Akira
Beberapa bulan kemudian ….
Moana lebih bahagia setelah memutuskan tinggal terpisah dari mertuanya. Kini, ia dan Aditya sedang mengurus rumah di sebuah cluster baru, sambil tetap berharap dan berusaha untuk memiliki momongan. Senyum mereka terasa ringan, jauh dari bayang-bayang tekanan keluarga.
Henny memilih jalannya sendiri. Ia kembali ke kampung halamannya dan membuka toko kecil-kecilan. Meski awalnya berat, ia akhirnya berani memutuskan berpisah dengan mantan suaminya. Pria itu kini masih mendekam di penjara, dan Henny perlahan menemukan kedamaian yang lama ia rindukan.
Lalu aku? Hmm … aku sedang menikmati liburan akhir tahun di sebuah pulau yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Pulau dengan laut biru yang menenangkan dan pasir putih yang seakan memeluk setiap langkahku.
Karimunjawa. Di sini, aku belajar bernapas lega, jauh dari trauma, jauh dari masa lalu yang menekan. Aku masih memeluk luka, tapi perlahan, luka itu mulai berubah menjadi bagian dari kekuatanku.
Malam ini, di salah satu tempat makan di pinggir pantai, aku hampir saja menyerah memilih menu ketika suara berat namun akrab terdengar dari meja sebelah.
“Cobain sup ikannya saja. Enak banget.”
Aku menoleh kaget. “Pak Adrian?”
Dia tersenyum hangat, senyum yang langsung mengingatkanku pada rasa aman. “Tak disangka, kamu berlibur di sini juga, Akira.”
“Iya,” jawabku, mencoba menahan debar yang tiba-tiba muncul, “tempat ini indah dan tenang.”
“Silakan pesan makanan, kita makan bersama,” ucap Pak Adrian, nadanya seperti biasa tenang tapi mengandung sesuatu yang sulit kuterjemahkan.
Aku mengangguk dengan senyum.
Moana lebih bahagia setelah memutuskan tinggal terpisah dari mertuanya. Kini, ia dan Aditya sedang mengurus rumah di sebuah cluster baru, sambil tetap berharap dan berusaha untuk memiliki momongan. Senyum mereka terasa ringan, jauh dari bayang-bayang tekanan keluarga.
Henny memilih jalannya sendiri. Ia kembali ke kampung halamannya dan membuka toko kecil-kecilan. Meski awalnya berat, ia akhirnya berani memutuskan berpisah dengan mantan suaminya. Pria itu kini masih mendekam di penjara, dan Henny perlahan menemukan kedamaian yang lama ia rindukan.
Lalu aku? Hmm … aku sedang menikmati liburan akhir tahun di sebuah pulau yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Pulau dengan laut biru yang menenangkan dan pasir putih yang seakan memeluk setiap langkahku.
Karimunjawa. Di sini, aku belajar bernapas lega, jauh dari trauma, jauh dari masa lalu yang menekan. Aku masih memeluk luka, tapi perlahan, luka itu mulai berubah menjadi bagian dari kekuatanku.
Malam ini, di salah satu tempat makan di pinggir pantai, aku hampir saja menyerah memilih menu ketika suara berat namun akrab terdengar dari meja sebelah.
“Cobain sup ikannya saja. Enak banget.”
Aku menoleh kaget. “Pak Adrian?”
Dia tersenyum hangat, senyum yang langsung mengingatkanku pada rasa aman. “Tak disangka, kamu berlibur di sini juga, Akira.”
“Iya,” jawabku, mencoba menahan debar yang tiba-tiba muncul, “tempat ini indah dan tenang.”
“Silakan pesan makanan, kita makan bersama,” ucap Pak Adrian, nadanya seperti biasa tenang tapi mengandung sesuatu yang sulit kuterjemahkan.
Aku mengangguk dengan senyum.
Setiap luka meninggalkan jejak, tapi takdir selalu memberi ruang untuk bahagia, asal kita berani melangkah.
*** @ ***
Tangerang 30 September 2025
Luka by Nanas Elle.
Other Stories
Beyond Two Souls
Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...