalu kesimpulan klise itu pun terlontar. Aku direkomendasikan menemui dokter gangguan mental.
Aku hanya bisa tersenyum lebar, hampir seperti mengejek diri sendiri. Sekarang, rahasia yang kututup rapat selama bertahun-tahun terbongkar di depan atasku. Sekarang, Pak Adrian pasti melihatku bukan hanya aneh, tapi… separuh gila.
“Terima kasih sudah menolong saya, Pak,” ucapku akhirnya setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan.
Ia menatapku sebentar sebelum menjawab, “Tidak masalah. Saya memang harus bertanggung jawab atas bawahan saya.” Suaranya tegas seperti biasa.
Aku mengangguk kecil. “Dan, tolong rahasiakan keadaan saya dari siapapun,” pintaku memohon.
“Kau pikir saya tukang gosip?” jawabnya tenang.
Aku menoleh sekilas, tak percaya ia bisa melontarkan kalimat seperti itu. Senyum tipis muncul di bibirku. “Ya, kan ada beberapa bapak-bapak yang suka sekali membicarakan masalah orang lain.”
“Saya tidak berteman dengan tipe yang seperti itu,” sahutnya.
Aku mengangguk pelan, merasa lega dengan jawaban itu. “Terima kasih sekali lagi, Pak.”
“Sudah berapa lama?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh, sedikit bingung. “Apanya?”
“Sakitmu.”
Aku buru-buru mengalihkan pandangan, menatap jendela yang separuh terbuka. “Maaf, itu bukan tentang pekerjaan. Saya… tidak bisa menjawabnya.”
Pak Adrian tak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, seolah menghormati pagar yang kubuat.
“Apa kau punya teman untuk berbagi cerita?” tanyanya lagi, kali ini nadanya lebih lembut.
Pertanyaan itu seperti pengingat alami. Seketika aku teringat pada Henny dan Moana. dua sahabat yang saat ini mungkin menunggku. Refleks, aku meraba sekitar, mencari tasku. Panik kecil menyeruak ketika tak menemukannya.
“Pak, maaf… di mana tas saya?” tanyaku, nada cemas tak bisa kusembunyikan.
Keningnya berkerut, seolah mencoba mengingat. “Mungkin tertinggal di mobilku.”
Keningku ikut berkerut. “Lalu, untuk mendaftar rumah sakit ini, apakah Bapak tidak membutuhkan kartu identitas saya?”
“Saya menerimanya dari HRD perusahaan,” jawabnya tenang.
Aku terdiam, menelan ludah pelan. Ada rasa aneh menyelip di dadaku, antara kagum karena ia sigap mengurus semua ini, sekaligus risih karena berarti ia tahu lebih banyak tentangku daripada yang kuinginkan.
“Boleh saya mengambil tas saya, Pak?”
Dia mengangguk singkat. “Tunggu di sini sebentar. Kuurus kepulanganmu dari sini.”
Tanpa menunggu jawabanku, ia berdiri dan melangkah keluar. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. Entah kenapa, dalam diam, hatiku seperti ingin berteriak, 'Terima kasih. Terima kasih banyak, Pak Adrian.'
** @ **
Mobil melaju tenang meninggalkan area rumah sakit. Aku duduk diam di kursi penumpang, punggungku menempel kaku pada sandaran.
Ku ambil ponsel di tas yang kini ada di pangkuanku, berniat menghubungi Henny dan Moana. Tapi ternyata ponselku kehabisan batrai. Aku menghela napas. Rasanya canggung sekali jika harus meminta izin mengisi daya di mobil Pak Adrian. Jadi, dengan berat hati, kumasukkan lagi ponsel ini ke dalam tas.
“Mobilmu sudah diantar ke tempat tinggalmu,” ucapnya tiba-tiba. Suaranya datar, tapi cukup mengejutkanku.
Aku menoleh sekilas. “Terima kasih, Pak. Padahal sebenarnya tak masalah kalau mobil saya tetap di kantor. Besok saya bisa naik taksi.”
Ada jeda kecil sebelum aku melanjutkan dengan ragu. “Maaf sekali lagi saya merepotkan Bapak. Umm… kalau tidak keberatan, Bapak bisa turunkan saya sekarang. Takutnya ... istri Bapak menunggu di rumah.”
Sejenak hening, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Lalu, ia menjawab pelan tapi dingin, “Surga tidak ada di dunia ini.”
Deg. Kalimat itu menancap seperti duri. Aku menatapnya dari tempat dudukku, bingung harus menanggapi apa. Perasaan bersalah mendesak dadaku, aku sudah lancang, mungkin mengorek hal yang seharusnya tidak kutanyakan.
“Maaf, Pak,” ucapku akhirnya, nyaris berbisik.
Ia tetap menatap lurus ke jalan, ekspresi tak terbaca. “Tidak masalah,” jawabnya singkat.
Aku memalingkan wajah ke jendela. Menatap lampu kota yang berkelebat di balik kaca, mencoba menenangkan hati yang tiba-tiba jadi berat.
Namun tiba-tiba Pak Adrian berkata, suaranya rendah tapi jelas, seolah ingin membagi beban yang lama dipendam.
“Kami belum sempat menikah waktu itu. Padahal sudah merencanakan segalanya."
Aku spontan kembali menoleh padanya. Mobil berhenti di lampu merah, lampu jalanan memantul samar di wajahnya.
“Dia sakit, Akira. Sama sepertimu. Tiba-tiba saja dia ketakutan setiap kali melihatku.” Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara nyaris bergetar. “Trauma itu terlalu besar. Seorang preman malam itu… melakukan hal keji padanya. Dia tidak pernah pulih, dan akhirnya menyerah pada ketakutannya sendiri.”
Dadaku mencelos. Air mata mengalir tanpa bisa kutahan. Ceritanya seperti mengetuk luka yang sama di dalam diriku. Sesak. Gelap. Semua bayangan kelam dua puluh dua tahun lalu berhamburan kembali, menghantamku sekaligus.
Tak ada lagi percakapan setelah itu. Hanya suara tangisku yang pelan tapi pecah, dan mesin mobil yang terus berputar membawa kami semakin dekat ke apartemenku.
Saat mobil berhenti di lobi, buru-buru kusapu air mata dengan punggung tangan. Suaraku lirih. “Saya turut prihatin dan turut berduka, Pak.”
“Itu sudah lama terjadi,” balasnya datar, tapi jelas ada berat di balik kalimatnya.
Sebelum aku membuka pintu, ia menoleh sekilas. “Hiduplah dengan baik, Akira.”
Aku terdiam sesaat, lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak.”
Aku turun, menutup pintu perlahan, lalu membungkuk hormat ketika mobilnya menjauh.
“Masuk,” jawab suara dari dalam.
Aku melangkah perlahan, menunduk, berusaha menghindari tatapannya.
“Silakan duduk, Ra,” ucap Pak Adrian tenang, nada suaranya sulit kutebak.
“Terima kasih, Pak,” sahutku, lalu duduk berhadapan dengannya.
Dia tidak banyak bicara. Hanya memutar layar laptop ke arahku, menunjukkan beberapa slide.
“Kamu yang paling paham tentang ini,” katanya tegas, matanya menatap langsung ke arahku. “Jelaskan secara singkat. Sepuluh menit."
Aku mengangguk lalu segera memaparkan ide-ide dan sistem kerja yang ada di file itu dengan cermat dan lugas.
“Poin-poin ini memiliki nilai lebih, tetapi yang paling menonjol adalah yang terakhir,” jelasku, menatap layar lalu beralih kepadanya. “Saya yakin poin ini bisa menarik investor ke perusahaan kita.”
Pak Adrian mengangguk pelan. “Hm. Bagus.”
Matanya tetap mengawasi layar. “Hanya itu. Silakan keluar,” ucapnya singkat.
Aku mengangguk cepat, lalu berdiri. Tapi langkahku terhenti. Menelan ludah dengan susah payah lalu kembali membalik badan menatapnya.
“Emm, Pak… maaf tentang semalam.”
Sunyi sejenak. Lalu aku mendengar helaan napasnya.
“Saya pikir kamu tidak ingat sudah menampar saya semalam,” katanya tenang, tapi nada suaranya sulit kuterka.
Aku menunduk dalam-dalam. “Saya…”
“Liburlah kalau kamu lelah, Akira.” Nada suaranya berubah sedikit lebih lembut.
Aku mendongak sekilas. Wajahnya tetap datar. Aku tersenyum tipis lalu pamit keluar.
Setelah jam kantor selesai, aku mengirim pesan pada Henny.
"Henn, mau seblak nggak? Pulang kerja aku mampir bawain seblak ya."
"Wah, udah ngiler duluan euy. Buruan, buruan. Kita makan bareng di rumahku ya."
"Oke, tunggu."
Aku juga mengirim pesan pada Moana. Aku tahu dia sedang menjaga pola makan untuk program hamilnya.
"Mau salad nggak nih, Nyonya Moana cantik?"
"Mau, mau!" balasan cepat kudapat. Lalu lagi.
"Ketemuan di luar aja yuk. Budek telingaku di rumah terus. Sekarang ya. Kamu udah selesai jam kantor kan?"
"Aku mau ke rumah Henny bawa seblak," balasku.
"Oke, kita ketemuan di sana ya."
Chat berakhir. Aku segera meninggalkan ruangan dan melangkah menuju lift untuk turun ke lantai bawah.
Saat pintu terbuka, aku tertegun. Pak Adrian berdiri di sana. Sendiri. Aku mematung. Ragu untuk melangkah masuk. Rasa takut tiba-tiba menggerogoti dadaku, seperti semalam.
“Kok bengong? Jadi pulang nggak?” suaranya menyadarkanku.
Mataku menatap tangannya yang menahan pintu lift agar tidak tertutup. Aku menghela napas panjang. Jika aku mundur sekarang, ia pasti sadar kalau aku menghindarinya. Jadi, kuputuskan untuk masuk.
Aku berdiri kaku di sampingnya. Jarak begitu dekat, membuat ruang sempit ini terasa menyesakkan. Anehnya, aku seolah bisa mendengar napasnya, terlalu jelas, terlalu dekat. Aku mulai takut. Jangan sampai bisikan itu muncul. Jangan. Aku harus tetap waras, setidaknya hingga aku sampai di apartemen.
“Sebagai atasan, apakah saya pernah terlalu galak sama kamu, Akira?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menggeleng cepat tapi justru pertanyaan itu membuat ruangan semakin menyempit di kepalaku. Keringat mulai mengalir di pelipis. Kedua tanganku refleks menutup telinga, menahan agar aku tidak mendengar bisikan aneh. Aku tahu semuanya hanya delusi tapi otakku tidak mampu mengendalikannya. Nafasku mulai memburu.
“Kamu kenapa?” suaranya terdengar makin dekat. “Ra…”
Aku mundur sampai punggungku menyentuh dinding lift yang dingin. Logikaku tahu itu hanya tembok. Tapi pikiranku berkata lain, dingin itu menjelma menjadi tangan kasar yang pernah merobek pakaianku.
Napas tercekat. Aku panik. Aku takut. Aku merasa tidak bisa bernapas lagi.
** @ **
Saat kelopak mataku terbuka, yang pertama kali kutangkap adalah langit-langit putih asing, bukan langit-langit apartemenku.
“Sudah bangun?”
Suaranya langsung membuatku menoleh. Pak Adrian duduk di kursi samping ranjang, wajahnya datar tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa lega. Seketika aku sadar, aku ada di rumah sakit.
Serangan panik itu … lagi. Entah sudah berapa kali, sampai aku sendiri tak sanggup menghitung. Biasanya, aku pingsan sendirian, lalu bangun sendirian, menutupinya dengan senyum dan tawa. Tapi kali ini berbeda. Ada saksi. Ada dia. Pak Adrian.
Kondisiku semakin tak terkendali. Kurasa mungkin aku memang sudah gila.
“Saya panggil dokter dulu,” katanya singkat, lalu menekan tombol di sisi ranjang.
Tak lama, dokter dan perawat datang memeriksa. Banyak pertanyaan diajukan, dan kujawab dengan seperlunya. Hasilnya selalu sama, organ tubuhku sehat, baik-baik saja. Lalu kesimpulan klise itu pun terlontar. Aku direkomendasikan menemui dokter gangguan mental.
Aku hanya bisa tersenyum lebar, hampir seperti mengejek diri sendiri. Sekarang, rahasia yang kututup rapat selama bertahun-tahun terbongkar di depan atasku. Sekarang, Pak Adrian pasti melihatku bukan hanya aneh, tapi… separuh gila.
“Terima kasih sudah menolong saya, Pak,” ucapku akhirnya setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan.
Ia menatapku sebentar sebelum menjawab, “Tidak masalah. Saya memang harus bertanggung jawab atas bawahan saya.” Suaranya tegas seperti biasa.
Aku mengangguk kecil. “Dan, tolong rahasiakan keadaan saya dari siapapun,” pintaku memohon.
“Kau pikir saya tukang gosip?” jawabnya tenang.
Aku menoleh sekilas, tak percaya ia bisa melontarkan kalimat seperti itu. Senyum tipis muncul di bibirku. “Ya, kan ada beberapa bapak-bapak yang suka sekali membicarakan masalah orang lain.”
“Saya tidak berteman dengan tipe yang seperti itu,” sahutnya.
Aku mengangguk pelan, merasa lega dengan jawaban itu. “Terima kasih sekali lagi, Pak.”
“Sudah berapa lama?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh, sedikit bingung. “Apanya?”
“Sakitmu.”
Aku buru-buru mengalihkan pandangan, menatap jendela yang separuh terbuka. “Maaf, itu bukan tentang pekerjaan. Saya… tidak bisa menjawabnya.”
Pak Adrian tak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, seolah menghormati pagar yang kubuat.
“Apa kau punya teman untuk berbagi cerita?” tanyanya lagi, kali ini nadanya lebih lembut.
Pertanyaan itu seperti pengingat alami. Seketika aku teringat pada Henny dan Moana. dua sahabat yang saat ini mungkin menunggku. Refleks, aku meraba sekitar, mencari tasku. Panik kecil menyeruak ketika tak menemukannya.
“Pak, maaf… di mana tas saya?” tanyaku, nada cemas tak bisa kusembunyikan.
Keningnya berkerut, seolah mencoba mengingat. “Mungkin tertinggal di mobilku.”
Keningku ikut berkerut. “Lalu, untuk mendaftar rumah sakit ini, apakah Bapak tidak membutuhkan kartu identitas saya?”
“Saya menerimanya dari HRD perusahaan,” jawabnya tenang.
Aku terdiam, menelan ludah pelan. Ada rasa aneh menyelip di dadaku, antara kagum karena ia sigap mengurus semua ini, sekaligus risih karena berarti ia tahu lebih banyak tentangku daripada yang kuinginkan.
“Boleh saya mengambil tas saya, Pak?”
Dia mengangguk singkat. “Tunggu di sini sebentar. Kuurus kepulanganmu dari sini.”
Tanpa menunggu jawabanku, ia berdiri dan melangkah keluar. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. Entah kenapa, dalam diam, hatiku seperti ingin berteriak, 'Terima kasih. Terima kasih banyak, Pak Adrian.'
** @ **
Mobil melaju tenang meninggalkan area rumah sakit. Aku duduk diam di kursi penumpang, punggungku menempel kaku pada sandaran.
Ku ambil ponsel di tas yang kini ada di pangkuanku, berniat menghubungi Henny dan Moana. Tapi ternyata ponselku kehabisan batrai. Aku menghela napas. Rasanya canggung sekali jika harus meminta izin mengisi daya di mobil Pak Adrian. Jadi, dengan berat hati, kumasukkan lagi ponsel ini ke dalam tas.
“Mobilmu sudah diantar ke tempat tinggalmu,” ucapnya tiba-tiba. Suaranya datar, tapi cukup mengejutkanku.
Aku menoleh sekilas. “Terima kasih, Pak. Padahal sebenarnya tak masalah kalau mobil saya tetap di kantor. Besok saya bisa naik taksi.”
Ada jeda kecil sebelum aku melanjutkan dengan ragu. “Maaf sekali lagi saya merepotkan Bapak. Umm… kalau tidak keberatan, Bapak bisa turunkan saya sekarang. Takutnya ... istri Bapak menunggu di rumah.”
Sejenak hening, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Lalu, ia menjawab pelan tapi dingin, “Surga tidak ada di dunia ini.”
Deg. Kalimat itu menancap seperti duri. Aku menatapnya dari tempat dudukku, bingung harus menanggapi apa. Perasaan bersalah mendesak dadaku, aku sudah lancang, mungkin mengorek hal yang seharusnya tidak kutanyakan.
“Maaf, Pak,” ucapku akhirnya, nyaris berbisik.
Ia tetap menatap lurus ke jalan, ekspresi tak terbaca. “Tidak masalah,” jawabnya singkat.
Aku memalingkan wajah ke jendela. Menatap lampu kota yang berkelebat di balik kaca, mencoba menenangkan hati yang tiba-tiba jadi berat.
Namun tiba-tiba Pak Adrian berkata, suaranya rendah tapi jelas, seolah ingin membagi beban yang lama dipendam.
“Kami belum sempat menikah waktu itu. Padahal sudah merencanakan segalanya."
Aku spontan kembali menoleh padanya. Mobil berhenti di lampu merah, lampu jalanan memantul samar di wajahnya.
“Dia sakit, Akira. Sama sepertimu. Tiba-tiba saja dia ketakutan setiap kali melihatku.” Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara nyaris bergetar. “Trauma itu terlalu besar. Seorang preman malam itu… melakukan hal keji padanya. Dia tidak pernah pulih, dan akhirnya menyerah pada ketakutannya sendiri.”
Dadaku mencelos. Air mata mengalir tanpa bisa kutahan. Ceritanya seperti mengetuk luka yang sama di dalam diriku. Sesak. Gelap. Semua bayangan kelam dua puluh dua tahun lalu berhamburan kembali, menghantamku sekaligus.
Tak ada lagi percakapan setelah itu. Hanya suara tangisku yang pelan tapi pecah, dan mesin mobil yang terus berputar membawa kami semakin dekat ke apartemenku.
Saat mobil berhenti di lobi, buru-buru kusapu air mata dengan punggung tangan. Suaraku lirih. “Saya turut prihatin dan turut berduka, Pak.”
“Itu sudah lama terjadi,” balasnya datar, tapi jelas ada berat di balik kalimatnya.
Sebelum aku membuka pintu, ia menoleh sekilas. “Hiduplah dengan baik, Akira.”
Aku terdiam sesaat, lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak.”
Aku turun, menutup pintu perlahan, lalu membungkuk hormat ketika mobilnya menjauh.
Other Stories
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Blek Metal
Cerita ini telah pindah lapak. ...