Bekasi Dulu, Bali Nanti

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Bekasi dulu, bali nanti
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Penulis S.L Verde Author

Friday 16:00 — Where Food Becomes Community


Vlog — pagi, kamera statis di dashboard mobil aplikasi Online. Lukas duduk rapi dengan seragam chef, wajah serius tapi ada api kecil di matanya. Jalan Bekasi masih basah, suara motor pelan di luar. Ia menatap kamera sebentar, lalu bicara singkat, nada datar khas dia, tapi bergetar semangat.

Friday. Not service—table. Today is our first Friday Table.
16:00 sharp, thirty portions. Fresh prep, logged, safe. Soup, rice, egg or chicken. No peanuts. Hygiene signed. It’s small, but real. A chair, a bowl, a smile.
We cook, we serve, we write it down. That’s discipline. But we also watch, listen, share. That’s kindness.
See you tonight. Same kitchen, different fire.”

Ia mematikan kamera, tersenyum tipis terlepas ke Driver sebelahnya. Cut.

Briefing 15:30 di kantor.

RICO: “Flow: start 16:00, finish 17:00. Max thirty portions. Queue by satpam post, not back door. GA and Security already informed. One satpam monitors clipboard list. New arrivals → one courtesy pack, noted in log.”

NADIA: “Hygiene and temperature log. Allergen station separate. Utensils color-coded. QA signs before service.”

SARI: “Tone to community: warm, clear, no rush.”

Area dapur setelah hours prep, 14:00–15:30. Musik kecil, semua crew ringan.

SARI: “Sup sayur, nasi ayam kecap ringan, tempe orek. Minum: air jahe hangat.”

LUKAS: “Saya handle stasiun jahe.”

ANI (tempel label): “Non-spicy, no garlic.”

BIMO: “Bakery side gua aja deh. Buah potong sama croissant slice. Nih ya, semua gue masukin kotak ramah lingkungan—biar orangnya sehat, kotaknya juga punya akhlak.”

PAK DARTO (steward): “Antrian aye kasih garis tape biar rapi.”

Area Semi-tertutup — dekat pos satpam. Meja lipat 3, kursi lipat, garis tape antrian. Satpam dengan clipboard daftar. Papan kecil: Friday Table – Community Meal (Pilot). Tidak ada kamera close-up wajah anak-anak.

RICO (menyapa lembut): “Satu porsi per nama. Dessert ambil setelah sup, ya. Antrian dijaga rapi.”
Service mengalir. Ani menaruh mangkuk hangat ke tangan anak kecil.

ANI: “Hati-hati, masih panas.”
ANAK: “Makasih, Kak.”

Di meja pick-up, Bimo memanggil nama dari daftar sambil gaya presenter.

BIMO: “Ibu Sinta—buah potong segar, biar awet muda. Pak Jafar—croissant, tapi jangan dipakai ganjel pintu, ya.”

Seorang anak pemulung muncul, kaus lusuh, karung di bahu. Ia menatap ragu. Satpam cek daftar, geleng pelan.

SARI (ramah, tenang): “Kita kasih courtesy pack sekali, ya. Saya catat.”

SATPAM: “Siap.”

Lukas cepat menyiapkan sup + air jahe. Bimo menyelipkan croissant ke kotak, sambil nyeletuk,

Croissantnya satu, senyumnya gratis dua.”

Sari mencatat di log: Courtesy pack #1.

SARI (menunduk ke anak): “Hari ini untuk kamu. Jumat depan, bilang sama Pak Satpam supaya didata, ya.”
ANAK (mata lega): “Makasih, Bu.”

17:00 tepat. Semua porsi habis. Area rapi, tidak ada insiden.

NADIA (menutup log): “30 reguler, 4 courtesy. Nol insiden. Suhu tercatat. QA tanda tangan.”

RICO: “Security update daftar. PR hanya pakai foto wide, tanpa wajah.”

SARI (menatap kursi kosong): “Mejanya kecil, tapi rasanya panjang.”

LUKAS: “Jumat depan—kursi yang sama, kehangatan yang sama.”

Mereka membereskan area. Pak Darto menyapu sambil bersiul. Lampu mati satu per satu.

Vlog — sore menjelang malam. Kamera handheld di trotoar depan apartemen, lampu jalan jingga. Lukas wajah cerah, lega.

First Friday Table—done. Thirty bowls, logged, safe, warm. One new name, written gently.

It wasn’t charity—it was structure. Hygiene signed, queue monitored, community respected. Small scale, but real. To anyone watching—discipline makes food safe, kindness makes it meaningful.

See you next Friday. Same time, same chairs.”

Ia angkat mangkuk kosong ke kamera seperti bersulang. Senyum lebar. Cut.


Other Stories
Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Download Titik & Koma