Bekasi Dulu, Bali Nanti

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Bekasi dulu, bali nanti
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Penulis S.L Verde Author

Friday Table Proposal


Meeting room, sore. Ruang kaca, meja panjang. Duduk: Chef Arman, Manager GA (General Affairs), Manager Finance, Manager Marketing, General Manager. Slide di layar: “Friday Table Proposal – CSR Pilot.

MANAGER FINANCE (dingin, hitung-hitungan): “Budget? Kita udah squeeze cost akhir quarter. Tambah pos baru? Risky.”

MANAGER GA (khawatir aturan): “Kalau anak-anak luar datang tiap hari? Bisa kacau. Security repot.”

MANAGER MARKETING (skeptis): “CSR value-nya kecil. Mungkin enggak viral. Apa worth?”

ARMAN (Arman tenang, suara stabil, seperti plating kaldu.): “Friday Table bukan charity liar. Satu kali seminggu. Porsi kecil, log tercatat, hygiene clear. Cost: sama dengan dua botol wine import. CSR? Nilainya lebih panjang. Trust dari komunitas lokal lebih kuat daripada satu posting paid influencer.”

GM (menyilangkan tangan, menatap tajam): “Kalau ada klaim keracunan? Atau anak-anak bawa pulang foto buruk? Damage bisa lebih besar dari cost-nya.”

ARMAN (diam sebentar, lalu dengan nada presisi): “Itu kenapa kita buat structured. Menu disiapkan kitchen, bukan sisa. Legal, logged, QA signed. Saya tanggung jawab penuh. Dan satu hal lagi: lebih murah jaga goodwill sebelum foto viral, daripada padamkan api setelahnya.”

Hening. GM tidak langsung jawab. Finance geleng, Marketing mencatat, GA mendesah. Rapat ditutup tanpa keputusan.
Beberapa hari kemudian. Pantry kantor. Finance Manager sedang bikin kopi. Arman masuk, pura-pura ambil air panas.

ARMAN (sopan, ringan): “Pak, soal Friday Table. Cost breakdown saya detailkan. Rp 1,8 juta per bulan. Equivalent satu corporate dinner kecil. Crew volunteer, no OT claim. Saya minta pilot, bukan permanen.”

FINANCE (berhenti mengaduk kopi, lebih lembut): “Kalau ada sponsor?”

ARMAN: “Ada potensi collab. Saya minta izin jalan dulu, sambil cari tambahan. Kalau sponsor masuk, beban cost makin ringan.”

Finance mengangguk tipis. Tidak janji, tapi retaknya mulai kelihatan.
Arman mampir ke ruang Marketing, melihat brosur event CSR lama.

ARMAN (halus): “Kemarin ada event posting. Engagement naik berapa lama? Sehari? Friday Table bisa kasih konten rutin tiap minggu. Anak-anak makan, tim kerja—organik. Gak perlu bayar buzzer.”

MARKETING (menimbang, setengah senyum): “Kalau GM setuju, saya bisa bungkus angle konten. Gratis exposure? I’ll take it.”

Koridor kantor. GM berjalan, Arman mendekat singkat, nada hormat tapi tegas.

ARMAN: “Pak, izinkan team saya uji coba satu bulan. Kalau gagal, saya cabut sendiri. Tapi kalau berhasil, kita dapat lebih dari sekedar PR—kita dapat hati.”
GM menatap, lama. Akhirnya bicara pelan.

GM: “Pilot satu bulan. Logged. Cari sponsor tambahan. Kita lihat hasilnya.”

Arman menunduk singkat—terima kasih tanpa kata.
Kitchen malam. Arman masuk, memanggil Lukas yang sedang cuci tangan.

ARMAN (singkat, datar tapi ada hangat terselip): “Friday Table. Approved. Pilot sebulan.”

Lukas menoleh cepat, kaget. Matanya berbinar, hampir tidak percaya. Senyum lebar meledak, ia mengangguk cepat.

LUKAS: “Thank you, Chef. Danke.”

ARMAN: “Jangan danke saya. Jalankan rapi. Awas kamu bikin saya malu.”

Sudut bibir Arman bergerak—senyum sekilas. Itu lebih mahal daripada kata panjang.
Balkon apartemen malam. Lampu jalan temaram. Lukas baru selesai shift, masih dengan apron di bahu. Ia menelpon Aji, kamera POV sesekali fokus ke layar HP.

LUKAS (excited, hampir lompat): “Aji! Man—you won’t believe this. Friday Table is greenlit. Pilot one month. Chef Arman fought through managers, finance, everyone. We got it!”

AJI ngakak keras): “Woi, Forest Boy jadi Activist Boy! Gila, Chef Arman lobby kayak Jenderal perang, ya? Gue kira meeting cuma bahas budget sendok sama piring.”

LUKAS (tertawa, masih berbinar): “He fought hard. GM finally said yes. But—they need sponsors. We need extra funds. Clean, clear. No drama.”

AJI (nada masih gaul, tapi serius di ujung): “Oke. Gue gerakin network. Ada brand kopi, ada komunitas kantor. Lo siapin proposal deck, jangan cuma resep bubur. Biar mereka lihat ini bukan charity basah, tapi CSR kering dan jelas.”

LUKAS (lembut, tulus): “Danke, Aji. Oma would be smiling now.”

AJI (senyum jahil): “Good, Ada brand minta collab vlog—bukan resto kamu. Mau?”

LUKAS (tertawa): “Selama nggak ganggu jam kerja dan jelas disclaimer, No Problem.”

Vlog — sore keesokan hari. Lobi apartemen, lampu siang masuk dari kaca besar. Lukas berdiri dengan wajah cerah, mata berbinar, penuh energi, pegang gulungan pisau di satu tangan, selembar kertas proposal di tangan lain.

Everyone! Big news. Friday Table—approved. One Friday every week, we set a small table for kids around the block. Legal, logged, clean. A pilot, but real.

Chef Arman fought in the boardroom. Management said yes. Aji’s hunting collabs. And me? I’m just… grateful. Because food isn’t only for guests—it’s for growing longer tables.

So if you’re watching this—from Germany, Jakarta, anywhere—you can season this story too. Join, share, or just believe in it. Friday will taste different now. Friday will taste kinder.”

Ia angkat proposal seperti bersulang, lalu senyum lebar, hampir lompat kecil, mata penuh cahaya. Kamera goyah sedikit karena tangannya gemetar excited. Cut.


Other Stories
Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Download Titik & Koma