Bekasi Dulu, Bali Nanti

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Bekasi dulu, bali nanti
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Penulis S.L Verde Author

Well Done But Still Juicy


Vlog — pagi. Kamera agak goyah. Bekasi masih basah setelah hujan semalam. Jalan depan resto penuh genangan, motor lewat dengan cipratan air. Lukas berdiri di bawah kanopi, satu tangan memegang kamera, tangan lain sibuk menepuk-nepuk sepatu basah dengan tisu.

Morning from Bekasi—city of traffic, heat… and today, surprise rain. Shoes are soaked, socks are protesting. But hey—one month in, and still standing. If the storm didn’t stop the Nasi Uduk sellers, it won’t stop me either.”

Kamera bergeser sedikit, seorang satpam gedung melambai, wajah ramah.

SATPAM (setengah bercanda, logat lokal): “Chef! Sepatu basah lagi? Hujan di sini sampai maling pun nggak keluar semalam.”

LUKAS (tertawa, sambil menunjuk sepatunya): “True. Shoes drowning, spirit swimming.”

Satpam tertawa, lalu mengulurkan payung lipat yang masih menetes air.

SATPAM: “Buat masuk ke lobby, jangan sampai tambah basah. Kalau lapar—warung depan ada bubur kacang ijo, enak sekali dan hangat.”

Lukas menerima payung, sedikit terharu. Kamera kembali fokus ke wajahnya.

That’s the thing here. Rain, traffic, chaos—but people add sugar. Kindness is the extra seasoning. Back home, umbrellas don’t come with smiles.”

(Ia menepuk gulungan pisau di ransel, lalu melangkah ke pintu masuk gedung.)

Alright—shoes dry later, kitchen heat now. Let’s see what Bekasi cooks for me today.”

Ia mengangkat kamera sedikit, senyum lebar, lalu cut.
Dapur siang lanjut ke sore. Lampu putih. Desis minyak. Printer di pass batuk tiket.

SARI (di pass): “Order masuk! Dua starter, satu steak—well-done tapi tetap juicy. Ulang!”

LINE: “Well-done tapi tetap juicy!”

BIMO (grill, mengangkat alis): “Hah?yang bener aje? Itu namanya keajaiban, bukan teknik.”

LUKAS (sauté, senyum): “Kita bukan tukang sulap, tapi kita punya trik. FOH, konfirmasi ‘no pink’, ya?”

SERVER (muncul, menulis cepat): “No pink. Tamu expat, bos pabrik. Maunya ‘no blood drama’.”

SARI: “Opsi potongan?”

LUKAS: “Kalau mau aman juicy tanpa pink—short rib slow-cook kita punya ‘kan? Finish di grill, glaze jus. Atau ribeye cap tipis, flip sering, butter baste, rest panjang.”

BIMO: “Short rib tinggal reheat. Gue pegang. Lo siapin glaze.”

SARI: “Lock. Garde siap dua starter!”

Gerak serempak. Bimo ambil short rib vakum dari sous-vide bain, Lukas panaskan panci kecil, reduksi jus.

NADIA (melintas, cek suhu): “Jaga 65–70°C internal. No pink, tetap lembut.”

LUKAS: “Siap. Tambah lemongrass setitik biar harum ‘but still steak’.”

BIMO (memiringkan telinga ke desis daging): “Lo Pade dengar? Itu suara kenaikan gaji.”

SARI: “Halah. Gaji naik kalau review bintang lima seumur hidup. ngimpi.”

LUKAS (menimpali, ringan): “Kalau bintang empat, kita tambahin flaky salt jadi lima.”

Tawa menular, sekejap mengusir kaku.
Printer batuk lagi.

SARI: “Ticket baru. Salad gluten-free, dressing terpisah!”

GARDE (dari ujung): “Siap GF! Talenan hijau, alat khusus!”

Bimo angkat short rib ke grill panas, sear cepat. Lukas memasukkan mentega, bawang putih geprek, baste, uap wangi memeluk wajah.

LUKAS: “Rest minimal tiga menit. Kalau tamu protes, bilang ‘juicy but patient’.”

BIMO: “Kalau tamu tidak sabar?”

LUKAS: “Kita sabarin—pakai jus.”

Sari menyiapkan piring hangat di pass. Nadia mendekat, mengintip tekstur.

NADIA: “Finger test?”

LUKAS (sentuh lembut permukaan): “Firm, tapi masih moody. Sabar—dua puluh detik lagi.”

Jam seperti menahan napas. Bimo menggeser daging. Lukas tuang glaze tipis, garisnya mengilat. Pickled belimbing dua iris kecil di sisi.

SARI: “Plating jalan.”

Piring mendarat di pass. Arman muncul hening, sendok tasting di tangan. Ia cicip ujung jus—hanya menggeser alis.

ARMAN: “Kurva rasa oke. Jangan banjiri.”

LUKAS: “Siap, Chef.”

SARI: “Kirim meja VVIP.”

Piring meluncur. Detik-detik panjang lagi. Dapur mengecil jadi suara kipas dan napas. Server kembali, menahan senyum.

SERVER: “Tamu bilang, ‘No pink, still tender. Thank you.”

Letupan tepuk tangan kecil. Bimo pura-pura mengelap mata dengan serbet.

BIMO: “Akhirnya ada yang well-done selain target penjualan.”

SARI: “Jangan baper. Lanjut. Starter dua jalan!”

Ritme kembali. Printer batuk. Tiket panjang lagi.

GARDE: “Chef, stok microgreens sisa satu tray!”

NADIA: “Pakai herb oil cadangan. Jangan panik. Ritme jaga.”

Di sisi, kru junior—Ani—menatap jam, wajah sayu.

LUKAS (setengah berbisik): “Ani, kamu dapat jatah makan crew meal?”

ANI: “Sudah Kak, tapi buat nanti. Uang kos lagi mepet.”

LUKAS (ke Sari, lirih): “Boleh saya plating satu sup sayur dari sisa prep—legal? Buat crew, sebelum service malam.”

Sari menimbang, menatap Nadia.

NADIA: “Catat di log waste sebagai staff meal. Porsi kecil. Legal.”

LUKAS (senyum): “Terima Kasih team.”

Ia gerak singkat: tumis bawang, wortel ujung, batang seledri, air kaldu, season ringan. Uap sup hangat menghampiri Ani seperti pesan suara dari rumah.

ANI (memegang mangkuk, matanya berkaca kaca): “Makasih, Kak Lukas.”

BIMO (pura-pura cemburu): “Gue juga crew, lho.”

LUKAS: “Ow Man, You are crew special. Porsinya khusus hanya aroma.”

Tawa lagi. Arman memandang sebentar ke sudut itu—tidak mengusik. Hanya mengangguk tipis pada Nadia.

SARI (teriak lagi): “Order masuk! Pasta no garlic, satu vegan!”

LUKAS: “Siap! No garlic—alat bersih, panci baru. Vegan—butter out, pakai olive oil.”

NADIA: “Good catch. Call yang jelas. Mata ke pass.”

Ruang kembali jadi mesin musik, klik panci, sssst mentega, ting bel. Di antara panas, gelak, dan disiplin, ada jarak yang mengecil—kru yang tadinya kaku mulai bernapas serempak.
Beberapa menit kemudian, FOH Manager—Rico—muncul di ambang pass, memegang amplop kecil dan secarik kertas.

RICO: “Update VVIP. Mereka ninggalin note: ‘Thanks for taking notes seriously—for the kitchen.’ Dan… ini tip buat BOH.”

Ia sengaja menekankan, biasanya tip jatuh ke crew depan.

BIMO (melongo, lalu nyengir): “Serius? Bukan salah alamat ke bar?”

SARI: “Iya bener, ntar terlanjur seneng, salah kasih. Jarang-jarang dapur diinget.”

ARMAN (galak tenang, tapi ada senyum bijak yang menahan sudut bibir): “Rico, Maya catat di tip log sebagai Kitchen Appreciation. Distribusi adil: semua BOH shift ini termasuk steward & dishwasher. Tidak ada ‘pahlawan tunggal’. Tim yang jalanin.”

RICO: “Siap, Chef.”

ARMAN (menatap kru): “Dengar: ini bukan hadiah keberuntungan. Ini hasil disiplin—no cross-contam, komunikasi, ritme. Besok bisa nol lagi kalau sombong. Jadi… terima kasih—lanjut kerja.”

Sunyi sepersekian detik, lalu “Siap, Chef!” bergaung serentak. Bimo menepuk bahu Ani pelan, Ani memeluk mangkuknya lebih erat—senyum kecil muncul.

Vlog — after shift break, punggung bersandar ke dinding bata belakang. Rambut basah keringat, serbet masih di bahu. Kamera agak goyah, seolah dipegang seadanya.

We served a well-done steak that didn’t kill its soul. Crew got a legal bowl of warmth. Tickets weren’t nice; we were kinder.
And that’s the real recipe here, chaos is the ingredient, but kindness is the seasoning. Oma said it with rice—today I heard it in every laugh, every plate, every ‘Siap, Chef!’ echoing back.

So if you’re watching this after your own crazy shift—whatever your kitchen looks like, whatever your ‘tickets’ are—remember: you don’t have to be perfect. Just… season it better.

See you tomorrow. Shoes wet, heart dry, spirit still swimming.”

Ia mengangkat botol air seperti bersulang, lalu minum panjang. Kamera menangkap senyum lega sebelum layar gelap.


Other Stories
Queen, The Last Dance

Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Download Titik & Koma