Luka

Reads
689
Votes
7
Parts
7
Vote
Report
Penulis Nanas Elle

Moana

Hari Minggu, aku menyusuri rak swalayan dengan pikiran sederhana, membeli empat kotak susu formula anak, beberapa camilan, dan makanan kaleng untuk persediaan. Setelah membayar, mobilku langsung melaju ke arah rumah Henny. Namun dering ponsel menghentikan rencanaku.

“Ra… bisa jemput ke rumah nggak?” suara Moana lirih di seberang sana, diikuti isakan yang membuatku tercekat.

“Iya, tunggu aku,” jawabku tanpa pikir panjang. Aku segera membelokkan mobil, menukar arah menuju rumah Moana atau lebih tepatnya, rumah mertuanya.

Notifikasi pesan masuk. Moana mengirim foto dan lokasi.
“Aku ada di minimarket dekat rumah. Jemput aku di sini ya.”

Aku menekan pedal gas lebih dalam. Ada apa dengan Moana? Sesampainya di parkiran, kulihat sosoknya. Ia keluar dari minimarket tergesa-gesa, matanya sembab, lalu masuk ke dalam mobilku.

“Maaf ngerepotin ya, Ra,” katanya pelan.

Aku menatap wajahnya yang bengkak karena tangis. “Jangan bilang gitu. Nggak ada yang ngerepotin. Selama aku bisa bantu, aku bantu semampuku.”

Air matanya kembali menetes. Aku memilih diam, membiarkannya menangis sampai lega. Aku berniat membawanya ke apartemenku, tapi ia cepat menolak.

“Mas Aditya tahu di mana apartemenmu, Ra. Aku… aku nggak mau ketemu sama dia sekarang.”

Aku menarik napas, berpikir cepat. “Kalau begitu, ke hotel aja. Aku sewain seminggu. Kau butuh ruang untuk tenang.”

Mobil kembali melaju, kali ini menuju hotel yang pemandangannya indah. Aku berharap tempat itu bisa sedikit mengobati luka sahabatku.

Sesampainya di kamar hotel, tangisnya pecah lagi. “Yang aku takutkan akhirnya terjadi, Ra.” Ia menunduk, tangannya bergetar. Aku refleks menggenggamnya.

“Ibu mertua menyuruh Mas Aditya menikah lagi, hanya karena aku belum bisa memberinya cucu. Mertuaku bahkan sudah membawa calon istri kedua ke rumah."

Air matanya tak terbendung. Aku segera menariknya dalam pelukan, mencoba menyalurkan kekuatan yang kupunya.

“Lalu apa tanggapan suamimu?” tanyaku pelan, masih memeluk bahunya yang bergetar.

“Dia… diam saja, Ra. Mas Aditya nggak marah, nggak nolak, tapi juga nggak membelaku. Seolah… seolah aku memang salah karena nggak bisa ngasih keturunan.”

Aku menghela napas panjang. Dadaku ikut sesak mendengar ceritanya.

“Ra…” suaranya parau, bergetar di sela isak. “Aku selalu berusaha jadi istri yang baik. Aku kerjakan semuanya. Aku layani semuanya. Aku jadikan mertuaku seperti ratu, aku siap melayani mereka. Aku bersikap baik dengan semua keluarga suamiku tapi tetap saja aku selalu salah di mata mereka.” Moana menunduk, pundaknya bergetar. “Salah terus. Salah terus menerus… mertua ku bilang aku adalah istri yang nggak berguna kalau nggak bisa melahirkan anak.”

Aku meremas tangannya erat. “Moana, jangan pernah bilang dirimu nggak berguna. Kamu jauh lebih berharga dari apa pun yang mereka pikirkan. Anak bukan satu-satunya ukuran bahagia, apalagi harga diri seorang perempuan.”

Moana menggigit bibirnya, berusaha menahan isakan. “Tapi Ra, kalau Mas Aditya akhirnya nurut dan nikah lagi… aku harus apa?”

Aku menatapnya, hatiku remuk. Ingin rasanya memeluknya lebih erat dan berkata dunia terlalu kejam pada perempuan sebaik dia. “Tenangkan dulu dirimu, Mo,” kataku pelan, mengusap punggungnya. “Setelah tenang, coba bicara baik-baik dengan suamimu. Hanya dengan suamimu. Kalau perlu, kalian pindah saja dari sana. Ngontrak pun nggak apa-apa asal kalian berdua. Agar telinga dan mulut yang ada hanya kalian berdua.”

Moana menyeka air matanya dengan gemetar. “Sepertinya itu saran yang tepat, Ra. Aku akan mencobanya. Aku akan membujuk Mas Aditya untuk pindah rumah.”

Aku mengangguk lembut. “Dalam satu rumah, memang seharusnya hanya ada satu ratu… dan mahkota itu hanya untuk seorang istri.” Aku berusaha menghiburnya dengan senyum tipis.

Ia tersenyum kecil. “Semoga Mas Aditya mau,” suaranya lirih. “Seandainya dia menolak dan tetap ingin tinggal di sana… rasanya aku nggak kuat lagi, Ra. Benar-benar nggak kuat. Dua belas tahun aku mengalah, mengabdi pada suamiku. Menekan egoku, sampai rasanya aku kehilangan jati diriku sendiri.” Moana menarik napas panjang, suaranya patah. “Aku boleh lelah kan, Ra?”

Aku menggenggam tangannya erat. “Mo, kamu bukan robot. Kamu manusia. Wajar kalau lelah, wajar kalau capek. Jangan pernah merasa bersalah karena merasa letih. Justru dengan mengakui kelelahanmu, kamu sudah jujur pada dirimu sendiri. Kamu sudah berjuang dua belas tahun, Mo, itu bukan waktu yang singkat. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai pengorbananmu membuatmu hilang dari dirimu sendiri. Pengorbanan yang bahkan tidak dianggap oleh keluarga suamimu."

Aku menatap matanya dalam-dalam. “Kalau kamu terus-menerus menekan hatimu demi orang lain, lama-lama kamu akan hancur. Ingat, Mo, rumah tangga itu bukan cuma tentang mengabdi tapi juga saling menghargai. Kalau suamimu benar mencintaimu, dia harus belajar melindungimu bukan membiarkanmu terluka.”

Malam ini, aku tetap di sisinya di kamar hotel. Menjadi telinga yang mendengarkan dan bahu yang bisa ia sandarkan. Aku meyakinkan Moana bahwa ia berhak bahagia, bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini, termasuk ibu mertuanya yang berhak merendahkannya.

*** @ ***

Hari berikutnya, sepulang kerja, aku sengaja mampir ke rumah Henny. Mengantar beberapa susu yang kemarin belum sempat ku antar. Di sana, aku disambut tawa riang Alan yang berlari kecil ke arahku.

“Di mana ibu, Nak?” tanyaku sambil menyerahkan jajanan yang kubawa.

“Ibu lagi di gang sebelah, belum pulang,” jawabnya polos.

“Kalau ayahmu?”

“Tidur.”

Deg. Dadaku langsung menegang. Astaga, suami macam apa yang sore begini bisa-bisanya enak tidur, sementara istrinya banting tulang sendirian?

Tak lama Henny muncul dengan Abel di gendongannya. Senyumnya tetap hangat meski wajahnya jelas lelah.
“Eh, ada Tante cantik,” ucapnya riang. “Udah salim sama Tante, Nak?” tanyanya pada Alan.

“Udah, Buk.”

“Kamu udah lama nunggu?” ia menatapku, lalu mengajakku masuk.

“Enggak, baru aja.”

“Barusan nyetrika di rumah sebelah. Banyak banget setrikaan, jadi kelarnya agak lama,” katanya sambil menaruh Abel di kursi kecil. “Tak buatin es teh ya? Atau mau sirup?”

Aku segera menggeleng. Ada getir yang terasa saat menatapnya. “Enggak usah, Hen. Aku langsung pulang aja. Masih ada beberapa urusan yang nunggu.”

Sepulangnya dari rumah Henny, aku mendapati Aditya berdiri di lobi apartemenku. Wajahnya tegang, matanya penuh cemas.

“Mbak, Moana sama Mbak kan? Tolong izinkan aku ketemu. Aku udah coba hubungin dia, tapi nggak bisa. Aku nyari ke mana-mana juga nggak ketemu. Dia baik-baik aja kan, Mbak?” Suaranya bergetar, kalimatnya terburu-buru. Ada ketakutan yang jelas terlihat.

Aku bisa membaca kegelisahannya. Dari sorot mata itu, aku yakin Aditya sungguh mencintai Moana. Hanya saja, cinta mereka diuji tentang keturunan yang tak kunjung datang dan tekanan dari orang lain.

“Moana lebih baik dari kemarin,” jawabku pelan. “Boleh kita bicara sebentar, Mas?”

Aditya langsung mengangguk. Kami akhirnya duduk di sebuah kafe tak jauh dari apartemenku. Ia terlihat kacau, wajahnya berantakan, seperti seseorang yang kehilangan arah.

“Moana pasti udah cerita semuanya sama Mbak, ya?” tanyanya dengan suara rendah.

“Iya, sudah.”

Aditya menarik napas panjang, lalu menunduk. “Mbak, sumpah demi Tuhan aku nggak ada niat buat nikah lagi. Tolong sampaikan ke Moana, aku cuma cinta sama dia.”

“Kalau begitu,” kataku pelan tapi tegas, “kenapa kamu nggak bilang begitu langsung di depan orang tuamu dan juga wanita yang bersedia menjadi istri keduamu?

Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Aku bingung, Mbak. Di satu sisi aku cinta banget sama Moana, tapi di sisi lain aku nggak mau mengecewakan ibuku. Aku… aku nggak tahu harus bagaimana.”

Aku menghela napas. “Mas, aku ngerti kamu sayang sama ibumu. Semua anak pasti ingin membahagiakan orang tuanya. Tapi jangan lupa, ada Moana yang kau pinang menjadi istrimu. Ada tanggung jawab besar pada wanita itu, bukan hanya ibumu."

Aditya terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Moana sudah dua belas tahun berusaha jadi istri dan menantu yang baik. Membersamaimu dalam keadaan apapun. Dia nurut, dia melayani, bahkan rela kehilangan dirinya sendiri demi keluarga. Tapi tetap saja dianggap salah, hanya karena satu hal yang sebenarnya bukan kesalahannya. Mas bisa bayangin gimana rasanya?”

Ia menunduk, jemarinya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin. Aku tahu hatinya bergejolak.

“Kalau Mas memang cinta sama Moana, buktikan dengan keberanian. Jangan biarkan dia terus merasa sendirian dalam pernikahan ini. Pilih berdiri di sisinya, atau Mas akan kehilangannya. Sesederhana itu, Mas.”

Aditya mengangkat wajahnya, matanya merah. “Aku takut, Mbak. Takut kalau aku melawan ibuku, aku jadi anak durhaka.”

Aku menatapnya lurus. “Durhaka itu kalau kamu menyakiti ibumu. Tapi kalau kamu memilih melindungi istrimu, itu namanya menjalankan janji pernikahan. Ingat, Mas… dalam rumah tangga, hanya boleh ada satu ratu, dan ratu itu adalah istri.”

Aditya tampak gelisah. “Mbak, tolong izinkan aku ketemu Moana sekarang. Aku janji cuma mau ngomong baik-baik sama dia.” Suaranya bergetar, matanya penuh harap.

Aku menghela napas panjang. “Mas, bukan aku nggak mau. Tapi kalau Mas ketemu dia dalam keadaan kayak gini, semua emosi campur aduk, takutnya bukan jadi solusi malah tambah melukai. Moana lagi rapuh, dia butuh ketenangan dulu.”

“Tapi Mbak…” ia memohon, tubuhnya condong ke depan.

Aku menatapnya tajam tapi lembut. “Mas, kalau kamu benar-benar cinta sama Moana, buktikan dulu dengan jadi lebih dewasa. Pikirkan baik-baik, apa yang sebenarnya Mas mau perjuangkan? Apakah cuma nurut sama ibumu, atau melindungi istrimu? Setelah Mas punya jawaban yang jelas, baru temui dia.”

Aditya terdiam. Rahangnya mengeras, tapi aku bisa lihat matanya berair.

“Aku tahu ini berat, Mas. Tapi jangan buru-buru. Biarkan Moana merasa aman dulu. Dia butuh keyakinan kalau saat kamu datang menemuinya nanti, kamu benar-benar siap berdiri di sampingnya, bukan setengah hati.”

Dia mengusap wajahnya, menahan isak. “Baik, Mbak. Aku akan pikirkan. Tapi tolong jaga Moana."

Aku mengangguk pelan. “Aku janji, Mas. Aku akan jaga dia. Tapi ingat, waktu nggak akan menunggu terlalu lama. Jangan sampai Moana kehilangan harapan lebih dulu."

Other Stories
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Download Titik & Koma